Posted by: Citra Rahman | 15 January 2012

Cerita Bali (bagian awal)

Pengalaman pertama di Bali memang agak sedikit menyebalkan namun bisa dibilang juga pengalaman langka dan menegangkan. Mungkin juga itu sebagai hukuman karena ketidak-konsistenanku untuk datang ke pulau ini di minggu terakhir sebelum keberangkatan. Haha.

Mengikuti rencana awal, aku harus berhenti di Kuta dan menginap di Poppies. Sejam berjalan kaki berkeliling memanggul ransel, dipelototi SPG-SPG setiap kali lewat di depan tokonya dan hampir semua hostel penuh atau harganya terlalu mahal. Sudah hampir maghrib, kaki dan bahu sudah pegal untuk berjalan dan memanggul dua buah ransel. Di tengah kekalutan belum mendapat penginapan dan tersasar di lorong-lorong penuh orang dan motor, akhirnya kami menjumpai Bali Manik. Lokasinya? Jangan tanya, aku pun sudah lupa. Banyak lorong yang harus dimasuki dan puluhan pasang mata menatap kasihan ke kami. Seperti itu lah yang aku tangkap dari tatapan mereka. Haha…

Seperti hostel-hostel murah lainnya, fasilitas yng diberikan pun standar saja. Sarapan dengan banana pancake dan teh. Fasilitas di kamarnya pun hanya berkipas angin dengan dua buah tempat tidur dan sebuah kamar mandi yang benar-benar seadanya saja. Toh kamar itu cuma untuk tidur dan mandi saja. Tidak perlu mewah. Lha mau yang mewahpun juga ga mampu! :D

Read More…

Posted by: Citra Rahman | 1 January 2012

2012!

Selamat tahun baru 2012.

Posted by: Citra Rahman | 30 December 2011

Selamat Datang di Bali, Bli!

Bali!

Perjalanan yang sudah diatur setahun yang lalu ini seperti jadi ga jadi. Antusiasme menginjak tanah Bali hampir kandas karena pesona gunung-gunung di Jawa Timur yang memukau. Niat terakhir ku malah ingin nekad pergi ke Lombok saja. Tapi karena waktu dan uang yang semakin sedikit, aku harus ke Bali.

Ya, memang harus ke Bali. Pulau Dewata, kata orang sejak aku kecil dulu. Perkenalan pertamanya adalah lewat lagu Denpasar Moon-nya Maribeth yang tersohor di tahun 1991 silam. Itu 21 tahun yang lalu. Sekarang dengan kekuatan finansial, sudah berani bilang “masa iya orang Indonesia ga ke Bali?”. Sama halnya seperti pernyataan “masa iya orang Aceh ga ke Pulau Weh?”.

Read More…

Posted by: Citra Rahman | 6 December 2011

Menapak surga di Ijen

Jika dideskripsikan seperti apakah Ijen, buatku, setelah menggenapi usia 25 tahun di Oktober lalu, setelah segelintir tempat di Indonesia ini yang aku kunjungi (dan harus bertambah terus) Ijen adalah tempat yang paling menawan yang pernah aku lihat. Terkesan berlebihan? Memang, pada saat itu, Ijen adalah tempat tertinggi dan terjauh yang pernah saya datangi. Sebagai backpacker amatiran, perjalanan ini sangat penting. Dan apa yang aku lihat pun berpuluh kali lipat pula pentingnya.

Perjalanan yang memakan waktu setengah hari melewati kebun-kebun, melintasi  hutan lewat jalan yang parah namun pemandangan yang indah di sekeliling, menginap semalam di Catimore Homestay lalu pada subuhnya harus bangun dan memaksakan diri untuk sarapan. Perjalanan panjang sebelumnya yang seharusnya menguras habis tenagaku namun kekuatan tubuh tetap maksimal untuk bangun pada subuh yang dingin itu .

Dari Balawan yang masih sangat gelap, kami bergerak menuju Ijen. Walaupun tubuh masih menginginkan diri berbaring lebih lama di kasur tapi mata tak berhenti nyalang melihat suasana subuh di luar mobil. Semakin jauh dari perumahan perkebunan, gelap mulai terangkat. Pohon-pohon kopi digantikan dengan semak belukar dan pohon cemara. Rumput-rumput jarum yang basah berembun. Bukit-bukit dengan cahaya jingga di atasnya. Semak-semak yang rantingnya patah dan mengeluarkan aroma khas. Sekali-kali tercium aroma belerang terbawa angin. Sebuah sungai berwarna hijau kebiruan mengalir deras di bawah jembatan kecil yang kami lewati. Pohon-pohon dan semak-semak yang basah dan udara yang dingin. Dipikiranku terus mengulang-ulang meyakinkan ‘kita sedang di surga!’. Ini indah sekali. Semuanya indah. Batu sungai, pohon, daun-daun, lereng bukit, jembatan, rinai gerimis, semak perdu dan ilalang, pohon mati, semua! Aku begitu merasa diberkati pagi itu. :)

Read More…

Posted by: Citra Rahman | 13 November 2011

Perjalanan ke Balawan, Bondowoso

Banyak hal-hal yang tak terduga ketika kita berada di suatu daerah asing dan mengalami kesusahan. Kenyataan yang kita temukan mengenyahkan semua ekspektasi-ekspektasi yang sudah dibangun sebelum tiba. Apalagi jika itu menyangkut sebuah perjalanan yang sudah direncana sedemikian rupa namun harus mengalami perubahan. Di saat-saat genting seperti ini pertolongan datang dengan cara yang tidak biasa. Tawaran ke Ijen.

Masih teringat jelas ketika obrolan dengan Pak Arman pada malam hari itu di lobi hotel. Aku baru saja tiba di Probolinggo setelah empat jam menempuh perjalanan dari Bandara Juanda, Surabaya. Berawal dari pertanyaanku tentang transportasi menuju Cemoro Lawang besok subuh, aku dan seorang kawan butuh angkot supaya bisa mengunjungi Gunung Bromo dan bertanya ke beliau perihal transportasi dan segala macamnya. Pak Arman memberikan beberapa alternatif. Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 648 other followers