Natal di Kolkata

Aku tiba di Kolkata pada dini hari. Disambut dengan udara dingin serta diiringi perasaan cemas dan debar jantung ketika mengantre di bagian imigrasi. Aku bersama Juki, kawan seperjalanan yang berangkat dengan penerbangan yang sama dari Kuala Lumpur, memasang wajah penuh harap. Semoga lembaran e-visa yang salah cetak ini, yang sebelumnya nyaris ditolak sesaat sebelum boarding di KLIA, bisa diterima. Syukurnya, petugas imigrasi yang terlihat bengis bak pemeran antagonis itu mempersilakan kami masuk India dengan senyum semanis gula.

Tantangan berikutnya adalah mencari taksi menuju hostel yang berjarak 17,5 km dari Netaji Subhas Chandra Bose Internation Airport. Ada beberapa konter taksi resmi yang bisa ditemukan di luar bandara. Jika kamu punya aplikasi Uber, ini akan lebih membantumu selama berjalan-jalan di India. Taksi kuning yang kami pesan, sudah menanti di Lanjutkan membaca “Natal di Kolkata”

Dusty Pink of Jaipur

Sindhi Camp Bus Station masih gelap ketika bus yang kutumpangi tiba di sana pada pukul 6 pagi. Rasanya enggan sekali aku beranjak dari kursi bus yang sudah menjadi tempat tidurku selama enam jam itu. Bisa kupastikan udara dingin akan segera menyergap jika keluar dari bus yang memiliki pemanas ini. Sayang sekali tak ada pilihan lain, Juki, Friska, dan aku harus segera turun dan mencari penginapan yang sudah dipesan jauh hari.

Penginapan itu tak begitu jauh dari terminal bus, tapi perjalanan ke sana terasa begitu panjang karena rasa kantuk yang begitu kuat, udara dingin yang membekukan, dan ditambah pula dengan segala keasingan di kota orang. Rasanya benar-benar berada di Lanjutkan membaca “Dusty Pink of Jaipur”

Dihajar Badai di Tanjung Kedungu

Semenjak musim penghujan pertengahan tahun 2018 lalu dan lokasi kamping favoritku di Gunung Pulosari, Banten, ditutup akibat longsor, aku pun ‘libur’ dari dunia perkampingan. Ditambah pula dengan kepindahanku ke Bali, proses adaptasi kerja dan timpat tinggal baru membuatku harus menahan dulu kerinduan untuk kamping.

Untuk memudahkan proses pindah dari Serang ke Banten, aku terpaksa harus menjual banyak sekali barang-barang seperti buku-buku dan juga ‘rumah portable’-ku yang sudah menemani selama 5 tahun itu. Padahal masih sayang banget sama dia. Tapi hidup yah kekginilah ya. Kita harus rela melepas meski sudah cinta sekalipun. Halah!

Bekas sawah yang berubah menjadi lahan ternak sapi.

Bali punya banyak sekali lokasi berkemah yang bagus banget. Bahkan di beberapa lokasi juga menyediakan glamping seperti di Bukit Asah, Karangasem. Tentu keseruan antara glamping dan kamping mandiri berbeda banget sensasinya. Setelah aku punya tenda lagi, aku mulai membuat daftar dan mencari pantai-pantai yang relatif sepi dan aman untuk kamping.

Dari beberapa daftar yang kubikin, baru mendatangi dua lokasi saja. Tempat pertama berada di Tanjung Kedungu.

Tanjung Kedungu

Tanjung Kedungu ini lokasinya dekat sekali dengan Pura Tanah Lot yang terkenal itu. Ketika pertama kali survey ke sana, aku girang bukan main karena pemandangan dan lokasinya yang cukup bagus. Kontur datarannya serupa perbukitan kecil-kecil bekas persawahan yang berakhir ke bibir laut. Sebuah pantai kecil tersembunyi diapit dua tebing karang. Pantai ini sendiri bernama Pantai Panggungan. Pada salah satu sisi tebing karang, mengalir sebuah sungai kecil mengalirkan air kecoklatan. Pantai pasirnya terasa lembut di telapak kaki.

Menyaksikan sesi pemotretan yang penuh drama.

Aku tiba di situ pada sore hari dan gerimis turun perlahan ketika aku berdiri di Pantai Panggungan. Sepasang calon suami istri sedang dipotret di tengah pantai untuk foto pre-wedding, beberapa pasangan terlihat duduk di atas pasir, asyik berangkulan di bawah ceruk tebing. Hmm, dingin-dingin begini, berangkulan, mencamil kudapan, sempurna banget dah!

Menjaring ikan di perairan dangkal di Pantai Panggungan, Tanah Lot, Bali.

Dari atas bekas pematang sawah, aku bisa melihat dengan bebas ke arah bawah. Ada onggokan karang besar sisa-sisa gempuran ombak. Seorang nelayan sedang berusaha melemparkan jaringnya di perairan dangkal yang airnya lebih tenang. Dua orang anaknya yang masih bocah berlarian di pinggir pantai.

Pantai Panggungan di bawah, Tanjung Kedungu di atas.

Kemudian hujan turun amat lebat dan lama. Untung ceruk di dalam tebing karang itu cukup besar untuk berteduh oleh belasan orang yang terjebak.

Hujan baru berhenti sesaat sebelum matahari tenggelam dari cakrawala. Segera orang-orang berlarian meniti pematang sawah menuju parkiran dan pulang. Aku tetap tinggal, seperti ada yang menahanku untuk jangan beranjak dulu dari sana. Sama seperti setiap kali selesai menonton film-film Marvel dan DC di bioskop, ada after credit-nya.

Sebelum badai mengamuk di Tanjung Kedungu

Rupanya after credit setelah hujan di Tanjung Kedungu adalah gradasi cahaya matahari dari balik awan yang baru saja menuntaskan hujannya. Langit diseliputi warna jingga yang membuat tiupan dingin angin laut terasa hangat di dada.

Aku menikmati ‘kehangatan’ petang itu di atas sebuah bukit, di tengah sebuah dataran yang sedikit miring yang telah berdiri tendaku. Warnanya hijau, senada dengan warna rerumputan dan semak di sekitarnya.

Before sunset.

Semakin dekat matahari ke cakrawala, makin pekat pulalah warna di daratan. Semua menjadi siluet. Hanya langit dan awan saja yang bermandikan kirana beberapa rupa. Biru, ungu, jingga.

After sunset.

Saat itu semesta memamerkan after credit termegahnya kepada seorang anak rantau yang belum genap satu tahun di pulau dewata ini.

Berkemah di tempat terbuka, apalagi di pinggir laut, memang agak seram. Selain karena anginnya yang kuat, memiliki pengalaman mistis kamping di pinggir laut membuat hati kebat-kebit sendiri. Malam itu, setelah menghabisi seporsi Nasi Campur dan menyesap kopi Kintamani di depan tenda, gerimis pun turun yang kemudian disusul angin kencang dan hujan lebat.

Tenda serasa akan diterbangkan oleh badai. Kibar lapisan luar tenda berkelepak sangat keras hingga aku khawatir angin akan merobeknya.

Aku memegangi frame tenda untuk menopang agar tak patah atau tercabut akibat serbuan angin kencang. Hati berkecamuk memikirkan apa yang akan terjadi di gelap malam ini jika hal terburuk terjadi. Tapi badai pasti berlalu. Setelah beberapa jam mendera, angin berhenti bertiup. Ini kesempatanku untuk memasak indomie kemudian menyeduh kopi jika badai tak buru-buru kembali ke Kedungu.

Tiba-tiba ingin jadi anak indie yang menjaring senja dengan secangkir kopi.

Ketika air sedang dipanaskan, rintik-rintik hujan menetes ke dalam panci. Udara dingin laut masih berhembus. Terbayang betapa hangatnya malam ini jika aku mengurung diri di dalam kamar Soka Indah Bungalow tak jauh dari lokasiku berkemah. Berbaring di bawah selimut tebal, menonton acara televisi atau aliran video dari gawai. Besok paginya, sarapan sudah tersedia. Ah, nyamannyaaa… Harusnya liburan akhir pekan yang santai sajalah, pikirku. Tapi ini sudah kepalang tanggung. Kalau mau menginap di hotel di Bali ya booking dulu lah sehari sebelumnya dan enggak seru juga kalau dalam gelap gulita di pinggir tebing dan basah begini malah ngacir ke hotel. Cemen amat ya kan? Entar deh kapan-kapan staycation-nya.

Rencana liburanmu bisa banget diatur lebih mudah dengan Pegi-pegi. Ini adalah sebuah website spesial di mana kamu bisa melakukan pemesanan hotel, pesawat, dan kereta untuk memudahkan liburan kamu. Kamu tinggal browsing di pegipegi.com dan kamu bisa nikmati juga berbagai promo menarik di dalamnya. Setiap pemesanan yang kamu lakukan dapat dibayar dengan banyak opsi seperti transfer atau di swalayan. Untungnya lagi kamu bisa mendapatkan rewards menarik berupa poin yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai potongan harga. Mau perjalananmu mudah dan menyenangkan? Pegipegi aja yuk?

Hotel portable-ku.

Memang paling menyenangkan kamping di lokasi baru. Lebih greget lagi jika di tempat itu hanya aku sendiri. Rasanya lebih tenang, lebih sepi. Aku bisa bebas berkontemplasi. Memikirkan hal-hal yang tak perlu dipikirkan. Menikmati dingin malam, tarian kunang-kunang, kelip lampu pesawat,  meteor jatuh dan spiral bimasakti jika beruntung.

Kalau kamu senangnya berkemah sendiri atau harus ada temannya? Atau lebih memilih untuk menginap di hotel atau villa di Bali?

Gagal Move On dari Lombok

Kalau sudah ngomongin Lombok, saya jadi seperti orang yang gagal move on deh. Soalnya pengalaman pertama ke Lombok menjelang akhir September tahun lalu benar-benar berkesan di hati saya. Bila sebelumnya saya cuma mendengar perihal eksotisme tentang Lombok dari cerita-cerita teman yang pernah ke sana, atau dari orang Lombok yang pernah datang ke Aceh, akhirnya saya bisa membuktikan sendiri betapa indahnya negeri yang dijuluki sebagai daerah Seribu Masjid itu. Terlepas dari keindahan panoramanya, saya benar-benar terkesan dengan keramahan masyarakat Lombok.

Ceritanya, menjelang akhir September lalu saya ditugaskan untuk meliput kondisi Lombok pascagempa yang terjadi pada awal Agustus 2018. Sebagai seorang jurnalis yang ditugaskan untuk meliput di daerah bencana, saya sama sekali tidak mempersiapkan diri sebagai calon wisatawan. Karena itu saya dan teman-teman pun hanya membuat itinerary untuk tujuan liputan selama tiga hari di Lombok. Beberapa posko yang akan kami kunjungi dan siapa saja yang akan kami temui di sana sudah kami list.

Kami tiba di Lombok menjelang tengah malam waktu setempat. Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari Aceh, rasa lapar pun tak bisa ditahan lagi. Sopir yang menjemput kami, Dani, menyarankan kami untuk makan di warung pinggir jalan dengan menu bebek dan lele goreng. Kami menurut saja, sebab perut sudah tak bisa diajak kompromi. Namun Dani tak salah memberi rekomendasi. Walaupun hanya warung pinggir jalan, bebek gorengnya ternyata benar-benar enak dan lezat.

“Makanan Lombok itu enak-enak,” kata Dedi berpromosi. Dedi tak bohong. Sebab selama tiga hari berada di Lombok dan menyambangi sejumlah warung makan, semua menu yang disajikan membuat kami begitu lahap bersantap. Apalagi ditambah sambalnya yang variatif.

Gulai Daging Khas Lombok. (Foto: Ihan)

Dani menjadi pintu masuk yang hangat bagi kami untuk mengenal kepribadian masyarakat Lombok yang ramah. Saat itu—dalam kondisi masih berduka karena baru saja terkena bencana—saya kira saya akan menjumpai wajah-wajah murung yang pesimistis. Ternyata yang saya lihat di sana justru sebaliknya. Mereka tetap bersikap hangat dan ceria meski sedang ditimpa musibah. Setiap warga yang kami temui, baik di tenda-tenda atau rumah, mereka selalu mengembangkan senyum.

Apalagi ketika mereka tahu kami dari Aceh, mereka merasa takjub dan merasa senasib karena jauh sebelumnya Aceh juga pernah dilanda gempa hebat yang menyebabkan tsunami dahsyat. Yang membuat kami lebih surprise adalah ketika mereka bilang kalau mereka mengenal Haji Uma dan Bergek? Dua nama ini merupakan selebritas lokal di Aceh yang berprofesi sebagai komedian dan penyanyi.

Bahkan ketika kami mengunjungi salah satu shelter di Lombok Utara, kami malah dijamu dengan hidangan gulai kambing khas Lombok yang sangat lezat. Dan sampai hari ini, setiap kali saya mendengar kata Lombok, bayangan hidangan gulai kambing itu seketika muncul di benak saya. Membuat saya mendadak jadi lapar.

Menikmati udara sejuk di Sembalun. (Foto: Ihan)

Selain dua hal di atas, saya juga gagal move on tiap kali terbayang bentangan alamnya, khususnya di kawasan Lombok Timur yang mencakup area Taman Nasional Gunung Rinjani. Meskipun sudah berbulan-bulan berlalu, saya masih bisa membayangkan tubir-tubir bukit yang gagah di Sembalun. Udaranya yang sejuk. Airnya yang dingin. Dan kebun strawberinya dengan buah-buah yang manis dan segar.

Perjalanan mengelilingi Pulau Lombok menjadi petualangan yang tak terlupakan buat saya. Juga pada sepasang suami istri pengelola sebuah homestay tempat kami bermalam di Sembalun.

Walaupun mereka sendiri sedang kesusahan, tetapi mereka tetap melayani kami sebagai tamu dengan maksimal.

Kampung Sasak Ende di Lombok. (Foto: Ihan)

Saat itu, dalam kondisi serba terbatas dan darurat, tak banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Selain karena kami memang harus berburu waktu dengan tugas yang menumpuk, ada juga objek wisata yang memang ditutup untuk wisatawan seperti pendakian ke Rinjani. Walhasil kami hanya bisa memandang Rinjani dari kejauhan saja. Namun itulah yang membuat keinginan saya untuk kembali di lain waktu ke Lombok begitu kuat. Adrenaline saya selalu terpacu saat membayangkan betapa anggunnya Gunung Rinjani yang terkenal dengan danau Segara Anak itu.

Bila ketemu rekan yang waktu itu sama-sama meliput ke Lombok saya sering bilang yuk, beli tiket golden bird Lombok supaya kita bisa mendaki Rinjani yang aduhai itu. Ajakan itu langsung disambut antusias oleh mereka. Pasalnya mereka juga punya hasrat yang sama untuk kembali lagi ke sana.

Perjalanan di Lombok saat itu kami tutup dengan mengunjungi Desa Wisata Sasak Ende di Sengkol, Lombok Tengah. Sentralnya kebudayaan suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok. Kami benar-benar kagum dengan rumah adat suku Sasak yang terbuat dari bahan “semen cap kaki empat” alias berasal dari kotoran sapi. Ternyata, itu salah satu penghargaan mereka untuk sapi yang berjasa besar bagi keberlangsungan hidup suku Sasak, khususnya di bidang pertanian. Selain belum sempat mendaki Gunung Rinjani, kami juga belum sempat main-main ke pantai-pantai di Lombok yang sudah begitu terkenal oleh wisatawan mancanegara. Bukankah sudah cukup alasan bagi kami untuk kembali ke Lombok?[ihn]

Melihat Upacara Tjiat Ngiat Pan di Petak Sembilan Glodok

Aku tiba di Pasar Petak Sembilan setelah magrib dengan menumpangi bus Transjakarta dari Halte RS Sumber Waras, transit di Halte Harmoni, dan berhenti di Halte Glodok. Meski sedang ada perhelatan akbar Asian Games, isi bus Transjakarta malam itu cukup manusiawi. Aku masih kebagian tempat duduk hingga ke halte tujuan.

Untung Pasar Petak Sembilan berada tak begitu jauh dari Lanjutkan membaca “Melihat Upacara Tjiat Ngiat Pan di Petak Sembilan Glodok”

Menyusuri Lorong ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Setelah melewatkan dua hari pertama dengan bermalasan di hostel, melewatkan beberapa destinasi liburan di Yogya yang sudah direncanakan gara-gara mager (malas gerak), akhirnya ada juga satu objek wisata alam di Yogyakarta yang bisa aku datangi.

Gunung Api Purba Nglanggeran Lanjutkan membaca “Menyusuri Lorong ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran”

Mengenal Arah Mata Angin Ala Orang Jawa

Setelah bertanya ke beberapa kawan yang mewakili beberapa provinsi di Pulau Sumatra, aku mengambil kesimpulan bahwa ternyata rata-rata orang Sumatra susah atau bahkan tidak tahu arah mata angin. Kami hanya tahu nama-namanya saja seperti yang pernah diajarkan waktu sekolah dasar dulu: Barat, Selatan, Utara, Timur, Barat Daya, Tenggara, Timur Laut, dan lain sebagainya. Tapi hanya sebatas mengenal nama-namanya saja tanpa tahu di mana posisinya.

Sebagian besar (sebagian besar lho ya, tidak semua) orang Sumatra memang Lanjutkan membaca “Mengenal Arah Mata Angin Ala Orang Jawa”

Liburan Sempurna di Koens Lodge – Yogyakarta

Libur lebaran yang lalu bisa dikatakan sebagai liburan yang sempurna yang pernah aku lewati. Pasalnya enggak semua daftar What To Do dan Where To Go yang sudah kubikin banyak yang terlaksana. Loh, kok malah menjadi liburan yang sempurna padahal enggak banyak ngapa-ngapainnya? Iya, semakin ke sini (baca: semakin tua) ternyata liburan yang hakiki itu bukan lagi tentang tujuan, tapi bagaimana bisa menikmati KEMALASAN setiap harinya. Tak terbebani dengan daftar-daftar. Halah. :p

Karena aku masih punya banyak sekali sisa hari libur, aku memutuskan untuk melanjutkan liburan di Yogyakarta. Kota ini aku pilih karena perbandingan harga tiket antara BTJ-KNO-CGK dan BTJ-KNO-JOG hanya selisih seratusribuan rupiah. Masih terbilang mahal sih, tapi pulang ke Banten pun harga tiketnya sama saja. Ya sudah, sekalian main-main ke Yogya menghabiskan liburan yang langka ini.

Pada kamis 21 Juni, aku tiba di Bandar Udara International Adisutjipto. Penginapan hasil menang kuis di Instagram @koenslodge akhirnya dapat dipakai juga. Hostel murah di Yogya yang berada 10 km dari bandara ini lumayan dekat dengan beberapa tempat wisata seperti Museum Sonobudoyo, Keraton, dan Fort Vrederburg ini cukup nyaman karena berada di lingkungan yang tak begitu ramai.

Ruang santai di Koens Lodge
Ruang santai di Koens Lodge

Ingat apa kata nenek.
Ingat apa kata nenek.

Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge's instagram)
Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge’s instagram)

Mungkin karena berada di lingkungan yang tenang begini, aku merasa seperti sedang berada di kamar tidur sendiri. Yang beberapa menit kemudian benar-benar berubah seperti layaknya kamar di kontrakanku: berantakan. Wkwk…

Semua kamar di Koens Lodge ini double bed dan shared bathroom. Ada 2 kamar mandi di dapur. Yang satu kamar mandinya tertutup dan yg kedua ini yang favorit banget karena atapnya terbuka gitu di dekat tangki air. Dapurnya sendiri minimalis banget. Karena kompor dan alat masaknya yang biasa dipakai pendaki untuk masak di gunung. Jadi bisa irit biaya makan kalau sedang liburan karena bisa rebus mi sendiri di Koens Lodge. Mau menyimpan makanan pun tersedia kulkas.

Seharusnya hari pertama tiba itu aku gunakan untuk berjalan-jalan di kawasan Malioboro atau Fort Vrederberg atau yang dekat-dekat situlah. Tapi karena mager (malas gerak) akhirnya aku leyeh-leyeh di kamar sambil membaca novel Kura-kura Berjanggut sampai tertidur.

Awalnya kupikir akan kesulitan mencari penyewaan motor. Untungnya Koens Lodge bermitra dengan sebuah jasa penyewaan sepeda motor yang informasinya tersedia di dalam kamar. Malam itu juga aku sudah punya motor untuk dipakai jalan-jalan besok pagi.

Tapi rencana hanya tinggal rencana. Niat ingin melihat pantai-pantai di wilayah Gunungkidul sirna karena lagi-lagi aku mager. Padahal sudah bangun subuh sekali karena ingin melihat sunrise sesuai saran-saran di banyak tulisan blog yang kubaca. Tapi mata masih sangat mengantuk gara-gara semalam bukannya tidur cepat, malah pergi ke mal untuk menonton film Incredibles 2. Sudah lokasi bioskopnya jauh, enggak ngerti arah dan jalan akhirnya aku tersasar beberapa kali saat pulang. Sampai Koens Lodge sudah lewat tengah malam. Akibatnya saat terbangun karena dering alarm, hanya tangan yang bangun untuk memencet tombol dismiss.

Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.
Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.

Pagi itu yang semestinya aku sedang dipukau dengan pesona matahari terbit, aku bergoler di kasur. Hanya karena rasa laparlah aku mampu mengangkat pantat dan membeli mi instan dan telur di warung depan hostel untuk sarapan.

Koens Lodge ini sebenarnya masih tutup karena owner-nya, Arkun malah ngacir liburan ke Eropa dan stafnya masih lebaran di kampung. Jadi hanya aku sendiri di Koens Lodge. Perasaan seperti di rumah sendiri semakin menjadi-jadi. Apalagi kulkas juga sengaja diisi Arkun dengan berbagai jenis sirup, wafer, dan bakpia. Nikmat banget memang tinggal di rumah dengan makanan banyak gini ya!

Seharian penuh aku hanya di hostel. Membaca buku, rebus mi, makan di depan jendela sambil melihat anak-anak main. Atau menikmati suara gamelan dari radio rumah tetangga. Saking malasnya aku keluar dari hostel tapi bosan karena enggak melakukan apa-apa, ruang depan dan dapur aku sapu bersih. Ini benar-benar seperti liburan sempurna setiap hari minggu di kontrakan.

Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin
Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin

Tapi besok paginya aku enggak tingal diam lagi di Koens Lodge. Karena saat mager kemarin aku mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas membuat video/vlog di Simply Homy Guesthouse milik Mbak Olenka. Dari pada enggak ke mana-mana, ya sudah, sekalian silaturahmi dengan emak-emak blogger hits Yogyakarta sini. Hasil dari ikut belajar bikin vlog menggunakan gawai itu selain ilmu vlog-nya, aku juga dibekali aneka bubuk minuman sachet dan aneka kue.

Sorenya aku ditemani Nugie makan Mi Lethek Mbah Mendes. Yang darinya aku tahu lethek itu berarti kusam, sesuai dengan warna mi yang mereka sajikan. Bagi lidah yang terbiasa dengan makanan berlimpah mecin seperti lidahku ini, mi lethek ini akan terasa biasa saja. Tapi aku baru tahu ternyata mi lethek ini terbuat dari tepung tapioka yang katanya rendah gula dan tanpa bahan pengawet yang dimasak tanpa mecin.

Aku sendiri memesan seporsi Mi Lethek Godog, bihun rebus yang dicampur dengan aneka sayur. Ini jauh lebih sehat dibandingkan makananku di hostel kemarin. Hehe…

Mi Lethek Mbah Mendes
Mi Lethek Godok Mbah Mendes

Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.
Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.

Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.
Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.

Karena penasaran dengan kopi jos, aku mengajak seorang teman, Dika ke areal angkringan Kopi Jos di Jalan Wongsodirdjan. Karena angkringan kopi jos legendarisnya sudah penuh, akhirnya kami mencari angkringan yang masih kosong saja. Entah karena salah tempat, rasa kopinya biasa saja. Pulang dari sana, kupikir suatu saat nanti aku harus kembali lagi untuk mencoba rasa kopi di Angkringan Kopi Jos Lik Man itu. Tapi sebenarnya rasa kopinya enggak buruk-buruk amat kok. Rasa kopi josnya menjadi lumayan enak karena dibantu dengan suasana di sepanjang area lesehan yang cukup unik. Ada kopi dan ada musisi jalanan yang enggak sekedar bersuara dan menodongkan topi untuk sumbangan. Dari semua tempat yang kukunjungi di Yogya, tempat ini paling berkesan suasananya.

Malam itu aku pulang ke Koens Lodge dengan perut dan hati yang puas.

Keriangan di Pulau Sangiang

Pagi di Pantai Anyer.
Pagi di Pantai Anyer.

Permukaan laut pagi minggu itu sangat tenang. Tak berombak. Udara pun cerah dengan awan tipis dan halimun yang mendramatisasi sinar matahari terbit. Pagi itu, pukul setengah enam pagi, pantai-pantai di Anyer telah riuh oleh pengunjung. Sepertinya sisa keriangan tadi malam masih terus berlanjut hingga hari berganti.

Awan tipis itu terus bertahan hingga siang untuk menangkis Lanjutkan membaca “Keriangan di Pulau Sangiang”

Tips Belanja Hemat Untuk Ramadan Ekstra di Tokopedia

Bulan Ramadan sudah semakin dekat. Tinggal hitungan hari saja dan aku mulai deg-degan menyambut bulan suci ini. Kenapa deg-degan? Hm, entahlah. Perasaan ini susah dijelaskan. Tapi yang pasti, bulan puasa kali ini aku merasa harus bisa menjalaninya dengan lebih baik lagi dari tahun lalu. Lanjutkan membaca “Tips Belanja Hemat Untuk Ramadan Ekstra di Tokopedia”