Natal di Kolkata

Aku tiba di Kolkata pada dini hari. Disambut dengan udara dingin serta diiringi perasaan cemas dan debar jantung ketika mengantre di bagian imigrasi. Aku bersama Juki, kawan seperjalanan yang berangkat dengan penerbangan yang sama dari Kuala Lumpur, memasang wajah penuh harap. Semoga lembaran e-visa yang salah cetak ini, yang sebelumnya nyaris ditolak sesaat sebelum boarding di KLIA, bisa diterima. Syukurnya, petugas imigrasi yang terlihat bengis bak pemeran antagonis itu mempersilakan kami masuk India dengan senyum semanis gula.

Tantangan berikutnya adalah mencari taksi menuju hostel yang berjarak 17,5 km dari Netaji Subhas Chandra Bose Internation Airport. Ada beberapa konter taksi resmi yang bisa ditemukan di luar bandara. Jika kamu punya aplikasi Uber, ini akan lebih membantumu selama berjalan-jalan di India. Taksi kuning yang kami pesan, sudah menanti di Lanjutkan membaca “Natal di Kolkata”

Dusty Pink of Jaipur

Sindhi Camp Bus Station masih gelap ketika bus yang kutumpangi tiba di sana pada pukul 6 pagi. Rasanya enggan sekali aku beranjak dari kursi bus yang sudah menjadi tempat tidurku selama enam jam itu. Bisa kupastikan udara dingin akan segera menyergap jika keluar dari bus yang memiliki pemanas ini. Sayang sekali tak ada pilihan lain, Juki, Friska, dan aku harus segera turun dan mencari penginapan yang sudah dipesan jauh hari.

Penginapan itu tak begitu jauh dari terminal bus, tapi perjalanan ke sana terasa begitu panjang karena rasa kantuk yang begitu kuat, udara dingin yang membekukan, dan ditambah pula dengan segala keasingan di kota orang. Rasanya benar-benar berada di Lanjutkan membaca “Dusty Pink of Jaipur”

Melihat Upacara Tjiat Ngiat Pan di Petak Sembilan Glodok

Aku tiba di Pasar Petak Sembilan setelah magrib dengan menumpangi bus Transjakarta dari Halte RS Sumber Waras, transit di Halte Harmoni, dan berhenti di Halte Glodok. Meski sedang ada perhelatan akbar Asian Games, isi bus Transjakarta malam itu cukup manusiawi. Aku masih kebagian tempat duduk hingga ke halte tujuan.

Untung Pasar Petak Sembilan berada tak begitu jauh dari Lanjutkan membaca “Melihat Upacara Tjiat Ngiat Pan di Petak Sembilan Glodok”

Menyusuri Lorong ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Setelah melewatkan dua hari pertama dengan bermalasan di hostel, melewatkan beberapa destinasi liburan di Yogya yang sudah direncanakan gara-gara mager (malas gerak), akhirnya ada juga satu objek wisata alam di Yogyakarta yang bisa aku datangi.

Gunung Api Purba Nglanggeran Lanjutkan membaca “Menyusuri Lorong ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran”

Liburan Sempurna di Koens Lodge – Yogyakarta

Libur lebaran yang lalu bisa dikatakan sebagai liburan yang sempurna yang pernah aku lewati. Pasalnya enggak semua daftar What To Do dan Where To Go yang sudah kubikin banyak yang terlaksana. Loh, kok malah menjadi liburan yang sempurna padahal enggak banyak ngapa-ngapainnya? Iya, semakin ke sini (baca: semakin tua) ternyata liburan yang hakiki itu bukan lagi tentang tujuan, tapi bagaimana bisa menikmati KEMALASAN setiap harinya. Tak terbebani dengan daftar-daftar. Halah. :p

Karena aku masih punya banyak sekali sisa hari libur, aku memutuskan untuk melanjutkan liburan di Yogyakarta. Kota ini aku pilih karena perbandingan harga tiket antara BTJ-KNO-CGK dan BTJ-KNO-JOG hanya selisih seratusribuan rupiah. Masih terbilang mahal sih, tapi pulang ke Banten pun harga tiketnya sama saja. Ya sudah, sekalian main-main ke Yogya menghabiskan liburan yang langka ini.

Pada kamis 21 Juni, aku tiba di Bandar Udara International Adisutjipto. Penginapan hasil menang kuis di Instagram @koenslodge akhirnya dapat dipakai juga. Hostel murah di Yogya yang berada 10 km dari bandara ini lumayan dekat dengan beberapa tempat wisata seperti Museum Sonobudoyo, Keraton, dan Fort Vrederburg ini cukup nyaman karena berada di lingkungan yang tak begitu ramai.

Ruang santai di Koens Lodge
Ruang santai di Koens Lodge
Ingat apa kata nenek.
Ingat apa kata nenek.
Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge's instagram)
Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge’s instagram)

Mungkin karena berada di lingkungan yang tenang begini, aku merasa seperti sedang berada di kamar tidur sendiri. Yang beberapa menit kemudian benar-benar berubah seperti layaknya kamar di kontrakanku: berantakan. Wkwk…

Semua kamar di Koens Lodge ini double bed dan shared bathroom. Ada 2 kamar mandi di dapur. Yang satu kamar mandinya tertutup dan yg kedua ini yang favorit banget karena atapnya terbuka gitu di dekat tangki air. Dapurnya sendiri minimalis banget. Karena kompor dan alat masaknya yang biasa dipakai pendaki untuk masak di gunung. Jadi bisa irit biaya makan kalau sedang liburan karena bisa rebus mi sendiri di Koens Lodge. Mau menyimpan makanan pun tersedia kulkas.

Seharusnya hari pertama tiba itu aku gunakan untuk berjalan-jalan di kawasan Malioboro atau Fort Vrederberg atau yang dekat-dekat situlah. Tapi karena mager (malas gerak) akhirnya aku leyeh-leyeh di kamar sambil membaca novel Kura-kura Berjanggut sampai tertidur.

Awalnya kupikir akan kesulitan mencari penyewaan motor. Untungnya Koens Lodge bermitra dengan sebuah jasa penyewaan sepeda motor yang informasinya tersedia di dalam kamar. Malam itu juga aku sudah punya motor untuk dipakai jalan-jalan besok pagi.

Tapi rencana hanya tinggal rencana. Niat ingin melihat pantai-pantai di wilayah Gunungkidul sirna karena lagi-lagi aku mager. Padahal sudah bangun subuh sekali karena ingin melihat sunrise sesuai saran-saran di banyak tulisan blog yang kubaca. Tapi mata masih sangat mengantuk gara-gara semalam bukannya tidur cepat, malah pergi ke mal untuk menonton film Incredibles 2. Sudah lokasi bioskopnya jauh, enggak ngerti arah dan jalan akhirnya aku tersasar beberapa kali saat pulang. Sampai Koens Lodge sudah lewat tengah malam. Akibatnya saat terbangun karena dering alarm, hanya tangan yang bangun untuk memencet tombol dismiss.

Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.
Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.

Pagi itu yang semestinya aku sedang dipukau dengan pesona matahari terbit, aku bergoler di kasur. Hanya karena rasa laparlah aku mampu mengangkat pantat dan membeli mi instan dan telur di warung depan hostel untuk sarapan.

Koens Lodge ini sebenarnya masih tutup karena owner-nya, Arkun malah ngacir liburan ke Eropa dan stafnya masih lebaran di kampung. Jadi hanya aku sendiri di Koens Lodge. Perasaan seperti di rumah sendiri semakin menjadi-jadi. Apalagi kulkas juga sengaja diisi Arkun dengan berbagai jenis sirup, wafer, dan bakpia. Nikmat banget memang tinggal di rumah dengan makanan banyak gini ya!

Seharian penuh aku hanya di hostel. Membaca buku, rebus mi, makan di depan jendela sambil melihat anak-anak main. Atau menikmati suara gamelan dari radio rumah tetangga. Saking malasnya aku keluar dari hostel tapi bosan karena enggak melakukan apa-apa, ruang depan dan dapur aku sapu bersih. Ini benar-benar seperti liburan sempurna setiap hari minggu di kontrakan.

Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin
Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin

Tapi besok paginya aku enggak tingal diam lagi di Koens Lodge. Karena saat mager kemarin aku mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas membuat video/vlog di Simply Homy Guesthouse milik Mbak Olenka. Dari pada enggak ke mana-mana, ya sudah, sekalian silaturahmi dengan emak-emak blogger hits Yogyakarta sini. Hasil dari ikut belajar bikin vlog menggunakan gawai itu selain ilmu vlog-nya, aku juga dibekali aneka bubuk minuman sachet dan aneka kue.

Sorenya aku ditemani Nugie makan Mi Lethek Mbah Mendes. Yang darinya aku tahu lethek itu berarti kusam, sesuai dengan warna mi yang mereka sajikan. Bagi lidah yang terbiasa dengan makanan berlimpah mecin seperti lidahku ini, mi lethek ini akan terasa biasa saja. Tapi aku baru tahu ternyata mi lethek ini terbuat dari tepung tapioka yang katanya rendah gula dan tanpa bahan pengawet yang dimasak tanpa mecin.

Aku sendiri memesan seporsi Mi Lethek Godog, bihun rebus yang dicampur dengan aneka sayur. Ini jauh lebih sehat dibandingkan makananku di hostel kemarin. Hehe…

Mi Lethek Mbah Mendes
Mi Lethek Godok Mbah Mendes
Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.
Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.
Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.
Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.

Karena penasaran dengan kopi jos, aku mengajak seorang teman, Dika ke areal angkringan Kopi Jos di Jalan Wongsodirdjan. Karena angkringan kopi jos legendarisnya sudah penuh, akhirnya kami mencari angkringan yang masih kosong saja. Entah karena salah tempat, rasa kopinya biasa saja. Pulang dari sana, kupikir suatu saat nanti aku harus kembali lagi untuk mencoba rasa kopi di Angkringan Kopi Jos Lik Man itu. Tapi sebenarnya rasa kopinya enggak buruk-buruk amat kok. Rasa kopi josnya menjadi lumayan enak karena dibantu dengan suasana di sepanjang area lesehan yang cukup unik. Ada kopi dan ada musisi jalanan yang enggak sekedar bersuara dan menodongkan topi untuk sumbangan. Dari semua tempat yang kukunjungi di Yogya, tempat ini paling berkesan suasananya.

Malam itu aku pulang ke Koens Lodge dengan perut dan hati yang puas.

Keriangan di Pulau Sangiang

Pagi di Pantai Anyer.
Pagi di Pantai Anyer.

Permukaan laut pagi minggu itu sangat tenang. Tak berombak. Udara pun cerah dengan awan tipis dan halimun yang mendramatisasi sinar matahari terbit. Pagi itu, pukul setengah enam pagi, pantai-pantai di Anyer telah riuh oleh pengunjung. Sepertinya sisa keriangan tadi malam masih terus berlanjut hingga hari berganti.

Awan tipis itu terus bertahan hingga siang untuk menangkis Lanjutkan membaca “Keriangan di Pulau Sangiang”

Ngeliwet, Pantai Bagedur, dan Curug Munding

Akhir minggu yang panjang dan langka di bulan Maret lalu (17-19/03) aku gunakan untuk berlibur di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Jaraknya lumayan jauh sih dari tempat tinggalku. Hampir 3 jam perjalanan dengan motor yang harus aku dan 5 orang teman kantor habiskan dari Baros, Kabupaten Serang.

Jika aku mengulang kembali perjalanan ini seorang diri, aku yakin akan tersasar. Karena rute dari Baros ke Malingping ini ada banyak sekali persimpangan jalan yang menghubungkan satu kecamatan ke kecamatan yang lain, kabupaten satu ke kabupaten yang lain lagi. Rutenya membuat aku bingung meski ada penunjuk jalan sekali pun. Untungnya kemarin itu aku dipandu oleh orang Malingping sendiri, Bang Suro, yang akan menjamu kami di rumahnya selama dua hari.

Perjalanan ini sudah direncanakan seminggu yang lalu. Aku awalnya yakin rencana ini akan gagal sebagaimana rencana-rencana sebelumnya yang pernah kami buat. Tapi kali ini alhamdulillah, jadi juga rupanya.

Rumah Bang Suro berada sekitar 10 km dari kota Malingping, melewati jalan aspal dan beton yang berkelok-kelok, naik dan turun bukit. Melewati kebun sawit, hutan, melintasi pasar, dihalangi hujan lebat, dan dipanggang matahari. Kami tiba saat tengah hari dengan perut lapar. Beberapa buah jambu batu, jeruk, kokosan (sejenis langsat), dan duku disuguhkan untuk mengganjal perut yang berontak sebelum makanan utama dihidangkan.

Kami mengadakan liwetan atau ngeliwet untuk makan siang di hari pertama itu. Makan ala anak pesantren berupa nasi liwet dan ikan bakar yang disajikan di atas daun pisang dan disantap bersama-sama di beranda rumah. Sungguh sedap! Makan siang ini baru bisa disantap pada pukul 2 siang. Terbilang cukup telat, karena menyiapkan semua makanan itu butuh waktu lumayan lama.

 

Empat orang teman yang lain menyusul dari Serang dan tiba di rumah selepas jam 9 malam. Empat vespa diparkir di depan warung, Bang Sarif dan teman-temannya telah tiba dan tampak kembali bersemangat setelah melihat mangkuk-mangkuk bakso ikan dan mie ayam yang terhidang di meja.

Pantai Bagedur

Rencana awalnya adalah mengunjungi Pantai Sawarna. Tapi jaraknya yang ternyata masih sangat jauh dari rumah Bang Suro dan keterbatasan waktu yang kami miliki, akhirnya rencana diubah ke Pantai Bagedur yang lebih dekat supaya kami masih punya cukup waktu untuk ke Curug Munding di Gunung Kencana.

Pantai Bagedur tampak khas dengan karang-karang hitam yang mendominasi pantai putih kecoklatannya. Gelombang-gelombang besar berdebur keras menghantam karang dan buih-buih putih menyelimuti semua permukaan karang. Angin dengan aroma laut bercampur bau rumput beberapa saat sempat menghempaskan aku kembali ke kampung halaman, rindu pun terobati sudah.

Salah satu sisi Pantai Bagedur yang berkarang.

Kami memilih sebuah pantai yang terdapat semacam atol yang pada pinggir-pinggirnya dibatasi karang. Namun pada bagian terluar, terdapat sebuah celah lebar sehingga gelombang tetap bisa masuk dan mendebur lepas ke pantai berpasir. Pada pantainya pun, terdapat pula karang-karang besar, tinggi dan luas. Sebagian tebingnya menutupi setengah bagian pantai berpasir di dekat atol tadi.

Lokasi mandi yang terlihat amat saat tenang.
Lokasi mandi yang terlihat amat saat tenang.

Gelombang besar menghempas ke sisi batu karang paling luar atol dan menciptakan ombak-ombak di dalam kolam. Di sana lah aku menyeburkan diri. Membiarkan diri dimainkan ombak, mengikuti arus. Tapi aku harus tetap awas pada gelombang besar yang kadang-kadang datang. Arusnya dapat menarik badanku begitu saja dan membenturkannya ke dinding-dinding karang yang tajam. Dua kali aku dan seorang teman nyaris terseret arus. Melihat gelagat alam yang mulai tak ‘aman’ begitu, aku dan teman-teman menyudahi bermain-main di dalam air dan bergegas ke daratan, menikmati jagung dan kacang sambil memperhatikan gelombang laut selatan dari balik karang. Terlihat anggun dan ganas di saat bersamaan.

Detik-detik saat gelombang besar datang. Arusnya menyeretku dengan kuat.
Detik-detik saat gelombang besar datang. Arusnya menyeretku dengan kuat.

Ketika matahari sudah semakin tinggi, kami memutuskan kembali ke rumah Bang Suro untuk bersiap pula ke Curug Munding. Tapi sebelum berangkat ke sana, tanpa Bang Suro dan aku ketahui, beberapa orang teman yang lain rupanya telah berbelanja ikan dan sotong di Pasar Malingping untuk dibakar sebagai menu makan siang. Seekor ikan laut besar yang entah apa namanya serta 2 kilogram sotong tiba di rumah saat aku tertidur di balai-balai.

Aku terbangun ketika mendengar suara cempreng knalpot vespa dan membantu semampuku apa yang bisa dibantu. Pekerjaan dapur itu lebih banyak dikerjakan oleh teman-temanku. Mereka tampak sangat berpengalaman dengan urusan membersihkan ikan, sotong, meracik bumbu, membakar arang, dan menanak nasi liwet. Aku yang tak pernah mondok ini merasa sedikit tak enak hati karena lebih banyak duduk memperhatikan.

Acara ngeliwet ini juga butuh waktu berjam-jam. Setelah lauk dan sambal ludes, ditambah dengan istirahat untuk memberi waktu lambung mencerna beberapa saat, kami kembali berkemas dan pamit pada keluarga Bang Suro. Sedangkan Bang Suro masih terus ikut menemani ke Curug Munding.

Bang Suro menaiki motor trail bututnya yang tadi malam diambil dari rumah mertuanya saat kami berjalan-jalan di Alun-alun Malingping. Suaranya sungguh membuat kuping pengang jika berada terlalu dekat. Sedangkan aku dan yang lain, kecuali Bang Jali dengan motor trail juga, mengendarai vespa dan motor matic.

Curug Munding

Ada dua jalur untuk menuju ke lokasi air terjun ini. Yang satu memiliki penanda dengan nama balok Curug Munding Caringin Gunung Kencana di pintu gerbang. Sedangkan yang satu lagi yang kami lalui-tidak ada petunjuk apa-apa. Namun kedua jalur ini sama-sama tidak diaspal. Atau lebih tepatnya aspalnya sudah hancur. Yang tersisa hanya jalanan berbatu dan sedikit aspal di beberapa ruas.

Kondisi jalan menuju Curug Munding.
Kondisi jalan menuju Curug Munding.

Perjalanan menuju lokasi parkir menjadi terasa lebih lama dan jauh karena kondisi jalan seperti itu. Ditambah pula dengan beberapa jalur yang mendaki lalu menurun dengan tikungan yang tajam. Namun di tengah kondisi jalan yang rusak begitu, ada pula sebuah kampung. Di sanalah kami memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan warga.

Jarak dari tempat parkir ke air terjun tak terlalu jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki di jalan setapak yang sudah di-paving block. Air terjun jatuh dari atas tebing batu setinggi kurang lebih 10 meter dan mengalir ke sungai di lembah yang membelah persawahan terasering yang saat itu sedang menghijau. Waktu itu sudah jam 3 sore. Aku tak membuang-buang waktu lagi dengan mengobrol. Kubuka baju dan mengganti celana panjang ke celana renang lalu menyeberangi sungai.

Persawahan di dekat air terjun Curug Munding.
Persawahan di dekat air terjun Curug Munding.
Curug Munding Caringin di Gunung Kencana, Lebak.
Curug Munding Caringin di Gunung Kencana, Lebak.

Airnya keruh, kecoklatan. Ada tebing batu besar di kedua sisi kolam air terjun. Pada satu sisi, terdapat air terjun kecil lagi yang kerap dijadikan lokasi berswafoto dengan latar air terjun. Sedangkan sisi satu lagi ditempati beberapa laki-laki yang bolak-balik melompat ke air, naik ke batu lalu melompat lagi. Aku pun mengikuti mereka dari belakang yang kemudian diikuti oleh teman-temanku yang lain beberapa saat kemudian.

Meski airnya keruh, tapi pemandangan air terjun dari tengah kolam cukup menarik. Apalagi dengan adanya pelangi yang muncul di salah satu satu tebing akibat bias cahaya matahari pada air terjun. Pelangi itu bertahan cukup lama menemani kami bermain-main di dalam air.

Pelangi di Curug Munding Caringin Gunung Kencana
Pelangi di Curug Munding Caringin Gunung Kencana

Setelah puas bermain air, kami berkemas dan pulang. Kali ini Bang Suro kembali pulang ke rumahnya sendirian dengan motor trail tanpa lampu itu. Sedangkan kami mengambil jalan pulang kembali ke Serang.

Cahaya matahari telah sepenuhnya hilang dan malam mengubah semua yang samar-samar tampak begitu asing. Aku tak ingat lagi pernah melewati jalan dan persimpangan yang kami lalui. Agar tak salah jalan, aku sengaja berjalan di dalam iringan-iringan. Tapi sekali-sekali tanpa aku sadari, posisiku sudah berada paling depan. Setiap kali menjumpai persimpangan, aku harus berhenti dulu dan membiarkan teman-teman mendahului dan memandu ke jalan yang benar.

Pergi seorang diri pada siang hari kemungkinan nyasarnya saja sudah besar, apalah lagi jika pulang seorang diri pada malam hari? Tapi apa pun yang terjadi, aku enggak pernah kapok bersepeda motor ke tempat-tempat yang jaraknya terbilang jauh.

Solo Traveling or Group Traveling?

Dulu aku adalah seorang penikmat solo traveling. Yaitu bepergian seorang diri. Tidak dalam grup, berdua, bertiga, tapi sendirian saja. Kesukaan aku ini memunculkan pertanyaan bagi banyak orang yang mengetahui rencana yang akan aku lakukan atau setelah mendengar kisah-kisah perjalananku. Ini cukup aneh bagi mereka. Tak lazim.

Tapi bagiku, melakukan perjalanan seorang diri ini sungguh suatu perjuangan yang nano-nano, banyak rasanya. Karena mulai dari awal hingga akhir, perencanaan, keputusan, dan eksekusi ada di aku semua. Dengan pertimbangan-pertimbangan yang mungkin bersangkutan dengan orang lain juga tentunya. Apapun yang aku lakukan, konsekuensinya aku sendiri yang tanggung. Tak ada teman untuk berbicara. Kecuali yang aku temui di perjalanan. Mungkin ini yang menjadi pertanyaan bagi mereka, apa tak kesepian? Kemudian aku sadar, kesepian adalah teman.

“Travel far enough, you meet yourself.”― David Mitchell, Cloud Atlas
“Travel far enough, you meet yourself.”― David Mitchell, Cloud Atlas

Kepribadian seseorang terbentuk dari apa yang terjadi di masa lalunya. Itulah yang aku sadari kenapa aku lebih senang berangkat sendirian. Pada beberapa perjalanan yang lalu, aku lalui dengan beberapa orang teman yang ternyata tak sesuai dengan harapan. Ternyata benar pepatah yang mengatakan:

Jika kau ingin mengenal seseorang, bepergianlah dengannya.

Paling ganteng sendiri.
Paling ganteng sendiri.

Namun yang terjadi adalah kita (aku) bukan hanya mengenal teman seperjalanan tapi juga makin mengenal diriku sendiri dengan perjalanan bersama mereka. Aku seperti menemukan kepingan-kepingan puzzle yang hilang yang tak pernah aku rasakan hilang. Ternyata bukan mereka yang tak bisa memenuhi harapan-harapanku, tapi akulah yang tak mampu menjadi teman seperjalanan yang baik bagi mereka.

Belajar dari pengalaman masa lalu, aku tak kapok melakukan perjalanan dengan orang lain, bahkan yang belum aku kenal sekali pun. Aku menyimpan semua ekspektasiku pada rupa dan rasa perjalanan yang akan terjadi nanti dan membiarkan perjalanan itu memberi kejutan.

Traveling dalam grup adalah perjalanan yang membuka lebih banyak jendela untuk aku bisa melihat lebih leluasa ke karakter orang yang kutemani selama traveling. Dan aku ketagihan untuk melakukannya lagi.

Bagaimana dengan kamu, apakah kamu tipe traveler yang senang sendirian atau bersama teman-teman?

Jakarta Walking Tour: Jalan-jalan Sambil Belajar Sejarah

Berjalan-jalan di Jakarta sekarang ini menyenangkan banget semenjak aku tahu ada Jakarta Walking Tour yang diinisiasi Jakarta Good Guide. Komunitas ini mengajak siapa saja yang ingin menikmati tempat-tempat bersejarah di Jakarta dengan berjalan kaki. Kegiatan ini tidak dipungut bayaran sama sekali, tapi terbuka bagi Lanjutkan membaca “Jakarta Walking Tour: Jalan-jalan Sambil Belajar Sejarah”

Nyaris Terkepung Sungai Meluap di Air Terjun Toroan – Madura

Suatu hari di tengah siang yang panas di sebuah taman di Jakarta, aku menerima ajakan jalan-jalan ke Mojokerto dengan berat hati. Bukan karena berat badanku yang terus bertambah (enggak ada hubungannya #eheh) tapi karena menyadari dengan menerima ajakan itu berarti jumlah saldo di rekeningku akan semakin ‘ringan’ nominalnya. Apalagi dengan Lanjutkan membaca “Nyaris Terkepung Sungai Meluap di Air Terjun Toroan – Madura”