Selayang Pandang Desa Kurau

Desa Kurau jika dilihat dari citra satelit dibelah-belah oleh jalan aspal yang menghubungkan Pangkalpinang dan Koba, dan sungai Kurau yang bermuara ke Selat Karimata. Perahu-perahu nelayan ditambat di dermaga. Rumah-rumah panggung khas pinggir sungai berdiri rapat di atas pancang-pancang kayu yang terlihat rapuh.

Lanjutkan membaca “Selayang Pandang Desa Kurau”

Pekebun Cilik di Danau Aneuk Laot

Hari keduaku di Sabang tanggal 28 Mei lalu, Mus mengantarku ke Danau Aneuk Laot. Lokasi camping berada di tempat pemancingan milik Bang Fatwa yang pernah aku ceritakan sebelumnya di SINI. Kami tiba sudah agak sore. Tampak ada tiga orang sedang memancing di atas dermaga yang ternyata adalah guru Mus di SMA. Lima ekor ikan nila sebesar telapak tangan berhasil dipancing dari danau.

Selain tempat memancing, danau juga dimanfaatkan untuk berbagai hal. Beberapa kegiatan kurekam dalam beberapa foto di bawah ini:

Lanjutkan membaca “Pekebun Cilik di Danau Aneuk Laot”

Wild Weekly Photo Challenge: Flowers

bunga

I found this flower when i was on a riverside where there are so many big rocks. It grows on one of the rock and bloom beautifully.

//

I’m participating in the online adventure travel and photography magazine LetsBeWild.com’s Wild Weekly Photo Challenge for bloggersThis week’s Challenge is: Flowers!

Wild Weekly Photo Challenge: People in Nature

I’m participating in the online adventure travel and photography magazine LetsBeWild.com’s Wild Weekly Photo Challenge for bloggersThis week’s Challenge is: People in Nature!

1-ijen-1-3

ijen worker

lifter

The sulfur miner goes down into the crater of Ijen Vulcano and climbs the crater’s slope with a-10 kg of yellowish-sulfuric stones in his basket. The scenery of lake sulfur and the miners are the daily views in the Ijen Crater, Java, Indonesia.

//

Wild Weekly Photo Challenge: Unusual

1-blangpanyang-0475

This afternoon, when i ride my bike to the hill again, I saw a farmer was ridding his motorbike down the hill ridge with a big sack on the back. he wasn’t wearing a helmet and he’s smoking a cigarette. He’s riding the motorbike like he’s riding the winds. Phew…

(Blang Panyang Hills, Lhokseumawe, Aceh, Indonesia)

I’m participating in the online adventure travel and photography magazine LetsBeWild.com’s Wild Weekly Photo Challenge for bloggersThis week’s Challenge is: Unusual!

Weekly Photo Challenge: Surprise

tentatnight

What’s the surprise? The tent! Yes. The tent, the light, and the darkness. It surprised me. It was new and I never camped alone. Last week, i took a courage to camped on the top of the hill near my little city, Lhokseumawe. The birds chirping like a lullaby so i couldn’t stand my eyes to read the Life Traveler anymore.

Sunyi sekali di dalam sana

Sebulan yang lalu, sepulang kerja dari Lhok Sukon, aku mengunjungi kompleks makam kerajaan Pasee di Geudong. Sambil duduk di lantai di dekat makam Raja Malikulsaleh, aku ditemani seorang bapak tua penjaga makam. Di sisi kiri bertaburan batu-batu nisan. Permukaannya telah bercorak karena ditumbuhi lumut.

Berdua dengan si bapak, sama-sama diam. Suasana hening. Mataku melihat ke batu-batu nisan lekat-lekat. Ada apa di bawah sana? Apa yang sudah terjadi sampai mereka mati? Dan mengapa jasad mereka dimakamkan di samping makam raja?

Nisan mereka hanya batu-batu kasar tak berukir. Tak bernama. Tak dikenali.

Kurasa sunyi sekali di dalam sana.

Bersepeda ke Pulau Semadu

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Pantai Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya.
Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Jadi sebenarnya  bukan sebuah pulau ya. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya. Panjangnya kurang dari 100 meter.

Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda sejauh lebih kurang 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Lhokseumawe. Mengabaikan jalan utama Lhokseumawe – Banda Aceh, aku  memilih melewati jalan di balik bukit Kampung Paloh.

Tujuan ke Rancong ini semula tak direncanakan. Tujuan awal adalah bersepeda mengelilingi bukit-bukti Panggoi dan Paloh. Namun jalan yang kususuri berujung kepersimpangan yang warga setempat menyebutnya Simpang Len (Line). Yaitu jalan yang dibangun oleh Exxon Mobile dan tembus ke pelabuhan Arun. Lanjutkan membaca “Bersepeda ke Pulau Semadu”

Bersepeda di Punggung Bukit Panggoi

Bersepeda di punggung bukit Panggoi

Istirahat dan narsis sebentar di atas bukit Panggoi. Kamera aku taruh di atas sebuah batu hitam bekas pos penjagaan di jaman penjajahan Jepang dulu. Di belakangku itu lereng bukit. Terlihat lautan di sebelah kanan.

Bersepeda di punggung bukit Panggoi

Istirahat sebentar di atas bukit Panggoi setelah bersepeda sekitar 3 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Kamera aku taruh di atas sebuah batu hitam bekas pos penjagaan masa penjajahan Jepang dulu. Di belakangku itu lereng curam yang dasarnya ditumbuhi pepohonan. Bukit ini juga digunakan sebagai jalan pintas para pencari tiram di Krueng Cunda dari Gampong (kampung) Paloh yang letaknya di balik bukit.

%d blogger menyukai ini: