Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi

Februari 2013 lalu, aku, Dika, dan Nisa mengangkut sepeda dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. Nekat ingin bersepeda menjelajah pulau yang tak kami pahami betul bagaimana kontur jalannya yang ternyata berbukit-bukit itu. Rasanya masih kapok jika ke sana lagi. Capeknya bersepeda naik turun bukit di tengah terik matahari dengan ransel berat di punggung benar-benar amat menyiksa.  Lanjutkan membaca “Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi”

Taman di Mon Ikuen

Taman ini bukan sembarang taman. Rumputnya tak sehijau taman buatan manusia yang selalu mendapat perawatan. Diberi pupuk dan disiram air. Tidak pula permukaannya rata dan bersih dari kotoran binatang. Hanya air hujan yang menyiramnya dan kotoran sapi yang berserak di segala penjuru menjadi pupuk untuk menyuburkan.

Mon Ikuen namanya. Letaknya memang persis di ujung Pulau Bunta di kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Jarang sekali ada manusia yang bermain-main di sini. Sekali-dua kali, adalah dua tiga orang yang melintas ketika matahari sedang tinggi. Sapi-sapilah yang selalu ramai berkumpul di tempat ini untuk makan dan memberi pupuk. Juga burung-burung yang mendarat mencari ulat atau menarik batang rumput kering lalu bergegas terbang untuk menyulam sarang. Ketika malam, apalagi jika terang bulan, babi-babi  jantan dewasa akan sibuk memikat para babi betina untuk diajak kawin.

Memandangi Mon Ikuen dari ketinggian adalah sebuah pengalaman yang mengharukan. Panjatlah tangga-tangga besi mercusuar setinggi 80 meter itu jika berani. Jika sudah tiba di atas, kamu tak akan sempat memuji diri sendiri karena keberanian menaklukkan rasa takut akan ketinggian. Hanya decak kagum yang ditambah sedikit rasa sentimental yang mengaburkan sejenak pandanganmu.

Foto paling atas diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 36 yang bertema Taman di blog Ari Murdiyanto.

[Pulau Banyak Trip-3] Akhir Perjalanan di Pulau Banyak

Berjalan-jalan pagi di Pulau Asok

Pertama kali membuka mata ketika bangun tidur yang terpikirkan adalah: ini di mana? Siapa ini yang di samping? Sepuluh menit kemudian, kesadaranku berangsur pulih.  Suara kicau burung murai dan hempasan ombak membuatku kembali sadar bahwa aku masih di Pulau Asok dan travelmate-ku masih pulas di samping. Lanjutkan membaca “[Pulau Banyak Trip-3] Akhir Perjalanan di Pulau Banyak”

[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok

Langit di pagi hari pertamaku di Balai hampir sepenuhnya ditutupi awan putih. Hanya sedikit menyisakan celah berwarna biru yang membuat perasaan sedikit tenang. Cuaca di pulau biasanya berbeda dengan cuaca di daratan. Hujan bisa turun kapan saja dan berhenti tiba-tiba. Prakiraan cuaca yang berlaku dari tahun ke tahun di pulau ini adalah akan semakin sering hujan pada bulan September hingga Februari. Rencanakan liburan kamu pada bulan-bulan mulai dari Maret sampai Agustus jika ingin ke Pulau Banyak.

Bagiku tidak ada cuaca yang buruk, tapi tidak bagi para nelayan, hujan dan badai adalah momok bagi mereka. Jika awan-awan hitam mulai terlihat menggelantung maka tertundalah rencana mengumpulkan rejeki yang tersebar di dalam laut. Namun resiko jika berlibur di pulau adalah kita harus mengikuti fenomena alam yang bisa saja terjadi. Satu-satunya jalan keluar adalah sabar di rumah jika awan gelap dan hujan akan/sudah runtuh.

Malam sebelumnya, aku dan Bang Tekno, teman seperjalananku, berbelanja stok makanan untuk 5 hari seperti beras dan air minum di sebuah kedai kelontong di dekat warung ibu langganan kami. Rencana awalnya kami akan berkemah di Pulau Palambak. Namun oleh Pak Putri (pemilik Wisma Putri) menyarankan untuk berkemah saja di Pulau Asok. Lalu ke Pulau Asok lah kami. Lanjutkan membaca “[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok”

Legitnya Kue Adee Kak Nah di Meureudu

Traveling itu belumlah lengkap jika belum mencoba menikmati kuliner khas di suatu daerah yang kita kunjungi. Sebelum berangkat, sering kita akan bertanya-tanya makanan apa yang khas atau apa sih yang wajib dicoba di daerah tersebut? Bagi yang bepergian melewati jalur Medan-Banda Aceh atau sebaliknya, sempatkanlah untuk berhenti di Meureudu dan membeli kue yang menjadi ikon kabupaten Pidie Jaya ini, yaitu Kue Adee Kak Nah!

Pusat pembuatan kue Adee Kak Nah di Meuraksa, Meureudu

Lanjutkan membaca “Legitnya Kue Adee Kak Nah di Meureudu”

Ketika Orang Gayo Jauh dari Kampung

Berikut adalah dua rekaman video yang  kami rekam menggunakan dua buah ponsel pabrikan Cina. Video diambil di bulan Februari lalu ketika suntuk dan ketika rindu kampung halaman sudah mulai menyerang bujang-bujang lapuk ini.

Dua orang kawan kos saya ini yang berasal dari Gayo Lues sedang mengusir kebosanan mereka dengan menarikan Saman.

Dari anak-anak ini aku baru tahu ternyata tari Saman diajarkan semenjak kecil di hampir setiap kampung di Gayo. Akan ada sanggar yang menyeleksi mereka untuk dijadikan penari profesional. Mereka inilah yang sering kita lihat di tv dan diundang tampil ke luar negeri.

Beginilah Tari Saman Gayo terus lestari karena dimanapun mereka berada, akar-akar budaya dan seni yang diajarkan di kampung tak mereka cabut meski hidup dalam perantauan.

 

Uroe Meugang

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.