Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu

Tugu yang menandai pantai sudah dekat. Siapkan kaca mata dan tongsis!

Pulau Lampu terlihat amat dekat dari bibir Pantai Penyusuk. Rasanya bisa direnangi untuk menyeberang dan melihat keindahan hamparan lautan biru yang bertatahkan pulau-pulau kecil dari atas mercusuarnya. Salah satu yang terkenal adalah Pulau Putri yang berada di antara Pantai Penyusu dan Pulau Lampu. Kawan-kawan bercerita pengalaman seru mereka ketika berkemah di pulau mungil itu seperti dalam acara reality show The Survivor. Lanjutkan membaca “Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu”

Ngeramein ulang tahun Aceh Blogger yang kedua di Ujong Batee

Alhamdulillah… Setelah penat yang menyerang setelah ikut ujian cpns di stadion Lampineung, nungguin hujan reda selama setengah jam sambil mondar-mandir dan ngebiarin darah mengalir ke seluruh tubuh setelah sempat terhambat karena duduk terus selama 2 jam lebih-akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Aroma udara setelah hujan bikin segar sampai ke dalam kepala.

Hujan lebat berganti dengan gerimis tipis. Ga peduli lagi deh dengan basah, yang penting keluar dari stadion yang ‘mengancam’ itu. Pulang ke rumah sebentar, keluarin alat-alat ‘perang’ dari dalam ransel, masukin handuk dan kolor (ga kepake juga).

Langsung saya tancap gas ke Krueng Raya. Lumayan jauh juga sih pantainya tapi kapan pernah jarak jadi masalah buat saya? Hoho… Kalo buat ke pantai, sejauh apapun, pasti saya datangi kalo emang ada kesempatan. Berhenti sebentar di mesjid, zuhur trus lanjut lagi. Ga nyampe tiga puluh menit akhirnya saya nyampe juga di lokasi rekreasi pantai Ujong Batee.

(doh) sebelumnya saya nyasar! Saya salah masuk jalan yang ternyata itu lokasi perumahan pelabuhan sepertinya. Haha…

Bayar tiga ribu deh buat masuk ke lokasi. Jalan pelan-pelan dengan motor meutuah saya sambil celingak-celinguk liatin keramaian. Di kepala sih udah ngebayangin beberapa wajah yang dikenal. Tapi kok ga ketemu-ketemu juga ya?Ini jalannya saja sudah 500 meter. Eh ternyata mereka ngumpulnya di paling ujung.

Saya nemuin Baiquni dan kawan-kawan sedang lesehan di atas tikar. Bang Husni sedang makan nasi bungkus dan ngeliat saya langsung nawarin makan dalam bahasa aceh. Saya yang aslinya tidak begitu paseh (pasih) berbahasa Aceh cuma bisa menjawab seadanya : Jeut bang… :p

Sejam kemudian, Muda Bentara datang, wajah baru bangun tidur, persis seperti muka saya 4 jam yang lalu.  Haha…

Acara khususnya sendiri kita mulai sekitar setengah jam kemudian. Karena acaranya dari kita untuk kita jadi kesannya agak terbengkalai. Tapi acaranya malah gila seru!

Padahal nih ya, acaranya sederhana sekali. Idenya persis seperti acara tujuh belas agustusan! Lomba makan kerupuk dan tarik tambang! Tapi bagi saya acara ini sudah ngilangin semua beban di pikiran dan di badan setelah 2 jam lebih ngikutin ujian tadi pagi.

1Nah, saya ikut lomba makan kerupuk. Anginnya kencang dan kerupuk di depan muka melayang-layang. Gimana mau makannya coba? Ga akan bisa kalo ga dipegangin dulu. Haha..Emang dasar otak saya curang, tanpa merasa bersalah, saya pegangin talinya dan saya makan. Hahaha… Kawan di samping saya, Bang Fadli dan Liza juga berjuang. Tapi perjuangan Bang Fadli lah yang pantas diberikan penghargaan. Karena Liza juga tak tahan untuk tidak bermain curang. LMAO.

Nah, karena kadar kecurangan saya lebih berat maka saya dinobatkan sebagai juara ketiga, Liza juara kedua dan Bang Fadli lah yang jadi anak mudanya. Juara pertama!

2Next!

Tarik tambang!

Jumlahnya sih ga banyak. Masing-masing tim punya 6 orang anggota. Di tim kami, semua anggotanya kurus-kurus. Tapi sebelah lawan, postur tubuh mereka pada berisi semua.

Hmm…ronde pertama. Kami pasang formasi. Bang Fadli sebagai wasit garis, blogger cewek sebagai fotografer. Tarikan pertama (selama bertahun-tahun ga pernah) narik tambang terasa menyiksa kulit telapak tangan. Tapi semuanya jadi ga terasa karena kekompakan tim kitalah yang membawa keberhasilan tim. Walaupun postur tubuh kami yang tidak seberapa dibandingkan lawan, tapi semangat mampu membawa kami menjuarai lomba tarik tambang ini. Ronde kedua pun kami menangi lagi setelah mendapatkan perlawanan yang lumayan berat juga dari lawan. Check this out.

3

4Liat saja ekspresi kita di saat detik-detik terakhir sebelum kita diputusin menang oleh Wasit Fadli…

Setelah bagi-bagi hadiah, kita lesehan di atas pasir buat ngomongin beberapa hal untuk kemajuan Aceh Blogger yang pada hari itu menggenapi dua tahun usianya.

Emang sih belum banyak hal yang sudah kita lakuin, tapi tetap pada tujuan awal kita yaitu menyampaikan ilmu, memberikan pendidikan kepada masyarakat Aceh khususnya untuk mengenal dunia internet. Berharap masyarakat di lingkungan kita melek dengan dunia teknologi.

Dari diskusi singkat kita kemudian diputuskan beberapa poin yang dapat kawan-kawan adain nantinya. Yaitu :

  • ngadain pertemuan rutin berkala untuk sharing atau silaturahmi, rapat or something like that lah…
  • trus ngebedah tulisan-tulisan orang. Mungkin seperti review atau semacam itu.
  • kepikiran juga tuh dari Liza untuk ngasih award untuk bloggers  terhadap postingan atau yang berhubungan dengan aktivitas ngeblognya.
  • dan yang terakhir kita akan terus ngelakuin sosialiasi blog dan acehpedia, pelatihan blog dan kegiatan-kegiatan amal lainnya.

1Selesai diskusi, kita main-main lagi di pantai. Ada yang nendang bola, menulis di atas pasir, ada yang demo yoga, ada yang ngelanjutin diskusi dan ada yang berenang.

Nah, saya, Bang Husni dan (Bang) Adik Cilak berendam di dalam laut. Lumayan juga nih lautnya cuma sedalam dada dan masih bisa buat berenang. Saya yang ga bawa baju ganti nekad aja nyebur dengan pakaian lengkap. Celana panjang karet dan kaos.

Sungguh liburan yang menyenangkan.

Hahhh… Berada di antara kawan-kawan blogger membuat rasa kebersamaan semakin terasa. Jumlah kita yang memang ga seberapa yang hadir pada hari itu membuat saya seperti berada dalam sebuah keluarga yang utuh. Rumah tangga yang baru berusia dua tahun membuat kita lebih dekat. Sekalipun ada beberapa dari mereka yang belum saya kenal dekat. :)

Semoga Aceh Blogger terus aktif memberikan ilmu dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

BannerABChijau

Maju terus Aceh Blogger… Tebarkan perdamaian ke seluruh dunia…:)

Lampuuk Berjaya

Well, saya bingung kenapa harus memberi judul tulisan ini dengan judul di atas. Seperti judul berita-berita olahraga di Koran-koran lokal. Hehehe…
Eh tunggul dulu! Saya sudah menemukan jawabannya. Hahaha…Mikir panjang juga akhirnya. Tentu saja Berjaya itu bermakna. Ya! Bersama Kemal, Wulan, Fina dan Mega. Kita berjaya setelah menempuh perjalanan yang memprihatinkan di bawah gumpalan-gumpalan awan kelabu yang siap menumpahkan hujan. Sekalipun kemudian gerimis dan hujan dan untungnya cuma sebentar saja. Segera saya membuka baju dan nyebur setelah menunggu beberapa lama karena hujan dan kawan-kawan Kemal yang juga tak kunjung tiba.

Tampak belakang. Kikan : Wulan, Mega, Fina, Kemal
Wulan, Mega, Fina, Kemal

Pantai Lampuuk di sore minggu itu (22/02) luar biasa ramainya. Dan rada pusing juga sih mau loncat di mana, sepertinya setiap senti pantai dipadati manusia-manusia yang ingin berendam ke dalam laut. Ada dua buah boat yang bersauh sekitar seratus meter dari pantai.

Dengan mengenakan celana pendek selutut yang sedikit kedodoran, saya berenang ke arah salah satu boat yang terdekat. Di sana sudah ada tiga orang laki-laki yang berhasil naik dan satu orang lagi sedang berusaha bunuh-bunuhan untuk naik. Hahahaha… Dia sendiri tidak mampu mengangkat tubuhnya untuk naik. Dan akhirnya mengalah juga dia dengan keadaan tubuhnya yang saya taksir berbobot 75 kilo!

Dari atas boat saya dapat melihat kawan-kawan saya masih saja duduk di pondok di atas pantai sana. Huhhh… Mereka sedang menikmati kelapa muda rupanya. Saya mau kembali tapi masih capek sekali. Padalah jarak dari pantai ke boat tidak begitu jauh. Tapi arus laut yang bergelombang dan celana yang saya pakai membuat tenaga saya terkuras. Saya istirahat dulu disana sambil menyaksikan anak-anak bodoh sedang berteriak-teriak di atas banana boat. Aneh! Hahahahaha…
Beberapa menit kemudian, satu persatu kami berloncatan ke dalam laut lagi dan berenang ke tepi.

Sekitar setengah jam mungkin ya, barulah anak-anak berempat itu mau bersentuhan dengan air laut. Heran semuanya pada takut sama air. Apalagi Kemal tuh! Tumben takut air. (LOL).

12Tak terasa sudah berapa jam pula kita menghabiskan waktu berendam, berenang dan pipis di sana. Hahahaha… Beberapa kejadian lucu juga terjadi. Fina yang panik dengan ombak yang tiba-tiba menenggelamkannya. Celana saya yang nyaris direbut sama Kemal untuk dijadikan jimat digantung dilehernya mungkin? Terus beberapa aksi seru hasil kerja sama dengan pengunjung lain. Saya menawarkan diri (aduh bahasanya!) untuk salto dengan cara berdiri di atas lipatan tangan tiga orang dan saya loncat melakukan salto ke belakang. Wuiiih! mantap!

Juga, ada beberapa yang pria-pria ‘cantik’ yang tiba-tiba lewat. Salah satu dari mereka, saya lihat sedang berenang menggunakan ban ke arah boat yang tadi saya naiki.

Perhatikan yang dalam lingkaran hitam
Perhatikan yang dalam lingkaran hitam

Nah, capek kan setelah berenang melawan arus yang lumayan deras waktu itu. Waktunya kita istirahat lalu pulang. Nih beberapa foto yang berhasil saya ambil setelah fotografer sialan dengan kamera gedenya itu menghilang dari penglihatan.

141517

Sibigo. Petualangan dimulai

Minggu, 28 Desember 2008

Perjalanan ke Sibigo

Saya terduduk pasrah ketika tidak ada kendaraan lain untuk membawa saya ke Sibigo bersama Bang Acon dan Bang Mukhlis. Yah, tadinya saya sudah berpikir mungkin akan ada kesempatan inventarisasi semester bulan tujuh tahun depan. Tadinya sih…tapi alhamdulillah Bang Mukhlis memanggil saya dan bilang kalau mereka berhasil mendapatkan satu motor lagi.

Saya pun sumringah dan segera naik ke boncengan di belakang Bang Mukhlis. Bang Acon mengendarai motor sendirian. Oh yes! Saya senang sekali akhirnya berkesempatan juga ke Sibigo. Betul penasaran sekali saya untuk dapat melihat langsung salah satu desa terjauh di Kecamatan Teluk Dalam ini. Perjalanan yang menempuh jarak sekitar 103 KM dan menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam ke Sibigo. Daerah ini pernah juga didatangi oleh manajer kami bersama beberapa pejabat lainnya dan beliau sangat berkesan sekali tentang daerah ini. Saya makin penasaran ada apa dengan Sibigo sehingga mendapat perhatian begitu besar oleh sang manajer.

Jam 9.15 waktu Sinabang dan sekitarnya, saya, Bang Acon dan Bang Mukhlis mengendarai dua sepeda motor masing-masing Yamaha Win dan Honda Tiger. Kedua motor ini memiliki kerusakan pada beberapa onderdilnya. Parah!

Motor yang saya tumpangi remnya blong! Motor yang dibawa Bang Acon shock depan-belakang tidak lagi berfungsi serta roda belakang yang sudah baling.

blog11

Salah satu pantai yang kami lewati dalam perjalanan ke Sibigo. Boat-boat yang sedang diparkir di pantai danau kecil di depannya. Perjalanan kami masih terasa terasa nyaman karena jalanan beraspal. Walaupun berlubang di sana-sini dan debu yang berterbangan karena ada beberapa ruas jalan yang sedang ditimbun.

blog21

blog31

Bang Acon memimpin di depan. Jalanan tak lagi beraspal, hanya kerikil padat dan bebatuan keras yang tajam dan bergelombang-gelombang. Sekali-kali kami melewati jalanan berlumpur yang baunya seperti kubangan kerbau.

blog51
Bang Mukhlis

Inilah Bang Mukhlis. Sengaja berhenti sebentar untuk difoto dengan latar kebun kelapa sawit yang bermasalah itu. Hehe…

blog42
Banb Acon

Bang Acon-the leader! Salut buat Bang Acon! Biasanya, pegawai lain tidak akan mau lagi ke Sibigo setelah kunjungan pertama. Tapi tidak bagi Bang Acon, beliau malah oke-oke saja membawa kami ke Sibigo dan semangatnya juga tak kalah dengan kami yang usianya jauh lebih muda.

Tiga setengah jam perjalanan yang melelahkan tapi seru akhirnya berakhir di desa tujuan kami. Sibigo!

Ternyata daerah ini jauh sekali dari bayangan saya selama ini. Ternyata malah lebih banyak bangunan, sepi dan berciri khas pesisir pantai sekali!

Pusat Desa Sibigo
Pusat Desa Sibigo
Dermaga boat penyeberangan antar pulau
Dermaga boat penyeberangan antar pulau

Setelah membersihkan muka yang dibedaki debu selama perjalanan tadi, kami bertiga makan di warung tepi pantai berkarang dengan view pulau-pulau kecil.

Setelah makan siang, kami bergerak ke kantor unit Sibigo, sekitar 2 kilometer dari warung/pantai tempat kami makan tadi. Dalam foto di atas, Bang Mukhlis yang sedang mengeja Sibigo sebagai bukti bahwa dia sudah berada di Sibigo.

blog8

Setelah sesi pemotretan selesai dan kita shalat dhuhur. Saya bergolek-golek di pos satpam, tadinya mau istirahat sebentar…beberapa menit kemudian saya malah pulas sampai dibangunkan Bang Mukhlis, waktunya pulang!

Hoaaaahhh..masih sangat mengantuk sekali! Sempoyongan saya berjalan ke arah kawan-kawan outsourcing yang berbeda nasib dan berbeda tanggungan di kantor. Hehe…

Terus kita pamit-pamitan dan pulang.

Hm…ini belum selesai, bru! Petualangan yang sebenarnya malah akan kami lalui pada perjalanan pulang ke Sinabang. Yang tadinya kami hanya menghabiskan waktu 3,5 jam ketika pergi, tapi pulangnya kami harus kemalaman di hutan raya. Ikuti petualangan kami selanjutnya ya…

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru