Road to Sinabang

Jumat, 26 Desember 2008
KM Teluk Singkil

Blogger… ini foto-foto saya dan tim ketika dalam kamar ABK yang kita sewa untuk ke Sinabang. Waktu di Meulaboh, kami sempat kebingungan juga ketika saya mengabari bahwa tidak ada kamar kosong lagi. Tapi untung Bang Maman (sudut kanan bawah, pegang rokok) berkoneksi bagus dengan satu ABK, jadi kamarnya yang sebenarnya sudah dipesan orang lain dapat dicancel untuk kami tempati.

blog1

Tak sanggup bekipeh-kipeh (berkipas-kipas) di dalam kamar karena panasnya yang naudzubillah, juga asap rokok yang terus ngebul dari para perokok super aktif di dalamnya, maka saya memanjat jendela dan ngadem di bawahnya…Ahhhh…leganya…

1

Bang Acon, bersandar pada dinding di luar kamar memandang jauh dalam kegelapan malam. Rokok sebatang pada jari. Entah berapa batang sudah dia bakar di sana. Entah apa pula yang dia renungkan hingga begitu sedih wajahnya. Beliau, salah satu anggota tim kita yang paling bersemangat. Setiap tahun, namanya selalu masuk dalam tim inventarisasi ke Sinabang bersama saya.

blog2

Setelah subuh, kita keluar lagi ke teras kabin. Tentu saja memanjat jendela. Hehe…
Foto diambil oleh Bang Acon. Dari kiri adalah Bang Mukhlis, Bang Andi di tengah dan terakhir adalah saya. Rencananya kita mau bikin Trio Sinabang! Uhui!

blog3

Kami berkesempatan menyaksikan sunrise dari kapal ketika beberapa menit lagi akan memasuki teluk Sinabang dan kemudian berlabuh. Subhahanallah…keren sekali pemandangannya…Sayang, tidak bisa mengupload semua foto-foto indah itu ke postingan ini… Mungkin saya coba upload ke multiply saja.

Ini adalah salah satu pulau terdekat dari pulau Simeulue. Ada banyak pulau-pulau kecil lainnya yang dekat sekali jaraknya tapi satupun saya tak mengenali nama-namanya.

blog4

Finally…tibalah kami di Sinabang dengan selamat. Beginilah keadaan pelabuhan ferry dan sekitarnya. Sayangnya saya lupa mengambil foto suasana sibuk saat bongkar kapal.

blog5

Iklan

Road to Sinabang

Kamis, 26 Juni 2008. 7.45 WIB

Cuaca sudah mulai mendung saat kami berangkat dari Meulaboh menuju Labuhan Haji. Menaiki mobil Kijang dengan penumpang 9 orang; saya, duduk paling belakang di antara tas, koper dan ransel.

Hujan mulai turun ketika kami sampai di Tangan-Tangan dan perlahan tetes hujan mulai berhenti ketika kami memasuki Kabupaten Aceh Selatan. Sampai di Labuhan Haji sudah mulai malam dan kami singgah di sebuah warung di Kampung Pasar Lama, tepat di samping pagar pelabuhan.

Sepintas saya melihat Yusran, temanku waktu SD dulu. Saya yakin sekali itu dia. Hore…Akhirnya saya menemukan salah seorang teman lama saya dulu! Teman SD pula! Saya sudah bersiap turun dan mau menyapa Yusran, tapi belum sempat turun dari mobil saya sudah disuruh beli tiket kapal fery. Setelah membeli tiket, Yusran sudah tidak ada lagi di tempat dia berdiri tadi. Hemmh…Kecewa!

Lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan! Pulang dari beli tiket tadi, saya masuk warung. Dan nasinya habis! Waduh, kalau tidak makan malam, saya bisa kelaparan di kapal nantinya. Ya sudah, saya pesan Pop Mie saja. Tapi masih tetap lapar! L

Saya coba sms kakakku yang baru pindah ke sini dengan suaminya di Kampung Baru. “Kak, kemarilah…Lapar ni, belon makan!” begitu isi smsku. Terus dia balas kalau dia sedang makan kenduri di rumah Bang Eri, suaminya. Tapi dia akan datang kalau acara sudah selesai.

Jam 9.25 malam, kakakku sms kalau dia on the way ke pelabuhan dengan Bang Eri. 5 menit kemudian Bang Eri menjemputku di pintu gerbang pelabuhan dan kakak sudah menunggu di sebuah café yang letaknya kurang dari satu kilometer dari situ. Tidak jauh dari pelabuhan. Saya langsung pesan nasi goreng ayam dan teh setengah panas (baca : hangat ).

Sebelum pergi, saya meng-sms temanku yang sudah duluan naik ke kapal untuk mengabariku kalau pemberitahuan keberangkatan kapal sudah dibunyikan. Padahal waktunya sudah mepet sekali tuh. Saya makan dengan cepat, sudah seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga bulan!

Saking mepetnya waktu keberangkatan, sebelum pesanan nasi gorengku sampai, saya berlari-lari ke toko terdekat membeli snack dan jus kotak pseanan teman-teman di kapal. Beeeuhh…perasaan nasi masih di kerongkongan, saya sudah harus kembali ke kapal lagi.

Tanda-tanda di langit (Jah! Seperti peramal saja!) menunjukkan akan ada badai atau turun hujan di tengah laut. Tapi ternyata (Alhamdulillah) perjalananku kali ini juga tenang-tenang saja. Malah saya bisa tidur dengan nyenyak bahkan bermimpi pula sedang mandi-mandi di Pantai Ganting. Temanku bilang, subuh itu saya ngigau. Gak jelas saya ngomong apa…”au au au auuu…” begitu katanya. Apa coba ?

Jam setengah delapan pagi rombongan kami tiba dengan selamat di Sinabang. Saya juga bertemu sepupuku, Bang Yos yang bekerja di pelabuhan Sinabang. Pas lihat saya, dia langsung kaget gitu. Soalnya baru senin lalu ketemu di Meulaboh kok sekarang sudah ada di Sinabang. Saya tidak sempat mengabarinya kalau mau ke sini.

Jarak dari pelabuhan ke kantor cuma satu kilometer, sebenarnya bisa sih dengan jalan kaki karena dekat. Tapi si bos minta naik becak. Sampai di kantor, saya malah tidak ingat sama sekali dengan pantangan yang saya sebutkan di postingan sebelum ini. Sampai kami di kantor, saya langsung minum Aqua dan makan wafer Tango dan kacang garing! Beberapa menit kemudian, sarapan pun datang. Habis sarapan, saya mandi. Hahaha…Sedikitpun saya tidak ingat dengan pantangan itu. Dan syukurlah tidak terjadi apa-apa. Mungkin sudah terbiasa kali ya? Soalnya ini adalah yang ketiga kalinya saya kesini.