Serunya Rafting di Kali Progo Magelang

Progo Rafting
Progo Rafting

Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, famtrip Jateng bulan September lalu berisikan kegiatan-kegiatan outdoor yang bikin napas tersengal-sengal, berkeringat, memicu adrenalin, dan bahkan penampakan misterius dari dunia lain. Sama satu lagi: bikin betis berurat karena berdiri 3 jam menonton Parade Seni Budaya Jawa Tengah di Magelang.

Rangkaian keseruan famtrip yang diadakan Dinbudpar Jawa Tengah ini dalam rangka mempromosikan beberapa destinasi wisata Jawa Tengah yang keren-keren banget. Seperti Lanjutkan membaca “Serunya Rafting di Kali Progo Magelang”

Misteri Jumlah Candi Gedong Songo

Rombongan Famtrip Jateng telah meninggalkan Kali Progo satu jam yang lalu setelah perut diisi penuh. Gara-garanya kantuk jadi lebih cepat datang. Aku menyandarkan kepala ke jendela bus dengan berbantalkan jaket. Suara gelak tawa yang membahana di dalam bus perlahan mengalun lalu senyap. Selang berpuluh menit kemudian aku terbangun dan merasakan hangat air liur telah menganak sungai, bermuara ke jaket. Lanjutkan membaca “Misteri Jumlah Candi Gedong Songo”

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 KEREN!

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang
Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 ini telah usai satu bulan yang lalu. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus dan diselenggarakan di Kota Magelang. Ketika melihat-lihat galeri fotonya, aku kembali mengalami euforia. Rasa senang dan takjub pada pagelaran parade seni budaya di hari ulang tahun provinsi Jawa Tengah ini masih membekas dan terulang lagi. Lanjutkan membaca “Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 KEREN!”

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang
Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 ini telah usai satu bulan yang lalu. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus dan diselenggarakan di Kota Magelang. Ketika melihat-lihat galeri fotonya, aku kembali mengalami euforia. Rasa senang dan takjub pada pagelaran parade seni budaya di hari ulang tahun provinsi Jawa Tengah ini masih membekas dan terulang lagi.

Maafkan blogger cilet-cilet ini yang baru mem-posting tulisan ini sekarang ya. :D

Saat melihat foto aksi Macan Lembah Tidar meliuk-liuk sambil memukul drum di hadapanku, aku menahan napas. Sama seperti ketika melihat langsung aksi mereka pada malam itu, jaraknya cuma satu meter di depan muka. Juga ketika penari-penari yang subhanallah cantik-cantik itu, menyerbu ke depan podium. Jaw dropping banget ngeliat paras cantik dan senyum manis mereka.

Coba nilai, tatapan siapa yang paling tajam dan senyum siapa yang paling manis di foto ini?
Coba nilai, tatapan siapa yang paling tajam dan senyum siapa yang paling manis di foto ini?
Setiap kontingen mengerahkan semua kemampuan mereka untuk tampil di perayaan Hari Ulang Tahun Jawa Tengah ke 66.
Setiap kontingen mengerahkan semua kemampuan terbaik mereka untuk tampil di perayaan Hari Ulang Tahun Jawa Tengah ke 66.
Salah satu penari Topi Ireng dari Kota Magelang.
Salah satu penari Topeng Ireng dari Kota Magelang.

Parade seni budaya diawali dengan Tari Topeng Ireng yang dibawakan 500 penari Kota Magelang. Lalu disambung dengan aksi marching band Canka Lokananta Akademi Militer. Seterusnya parade berlanjut dengan penampilan dari 35 kontingen kabupaten & kota se-Provinsi Jawa Tengah.

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 ini patut diapresiasi. Semua kontingen menari dengan totalitas yang aku salut banget. Padahal sebelum tampil, alun-alun sempat diguyur hujan lebat dan semua properti mobil hias basah. Jumlah penari yang lebih dari 10 orang itu harus tampil maksimal selama 5 menit saja! Luar biasa sekali effort mereka untuk memikat para juri dan penonton kan?

Tari kreasi yang mereka bawakan mengusung beragam keunikan di daerah masing-masing. Seperti budaya, sejarah, tradisi, cerita rakyat, reliji, kuliner, dan hasil bumi. Semua dituangkan dalam bentuk seni tari yang indah. Melewati penilaian juri, Kota Semarang menerima penghargaan sebagai juara pertama, Kota Surakarta sebagai juara kedua, dan Kabupaten Boyolali sebagai juara ketiga.

Perayaan hari ulang tahun Provinsi Jawa Tengah selalu diadakan tiap tahun di kota/kabupaten yang berbeda. Inisiatif keren ini tentu menjadi salah satu kesempatan tuan rumah untuk mengenalkan potensi wisata daerah mereka. Apalagi rangkaian acaranya tidak hanya berlangsung sehari itu saja melainkan selama satu bulan.

Rangkaian acara perayaan HUT Jawa Tengah ini tak ubahnya pesta rakyat yang dari rakyat untuk rakyat. Ada 30 kegiatan yang berlangsung dari tanggal 5 Agustus hingga 4 September 2016. Seperti kompetisi olahraga dan permainan tradisional, parade seni budaya, bakti sosial, serta pameran Usaha Kecil Mikro Menengah dan kuliner.

Penasaran deh nanti Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2017 akan diadakan di mana ya?

Tarian pembuka: Topi Ireng.
Tarian pembuka: Topi Ireng.
Drumband Akademi Taruna Militer
Drumband Akademi Taruna Militer
Penabuh drum Canka Lokananta Akademi Militer Magelang
Penabuh drum Canka Lokananta Akademi Militer Magelang
Sang Macan Lembah Tidar. Penabuh drum Canka Lokananta.
Sang Macan Lembah Tidar. Penabuh drum Canka Lokananta.
Salah satu aksi akrobatik Canka Lokananta yang mendebarkan.
Salah satu aksi akrobatik Canka Lokananta yang mendebarkan.
Salah satu penatarama di Canka Lokananta.
Salah satu penatarama di Canka Lokananta.
Tari Ayam Jago.
Tari Ayam Jago.
Tarian Panen Tebu Manten.
Tarian Panen Tebu Manten.

Menapak Tilas Cinta & Rangga di Gereja Ayam

Bagian kepala merpati Gereja Ayam
Bagian kepala merpati Gereja Ayam

Ketika gelap mulai memudar dan hijau pepohonan mulai tampak jelas dari atas bukit Punthuk Setumbu, kilatan kecil berwarna putih berkelap-kelip di tengah hutan. Kilatan itu berasal dari atas sebuah bangunan yang berbentuk gundukan berwarna abu-abu dengan pancang-pancang runcing melingkarinya.

Ketika remang menghilang, makin terlihatlah bangunan abu-abu itu. Terlihat kecil sekali, ada beberapa orang yang bergerak di atasnya. Pancang-pancang runcing itu memagari mereka seperti susunan mahkota. Kilatan-kilatan tadi pastilah dari Lanjutkan membaca “Menapak Tilas Cinta & Rangga di Gereja Ayam”

Menanti Matahari Terbit di Punthuk Setumbu

Candi Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu pada pukul 6 pagi.
Candi Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu pada pukul 6 pagi.

Aku terbangun oleh suara keriut dari ranjang sebelah. Pasti Bang Fahmi sudah terjaga dan bersiap untuk berangkat. Itu berarti waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh dan aku pun harus bangun dan bersiap-siap juga. Tapi mataku masih terasa perih untuk dinyalangkan. Rasanya baru terlelap beberapa saat tadi dan sekarang harus bangun lagi. Bau kapuk bantalku masih amat kuat membiusku  untuk bisa menegakkan punggung.

Lima menit kemudian, aku mendengar pula seorang laki-laki memasuki rumah kecil yang kami tumpangi itu dan menyuruh untuk bersiap-siap. Bus penjemput akan segera datang. Mau enggak mau aku menarik Lanjutkan membaca “Menanti Matahari Terbit di Punthuk Setumbu”

Umbul Ponggok Klaten – Sensasi Snorkeling di Air Tawar #PesonaJawa Tengah

Kepastian sebagai peserta famtrip HUT Provinsi Jawa Tengah yang ke 66 dan tiket kereta pergi pulang Jakarta-Semarang sudah di tangan. Kusimpan baik-baik cetakan tiket di dalam ransel yang nanti akan kubawa ke sana. Setelah packing, aku mendekap ransel yang menjadi penuh berisi kamera, beberapa charger, pakaian, dan perlengkapan ‘perang’ lainnya sembari membayangkan perjalanan santai yang menyenangkan. Tapi apa yang terjadi selama famtrip ternyata beyond my expectations! :D Lanjutkan membaca “Umbul Ponggok Klaten – Sensasi Snorkeling di Air Tawar #PesonaJawa Tengah”

Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang

Subuh di Stasiun Semarang Tawang

Waktu itu subuh pukul 5 ketika Kereta Wisata yang kami tumpangi tiba di Stasiun Semarang. Aku menengadah dan menyaksikan pijar bintang Kejora di ufuk timur. Sinar matahari masih berupa pendar jingga, ungu, dan biru di atas cahaya lampu penerang di jalur rel. Banyak penumpang yang turun, namun suasana stasiun tak lantas menjadi ramai. Semua berjalan ke gedung stasiun dengan mata sayu.

Perjalanan ke Semarang dimulai dari Stasiun Bandung. Bersama rombongan Traveling by Train yang diadakan oleh Lanjutkan membaca “Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang”

Candi Sewu yang Sepi

Sepertinya Candi Sewu memang tak menarik banyak perhatian pengunjung. Entah karena aku datangnya pada pagi hari dan pengunjung masih belum terlalu ramai atau mungkin karena kalah pamor dengan Candi Prambanan. Kalau aku perhatikan lagi di dalam kompleks candi ini, lumut dan rerumputan yang tumbuh di sela-sela lantai seperti tak pernah terusik oleh injakan kaki manusia. Mungkin pula jaraknya yang lumayan jauh dari Prambanan membuat orang enggan datang. Padahal banyak pepohonan rindang sepanjang jalan ke candi ini. Selain sejuk, kita juga dihibur dengan alunan musik Jawa yang menenangkan.

Ada dua candi lagi yang dapat kita jumpai sebelum tiba ke kompleks Candi Sewu. Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Kedua candi ini hanya tersisa reruntuhannya saja dan sepertinya sedang dalam tahap pemugaran karena di sekitar dan di atas candi, terlihat bekas-bekas pengerjaan yang ditinggalkan. Tak ada seorang pun pekerja yang terlihat saat itu.

Lanjutkan membaca “Candi Sewu yang Sepi”

Tertawan Prambanan

Bus tiba di Prambanan dua jam sebelum adzan subuh berkumandang. Hanya dua orang penumpang yang turun: aku dan Dion. Kawan yang kukenal di Pare ini adalah salah satu instruktur bahasa inggris di sebuah lembaga kursus di sana. Kami berdua menaiki bus berwarna kuning dari Bra’an jurusan Jogjakarta. Udara dingin menusuk hingga menembus lapisan kedua baju yang kukenakan. Kami bergegas menuju masjid.

Masjid Al Muttaqun yang dibangun oleh Hidayat Nurwahid ini berdiri megah di Jalan Jogja-Solo. Berseberangan dengan Candi Prambanan di sebelah selatan. Toko-toko berimpitan di kiri-kanannya, tutup tentu saja. Hanya ada beberapa tukang ojek yang nongkrong di depannya sambil terkantuk-kantuk. Melihat kami yang baru turun dari bus pun tak membuat matanya nyalang.

Kami berdua berpencar mencari lokasi tidur yang nyaman. Namun serangan udara yang dingin dan nyamuk membuat kami tak bisa benar-benar tertidur. Diperparah pula dengan suara mesin dan knalpot dari bikers yang sedang touring dan melintas di depan mesjid yang amat mengganggu. Aku hanya bisa tidur-tidur ayam hingga adzan subuh berkumandang. Ketika bangun untuk shalat, tempat wudhu dan toilet mesjid sudah dijubeli oleh pengunjung yang entah datang dari mana. Mesjid kehabisan air! Lanjutkan membaca “Tertawan Prambanan”