Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 3)

Bangun subuh, shalat dan mandi. Manasin motor sebentar dan berangkat ke warung untuk membeli kue-kue. Sudah kebiasaan di kampung kalau sebelum sarapan dihidangkan kue-kue. Tapi ternyata disini cuma ada donat dan energen. Tidak ada warung kopi dan penjual bermacam-macam kue seperti di Meulaboh.

Sudah agak terangan sedikit, kami berkemas lalu pamit ke sodaranya Iwan (anehnya Iwan sendiri ga tau nama abang itu) LOL.

Perjalanan kali ini benar-benar melelahkan, kami harus berputar-putar, naik-turun, meliuk-liuk mengikuti jalan beraspal yang menyusuri pegunungan yang gundul. Ratusan hektar pegunungan tidak lagi ditumbuhi pohon tropis. Semuanya teratur rapi pohon kelapa sawit. Pemandangan yang mengenaskan buatku.

Dua jam perjalanan membawa kami memasuki kota Subulusalam. Setelah berpenat-penat melintasi pegunungan dan sekarang kami berjuang untuk mendaftar cpns. Aku ketemu Dewi dan mencari seseorang yang bisa dibayar untuk menuliskan surat lamaran. Ternyata kami masih harus menunggu berjam-jam lagi untuk dapat giliran. Akhirnya inisiatif sendiri, aku meminta Dewi untuk menuliskan surat-suratnya. Bermodalkan kertas bergaris dan kerta HVS akhirnya Dewi yang menuliskan surat-surat kita semua. Iwan sudah siap dengan sogokan sepiring lontong untuk Dewi dan aku dengan sabar menunggu di samping.

Beberapa kali salah tapi Dewi terus moved on menuliskan empat lembar surat untuk aku, Iwan dan Dika dan untuk dia sendiri tentunya. Setelah selesai semuanya, aku masukkan ke masing-masing map berikut berkas-berkas pendukung lainnya dan aku masuk ke dalam arus puluhan pendaftar di depan loket pendafataran di kantor walikota.

3
Suasana loket pendaftaran cpns di kantor walikota Subulusalam

Aku berdesak-desakan menanti nama kami dipanggil jika surat lamaran kami ada yang salah dan harus dikoreksi. Sejam, dua jam, tiga jam aku berdiri di tengah-tengah desakan manusia dengan berbagai aroma dan tingkah. Ada yang meneriakan setiap nama yang dipanggil dari dalam kantor dan para peserta lainnya pun menyahut dengan teriakan nama lalu mengoper map yang berkasnya salah ke pemiliknya di belakang.

Keringat mengucur di punggung dan tangan, betis terasa sangat pegal dan kerongkongan kering. Aku menyerah dan memilih menunggu di belakang saja. Aku membeli tiga botol air dan membagikannya ke kawan-kawan. Tak ada tempat duduk selain teras kantor yang kotor.

Nama kami tetap tak kunjung dipanggil bahkan hingga jam makan siang tiba. Loket pun ditutup. Kami ke warung di dekat rumah tempat Dewi menginap. Di depan warung terpampang pamflet besar berwarna coklat yang bertuliskan CV Mentari Tour dan beberapa mobil L300 diparkir menutupi jalan masuk warung. Setelah makan pun, rasa pegal di betis dan di pinggang tetap tak mau berkurang. Hanya shalat zuhur yang mengobatinya. Dan hujan pun turun dengan anggun mendinginkan semua persendian kami.

Ngilangin penat dengan memfoto orang

Jam dua lewat, pendaftaran pun ditutup. Sekarang petugas masih terus meneriakan nama-nama peserta yang surat lamarannya salah. Kesalahan kecil seperti penulisan “foto copy” yang seharusnya tidak ada spasi antara foto dan copy. Atau peserta lupa menuliskan nama di belakang cetakan foto. Ada juga yang peserta yang tidak mengerti menuliskan surat lamaran. Beberapa kali petugas mengembalikan surat lamaran yang tidak dituliskan formasi apa yg dilamar.

Seluruh kaki kembali mengalami pegal yang hebat, pinggang benar-benar sakit sekali sekarang. Entah kesabaran darimana pula sehingga aku betul-betul sungguh sekali menanti nama kami dipanggil. Sedangkan Iwan dan Dewi menunggu dengan bosan di luar lingkaran peserta yang berdesak-desakkan. Kemudian nama Iwan dipanggil. Ternyata surat lamarannya ada yang salah. Tempat lahirnya tidak sesuai dengan ijazah. Di ijazah dituliskan Rotteungoh, tapi di surat dituliskan Rotteungoh, Meukek. Iwan kembali meminta bantuan Dewi untuk menulis ulang suratnya di depan kantor Wakil Walikota.

5
Jenuh

Jam setengah empat sore, kami terus menunggu dengan harapan tidak ada surat kami yang harus dikoreksi. Seorang peserta asal Medan sudah memasukkan berkasnya pada jam 9 pagi tadi tapi hingga sekarang belum juga dipanggil. Alhamdulillah, namaku dan Dika dipanggil dan petugas menyorongkan dua lembar kartu pendaftaran. Dewi semakin ga sabar karena namanya belum juga dipanggil. Padahal berkas-berkas kami sudah aku masukin sekalian jam 11 tadi. Sekitar jam empat, nama Dewi pun dipanggil dan menerima kartu pendaftaran.

Lalu kemana Iwan? Hapeku bergetar, Iwan is calling. DOH!!! Ternyata dia sedang santai duduk di sebuah kios voucher pulsa di samping kantor. WT*! Perasaan aku sedari jam sebelas tadi nungguin semuanya tapi kok dia yang tumbang duluan? Huhh…pengen kesal tapi entah kenapa kok saat itu aku ga bisa kesal. Yah, sabar emang ga ada batasnya. Aku menunggu lagi di sana bersama dengan puluhan pendaftar yang mulai kecapean. Alfian, anak Medan yang tadi aku ajak ngobrol bernasib sama dengan Iwan, suratnya harus diperbaiki lagi. Lalu nama Iwan pun dipanggil, aku menerima kartu pendaftarannya.

Kami berdua istirahat sebentar di kios voucher yang rupanya pemiliknya adalah mantan pacarnya Iwan waktu di Meukek. Dan berkat suami mantan pacarnya itu pula berkas Iwan bisa diterima lagi, padahal berkas-berkas pendaftaran sudah tidak bisa lagi dimasukkan jika sudah lewat jam 3 sore.

Kami shalat di mesjid yang ga jauh dari kantor walikota, lalu tancap gas kembali pulang ke Bakongan.

Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 2)

09 November 2009

Doh! Sudah ke Part 2 pula nih! Iya, kawan. Ternyata ga cukup satu postingan untuk menulis betapa beratnya perjuangan mendaftar CPNS.

Kali ini aku akan menceritakan bagaimana aku dan Iwan mencoba keberuntungan kami dengan mengikuti CPNS di Pemko Subulussalam. Seharusnya membutuhkan 7-8  jam perjalanan dengan mengendarai motor. Tapi kami butuh lebih dari 8 jam untuk sampai ke sana. Ya, karena kami memutuskan menginap saja di desa Seuleukat-Bakongan-di rumah sodaranya Iwan.

Perjalanan dari Meulaboh ke Aceh Selatan berjalan dengan selamat. Kami melewati ‘jalan bawah’, yaitu jalan yang ga perlu melintasi pegunungan Trans yang terkenal dengan kelokannya yang mengocok perut jika naik mobil. Memasuki Langkak dan tembus di Lamie. Di jalan bawah itu kami beberapa kali dihadang air sungai yang meluap hingga ke jalan raya. Tapi untungnya masih bisa dilalui Suzuki Arashi tangguh berwarna biru milik Iwan itu.

Kali ini, perjalanan tidak begitu terasa merana karena jalan yang kami lalui tergolong gampang. Sekali-kali aku dan Iwan bergantian untuk menyetir motor. Sampai di Labuhan Haji, kami berhenti sebentar di rumah kakak. Lalu berhenti lagi di kampungnya Iwan, Meukek. Disana saya disambut oleh keluarga besar Iwan.

Sebuah rumah sederhana di dalam perkampungan yang sangat akrab sekali. Sebuah kampung yang terletak di bawah gunung ini terasa sangat sejuk tapi menghangatkan dengan lingkungan yang sangat dekat satu sama lain. Sepertinya semua tetangga Iwan adalah sodara-sodara dekatnya. Sama seperti di kampung ayah di Labuhan Haji. Tetangga disekitar adalah sodara-sodara dekat kami juga.

Setelah makan siang (lagi) dan shalat zuhur kami berangkat lagi. Melewati kota Tapaktuan, aku terperangah melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Cantik. Sungguh menawan. Pelan-pelan kami meliuk-liuk di sepanjang lereng gunung yang disamping kanannya jurang dan pemandangan menakjubkan itu tersaji begitu sempurna. Jurang pun tak terlihat mengerikan lagi. Kami melewati Jambo panorama Hatta. Sebuah jambo atau pondok yang dulunya pernah dijadikan tempat singgah oleh Bung Hatta setelah berkeliling Aceh pada tahun 1953.

Puncak Panorama HattaKemudian pemandangan tak begitu menggairahkan untuk diperhatikan. Hanya alang-alang, rumah-rumah, kios-kios lusuh. Memasuki Bakongan, kami memperlambat laju motor. Iwan menelepon saudaranya dan beberapa menit kemudian tiba juga di rumahnya. Berada dalam kompleks perumahan SD. Sambutan hangat khas pedesaan. Senyum lebar dan kopi kampung panas yang nikmat. Semua penat pun hilang.

Setelah Azhar kami memutuskan untuk berkeliling sebentar melihat daerah sini. Mencoba menjajaki Gunung Kapur yang terkenal sangat berbahaya di kalangan para sopir L300. Aku yang bawa motornya. Sudah mulai senja dan beberapa truk melintas dan menerbangkan debu-debu dari tanah merah di sepanjang jalan beraspal itu. Awalnya pasang gigi empat lalu turunin lagi ke gigi tiga dan ganti lagi ke gigi dua. Tapi masih terlalu berat, aku oper lagi ke gigi satu hingga akhirnya kami sampai juga ke puncaknya. Sebuah rumah makan masih buka dan kami berhenti untuk membeli keripik ubi. Buat bekal nanti malam.

2
Salah satu pemandangan dari atas bukit di bawah Gunung Kapur

Bermalam di Bakongan adalah salah satu pengalamanku yang seru. Berada di perkampungan yang dibelah oleh sebuah jalan raya yang sepanjang malam terus dideru dengan motor, mobil dan truk. Malam itu kami membeli empat bungkus Supermi, dapat bonus pula dari yang punya kios berupa cabe rawit, tomat dan bawang. Nah, aku pula yang didaulat untuk memasak mie. Akhirnya jadilah mie racikanku yang super pedas dan ckckck…enak gilaaa!!!

Sedikitpun kami tak terpikir kalo besoknya kami akan didera habis-habisan ketika mendaftar CPNS di kantor walikota Subulusalam. Malam ini kami lewati dengan menikmati mie goreng basah super pedas dan sebungkus keripik ubi yang gurih. Gelak tawa kami menyaingi suara rintik hujan yang menderu di atap seng sekolah. Udara semakin dingin dan kami pergi tidur. Hanya beralaskan tikar pandan di ruang tamu. Aku dan Iwan tidur dengan damai.

Hidup memang akan selalu lebih indah jika dilewati bersama-sama.