[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok

Langit di pagi hari pertamaku di Balai hampir sepenuhnya ditutupi awan putih. Hanya sedikit menyisakan celah berwarna biru yang membuat perasaan sedikit tenang. Cuaca di pulau biasanya berbeda dengan cuaca di daratan. Hujan bisa turun kapan saja dan berhenti tiba-tiba. Prakiraan cuaca yang berlaku dari tahun ke tahun di pulau ini adalah akan semakin sering hujan pada bulan September hingga Februari. Rencanakan liburan kamu pada bulan-bulan mulai dari Maret sampai Agustus jika ingin ke Pulau Banyak.

Bagiku tidak ada cuaca yang buruk, tapi tidak bagi para nelayan, hujan dan badai adalah momok bagi mereka. Jika awan-awan hitam mulai terlihat menggelantung maka tertundalah rencana mengumpulkan rejeki yang tersebar di dalam laut. Namun resiko jika berlibur di pulau adalah kita harus mengikuti fenomena alam yang bisa saja terjadi. Satu-satunya jalan keluar adalah sabar di rumah jika awan gelap dan hujan akan/sudah runtuh.

Malam sebelumnya, aku dan Bang Tekno, teman seperjalananku, berbelanja stok makanan untuk 5 hari seperti beras dan air minum di sebuah kedai kelontong di dekat warung ibu langganan kami. Rencana awalnya kami akan berkemah di Pulau Palambak. Namun oleh Pak Putri (pemilik Wisma Putri) menyarankan untuk berkemah saja di Pulau Asok. Lalu ke Pulau Asok lah kami. Lanjutkan membaca “[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok”

Krucukan di Salur (Lasikin)

Mendadak hujan!

Sabtu, 27 Desember 2008

Sarapan sebentar di warung nasi di samping kompleks pelabuhan, terus kita bermobil ke kantor dan bertemu dengan manajer ranting. Setelah bersalam-salaman kita dibawa ke penginapan-Losmen Simeulue namanya. Untuk kamar ekonomi dikenakan biaya 65.000 rupiah permalam. Two beds dan saya minta sekamar saja dengan Bang Mukhlis dan Bang Andi-karena sama-sama tidak merokok dan kita bertiga adalah yang paling muda diantara bertujuh. Hehe…dan saya tetap yang termuda lah pastinya.

Sampai di losmen kita tidur lagi dan begitu nyenyak tapi tiba-tiba dibangunkan pada jam makan siang. Kepala jadi pusing karena masih pengen tidur. Terus kita sama-sama ke kantor dan makan. Nasi bungkus dan lauknya ikan kukus yang rasanya bener-bener maknyuuuuss…Enyak enyak enyak enyak…

Cuaca siang ini cerah, udara panas. Langit berawan. Ketika sedang makan, tiba-tiba hujan turun. Padahal tidak ada awan mendung. Dua menit kemudian hujan berhenti dan udara kembali panas lagi. Hm…cuaca yang sudah menjadi biasa di pulau Sinabang, tapi perubahan cuaca yang tiba-tiba berubah begini bisa berbahaya bagi pendatang jika daya tahan tubuhnya lemah.

Setelah kenyang, saya jadi ngantuk dan pengen tidur tapi Bang Acon mengajak kami berjalan-jalan ke Lasikin, sekitar 20 KM. Ada salah satu kantor kami di sana. Di tengah perjalanan ke sana, hujan pun tiba-tiba turun lagi ketika udara sedang panas-panasnya dan segera pula hujan berhenti dan panas lagi. Uffff…cuaca yang aneh…saya pun jadi aneh. Buka tutup-buka tutup kaca mobil gara-gara hujan dan panas.

Kita tiba di Desa Salur. Daerah pesisir ini rencanya akan jadilokasi kita bisa berwisata kuliner. Ada beberapa warung di tepi pantai yang menyediakan masakan-masakan ikan segar yang rasanya…emmm…top lah! Ough…menulis ini membuat saya membayangkan ikan-ikan itu tersedia di depan saya dan segera menjadi lapar! Tapi sayangnya di lokasi ini tidak menyediakan lobster. Padahal kami sudah ingin sekali menikmati lobster…

Foto itu saya ambil ketika kami kembali pulang ke kota Sinabang, tidak ada makan-makan karena rencananya cuma untuk jalan-jalan dan melihat lokasi wisata kuliner kami besok. Hehe… Lapar beneran jadinya! Krucuuukk…

blog6

Kelihatan kan pelanginya? Pelanginya muncul setelah hujan selama 1 menit tadi. Keren!