Sibigo. Petualangan dimulai

Minggu, 28 Desember 2008

Perjalanan ke Sibigo

Saya terduduk pasrah ketika tidak ada kendaraan lain untuk membawa saya ke Sibigo bersama Bang Acon dan Bang Mukhlis. Yah, tadinya saya sudah berpikir mungkin akan ada kesempatan inventarisasi semester bulan tujuh tahun depan. Tadinya sih…tapi alhamdulillah Bang Mukhlis memanggil saya dan bilang kalau mereka berhasil mendapatkan satu motor lagi.

Saya pun sumringah dan segera naik ke boncengan di belakang Bang Mukhlis. Bang Acon mengendarai motor sendirian. Oh yes! Saya senang sekali akhirnya berkesempatan juga ke Sibigo. Betul penasaran sekali saya untuk dapat melihat langsung salah satu desa terjauh di Kecamatan Teluk Dalam ini. Perjalanan yang menempuh jarak sekitar 103 KM dan menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam ke Sibigo. Daerah ini pernah juga didatangi oleh manajer kami bersama beberapa pejabat lainnya dan beliau sangat berkesan sekali tentang daerah ini. Saya makin penasaran ada apa dengan Sibigo sehingga mendapat perhatian begitu besar oleh sang manajer.

Jam 9.15 waktu Sinabang dan sekitarnya, saya, Bang Acon dan Bang Mukhlis mengendarai dua sepeda motor masing-masing Yamaha Win dan Honda Tiger. Kedua motor ini memiliki kerusakan pada beberapa onderdilnya. Parah!

Motor yang saya tumpangi remnya blong! Motor yang dibawa Bang Acon shock depan-belakang tidak lagi berfungsi serta roda belakang yang sudah baling.

blog11

Salah satu pantai yang kami lewati dalam perjalanan ke Sibigo. Boat-boat yang sedang diparkir di pantai danau kecil di depannya. Perjalanan kami masih terasa terasa nyaman karena jalanan beraspal. Walaupun berlubang di sana-sini dan debu yang berterbangan karena ada beberapa ruas jalan yang sedang ditimbun.

blog21

blog31

Bang Acon memimpin di depan. Jalanan tak lagi beraspal, hanya kerikil padat dan bebatuan keras yang tajam dan bergelombang-gelombang. Sekali-kali kami melewati jalanan berlumpur yang baunya seperti kubangan kerbau.

blog51
Bang Mukhlis

Inilah Bang Mukhlis. Sengaja berhenti sebentar untuk difoto dengan latar kebun kelapa sawit yang bermasalah itu. Hehe…

blog42
Banb Acon

Bang Acon-the leader! Salut buat Bang Acon! Biasanya, pegawai lain tidak akan mau lagi ke Sibigo setelah kunjungan pertama. Tapi tidak bagi Bang Acon, beliau malah oke-oke saja membawa kami ke Sibigo dan semangatnya juga tak kalah dengan kami yang usianya jauh lebih muda.

Tiga setengah jam perjalanan yang melelahkan tapi seru akhirnya berakhir di desa tujuan kami. Sibigo!

Ternyata daerah ini jauh sekali dari bayangan saya selama ini. Ternyata malah lebih banyak bangunan, sepi dan berciri khas pesisir pantai sekali!

Pusat Desa Sibigo
Pusat Desa Sibigo
Dermaga boat penyeberangan antar pulau
Dermaga boat penyeberangan antar pulau

Setelah membersihkan muka yang dibedaki debu selama perjalanan tadi, kami bertiga makan di warung tepi pantai berkarang dengan view pulau-pulau kecil.

Setelah makan siang, kami bergerak ke kantor unit Sibigo, sekitar 2 kilometer dari warung/pantai tempat kami makan tadi. Dalam foto di atas, Bang Mukhlis yang sedang mengeja Sibigo sebagai bukti bahwa dia sudah berada di Sibigo.

blog8

Setelah sesi pemotretan selesai dan kita shalat dhuhur. Saya bergolek-golek di pos satpam, tadinya mau istirahat sebentar…beberapa menit kemudian saya malah pulas sampai dibangunkan Bang Mukhlis, waktunya pulang!

Hoaaaahhh..masih sangat mengantuk sekali! Sempoyongan saya berjalan ke arah kawan-kawan outsourcing yang berbeda nasib dan berbeda tanggungan di kantor. Hehe…

Terus kita pamit-pamitan dan pulang.

Hm…ini belum selesai, bru! Petualangan yang sebenarnya malah akan kami lalui pada perjalanan pulang ke Sinabang. Yang tadinya kami hanya menghabiskan waktu 3,5 jam ketika pergi, tapi pulangnya kami harus kemalaman di hutan raya. Ikuti petualangan kami selanjutnya ya…

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru