Ada Puppet Show di Thailand

Artist’s House atau Baan Silapin adalah salah satu tempat pertunjukkan seni berupa puppet show dancing di Bangkok. Hari itu kami menonton lakon Ramayana dan Shinta oleh penari-penari yang berpakaian serba hitam. Pewayang menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan kaki yang mengentak-hentak. Satu boneka dimainkan oleh tiga orang yang mengenakan topeng.

Mengunjungi Artist’s House di Bang Luang adalah pilihan tepat setelah lelah berputar-putar melihat kuil-kuil megah.  Jika beruntung, kamu dapat berbelanja jajanan dari perahu-perahu di kanal selayaknya floating market. Bagaimana cara menuju ke Artist’s House ini? Baca selengkapnya di sini: Menonton Pupper Show di Khlong Bang Luang.

Iklan

Menonton Puppet Show di Khlong Bang Luang

Kami terus berjalan kaki melewati Grand Palace. Pagoda emas berkilauan ditimpa cahaya matahari menjulang dari balik dinding tinggi berwarna putih. Aku dan Titi terus berjalan hingga mencapai Thammasat University dan Wat Pho. Menumpangi ferry Chao Phraya, kami bertolak ke pinggiran kota Bangkok, lumayan jauh dari pusat kota. Adalah Kam yang membawa kami hingga tiba ke daerah yang mungkin bila kuulangi sendiri pasti akan tersesat. Kam adalah seorang teman yang kukenal ketika mengikuti Malaysia Tourism Hunt pada bulan September 2013 lalu. Perempuan cantik asli Thai ini membawa kami berjalan-jalan hingga ke pelosok di luar Bangkok.

Setelah berjalan kaki ke Phra Athit, menaiki ferry di Chao Phraya, berjalan kaki dan menumpangi taksi yang memakan waktu hingga 30 menit, tibalah kami ke sebuah sungai yang dilewati long boat khusus tour. Layaknya kampung di pinggiran sungai di Bangkok, rumah-rumah dibiarkan rapat-rapat hingga ke perbatasan kanal. Rumah-rumah kayu beratapkan seng menutupi hampir seluruh areal perkampungan ini.  

Tepat di sisi kiri jembatan, beberapa kedai menjual kerajinan dan benda seni. Pada teras-teras beberapa kedai dihiasi dengan pajangan bungkusan plastik berisi makanan ikan berwarna-warni yang dapat dibeli untuk umpan ikan Paroon Shark yang lazim ditemui di sungai Chao Phraya dan kanal-kanalnya.

Awalnya Kam tidak memberitahuku tempat apa yang akan kami kunjungi. Aku menduga akan mengunjungi candi-candi lagi atau melihat patung Buddha emas. Tapi rupanya Kam memberikan kejutan dengan mengantar kami menonton wayang di Artist’s House, Bang Luang.

Artist’s House atau disebut juga Baan Silapin adalah salah satu tempat pertunjukkan seni berupa puppet show dancing di Bangkok. Hari itu kami menonton lakon Ramayana dan Shinta oleh penari-penari yang berpakaian serba hitam. Pewayang menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan kaki yang mengentak-hentak. Satu boneka dimainkan oleh tiga orang yang mengenakan topeng. Sesekali wayang bertingkah jenaka untuk mengocok perut penonton.

Sayangnya sebelum acara dimulai, tidak ada penjelasan dalam bahasa Inggris sama sekali. Semuanya berbahasa Thailand sehingga tamu-tamu dari luar negeri seperti kami tidak mengerti apa yang MC katakan. Tapi kekurangan ini dapat ditutupi dengan penampilan wayangnya yang amat menghibur. Shinta menari memutar-mutar tangannya yang berjari lentik. Ramayana pun tak kalah agresif mendekati Shinta yang jinak-jinak merpati. Pada akhir pertunjukkan wayang, Ramayana dan Shinta berinteraksi dengan penonton seperti bersalaman, memeluk, dan mencium. Tingkah-tingkah lucunya membuat pecah gelak tawa para penonton yang didominasi oleh wisatawan dari Jepang.

Khlong Bang Luang Artist’s House tak hanya menyuguhkan seni tari wayang saja. Di sini juga menjual buku-buku sastra, buku-buku tulis yang terbuat dari kertas daur ulang, kartu pos, dan aksesoris unik lainnya. Pada dinding dan tiang-tiangnya dihiasi topeng dan lukisan. Bagian belakang rumah, sebuah stupa kecil berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh dibalut kain kuning di tengah taman mini yang dipagari bambu cina. Di teras, persis di pinggir kanal, didudukkan sebuah patung laki-laki dengan perut buncit, kepala botak, dan kulit bercat merah, duduk menghadap ke luar seolah sedang menanti seseorang. Seorang penjual es krim kelapa datang dan merapat ke teras rumah dengan boatnya. Suara denting halus terdengar untuk menarik perhatian. Aku membeli tiga cup es krim sambil mendengar mukadimah sebelum wayang dimulai.

Mengunjungi Artist’s House di Bang Luang adalah pilihan tepat setelah lelah berputar-putar melihat kuil-kuil megah. Cara paling mudah dan murah menuju lokasi ini adalah dengan menaiki taksi ke Charoen Sanitwong Soi 3 yang berakhir ke sebuah soi (lorong), yang berakhir di 7 Eleven. Turun di situ lalu berjalan kaki terus sampai bertemu kanal dan jembatan lalu berbeloklah ke kiri. Rumahnya berada di paling ujung. Jika beruntung, kamu dapat berbelanja jajanan dari perahu-perahu di kanal selayaknya floating market.

Khlong Bang Luang Artist House
Soi 28, Wat Kuhasawan, Thonburi
T: (028) 685 279; (081) 258 9260; (089) 125 3949
Open daily 09:00 to 17:00

Pengalaman pertama backpacking ke Sabang

Ketika rencana tak berjalan seperti yang diharapkan, hasilnya bisa macam-macam. Hasil yang kurang memuaskan sering kali terjadi. Dan begitu juga backpacking saya kali ini. Sekalipun tidak begitu memuaskan tapi tidak pula begitu mengecewakan.

Pulau Weh

Perjalanan ke Pulau Weh pada awalnya direncanakan pada minggu kedua di bulan Maret. Segala sesuatunya sudah saya siapkan, beberapa tujuan ke objek wisata sudah ditentukan. Tapi…ah dasar saya yang tidak konsisten pada rencana! Ketika ada teman yang mengajak ke Sabang langsung saya iyakan.

Akhirnya saya memutuskan berpergian dengan budget Rp. 500.000,-. Saya menantang diri sendiri apakah dengan budget segitu saya mampu survive di Pulau Weh selama dua hari? Cekidot! :p

Bisa dibilang kalau perjalanan saya ini adalah semi backpacking. Karena teman jalan saya ini bukanlah tipe backpacker yang mau mendapatkan harga yang murah. Jadi kadang-kadang saya harus mengalah untuk beberapa hal.

Kami berangkat dari Meulaboh pada hari selasa malam menaiki mobil travel dengan tarif 120.000 rupiah (padahal bisa hemat 20.000 jika naik L300) dan menginap di Wisma Sacita di Peunayong. Letaknya tepat di depan Sulthan Hotel. Harga kamar termurah di wisma ini 100.000. Cocok lah untuk backpacker.

Sekitar jam setengah sebelas siang, kami berangkat ke pelabuhan Ulee Lhee menaiki (lagi-lagi saya harus ngalah) taksi! 30.000/orang. Padahal kalau naik becak dengan uang segitu bisa untuk bertiga. Tapi ya sudahlah. Lha saya dibayarin! :p

Berlayar dengan Kapal Lambat (slow ferry) dari Ulee Lhee ke Balohan menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Beberapa sopir angkot menawarkan jasanya. Setelah tawar menawar, kami mendapatkan sopir yang mau membawa kami ke Iboih dengan harga 30.000 dari 50.000.

Sesampai di Iboih saya langsung nyari bungalow untuk menginap. Melewati jalan setapak yang menaiki bukit kecil berbatu. Ada banyak sekali pondok-pondok kecil beratapkan daun nipah berdiri di lereng-lereng bukit dan di atas bebatuan karang. Untuk harga kamar di tiap bungalow bervariasi. Tapi pada umumnya mereka menetapkan tarif sesuai letak bungalow. Yang di tepi pantai harganya berkisar antara 200ribu s/d 350ribu. bungalow yang letaknya di lereng bukit atau yang agak dekat pantai harganya berkisar 150ribu s/d 200ribu dan bungalow yang agak jauh dari pantai atau posisinya di atas bukit antara 100ribu s/d 150ribu. Semakin lama kita menginap semakin murah pula harganya.

Tapi sebenarnya harus pintar-pintar juga menawar sama yang punya bungalow dan mau bercapek –capek nanya ke setiap bungalow. Nanti saya kasih daftar bungalow dengan tarif yang negotiable.

Teman saya mendapatkan bungalow di O’ong’s bungalow. Setelah beberapa lama menunggu sambil memasang wajah kecapaian dan putus asa akhirnya saya mendapatkan juga kamar murah di Mama Mia! Cuma 100.000 untuk dua malam. Haha…ternyata saya punya bakat acting yang lumayan. :p

Di setiap bungalow, mereka memiliki restaurant sendiri yang sebenarnya sama sekali tidak berbentuk restaurant. Menurut saya seperti kios makan biasa di pinggir jalan. Hanya saja menunya yang ala barat dan mahal pastinya. Mereka memasak sesuai dengan pesananan. Uniknya yang memasak adalah pemilik bungalow itu sendiri. Saya merasa lucu ketika mendengar mereka berbahasa inggris dengan bule-bule.

“eat, mister? What you want to eat? Ooo Acehnese food? Spicey! Your friend eat curry just now then go…goooo…”. “you want barracuda?banana milkshake?wait ya…”

Beberapa koki yang lain cukup dengan sepatah dua patah kata saja. “noodle?” “with ketchup?” “oke, coffee” “with sugar?” (maaf, bukan untuk meledek. Bahasa Inggris saya juga hancur kok! :p )

Setelah mendengar banyak tentang pelayanan para koki-koki itu saya mencari tempat untuk snorkeling. Ada beberapa tempat yang saya lihat ada bule yang melakukan snorkeling. Tapi tempat yang paling bagus untuk itu ada di Yulia’s, bungalow ini adalah bungalow terakhir di Iboih. Tentu saja letaknya paling jauh.

Suatu pagi di Iboih

Taman laut di sini yang menurut saya paling bagus. Terumbu karangnya lebih beragam dengan ikan-ikan yang luar biasa cantik, berwarna-warni dan biota laut yang mengagumkan. Biasanya cuma liat di tivi, kali ini saya bisa melihat langsung dan berdekatan pula dengan mereka. :D

Wow. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa. Ini juga pengalaman pertama kalinya saya snorkeling dan merasakan kepanikan yang menggelikan karena belum terbiasa bernafas dengan alat bantu. Tapi lama-lama terbiasa juga. Snorkling di hari pertama benar-benar mengesankan. Tidak hanya dikelilingi ikan dan terumbu karang tapi juga dikepung ubur-ubur! Tepatnya bayi ubur-ubur! Saya merasa seperti Spongebob yang mengapung di permukaan air dan bayi ubur-ubur itu sesuka hatinya menyengat saya.

Beberapa kali saya terkena sengatan dan kulit saya jadi gatal-gatal karena bersentuhan dengan ubur-ubur. Mungkin sekitar setengah jam saya menikmati panorama bawah laut dan akhirnya saya menyerah dengan bayi ubur-ubur yang ‘kegatalan’ itu.

Hari kedua. Kamis. 25/02/2010

Saya ingin ke Gapang. Tapi uang saya tidak memungkin lagi untuk menyewa motor yang seharga 80.000/hari. Saya cari akal bagaimana caranya supaya dapat menyewa motor dengan harga miring. Kebetulan sekali Mama Mia menanyakan saya ingin ke mana hari ini. saya bilang deh mau ke Gapang. Tentu dengan keluhan saya tentang harga sewa yang mahal plus pasang wajah kere. Gayung pun bersambut! Si Mama menawarkan motornya ke saya dengan syarat membantunya berbelanja.

Pantai Gapang

Siiiip! Saya bersemangat empat lima membonceng Mama ke pasar dan keringat bercucuran ketika menenteng belanjaan Mama dari kampung di bawah sana menaiki bukti demi bukit ke bungalownya. Beban yang saya bawa adalah sekantung plastik besar berisi sayur-sayuran berat seperti kol dan sekantung plastic besar penuh dengan ikan laut segar.

Alhamdulillah. Saya berhasil juga ke Gapang dan saya terbengong-bengong melihat Gapang yang sepi! Damn! Kirain di sini bisa berenang! Saya paling tidak bisa nyebur ke laut kalau tak ada orang lain yang juga ikut nyebur. Dari ujung ke ujung tak ada pengunjung. Beberapa bule sedang bersiap untuk diving. Lah..saya mana punya uang buat diving! Lalu saya kepikiran untuk ke Tugu Nol Kilometer. Tapi ketika melewati Iboih, saya terima telepon dari teman saya kalau mereka mau snorkeling. Saya segera membatalkan ke Tugu dan pulang ke Iboih untuk snorkeling. Toh saya sudah pernah ke Tugu.

Bahasa dan karakter

Saya pikir, bahasa daerah Pulau Weh berbeda dengan bahasa Aceh pada umumnya sering digunakan di Banda Aceh. Ternyata bahasa daerah di Pulau Weh tidak jauh berbeda dengan bahasa Aceh umumnya. Walaupun terbata-bata saya mampu juga berkomunikasi menggunakan bahasa Aceh dengan mereka.

Ini adalah penilaian yang bersifat individual. Hanya penilaian pribadi saya saja tentang karakter warga Iboih yang menurut saya cenderung keras namun ramah. Mereka adalah pribadi yang enak diajak ngobrol dan mau bercerita. Mama, pemilik bungalow tempat saya menginap malah sering curhat tentang anak-anaknya, tentang prilaku pengunjung dan pandangannya terhadap perubahan pada masyarakat karena kehadiran turis-turis mancanegara di kampung mereka.

Berikut adalah daftar-daftar bungalow dengan harga kamar yang (sebenarnya) bisa nego :

  1. Bungalow Fatimah (unrecommended) bungalow-bungalownya kotor, tak terurus.
  2. Mama Mia, harus pintar ngambil hati si mama, tapi jangan terlalu manja. Ingat, mereka adalah orang-orang yang keras dan terbiasa gaul sama bule!
  3. Olala, yang punya bungalow ini pria Jerman. Istrinya juga merangkap sebagai koki. Kalau sama istrinya susah minta kurang harga kamar. Tapi saya tidak ketemu sama suaminya.
  4. O’ong. Yang punya cewek. Pintar-pintar nawar deh. Ingat, bungalow yang jauh dari pantai lebih murah!
  5. Yulia’s bungalow. Pengelolanya cowok-cowok enerjik dan pintar masak. Bungalow yang paling atas (jauh dari pantai) lebih murah.

Ada satu bungalow yang teman-teman backpacker lewatkan aja, yaitu Iboih Inn. Bungalow paling mewah yang ada di Iboih. Harganya juga mahal. Jangan harap bisa nego harga. Semua kamar di sini memiliki kamar mandi di dalam.

Ingat lho…kalau mau menawar harga bungalow yang di posisinya jauh dari pantai tarifnya lebih murah. Kalau beruntung bisa dapat 30.000/malam! Jadi siapkan argumentasi kalau mereka menyodorkan tarif yang mahal untuk bungalow yang jauh dari pantai. J

Berikut adalah rincian biaya yang saya keluarkan selama di Pulau Weh.

  1. Bus (travel) Mbo – Bna : 120ribu
  2. Penginapan di wisma Sacita-Peunayong : 100ribu (bagi dua : 50ribu)
  3. Taxi (Peunayong-Ulee Lheue) 30ribu/orang (lbh bagus naik becak, ongkos 30ribu per/trip)(dibayarin)
  4. Slow ferry : 17ribu (dibayarin juga) :D
  5. Angkutan Balohan-Iboih : 30ribu/orang (dibayarin lagi) :p
  6. Penginapan (Mama Mia bungalow) : 50ribu/malam <<bisa nego  (dua malam = 100ribu)
  7. Makan di warung di kampong Iboih : 10ribu 2x makan = 20ribu (pake telor + tempe = MAHAL!!!)
  8. Sarapan nasi bungkus (nasi uduk + lauk ikan balado) : Cuma 6ribu saja (murmer!)(2x makan : 12ribu) beliin buat kawan 2 bungkus : 12ribu. total : 24ribu
  9. Sewa snorkle : 15ribu/item/hari (2 hari : 30ribu.hari pertama bayar sendiri, hari kedua dibayarin kawan) total : 15ribu.
  10. Pinjam motor (gratis karena bantuin Mama Mia belanja) isi bensin seliter : 7ribu
  11. Beli minum Aqua ukuran gede di kampung 3 botol : 6ribu/botol = 18ribu, di Yulia’s bungalow : 7ribu. total : 25ribu
  12. Beli rokok (not for me yaa) : 12ribu (A Mild 2 bungkus)
  13. Pulsa : 23ribu
  14. Ongkos mobil dari Iboih ke Balohan : 50ribu/orang (dibayarin(bisa dipesan aja di tiap bungalow)) kalo di kampung bisa dapat 40ribu (tp harus pinter ngomongnya :p)
  15. Ojek dari Balohan ke Kota Bawah Sabang : 20ribu. Narik duit di ATM lg L
  16. Kapal cepat : 60ribu/orang. 3 orang  = 180ribu (tarif ekonomi dewasa) <<g ada pilihan lain krn pulang hari jumat dan budget ludes.
  17. Becak dari Ulee Lhee ke Peunayong : 40ribu

Total seluruhnya : 616ribu! (free : 147ribu)

Kesimpulannya : budget 500.000 ga cukup untuk bertahan hidup di Iboih selama dua hari!!

Belok kanan, Singkil!

Tulisan ini di posting pada  tanggal 23 Maret 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Perasaan ingin melompat-lompat kesenangan. Waktu yang dinantipun tiba. Aku akan backpacking sendirian ke Pulau Banyak – Aceh Singkil.

Selasa (18/03/2008 ) aku memesan tiket ke Singkil seharga Rp. 130.000 sebelum keberangkatanku ke Banda Aceh.

Di Banda Aceh, aku berusaha secepat mungkin menyelesaikan semua urusan di kantor wilayah. Untungnya semua pegawai sedang sibuk mempersiapkan acara Pisah Sambut GM baru. Jadi aku tidak menerima pertanyaan-pertanyaan tentang keterlambatan laporan yang aku bawa. :d

2.30 WIB

Aku pulang ke rumah setelah jalan-jalan dan belanja beberapa kebutuhan untuk backpacking lainnya. Lalu aku menelepon loket untuk memesan tiket kembali ke Meulaboh malam itu juga. Aku dijembut jam enam sore di rumah Pak Azis yang sudah kosong. Beliau liburan ke Medan dengan keluarga.

2.30 dini hari

Tiba di Meulaboh. Jam 7 aku terbangun, sarapan terus packing.

8.35 tancap gas ke mini market membeli batere headlight, chunky bar (penting!;P), shampoo, lotion anti nyamuk dan wax.

10.05 WIB

Aku dan 5 penumpang lainnya berangkat ke Singkil menaiki L300. Cuaca cerah berawan, agak panas di dalam mobil, sepanjang jalan aku harus membuka jendela agar tidak kepanasan.

Anyway, aku sangat menikmati perjalanan ini. Perjalanan tanpa antimo pertama yang paling menyenangkan. Ajaib sekali aku bisa melewati Gunung Tran tanpa pusing atau mual. Bahkan sampai Subulussalam dan Rimo juga aku merasa sangat fit.

Aku satu-satunya penumpang ke Singkil. Jadi aku harus naik mobil lain. Itupun hanya sampai Rimo. Jadi aku harus menginap di Rimo malam itu untuk menghemat biaya.

Tarif penginapan tempat aku menginap malam itu hanya 10.000 rupiah semalam. Sopir mobil itu bersedia mengantarku langsung ke Singkil dengan biaya 100.000.

Tarif Subulussalam – Rimo – Singkil = Rp, 20.000,-

Aku sangat berterima kasih kepada Dika yang sudah membantuku dengan informasi tarif angkutannya. ;)

Di Rimo, di sekitar penginapan Abdi itu aku tidak menemukan warung nasi. Hanya ada warung mie dan bakso. Akhirnya aku makan malam dengan sate kacang. Seporsinya hanya ada 5 tusuk sate ayam dengan kuah kacang yang pelit sekali. Nyaris tak berkacang. Tapi karena lapar akhirnya habis juga. Seporsinya bayar 6 ribu rupiah.

Jumat. 21/03/08 | 5.45 wib

Aku bangun lebih awal sebelum alarm dari hp ku berbunyi pada jam 6. Perutku langsung keroncongan dan mataku terasa sangat perih. Hah..aku harus segera mandi sebelum semua penghuni penginapan ini bangun dan berebutan ke kamar mandi.

Brrr…dingin dan sangat segar..

Pak SBH, nama sopir angkutan yang kemarin mengantarku dari Subulussalam menepati janjinya menjemputku jam 7 pagi. Beliau juga mengantarku ke warung untuk sarapan. Menu pagi itu nasi lemak dan gulai ayam. Hm..Enak sekalipun harus bayar 8 ribu. ;P

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang Subulussalam. Sebagian masyarakat Subulussalam dan Rimo menggunakan bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa Singkil. Ada yang menyebutnya bahasa Skaro dan kebanyakan menyebutnya bahasa kampung. Kondisi jalan juga lumayan bagus meskipun ada beberapa ruas jalan yang rusak.

8.01 wib SINGKIL

Aku sampai di Pelabuhan Boat yang akan membawaku nantinya ke Pulau Balai. Thanks to Pak SBH. )

8.48 wib Pelabuhan Boat

Boat ke Pulau Banyak
Boat ke Pulau Banyak

Kami berangkat dengan sebuah boat yang memuat sekitar 10 ton barang. Peti es dan bahan bangunan. Aku agak sedikit khawatir karena melihat begitu banyaknya barang yang dibawa. Ada 3 penumpang dan 3 awak boat. Kami mengarungi (cie..) sungai singkil yang besar sekali menuju laut lepas dan melaju ke Pulau Banyak.

%d blogger menyukai ini: