Perjalanan Pulang ke Sinabang dari Sibigo

Pukul 3.50 WIB waktu di Sibigo

Kami bertolak kembali ke Sinabang dari kantor Sibigo dengan rasa puas hati. Senang karena telah berhasil melewati medan yang sulit.

Belasan kilometer kami lalui dan rasanya begitu cepat melewati jalan-jalan yang tadinya dilewati. Rumah-rumah bantuan yang mungil, rumah-rumah papan yang hampir ambruk tapi masih dihuni, tower BTS yang tidak berfungsi lagi karena belum ada aliran listrik di daerah itu. Warga hanya diberi bantuan genset untuk penerangan pada malam hari.

Kami tiba di hutan lebat di kiri-kanan jalan yang belum diaspal, ban motor Bang Acon bocor! Dan parahnya ban belakang pula yang bocor. Karena pemukiman penduduk masih sangat jauh, pasti akan sangat menguras tenaga dan waktu jika harus mendorong. Bang Acon terus mengendarai motor tapi duduknya dimajukan ke depan-di atas tangki bensin. Beuuh, pasti posisi itu sangat susah baginya karena harus mendaki dan menuruni beberapa bukit yang berbatu-batu dan berlubang dan becek, ditambah lagi dengan berat badan yang overweight.

Seseorang yang kami temui di jalan memberitahukan kalau ada bengkel tambal ban sekitar 300 meter di belokan yang tadi sudah terlewati. Aku membantu Bang Acon mendorong motor hingga sampai ke bengkelnya.

Setengah jam kemudian, berpeluh keringat aku mendorong motor mendaki bukit dan memasuki perkampungan dan menemukan bengkel tersebut. Alhamdulillah, cuma bocor halus dan kami bisa jalan lagi setelah ditambal.

Penderitaan ternyata belum juga usai. Beberapa kilometer kemudian giliran motor yang kutumpangi pula yang bocor. Ban belakang! Dan lokasinya pun tidak tanggung-tanggung. Tepat di tengah-tengah perbukitan kebun kelapa sawit! Aku harus jogging mendaki dua bukit. Terakhir baru kutahu kalau bukit tempat aku jogging itu terkenal angker.

Cahaya matahari mulai pudar. Saat magrib kami menemukan bengkel di tepi jalan tak beraspal. Sebuah rumah papan yang dibangun di tepi tebing jalan. Di belakangnya terlihat sebuah teluk mungil dan beberapa motor diparkir di tepi pantainya. Terlihat beberapa orang sedang menarik-narik tali pancing.

11Itu foto motor kami yang bocor. Kata Abang Tukang Tambal, ban dalamnya harus diganti karena besi pentilnya lepas dari karet ban. Kami menunggu tukang tambal itu membeli ban di bengkel lain selama setengah jam dalam gelap malam. Satu-satunya penerangan adalah dari lampu strongkeng yang dikerubuti anai-anai dan serangga malam.

Sekembalinya dari bengkel untuk memblei ban dalam, dia bercerita bahwa baru saja melihat ular sebesar paha di dalam rawa.

Hilanglah semangat kami mendengar kabar tak enak itu. Hari sudah malam dan perjalanan masih begitu jauh. Entah rintangan seperti apa lagi yang akan kami termui nanti. Mendengar berita itu membuat nyali kami ciut. Tapi tak bisa pula kami berlama-lama di sana. Harus segera pulang setelah ban siap terpasang.

Kami menembus gelap malam dan melalui jalan rusak yang cukup parah dan licin. Udara dingin kadang-kadang menyergap kemudian hawa hangat merayap menyelubungi kulit. Suasana sering mencekam karena tak ada yang berani lagi mengeluarkan candaan. Entah karena tenaga yang tinggal sisa-sisa atau termakan oleh cerita seram yang tadi didengar di bengkel.

Berjam-jam kami terus berjuang di gelap malam dengan beberapa kerusakan pada spare part motor. Hingga akhirnya memasuki zona aman yaitu daerah yang berpenduduk sekalipun debu tebal beterbangan ke segala penjuru. Sedikit melegakan.

Jam 9 malam kami tiba di Sinabang. Alhamdulillah. Petualangan yang sebenarnya telah usai malam itu. Hahhh…Akhirnya rasa penasaran itu pupus juga. Terobati sudah.

Krucukan di Salur (Lasikin)

Mendadak hujan!

Sabtu, 27 Desember 2008

Sarapan sebentar di warung nasi di samping kompleks pelabuhan, terus kita bermobil ke kantor dan bertemu dengan manajer ranting. Setelah bersalam-salaman kita dibawa ke penginapan-Losmen Simeulue namanya. Untuk kamar ekonomi dikenakan biaya 65.000 rupiah permalam. Two beds dan saya minta sekamar saja dengan Bang Mukhlis dan Bang Andi-karena sama-sama tidak merokok dan kita bertiga adalah yang paling muda diantara bertujuh. Hehe…dan saya tetap yang termuda lah pastinya.

Sampai di losmen kita tidur lagi dan begitu nyenyak tapi tiba-tiba dibangunkan pada jam makan siang. Kepala jadi pusing karena masih pengen tidur. Terus kita sama-sama ke kantor dan makan. Nasi bungkus dan lauknya ikan kukus yang rasanya bener-bener maknyuuuuss…Enyak enyak enyak enyak…

Cuaca siang ini cerah, udara panas. Langit berawan. Ketika sedang makan, tiba-tiba hujan turun. Padahal tidak ada awan mendung. Dua menit kemudian hujan berhenti dan udara kembali panas lagi. Hm…cuaca yang sudah menjadi biasa di pulau Sinabang, tapi perubahan cuaca yang tiba-tiba berubah begini bisa berbahaya bagi pendatang jika daya tahan tubuhnya lemah.

Setelah kenyang, saya jadi ngantuk dan pengen tidur tapi Bang Acon mengajak kami berjalan-jalan ke Lasikin, sekitar 20 KM. Ada salah satu kantor kami di sana. Di tengah perjalanan ke sana, hujan pun tiba-tiba turun lagi ketika udara sedang panas-panasnya dan segera pula hujan berhenti dan panas lagi. Uffff…cuaca yang aneh…saya pun jadi aneh. Buka tutup-buka tutup kaca mobil gara-gara hujan dan panas.

Kita tiba di Desa Salur. Daerah pesisir ini rencanya akan jadilokasi kita bisa berwisata kuliner. Ada beberapa warung di tepi pantai yang menyediakan masakan-masakan ikan segar yang rasanya…emmm…top lah! Ough…menulis ini membuat saya membayangkan ikan-ikan itu tersedia di depan saya dan segera menjadi lapar! Tapi sayangnya di lokasi ini tidak menyediakan lobster. Padahal kami sudah ingin sekali menikmati lobster…

Foto itu saya ambil ketika kami kembali pulang ke kota Sinabang, tidak ada makan-makan karena rencananya cuma untuk jalan-jalan dan melihat lokasi wisata kuliner kami besok. Hehe… Lapar beneran jadinya! Krucuuukk…

blog6

Kelihatan kan pelanginya? Pelanginya muncul setelah hujan selama 1 menit tadi. Keren!

Aceh Blog Spirit!

Heheh…mengubah sedikit dari slogan salah satu perusahaan di Indonesia yaitu dari Aceh Green Spirit menjadi Aceh Blog Spirit. Entah sudah betul itu susunannya. Biarin! Hahah…

Berikut beberapa foto yang saya ambil ketika pelatihan berlangsung yang bertempat di Plasa Telkom.

picture-026Saking semangatnya ada peserta yang memakai pakaian seragam putih abu-abu!

The Next Blog Star
The Next Blog Star
Man of the day
Man of the day
Mr. Husni dan calon-calon blogger Aceh
Mr. Husni dan calon-calon blogger Aceh. Ehem...
Baiquni, Husni, Reja, siapa ya? (lupa, peace...), Ozank
Baiquni, Husni, Reja, siapa ya? (lupa, peace...), Ozank
Trio Blogger! Fadli, Beben & Husni
Trio Blogger! Fadli, Beben & Husni

Yey…akhirnya terposting juga tulisan ini sudah! Alhamdulillah…Dengan perjuangan yang amat berat; diperhatikan dari bayangan kaca pintu oleh si Bos (jangan ngenet pagi-pagi!); kerjaan yang menumpuk-dirapel tiga hari; jaringan inet yang tak jelas dan perut yang berkerucuk minta diisi.

Hehe..biar telat tapi tetap harus diposting. Tak boleh moment berharga ini lewat begitu saja tak terdokumenkan di blog tercinta ini.

Go Blogger…

Pantun Aceh

tajak u pasie ta kawee bieng
laju tapeusieng bak abah kuala
sira lon duek sira lon ngieng
yang ek lalat bak mieng awai lon tanda

Terjemahannya (mohon koreksi jika salah) :
Pergi ke pantai kita pancing kepiting
Terus kita pesiang di bibir kuala
Sambil duduk saya melihat
Yang bertahi lalat di pipi yang saya perhatikan (tanda?)

Di atas adalah salah satu pantun Aceh yang saya dapat di sini.

Bukon sayang putik boh rambot
Teungoh lon chet-chet ka luroh keudroe
‘Oh lon ingat bit hana patot
Le that buet karot di dalam nanggroe (@iloveaceh)

Aneuk cicem gle jipo u laot
Cicoh le eungkot aneuk tanggiroe
Bak but nyang jahe hanmee taikot
Bak but nyang karot hanmee tapeutoe (@iloveaceh)

Ta pegot rmoh ngon bate bata
Tajak kuliah hideh di Jawa
Whai Atjeh brat that rindu ulon ke gata
Tmpat ternikmat ban saboh donya (@panji_njok)

Cabeung bak saoh meuhunjat-hunjat
Peuleuheun tamat bak meuhue-hila
Tangui tapajoh beuhimat-himat
Beuna taingat keusingoh lusa. (@iloveaceh)

Tajak u Banda ta kaleun Masjid Raya
Kuah beu leumak ue bek beukah
Dalam hudepnyo beu rayeuk saba
Mangat hudep lam ridha Allah (@teukusube)

Asai phon luka bak geutah mancang
Asai phon meuprang bak seunoh teuga
Asai phon dawa bak tungge utang
Asai phon reunggang bak tungge laba (@iloveaceh)

Asai phon pade bak tanoh ladang
Asai phon blang bak tanoh data
Asai phon pake bak meuayang
Asai phon meucang bak seunda-seunda. (@iloveaceh)

Kujak u Pasai merumpok Fatimah
Meunan kukalon dijak ngon yahwa
Meunyo perlee inong yang muslimah
Bek ragu hate neujak u Kutaraja (@oochex)

Ada banyak lagi. Silahkan berkunjung ke Nanggroe… Saleum Nanggroe!

Bagi rakan-rakan yang ingin menambahkan pantun-pantun berbahasa Aceh baik dalam bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Simeulue, bahasa Gayo, bahasa Kluet dan bahasa daerah lainnya di Aceh, mohon untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih. :)

Pantun Aceh

tajak u pasie ta kawee bieng
laju tapeusieng bak abah kuala
sira lon duek sira lon ngieng
yang ek lalat bak mieng awai lon tanda

Terjemahannya (mohon koreksi jika salah) :
Pergi ke pantai kita pancing kepiting
Terus kita pesiang di bibir kuala
Sambil duduk saya melihat
Yang bertahi lalat di pipi yang saya perhatikan (tanda?)

Di atas adalah salah satu pantun Aceh yang saya dapat di sini.

Bukon sayang putik boh rambot
Teungoh lon chet-chet ka luroh keudroe
‘Oh lon ingat bit hana patot
Le that buet karot di dalam nanggroe (@iloveaceh)

Aneuk cicem gle jipo u laot
Cicoh le eungkot aneuk tanggiroe
Bak but nyang jahe hanmee taikot
Bak but nyang karot hanmee tapeutoe (@iloveaceh)

Ta pegot rmoh ngon bate bata
Tajak kuliah hideh di Jawa
Whai Atjeh brat that rindu ulon ke gata
Tmpat ternikmat ban saboh donya (@panji_njok)

Cabeung bak saoh meuhunjat-hunjat
Peuleuheun tamat bak meuhue-hila
Tangui tapajoh beuhimat-himat
Beuna taingat keusingoh lusa. (@iloveaceh)

Tajak u Banda ta kaleun Masjid Raya
Kuah beu leumak ue bek beukah
Dalam hudepnyo beu rayeuk saba
Mangat hudep lam ridha Allah (@teukusube)

Asai phon luka bak geutah mancang
Asai phon meuprang bak seunoh teuga
Asai phon dawa bak tungge utang
Asai phon reunggang bak tungge laba (@iloveaceh)

Asai phon pade bak tanoh ladang
Asai phon blang bak tanoh data
Asai phon pake bak meuayang
Asai phon meucang bak seunda-seunda. (@iloveaceh)

Kujak u Pasai merumpok Fatimah
Meunan kukalon dijak ngon yahwa
Meunyo perlee inong yang muslimah
Bek ragu hate neujak u Kutaraja (@oochex)

Ada banyak lagi. Silahkan berkunjung ke Nanggroe… Saleum Nanggroe!

Bagi rakan-rakan yang ingin menambahkan pantun-pantun berbahasa Aceh baik dalam bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Simeulue, bahasa Gayo, bahasa Kluet dan bahasa daerah lainnya di Aceh, mohon untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih. :)

Traidisi Uroe Meugang di Aceh Barat

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.

Pulau Balai

Postingan ini di posting pada tanggal 16 April 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Sekitar jam 1 siang aku tiba di dermaga boat di Pulau Balai. Aku kebingungan harus kemana, di depanku ada 3 persimpangan yang jalannya hanya terbentuk dari koral-koral. Tidak ada becak maupun angkutan lainnya yang lazim aku temukan seperti di daerah lain.

Beberapa meter dari dermaga aku bertanya ke salah seorang warga disitu arah mana untuk ke rumah Pak Nukman, teman Ayahku. Lalu aku ditunjukkan ke arah jalan yang paling cepat ke rumah Pak Nukman.

Ternyata jalan ke rumah Pak Nukman adalah jalan pintas yang menghubungkan kedua sisi pulau. Kurang dari 5 menit aku sudah sampai di sisi pulau berikutnya. Akhirnya aku menemukan rumah yang kutuju. Tepat di depan pintu gerbang Pelabuhan Feri. Tiga orang paruh baya sedang duduk ngopi di teras rumah yang berkanopi. Aku memberi salam dan beruntung sekali aku memang sedang berhadapan dengan beliau.

Setelah mengobrol sejenak sambil melepas penat, beliau menjamuku makan siang dan mengantarku ke rumahnya. Langsung tidur.

Sore Jumat | 21

Aku ngobrol dengan Pak Nukman membicarakan tentang perkembangan pariwisata di Pulau Banyak. Ada beberapa pulau tersebar yang sebelum konflik yang sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan asing. Seperti Pulau Palambak, Pulau Tailani dan Pulau Bengkaru. Namun semenjak konflik, krisis moneter dan kemudian bencana tsunami membuat parawisata di Pulau Banyak betul-betul drop. Benar-benar terhenti total.

Tapi keindahan panorama pantai dan taman bawah laut di di kepulauan ini masih tetap terjaga dengan baik. Aku sempat mengunjungi Pulau Palambak keesokkan harinya dan melihat langsung keindahan pulaunya.. Gila!!! Rasanya aku tidak mau kembali lagi ke Pulau Balai. Terlena akan panorama taman lautnya, pantai pasir putih, dan semua yang ada di pulau itu membuat betah!

Ah, bolehlah sekali-kali aku berandai. Yah..Jika seandainya aku punya dan dapat membawa uang banyak (oh kapankah?) ke Pulau Banyak maka aku akan liburan sepuasnya selama berminggu-minggu. Kira-kira kalo kulit sudah hitam baru deh balik ke Meulaboh. Huhu..

Pengennya sih..

Tapi semua pengalaman yang aku dapatkan selama di Pulau Banyak adalah hal yang sangat berharga. Banyak hal-hal baru yang aku temukan mulai dari keberangkatan dari Meulaboh. Ketika aku harus berurusan dengan sopir mobil yang menurunkanku di Subulussalam dan menghadapi sopir mobil yang akan membawaku ke Singkil. Sampai seterusnya hingga aku sampai dengan selamat di Pulau Balai.

Perjalanan pertamaku

Postingan ini di posting pada tanggal 23 Maret 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Terbangun jam 5.35 di kamar yang dipinjamkan Pak Nukman yang menjadi tempat tidur ku selama 3 malam. Seperti biasa, aku mencek semua barang-barangku seperti kamera digital, handphone, ransel dan botol air minum. Alhamdulillah, masih lengkap. Batere hp tinggal 3 bar lagi karena semalaman hidup sambil memutar lagu-lagu ninabobo. Aku mencharge hp dan mengambil buku catatan kecil yang berisikan semua catatan perjalananku. Aku membaca kembali catatan singkat dari hasil percakapan dengan beberapa tokoh desa Pulau Teluk Nibung kemarin sore.

Aku baru ingat kalau koneksi gprs hanya aktif di pagi hari. Aku menghidupkan hp dan membuka browser Opera mini. Connected! Log in ke blog wordpress dan membuka komentar yang masuk. Penasaran sama satu komentar yg kemarin aku lihat tapi belum sempat cek siapa dia. Wah, situsnya berbahasa Arab. Ga ngerti.

Lalu aku membuat sebuah blog lagi dengan judul ‘langkahkakiku’ yang nantinya berisikan tentang perjalanan-perjalananku.

Sudah jam 8.04 di Pulau Banyak-Aceh Singkil. Aku harus mandi dan sarapan. Perutku sudah lapar sekali. Semoga diluar tidak dingin karena semalam dan subuh tadi hujan. Postingan selanjutnya akan segera menyusul setelah aku kembali ke Meulaboh Rabu atau Kamis depan.

Malu Bertanya, Jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

Benteng Inong Balee

Rencana awal adalah ingin mengunjungi lokasi Ie Suum di Desa Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya-Aceh Besar. Tapi saya malah menyasar hingga ke Lamreh sana. Puluhan kilometer terlewati dari lokasi sumber air panas tersebut.

Bagaikan terpesona dengan view yang sangat menarik saya terus saja melewati Pelabuhan Malahayati. Menaiki tanjakan tinggi yang di sisi kiri dipadati dengan rumah-rumah relokasi penduduk korban tsunami. Pada sebuah papan di sebelah kiri di depan saya tertulis Benteng Inong Balee. Refleks tangan saya berbelok ke kiri dan mengikuti jalan setapak berbatu. Saya berhenti di bawah sebuah pohon rindang yang berduri-duri.

Dari atas bukit itu saya dapat melihat pelabuhan di bawah sana. Pabrik Semen Padang dan Pertamina. Rumah-rumah relokasi berjejer putih dan merah. Perahu-perahu nelayan, bagan dan kapal kargo bertebaran di perairan Selat Malaka. Terlihat sangat indah jika dipandang dari atas sini.

Inong Balee
Inong Balee

Ada banyak pohon Boh Jamblang di sana. Kebetulan sedang berbuah dan saya memanjat sebuah pohon dan memetik beberapa dan memakannya di atas pohon sambil foto-foto. Seru sekali. Lucu juga. Jauh-jauh dari Meulaboh malah nyasar ke sini dan nangkring di pohon sambil makan Jambee Kleng! Haha…

Teringat masa kecil dulu ketika saya dan abang dan seorang kawan kecil, Ipan. Kami bertiga mendaki gunung Piatu di Labuhan Haji – Aceh Selatan untuk memetik Boh Jamblang ini. Kami menyebutnya Jambu Kaliang. Menguak semak ilalang setinggi dua meter, bergelayutan di akar-akar nafas dari pohon-pohon raksasa. Auoooo…Tarsan cilik! Kami masing-masing membawa pulang satu kantong plastik penuh Boh Jamblang. Sebelas tahun lebih berlalu dan kini saya dapat merasakan kembali masa-masa indah dulu. Hahhh…

Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang
Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang

Setelah bernostalgia sambil menikmati buah jambu kaliang ini, saya berjalan lagi menuruni bukit mengikuti jalan setapak berbatu yang bertebaran kotoran sapi di mana-mana. Sekitar satu kilometer dari tempat saya berhenti tadi saya memasuki situs bersejarah ini. Benteng Inong Balee. Ahhh, akhirnya saya sampai juga.

Situs Bersejarah
Situs Bersejarah
Prasasti Benteng
Prasasti Benteng

Setelah membaca prasasti di atas, imajinasi saya terus berputar membayangkan suasana peperangan para laskar Aceh yang sedang membela negeri. Di prasasti itu juga tertulisa bahwa benteng ini juga dijadikan sebagai asrama para laskar Inong Balee. Itu berarti mereka juga ikut berperang kan? Jadi ternyata jaman dulu memang sudah ada laskar Inong Balee. Saya pikir cuma ada pada jaman GAM dulu. Wah, luar biasa. Saya berdiri di sana menyaksikan sisa-sisa perjuangan mereka. Masih tetap kokoh berdiri. Semoga rakyat Aceh dan Aceh tetap mampu berdiri kokoh seperti benteng-benteng itu.

Benteng Inong Balee
Benteng Inong Balee
Tugu
Tugu
%d blogger menyukai ini: