#Elephantastic Run 2018 di Banda Aceh

Sudah lama banget pengen ikut acara lari di Banda Aceh. Setelah tiga tahun kutinggalkan, kawan-kawan lari di kota sejuta kedai kopi itu makin semarak saja. Makin ramai. Terbukti dari aktifnya komunitas lari Indorunners Aceh (IRA) yang menggelar Sunday Morning Run (SMR) dan beberapa kali dipercayai pula menjadi pengurus charity race. Seperti Rhino Run, Tiger Day, Lanjutkan membaca “#Elephantastic Run 2018 di Banda Aceh”

Kamping Horor di Pulau Weh

Sejauh ini, traveling bersama keluarga atau dengan salah satu anggota keluarga bagiku cukup menyenangkan. Seru, konyol, dan asyik. Tapi di balik keseruan itu, selalu saja ada drama yang menghantam. Enggak di rumah, di mana pun kalau berdekatan pasti berantam juga akhirnya. Seperti beberapa tahun lalu ketika traveling dengan adikku, Titi, ke Thailand. Di hari terakhir di Bangkok, drama hebat bak sinetron terjadi di hostel. Sudahlah sama-sama keras kepala dan emosian, enggak ada yang mau mengalah. Tapi pada akhirnya tetap saja, yang tua harus mengalah sedikit. SE-DI-KIT.

Berbeda banget jika traveling bareng teman. Jika ada ketidakcocokkan, biasanya timbul perasaan tidak enak dan salah satu dari kita berusaha untuk bersabar dan mengambil jalur damai. Atau kalau sudah bikin kesal, ya diem-dieman. Tapi kalau dengan adik sendiri? Langsung gencat senjata!

Di kali yang lain, saat traveling dengan Hanif, dramanya lain lagi. Aku mengalami kejadian seram yang bikin jatung serasa mau meloncat keluar dari kerongkongan. Bila diibaratkan sebuah film, perjalanan dengan Hanif saat liburan Idul Adha lalu adalah film horor.

Menatap Pulau Weh dari Pantai Alue Naga.
Menatap Pulau Weh dari Pantai Alue Naga.

Aku membawa Hanif jalan-jalan ke Sabang, Pulau Weh sebagai hadiah khitanannya, sekaligus menunaikan janji akan membawanya kamping suatu hari saat libur panjang sekolah. Lanjutkan membaca “Kamping Horor di Pulau Weh”

Melepas Rindu Pada Lamreh

Aku sedang membongkar kembali foto-foto lama di folder. Berharap bisa menemukan ide menulis untuk blog yang mulai berjelaga ini dengan mengenang masa lalu. Mataku tertumbuk pada beberapa foto yang membuat ingatan kembali ke lokasi foto diambil: Lamreh.

Puluhan foto-foto itu membangkitkan kembali kenangan ke tahun 2011 silam. Pada gampong yang hanya kutinggali selama tiga bulan. Meski terbilang singkat, gampong Lamreh ini istimewa bagiku. Selain karena sejarah tentang Kerajaan Lamuri yang hilang ratusan tahun sebelum pasukan Inong Balee menguasai Krueng Raya, Lamreh telah memberikan pelajaran penting bagaimana bertahan hidup untuk pertama kalinya.

Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.
Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.

Lanjutkan membaca “Melepas Rindu Pada Lamreh”

Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang

Sabang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kapan pun dan berapa kali pun kita sudah mengunjunginya. Ada rasa gembira yang meluap-luap ketika melakukan perjalanan untuk mencapai pulau paling barat negeri ini. Entah itu dengan menyeberangi lautan dari Banda Aceh ke Balohan atau melintasi udara dari Kuala Namo-Medan ke Maimun Saleh-Sabang.

Santai di Benteng Jepang, Anoi Itam

Sudah kali keenam aku kembali ke pulau berbentuk huruf W ini. Bukan jumlah yang banyak tapi kayaknya juga tidak terlalu sedikit untuk bisa mengenal Sabang dari Lanjutkan membaca “Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang”

Seapreneur, Aksi Jeli Alumni KPN Aceh

Ada yang berbeda di Sabtu (26/3) lalu di Gampong Lampulo, Banda Aceh. Terlihat ada kesibukan ibu-ibu dan remaja putri yang sedang mengangkat baskom-baskom kecil dan beberapa bahan makanan. Di tengah-tengah mereka, tampak beberapa anak muda berseragam biru yang juga sama sibuknya dengan para ibu menyiapkan kegiatan Seapreneur siang itu.

Apa itu Seapreneur?

Lanjutkan membaca “Seapreneur, Aksi Jeli Alumni KPN Aceh”

Menyelam di Lhok Mee dan Pulau Tuan – Aceh Besar

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya pada postingan Seperti Apakah Belajar Menyelam Itu? adalah susah-susah gampang. Namanya juga belajar, saat diberi arahan oleh instruktur, tentu harus benar-benar diperhatikan dan konsentrasi. Tapi lagi-lagi yang namanya belajar pasti ada saat-saat ketika pikiranmu meninggalkan tempatnya dan terbang entah kemana. Seperti yang pernah aku alami, ketika disuruh buoyancy di dasar kolam, malah timbul lagi ke atas bersama buddy. Kami lupa harus ngapain di dasar sana. Buru-buru kami tenggelam lagi setelah dihardik asisten instruktur. :p

Lanjutkan membaca “Menyelam di Lhok Mee dan Pulau Tuan – Aceh Besar”

Belajar Menyelam

Keinginan untuk belajar menyelam itu sudah datang sejak lima tahun yang lalu. Ketika aku masih seorang buruh kantoran yang punya uang tapi tak punya waktu luang. Namun ‘hidayah’ itu justru benar-benar merasuki ketika aku tidak lagi bekerja dan harus mengirit setiap pengeluaran. Saat itulah salah satu ‘hutang’ ini menagih untuk kulunasi.

Salah satu bucket list: menyeberang dari Iboih ke Pulau Rubiah: DONE! Next: Open Water Scuba Dive!

Selain tekad yang dikuat-kuatkan, tak ada persiapan khusus lainnya untuk hari pertama mengambil lisensi Scuba Dive pada hari sabtu itu. Setelah menerima jadwal dari Kak Nu (co founder Darah Untuk Aceh) beberapa hari sebelumnya, besoknya aku berangkat ke Lanjutkan membaca “Belajar Menyelam”

Weekly Photo Challenge: Connecting The Day and Night

The sun, it connects us from day to night. From the light to the dark.

The ruin, it connects me back to the memories of almost 11 years ago when the tsunami destroyed our homes.

See more of others’ submissions to the Daily Post Weekly Photo Challenge on: “Connected.”

[Video Cilet-Cilet] Lhok Mata Ie

Pantai Lhok Mata Ie yang kini ramai dikunjungi setiap akhir pekan dan hari libur ini tetap menyenangkan untuk disambangi. Perjalanan ke pantai ini memakan waktu kurang dari satu jam. Kita bisa snorkeling atau leyeh-leyeh santai saja di pinggir-pinggir batu menikmati semilir angin. Lhok Mata Ie adalah salah satu tempat ‘melarikan diri’ favoritku jika di Banda Aceh karena lokasinya yang tergolong dekat dan tempatnya juga keren!

Sayang sekali Pantai Lhok Mata Ie ini tidak bisa dikunjungi oleh perempuan meski ditemani oleh muhrimnya sekalipun. Tapi anehnya, ketika terakhir kali aku dan kawan-kawan dari Backpacker Aceh mengunjungi pantai ini, minggu ketiga Agustus 2015, kami menemukan dua bule cewek yang mendirikan kemah ditemani tiga orang lekaki lokal. Guidekah? Jika memang benar, seharusnya mereka telah mengantongi izin pejabat kampung.

Catatan kamping di Lhok Mata Ie terdahulu bisa kawan-kawan baca di blogpost yang INI dan INI.

Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing

Perahu-perahu nelayan yang bersauh di depan Dermaga Ujong Serangga.

“Tadi yang pas kita lewat Abdya itu Pulau Gosong, bukan?” tanya seorang rekan kerja ketika kami baru saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar selepas kembali dari Pulau Simeulue. Aku yang tak lagi memperhatikan ke luar pesawat setelah kami lepas landas dari Bandara Blangpidie satu jam yang lalu tak bisa menjawab. Rajuli, yang bertanya, mendeskripsikan pulau yang katanya berpasir putih dengan warna hijau daun yang kontras. Lanjutkan membaca “Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing”