Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang

Sabang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kapan pun dan berapa kali pun kita sudah mengunjunginya. Ada rasa gembira yang meluap-luap ketika melakukan perjalanan untuk mencapai pulau paling barat negeri ini. Entah itu dengan menyeberangi lautan dari Banda Aceh ke Balohan atau melintasi udara dari Kuala Namo-Medan ke Maimun Saleh-Sabang.

Santai di Benteng Jepang, Anoi Itam

Sudah kali keenam aku kembali ke pulau berbentuk huruf W ini. Bukan jumlah yang banyak tapi kayaknya juga tidak terlalu sedikit untuk bisa mengenal Sabang dari Lanjutkan membaca “Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang”

Weekly Photo Challenge: Connecting The Day and Night

The sun, it connects us from day to night. From the light to the dark.

The ruin, it connects me back to the memories of almost 11 years ago when the tsunami destroyed our homes.

See more of others’ submissions to the Daily Post Weekly Photo Challenge on: “Connected.”

Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing

Perahu-perahu nelayan yang bersauh di depan Dermaga Ujong Serangga.

“Tadi yang pas kita lewat Abdya itu Pulau Gosong, bukan?” tanya seorang rekan kerja ketika kami baru saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar selepas kembali dari Pulau Simeulue. Aku yang tak lagi memperhatikan ke luar pesawat setelah kami lepas landas dari Bandara Blangpidie satu jam yang lalu tak bisa menjawab. Rajuli, yang bertanya, mendeskripsikan pulau yang katanya berpasir putih dengan warna hijau daun yang kontras. Lanjutkan membaca “Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing”

Aceh: Destinasi Impian Orang-orang

Mesjid Raya Baiturrahman, simbol perjuangan rakyat Aceh. (Foto oleh Ari Buzzerbeez)

Membicarakan destinasi impian, jika dijadikan daftar, urutannya pasti akan panjang sekali. Apalagi tinggal di Indonesia yang punya banyak sekali pulau dan untuk mencapai semuanya butuh waktu yang tak singkat dan dana yang tak sedikit. Ditambah pula dengan seabrek persiapan yang matang. Selain hal-hal dasar seperti dana dan rencana, mental dan fisik juga berperan penting untuk sukses dapat mengunjungi destinasi impian.

Destinasi impian Traveler Cilet-cilet juga tak jauh berbeda dengan kawan-kawan lain yang berada di kawasan zona Waktu Indonesia Barat. Indonesia timur adalah mimpi yang digantung tinggi. Mengunjungi tanah saudara-saudara di sana tentu butuh waktu lebih lama, tak secepat kita menjengkalkan jari di atas peta Indonesia. Dan tulisan yang akan kawan-kawan baca di bawah ini akan berisi curhatan. Tapi selow, nggak perlu tisu kok. :p Lanjutkan membaca “Aceh: Destinasi Impian Orang-orang”

The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit. Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. :D Lanjutkan membaca “The Real Escapade to Pulau Bunta”

Piknik Asik di Don Hoi Lot

Bus umum yang aku dan Titi tumpangi pagi minggu itu berbeda dari bus yang biasanya kami naiki atau yang sering kami perhatikan ketika sedang berjalan-jalan di Bangkok. Bus yang ini agak sedikit usang dan berdebu. Lantainya sudah diganti dengan papan. Jendela kaca dan dinding bus berdebu dan kusam.  Meski begitu, bus ini memiliki kipas angin yang masih berfungsi dengan baik. Walaupun baling-baling kecilnya yang berwarna biru sudah dilapisi juga dengan debu tebal berwarna kecoklatan.

Lanjutkan membaca “Piknik Asik di Don Hoi Lot”

Science Hunting di Lhokseudu

Memang benar,  belajar langsung di alam jauh lebih menyenangkan dan lebih gampang masuk ke dalam kepala daripada belajar teori di dalam kelas. Begitu yang aku rasakan ketika mengikuti Field Camp Mahasiswa FMIPA Unsyiah di Lhokseudu, Aceh Besar. Tak terhitung berapa ‘Wooogh’ yang keluar dari mulutku ketika Pak Sura menerangkan satu persatu temuannya kepadaku.

Jika tak diundang oleh Bang Muslim, seorang tour guide kawakan dan dosen IT di Unsyiah, mungkin aku tak akan pernah tahu kalau ada patahan aktif berjarak 28 KM dari Banda Aceh. Mungkin aku tak akan pernah tahu kalau koral-koral putih yang terhampar di pantai adalah bahan alami pemutih gula yang halal dan juga sebagai salah satu bahan serat optik. Atau aku tak pernah tahu kalau Lhokseudu adalah daerah penghasil awan hujan yang diekspor ke Saree. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya karena ketidaktahuan yang baru aku ketahui di di field camp ini.

Science Hunting. Begitu istilah yang disebut Pak Sura ketika beliau menimang-nimang sebuah rumah kerang berukuran kepalan tangan orang dewasa yang penuh ditempeli kulit kerang. “Belajar langsung di alam seperti ini memang lebih menyenangkan dan mudah dipahami jika dibandingkan kita belajar di dalam kelas”, ujarnya ketika kami kembali ke boat setelah meninjau lokasi science hunting untuk esok pagi. Aku berjalan tertatih-tatih menahan perih akibat cucukan karang pada kulit kaki telanjangku ketika  mengikuti beliau dari samping.

Bagaikan hujan turun dari langit, setiap kalimat dari bibir Pak Sura bagaikan air yang membasahi rumput-rumput kering. Segar sekali. Kata-katanya seperti siraman pada rohani nan menyejukkan. Memang terdengar berlebihan, tetapi aku sendiri merasakan pencerahan dengan mengetahui beberapa fakta menarik yang berada di sekitar kita. Hal-hal sederhana sekali dan remeh, yang sering kita lihat, tapi sering kita abaikan karena ketidaktahuan.

Laguna ini terlihat seperti kolam kecil biasa. Tapi ternyata di sinilah tempat pemijahan ikan laut paling aman karena kurangnya predator dan arus air. Seharusnya tempat seperti ini harus bebas dari jaring dan pemancingan.
Segerombolan anak ikan berlindung di bawah bongkahan karang. Terlihat banyak sekali jenis anak ikan yang hidup di dalam laguna ini.

Bulu babi terlihat sedang berjalan di pinggiran laguna. Jika diliat dekat-dekat, ada yang kelihatannya seperti sepasang mata berwarna biru terang di antara duri-duri beracunnya.
Seekor teripang bergerak-gerak pelan di perairan dangkal. Lugi; lucu-lucu geli! :D

Pak Sura terus menjelaskan dengan santai tentang fenomena alam yang kami lewati dan kami temui di sepanjang pantai. Beliau mengorek lumpur di perairan yang sedang surut dan menemukan beberapa buah kerang. “Nah, kerang ini menjadi indikator kebersihan air di tempat ini. Jika airnya tercemar, sumber makanannya akan hilang dan kerangnya juga akan mati”, jelasnya sambil memperlihatkan beberapa kerang temuannya kepadaku. Aku ikut mengorek lumpur dan menemukan dua kerang hidup berukuran kecil. Aku mengenali kerang ini karena sering dijual sebagai menu jajanan di Rex Peunayong, Kerang Rebus dengan saus nenasnya yang lezat. “Oh, jadi kerang ini sama seperti bulu babi ya, Pak? Hanya bedanya, bulu babi semakin banyak jika tingkat pencemaran air juga tinggi”, balasku ketika tiba-tiba teringat pada bulu babi yang biasa disangkutpautkan dengan pencemaran air.

Keesokan harinya, kami dibangunkan subuh-subuh. Aku segera keluar dari kantung tidur di samping tenda. Aku nyaris terjerembab ke dalam laut karena posisi tempatku tidur memang persis di pinggir tebing setinggi satu meter. Setelah menunaikan shalat subuh, aku menarik sebuah kursi santai dari warung di atas bukit, lalu kembali terlelap setelah melihat satu bintang jatuh di ufuk utara.

Stargazing sambil tiduran di samping tenda. Menyaksikan bintang jatuh berkelabat di antara bintang-bintang. Keren!

Science hunting dimulai ketika semua peserta berlabuh di pantai Pulau Beurandeh. Letaknya di hadapan kemah yang kami dirikan di atas bekas jalan aspal yang terputus oleh tsunami, letaknya tepat di bawah lereng sebuah bukit karang di Lhokseudu. Kami diangkut oleh sebuah boat dengan dasar kaca untuk dapat melihat terumbu karang di dasar laut. Sayang sekali kondisi karang di teluk Lhokseudu ini banyak sekali yang rusak. Patahan-patahan koral putih terhampar di dasar laut. Sangat menyedihkan.

Jika saja ada transplantasi terumbu karang kembali, dalam masa 10 tahun ke depan, tempat ini akan menjadi tempat favorit untuk snorkeling dan menjadi tempat tinggal ratusan binatang –binatang ajaib. Wisata laut berbasis konservasi dan juga sebagai lokasi belajar dan mengenal alam paling efektif bagi anak-anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat.

Matahari semakin tinggi. Aku dan Bang Muslim terus berjalan mengikuti jalan setapak melewati lintasan sapi warga di tepi hutan yang berbatasan dengan laguna. Pohon-pohon dan semak tumbuh rapat-rapat. Kami harus berkelit dari ranting-ranting berduri dan merunduk melewati kanopi semak yang tumbuh rendah. Setiba di ujung jalan setapak, pantai penuh patahan karang-karang putih terhampar sepanjang 1 kilometer. Hanya menyisakan sedikit saja pantai pasir putih yang terlihat. Sebatang pohon ketapang berdiri kokoh di pinggir pantai. Seperti sengaja tumbuh di sana sebagai payung bagi pejalan untuk berteduh sejenak sebelum mencapai tebing batuan beku setinggi 30 meter.

Batuan beku yang membukit di ujung pantai Pulau Beurandeh.

Di ujung tebing, ada sebuah gua yang konon kabarnya pernah dijadikan tempat persembunyian anggota GAM. Untuk memasukinya harus berenang dan menyelam memasuki pintu gua.  Aku jadi ingat pada kisah Harry Potter yang sedang mencari horcrux di sebuah gua bersama Profesor Dumbledore. Apakah di dalam sana ada benda-benda berharga yang tersimpan? Mungkin harta karun? Atau malah senjata AK-47? :D

Tapi tak perlu menempuh resiko mencari harta karun ke dalam gua. Harta karun yang sebenarnya malah tersebar di sepanjang pantai dan di pinggir tebing ini. Harta karun itu adalah ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan setiap saat. Mampukah kita mengungkap semua harta karun itu atau malah kita merusaknya?

Wild Weekly Photo Challenge: Sunrise

sunrise

This photo was taken from Cot Raja Lanyan Hills in Northern Acheh, Indonesia.

I’m participating in the onlineadventure travel and photography magazine LetsBeWild.com’s Wild Weekly Photo Challenge for bloggersThis week’s Challenge is: Sunrise, so get up early this week and take some shots of the sky!

Wild Weekly Photo Challenge: Flowers

bunga

I found this flower when i was on a riverside where there are so many big rocks. It grows on one of the rock and bloom beautifully.

//

I’m participating in the online adventure travel and photography magazine LetsBeWild.com’s Wild Weekly Photo Challenge for bloggersThis week’s Challenge is: Flowers!

Lost in Nisam

Melewatkan hari minggu di Lhokseumawe tanpa kemana-mana adalah 12 jam yang membosankan. Jika ke pantai Ujong Blang sudah terlalu mainstream, ke bukit Blang Panyang pun sudah terlalu sering, akhirnya aku berjalan-jalan tanpa arah yang jelas dan akhirnya tersesat di Nisam.

Mengendarai motor, aku berkeliling sebentar di kota Lhokseumawe lalu keluar dan berbelok ke arah Unimal. Sebuah jalan besar di sebelah kanan mengarah ke Bukit Rata. Dari kejauhan rimbun pepohonan jati menutupi pandangan ke jalannya yang menanjak. Beberapa gedung baru milik salah satu sekolah tinggi berdiri di sisi kanan yang masih tampak kosong. Tanpa berpikir panjang, aku membelokkan motor ke jalan ini dan menyadari kalau ini adalah juga jalan Len yang mengarah ke kilang gas di Matangkuli dan Arun.

map1
Peta yang menunjukkan jalan masuk ke Bukit Rata.

ujongpacu1

Kondisi jalannya masih bagus, sepi dan dipagari tebing-tebing bukit dan semak belukar dan kadang-kadang melewati kerumunan sapi di pinggir jalan. Aku mengambil jalan lurus ketika menemukan perempatan dan melewati gudang Indofood di sebelah kanan jalan. 5 kilometer dari sana, jalan beraspal mulus putus. Perjalanan dilanjutkan melewati jalan bertanah keras. Petak-petak sawah pada kiri-kanan jalan hampir semuanya ditumbuhi enceng gondok dan rumput yang tumbuh tinggi.

map2
Citra satelit yang menunjukkan jalan beraspal yang aku lewati terputus dan disambung dengan jalan tanah.

Setelah sejam berkendara rasanya jalan ini seperti tak berujung. Sejauh mata memandang ke depan yang kulihat hanyalah jalan tanah coklat yang lurus. Tapi aku terus laju tak peduli kemana jalan ini berakhir. Perasaan asing melewati jalan di tengah-tengah sawah di kampung entah berantah ini mengalihkan pikiranku dari keinginan untuk berbalik arah. Terik matahari pun tak lagi terasa menyengat kulit. Semakin jauh, kegiatan di persawahan mulai kelihatan. Tanaman padi mulai terlihat menghijau di petak-petak sawah yang sedang disiangi petani, anak-anak berlari-lari di pematang dan kambing mengembik di pinggir jalan. Eh, tiba-tiba nostalgia masa kecil menyerang. Jadi ingat kalau dulu suka menjaring udang di dalam parit di pinggir sawah. Kehilangan uang koin seribu rupiah ketika melompat-lompat di pematang sawah. Hah, masa kecil yang menyenangkan. :D

ujongpacu6

Yang menandakan kita memasuki kampung yang lain ketika berada di areal persawahan ini adalah dengan melihat tanaman padinya. Pada petak-petak sawah pertama yang dilalui padi baru saja ditanami. Lalu petak-petak berikutnya, bulir-bulir padi berwarna kuning keemasan sudah merunduk hampir menyentuh tanah. Biasanya masing-masing kampung memiliki musim tanam padi yang berbeda-beda. Jadi antar satu kampung dengan kampung yang lain belum tentu menanam padi pada saat bersamaan. Dan jenis padinya pun dapat kita bedakan dengan melihat warna pada kulit ari padi. Seperti yang aku lewati tadi, ada yang berwarna kuning kecoklatan atau ada bercak coklatnya adalah beras ketan. Nah, jika beras nasi warna kulit arinya berwarna kuning keemasan. Gampang kan membedakannya? :D

Nisam!

Jika melihat peta, NIsam itu letaknya jauh sekali dari Lhokseumawe. Ketika membaca alamat yang tertulis di papan nama sebuah mesjid sontak membuatku terkejut. Aku tidak menyangka bisa sampai ke bekas daerah konflik ini. Bukan bekas konfliknya yang bikin aku kaget, tapi jaraknya itu lho. Jauh sekali. Tapi syukurlah kondisi sekarang sudah amat sangat aman. Buktinya aku bisa berjalan-jalan di sini tanpa tatapan aneh dari warga kampung. Mereka pun dengan senang hati menunjukkan jalan jika tersesat seperti yang aku alami hari itu. Nah, jalan perkampungan di sini banyak pula persimpangannya dan membuatku kebingungan. Setelah bertanya sana-sini, beberapa warga mengarahkanku mengambil jalan ke arah Ujong Pacu. I have no idea dimana itu Ujong Pacu. Hanya pernah mendengar namanya saja.

map3
LIngkaran merah pada snipping peta di atas adalah tanda tempat aku pernah mendaki bukit dan berdiri di puncaknya. :D

ujongpacu9

Setengah jam melewati jalanan berbatu tapi teduh oleh pepohonan di Nisam, aku berhasil sampai di Ujong Pacu. Tadinya aku tak menyangka jika Ujong Pacu ini adalah salah satu kecamatan yang masuk dalam Pemerintahan Kota Lhokseumawe. Letaknya berbatasan langsung dengan Krueng Geukeueh dan Nisam, Aceh Utara. Jalan beraspal mulus membelah persawahan yang sebagian besarnya tidak ditanami padi itu dialiri sungai keruh di sisi kanan jalan.

Suara mesin traktor terdengar meraung-raung ketika aku berjalan kaki menaiki sebuah bukit. Jalan setapak yang terbuat alami oleh kuku-kuku keras lembu menanjak terjal yang berpotensi menggulingkan tubuh kembali ke parit di pinggir jalan. Jika itu terjadi, puaslah anak-anak di bawah menertawakan.

 ujongpacu2

Tak perlu waktu lama mendaki hingga ke puncak tertinggi di barisan bukit Ujong Pacu ini. 15 menit saja cukup. Atur nafas sejenak sambil menikmati hamparan sawah, perbukitan nan hijau dan langit biru yang cerah. Awan-awan berkilau memantulkan cahaya matahari yang hampir berada di tempat tertingginya. Semua kombinasi yang terlihat dari atas sini menciptakan keindahan alam yang sempurna.

ujongpacu8

ujongpacu4

ujongpacu3

map5
Jalan keluar dari Ujong Pacu yang tembus ke Krueng Geukeueh
map0
Citra satelit kota Lhokseumawe

Kemana lagi ya hari minggu nanti,?

//