Perjalanan pertamaku

Postingan ini di posting pada tanggal 23 Maret 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Terbangun jam 5.35 di kamar yang dipinjamkan Pak Nukman yang menjadi tempat tidur ku selama 3 malam. Seperti biasa, aku mencek semua barang-barangku seperti kamera digital, handphone, ransel dan botol air minum. Alhamdulillah, masih lengkap. Batere hp tinggal 3 bar lagi karena semalaman hidup sambil memutar lagu-lagu ninabobo. Aku mencharge hp dan mengambil buku catatan kecil yang berisikan semua catatan perjalananku. Aku membaca kembali catatan singkat dari hasil percakapan dengan beberapa tokoh desa Pulau Teluk Nibung kemarin sore.

Aku baru ingat kalau koneksi gprs hanya aktif di pagi hari. Aku menghidupkan hp dan membuka browser Opera mini. Connected! Log in ke blog wordpress dan membuka komentar yang masuk. Penasaran sama satu komentar yg kemarin aku lihat tapi belum sempat cek siapa dia. Wah, situsnya berbahasa Arab. Ga ngerti.

Lalu aku membuat sebuah blog lagi dengan judul ‘langkahkakiku’ yang nantinya berisikan tentang perjalanan-perjalananku.

Sudah jam 8.04 di Pulau Banyak-Aceh Singkil. Aku harus mandi dan sarapan. Perutku sudah lapar sekali. Semoga diluar tidak dingin karena semalam dan subuh tadi hujan. Postingan selanjutnya akan segera menyusul setelah aku kembali ke Meulaboh Rabu atau Kamis depan.

Malu Bertanya, Jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

Benteng Inong Balee

Rencana awal adalah ingin mengunjungi lokasi Ie Suum di Desa Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya-Aceh Besar. Tapi saya malah menyasar hingga ke Lamreh sana. Puluhan kilometer terlewati dari lokasi sumber air panas tersebut.

Bagaikan terpesona dengan view yang sangat menarik saya terus saja melewati Pelabuhan Malahayati. Menaiki tanjakan tinggi yang di sisi kiri dipadati dengan rumah-rumah relokasi penduduk korban tsunami. Pada sebuah papan di sebelah kiri di depan saya tertulis Benteng Inong Balee. Refleks tangan saya berbelok ke kiri dan mengikuti jalan setapak berbatu. Saya berhenti di bawah sebuah pohon rindang yang berduri-duri.

Dari atas bukit itu saya dapat melihat pelabuhan di bawah sana. Pabrik Semen Padang dan Pertamina. Rumah-rumah relokasi berjejer putih dan merah. Perahu-perahu nelayan, bagan dan kapal kargo bertebaran di perairan Selat Malaka. Terlihat sangat indah jika dipandang dari atas sini.

Inong Balee
Inong Balee

Ada banyak pohon Boh Jamblang di sana. Kebetulan sedang berbuah dan saya memanjat sebuah pohon dan memetik beberapa dan memakannya di atas pohon sambil foto-foto. Seru sekali. Lucu juga. Jauh-jauh dari Meulaboh malah nyasar ke sini dan nangkring di pohon sambil makan Jambee Kleng! Haha…

Teringat masa kecil dulu ketika saya dan abang dan seorang kawan kecil, Ipan. Kami bertiga mendaki gunung Piatu di Labuhan Haji – Aceh Selatan untuk memetik Boh Jamblang ini. Kami menyebutnya Jambu Kaliang. Menguak semak ilalang setinggi dua meter, bergelayutan di akar-akar nafas dari pohon-pohon raksasa. Auoooo…Tarsan cilik! Kami masing-masing membawa pulang satu kantong plastik penuh Boh Jamblang. Sebelas tahun lebih berlalu dan kini saya dapat merasakan kembali masa-masa indah dulu. Hahhh…

Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang
Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang

Setelah bernostalgia sambil menikmati buah jambu kaliang ini, saya berjalan lagi menuruni bukit mengikuti jalan setapak berbatu yang bertebaran kotoran sapi di mana-mana. Sekitar satu kilometer dari tempat saya berhenti tadi saya memasuki situs bersejarah ini. Benteng Inong Balee. Ahhh, akhirnya saya sampai juga.

Situs Bersejarah
Situs Bersejarah

Prasasti Benteng
Prasasti Benteng

Setelah membaca prasasti di atas, imajinasi saya terus berputar membayangkan suasana peperangan para laskar Aceh yang sedang membela negeri. Di prasasti itu juga tertulisa bahwa benteng ini juga dijadikan sebagai asrama para laskar Inong Balee. Itu berarti mereka juga ikut berperang kan? Jadi ternyata jaman dulu memang sudah ada laskar Inong Balee. Saya pikir cuma ada pada jaman GAM dulu. Wah, luar biasa. Saya berdiri di sana menyaksikan sisa-sisa perjuangan mereka. Masih tetap kokoh berdiri. Semoga rakyat Aceh dan Aceh tetap mampu berdiri kokoh seperti benteng-benteng itu.

Benteng Inong Balee
Benteng Inong Balee

Tugu
Tugu

Meulaboh – Lamno – Banda Aceh

Hahh…Akhirnya kembali online setelah (berhasil) menggelandang selama seharian di Banda Aceh. Haha…

Masih ingat sampai sekarang pas mau berangkat. Ayah menawarkan saya mantel hujan untuk dibawa selama perjalanan. Saya kira tidak akan hujan karena jika lewat Lamno pasti bisa lebih cepat sampai ke Banda Aceh dan sepertinya tidak akan hujan.

Tapi ternyata…sampai di Patek mulai gerimis! Ketika menaiki rakit, hujan mulai turun walaupun pelan tapi pasti. Pasti basah semuanya. Saya terus saja jalan tanpa mempedulikan hujan. Saya tidak tahu sudah sampai di daerah mana pada waktu hujan lebat turun. Benar-benar lebat sekali! Saya memutuskan berhenti ketika melihat sebuah warung kosong. Di depannya ada beberapa pekerja yang juga ikut berteduh. Mereka menggunakan rompi orange. Mereka pasti yang sedang mengerjakan proyek pembuatan jalan itu.

Mungkin saat itu sekitar pukul dua belas. Jaket dan backpack andalan saya yang saya kira tidak akan tembus air ternyata berdusta! Untung saja saya membawa sebuah kantong plastik kresek. Jadi dokumen-dokumen yang saya bawa serta di dalam ransel bisa segera saya selamatkan. Tapi saya terlambat menyelamatkan buku LK sehingga covernya luntur terkena air hujan. Jam satu hujan mulai agak reda. Saya segera bersiap dan melaju kencang lagi. Jalanan beraspal jadi saya bisa bergerak lebih cepat.

Beberapa kilometer kemudian, hujan kembali melebat. Kali ini bersamaan dengan angin laut yang membuat saya seperti sedang meliuk-liuk di jalanan.

Waduh..Saya lupa lagi. Mana duluan saya melalui Lamno atau Lhok Kruet? Sebentar saya buka google dan mencarinya di peta..Heheh…lupaaa…Payah nih Citra…:p

Well, saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya kali ini sambil saya mencari tahu mana yang lebih dulu dilalui. Lhok Kruet atau Lamno duluan. Jadi ketika sedang menunggu rakit di…di mana lagi ya..saya jadi lupa lagi nama daerahnya. Anyway, saya naik rakit dengan seorang abang-abang yang juga akan ke Banda Aceh dari Calang. Saya nanya kalau mau naik rakit ke Lamno itu lewat mana. Soalnya saya tidak pernah naik rakit jika pulang ke Meulaboh. Selalu belok kiri melewati jalanan yang sedang dikeraskan itu. Padahal saya bisa menghemat waktu jika naik rakit kalau saja lurus terus memasuki Keudee Lamno itu.

Jadi saya bertanya ke si Abang Calang tadi jalan mana kalau naik rakit ke Lamno. Dia jadi bingung harus menjelaskan lewat mana. Jadi saya mengikutinya dari belakang. Tapi dasar si Abang Calang laju motornya terlalu cepat! Ketika hujan, dia berhenti di sebuah warung. Tapi saya memutuskan untuk lanjut saja. Saya harus mencari tahu sendiri lokasi penyeberangan itu.

Akhirnya ketemu juga. Setelah menempuh jalan yang penuh kerikil dan batu-batu dan becek. Saya akhirnya menemukan jalan ke arah penyeberangan dengan rakit itu. Ternyata ada papan penunjuk arahnya. Alhamdulillah. Saya bisa menghemat waktu hingga setengah jam jika lewat rakit ke Keudee Lamno tersebut.

Hujan masih saja lebat. Tapi dokumen-dokumen saya sudah aman di dalam ransel yang sudah basah itu. Aman terbungkus plastik. Upss… Saya hampir jatuh ketika melewati dermaga setelah turun dari rakit. Hahh.. Saya tidak boleh sampai jatuh.

Memasuki Lhong saya surprise sekali dengan apa yang terjadi disana. Banjir! Tapi banjir ini tidak berbahaya. Masyarakat tidak ada yang mengungsi. Tapi saya harus ekstra berhati-hati karena banjir juga menutupi beberapa ruas jalan raya. Batu-batu kerikil bertebaran dan ikut hanyut bersama air yang mengalir deras di atas aspal. Beberapa lokasi juga ada yang longsor.

Masuk ke Lhoknga hujan mulai berhenti. Udara hangat kembali menerpa wajah dan menggelitik perut saya yang lapar. Saya sama sekali tak ambil pusing dengan pakaian yang sudah basah di dalam ransel sana. Sampai Banda Aceh, saya langsung mencari hotel termurah (:P) langganan saya. Tapi ternyata sudah penuh. Terpaksa, saya harus menginap di hotel termurah (:p) kedua. Di lantai empat, bro! Saya harus menggendong ransel yang sudah semakin berat karena air ke lantai empat. Oh, sungguh suatu penyiksaan lahir dan batin!. Huhu…

Tapi saya sudah tenang karena ada tempat menginap. Awalnya saya mau menginap di rumah adiknya kawan saya di asrama mahasiswa. Tapi dengan keadaan saya penuh lumpur dan serba basah pasti akan sangat merepotkan.

Cerita berikutnya. Kepanikan saya ketika baju yang tak juga kunjung kering! Baca di postingan selanjutnya ya…:)

Kota Naga part II

Minggu | 20 Juli 2008

Dering hp membangunkan tidur di pagi hari yang dingin dan menusuk kulit. Seekor nyamuk mendengungkan sayapnya di telinga. Mata masih menutup ratap dan hati mulai kesal dengan dering sms yang terus berdering tanpa jeda. 3 messages.

Dingin. Tak ada selimut. Ada kain sarung di dalam ransel. Tapi rasa malas membuat saya terus memeluk lutut. Hahhhh…

Setengah jam, sejam? terlewatkan dengan terus meringkuk di atas kasur berseprai biru yang berpasir. Haha, saya membawa pasir dari Meulaboh ke Tapak Tuan yang tersimpan di kantong celana yang saya pakai. Tak sengaja sebenarnya. Karena celana ini pernah saya pakai untuk joging di pantai Suak Ribe dan menghasilkan postingan Pasir Berbisik.

Ah, Kolam!! Saya baru ingat kalau harus mengunjungi lokasi ini hari ini. Beberapa mulut mengatakan tempat ini angker. Sudah ada yang meninggal tenggelam. Tapi saya harus kesana. Sekalian mandi pagi. Kami menemukan jalannya. Gang Michiyo kata resepsionis losmen. Sebelum jembatan kata penjaga toko. Belok kiri dan jalanan terus berbelok-belok dan memasuki gang-gang kecil lagi.
Ada emmpat kolam yang di dua diantaranya diperuntukkan untuk dewasa dan dua lagi untuk anak-anak.

Di kolam khusus dewasa selain saya ada 4 pria paruh baya yang sedang ngobrol di samping pancuran. Dinginnya air kolam membuat saya terus berenang untuk membiasakan kulit yang jarang kena air sedingin ini.
Air kolam berwarna hijau. Di dalamnya ratusan siput kecil bertapa di dinding kolam. Riak air tak mengganggunya.

Begitu bebas dan begitu lepas dan betapa leganya hati dengan perasaan ini. Bagaikan terbasuh dari segala beban yang bersarang di pundak dan kepala. Juga daki-daki masalah yang melekat erat selama ini di kaki, tangan dan punggungku. Semua lepas dan melebur ke dalam hijaunya air.

Puas berenang kami memutuskan ke Tingkat Tujuh. Belum ada seorang pengunjungpun disana. Hanya seorang bocah laki-laki yang sedang mandi di samping sebuah batu besar. Saya mengeluarkan kamera dan memotret beberapa objek yang menurut saya menarik. Petani nilam, bocah yang sedang mandi, buah Ara dan diri saya sendiri tentunya. Narsis.

Tak disangka saya bertemu seorang teman wanita dengan pakaian ungunya. Disampingnya juga seorang gadis berpakaian serba ungu terlihat terpana dengan kemunculan saya. Heran. Lalu kakak temannya saya itu juga tiba-tiba muncul dari belakang bersama seorang expat yang kemudian saya ketahui bernama Juan dari Spanyol.

Kami mulai berjalan menelusuri sungai yang berbatu. Menaiki tangga yang licin. Kiri kanan tumbuhan cabe dan nilam tumbuh subur. Semakin tinggi ke atas bukit, pohon coklat menghalangi pandangan ke atas maupun ke bawah bukit. Lalu ilalang dan semak belukar yang hampir menutupi jalan setapak berlumut menuju tingkat pertama. Debit air deras kali ini.

Teman saya itu Dewi, kakaknya Yuli dan saudaranya Ayu dan expat itu Juan dan adik saya Titi. Kami semua menyeberang melewati alur air terjun yang deras. Kami mendaki bebatuan keras naik ke atas ke tingkat dua, tiga, empat dan lima dan enam. Tujuh menanti.

Lereng bukit terjal berbatu dan berbahaya untuk dilewati. Kali ini hanya saya, Juan, Dewi dan Titi yang bergerak naik. Yuli dan Ayu menunggu di bawah saja. Perjalanan semakin sulit. Pohon-pohon mati berukuran raksasa menghalangi jalan. Tebing licin yang berlumut nyaris mencelakakan Dewi, beberapa kali Titi dan saya dan Dewi terpeleset di atasnya. Juan beberapa kali membuka sepatu ketika tidak ada jalan kering yang bisa dilewati.

Tingkat Tujuh sudah kelihatan di balik rimbunnya ranting pepohonan yang menjorok ke sungai.

Akhirnya kami dapat bernafas dengan normal sekarang. Tingkat Tujuh di depan mata sekarang. Dua undakan batu tempat air-air putih itu terjun menciptakan kolam hijau dan biru di bawahnya. Juan membuka kaos dan berenang katak menyusul Dewi yang sudah berada disana sebelumnya.

Saya menarik nafas panjang. Udara segar memenuhi paru-paru dan kesejukkannya menembus jantung. Saya merasa ringan. Tubuh seolah melayang di antara butir-butir air yang mengasap.
Lagi, saya berenang dan Titi juga ikut bersama kami. Segala kesenangan hidup seolah hanya ada saat itu saja dan tak ada yang perlu kau khawatirkan akan hari esok. Bahkan jeans mahal ini pun tak menolak untuk basah kuyup.

Perjalanan menuruni alur sungai sama sulitnya dan lebih berbahaya. Dan lebih memacu adrenalin! Kami mengira Juan menyasar karena mengambil jalan setapak yang berbeda dan dia melambai dengan santai dari seberang sungai di samping sebuah pondok. Saya berpikir dia akan kembali menyusul kami melewati jalan semula. Tapi dia juga tidak kelihatan. Lalu aku menyusulnya menaiki kembali tebing pertama dan berlari di sepanjang jalan setapak. Saya bertanya dengan seorang penjaga kebun apakah melihat orang barat melewati jalan ini tapi dia tidak melihat sesiapapun yang lewat. Lalu seorang bapak tua mengatakan “ado di lambah. Bajambang kan?”
Saya berlari lagi menuruni jalan bukit yang becek. Sebatang kayu di tangan kiri saya gunakan sebagai tongkat untuk menjaga keseimbangan.

Ternyata Juan sedang mengobrol dengan seorang pemuda di depan kios.

“Tuhan masih sayang sama kita” kata pemuda tadi.
“Tuhan what? what?” tanya Juan dengan ekspresi tidak mengerti.
“God still loves us” jawabku.

Saya menarik nafas lega karena menemukan Juan.

Sebelum berpisah saya mengucapkan terima kasih ke Dewi dan Juan untuk petualangan yang luar biasa ini. Takkan terlupa dan membuat perasaan di hati bergejolak menahan diri untuk menunggu kesempatan kembali datang bulan depan.

Kota Naga part I

Kota Naga berarti Tapak Tuan. Kota ini merupakan ibu kota kabupaten Aceh Selatan. Selain terkenal dengan legenda Naga dan Putri Naga, kota ini juga terkenal dengan objek wisata yang menawan seperti Air Terjun Tingkat 7, Tapak Naga, Pintu Angin, Kuburan Syech Tuan Tapa yang semuanya ini berhubungan dengan legenda Naga tersebut. Juga terkenal dengan sirup Pala dan Kue Pala.

Berkunjung ke Tapak Tuan tentu saja tidak lengkap jika tidak mengunjungi daerah-daerah wisata tersebut. Kue dan Sirup Pala dapat anda bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan saya kali ini lebih cepat dari rencana saya semula yaitu tanggal 25 Juli nanti. Ternyata ujian final diadakan hari Sabtu pagi jam 9 dan selesai jam 10. Sampai di rumah saya bingung sendiri karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya langsung ingat Tapak Tuan dan mulai ‘gabuk’ mengisi ransel baju 2 lembar, celana pendek, celana dalam, kamera, sabun, shampo, facial wash, sikat gigi, odol, pisau swiss, charger hp, kabel data hp, kain sarung, dan permen. Adik saya, Titi minta ikut. Karena dia sedang liburan kuliah dan ingin sekali ke Tingkat 7.

Kami berangkat ke Tapak Tuan jam 11.45 WIB dan tanpa dilengkapi Kartu Keluarga yang nantinya dapat saya tunjukkan ke receptionis losmen bahwa saya dan Titi adalah saudara kandung dan diperbolehkan sekamar saja. Tapi saya tidak dapat menemukan KK di lemari Mamak dan memutuskan untuk langsung berangkat.
Cuaca pagi Sabtu itu berawan. Langit tak kelihatan biru hanya putih dan abu-abu. Jalanan aspal hitam mulus membuat perjalanan kami dengan Supra X 125 R merah jadi nyaman. Saya tanpa ragu memacu kecepatan hingga 100km/jam di beberapa kilometer yang kondisi jalannya sangat bagus dan hitam dan mulus tanpa lubang. Arena balap favorit saya adalah jalan yang melintasi Alue Bilie sampai Seumayam yang disebut ‘Jalan Tupat’ yang berarti jalan lurus. Memang sangat lurus tanpa tikungan.

Singgah di Blang Pidie untuk makan siang. Menikmati Mie Kocok Blang Pidie yang terkenal itu lalu melanjutkan perjalanan lagi dan singgah sebentar di Labuhan Haji. Istirahat beberapa menit di rumah kakak saya.

Lalu kami kembali bergerak menuju Tapak Tuan. Kami melewati Desa Pawoh yang berbatasan dengan Desa Apha. Kedua desa ini dibatasi oleh sebatang sungai yang dihubungi sebuah jembatan. Sungai itu disebut warga kampung situ dengan ‘batang aie’. Saya teringat waktu saya kecil-kecil dulu, setiap kali ada teman yang mengajak mandi ke sungai pasti dengan kalimat yang sama yaitu “ka aie moh?” lalu jawaban bernada semangat “moh, moh!” Artinya, “ke air yok?’ dan jawabannya “yok, ayok!”

Melintasi jembatan, saya melewati kantor Dinas PK yang disampingnya terdapat sebuah bangunan terbuat dari papan yang dulunya adalah TK. Tempat saya berteriak-teriak dan menangis. Hahhh. Daerah ini sudah sangat saya kenali. Tidak banyak perubahan. Gedung-gedung lama semenjak saya tinggalkan sekitar 9 tahun lalu masih tetap sama. Namun ada banyak bangunan yang bertambah. Saya memelankan mootor ketika melewati kompleks SDN 6 Labuhan Haji. Di kompleks ini saya menghabiskan masa anak-anak saya dan melewati 6 tahun di SD yang saya lalui dengan penuh petualangan, anjing gila, belut, ikan krup-krup, tarik pukat, naik rakit, mencuri mangga-kelapa-jambu-tebu dan ‘kejahatan-kejahatan’ lainnya. Huahahaha…Tentang ini akan saya tulis di postingan khusus.

Perjalanan saya teruskan dengan sedikit mengebut. 70km/jam. Berhubung beberapa ruas jalan sedang di perbaiki maka kecepatan harus diperlambat lagi.Kiri kanan hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi dengan sulur yang menjulur-julur.

Jalanan mendaki dan menurun dan menikung tajam. Beberapa ruas jalan berlubang dan hanya disemen saja. Lalu kami melewati jalan yang hanya tanah keras berkerikil saja. Sangat mengganggu karena tak bisa menikmati pemandangan di kiri kanan jalan yang hijau dengan persawahan.

Titi masih duduk dengan manis di belakang dan entah apa yang sedang dilihatnya. Leherku tak bisa kuputar ke belakang melihat ekspresinya melihat semua keindahan ini. Lebih dari sepuluh tahun sudah ketika terakhir kali dia melewati jalan ini. Keinginan yang menggebu membuatnya mampu duduk selama sejam lebih di boncengan Supra X 125 R merah ku ini.

Pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kota Tapak Tuan mulai terlihat.

Sama Dua.

Aku lupa mana yang duluan kami lalui. Sama Dua dulu atau gerbang selamat datang itu dulu ya?
Tapi tak apa. Kutuliskan saja semua. Membaca nama daerah ini aku mengingat air terjun yang dikenal dengan nama ‘Air Dingin’. Lokasi air terjun ini dapat dilihat dari jalan utama. Hanya beberapa meter saja dari jalan dan ada beberapa warung makanan di sekitar situ.

Tapak Tuan sudah di depan mata. Aku membelokkan motor ke kiri memasuki area penginapan di kota ini. Aku mencari losmen yang direkomendasikan kakakku. Kami menemukan losmennya tepat di depan pelabuhan cargo.Aku memesan satu kamar untuk kami berdua. Pemilik losmen mengizinkan kami menginap satu kamar. Syukurlah kami memiliki wajah yang masih ada mirip-miripnya. :P
Sewa kamar permalam empat puluh ribu rupiah di Losmen Bukit Barisan.

Malam pertama di Tapak Tuan. Makanan mahal disini. Aku hanya menyantap bakso dan adikku sate ayam yang dijual di kawasan pelabuhan itu.

Malam. Jam 9. Kami tidur dan bersiap untuk petualangan besok pagi mendaki tingkatan demi tingkatan air terjun yang kalau dihitung-hitung berjumlah lebih dari tujuh itu.
Hoaahm…

zzz…zzzz…

Meulaboh u Meulaboh

Aku menarik gas kencang ketika lampu berubah hijau di pertigaan Setui menuju Lhoknga. Lurus. Lurus saja kuarahkan motorku. Lalu lampu merah lagi dan hijau lalu kuning.
Angin laut berusaha merebahkan tubuhku yang melaju kencang dengan Supra x 125 R merah.

Jalanan aspal abu-abu berganti hitam dan berganti dengan tanah keras yang berbatu. Backpack sengaja kutaruh di depan supaya punggungku tidak cedera menahan guncangan yang akan terjadi selama perjalanan Banda Aceh – Meulaboh ini.

Leupung. Mungkin. Aku penderita lupa yang bisa dikatakan parah. Terlebih lagi jika mengingat nama tempat dan orang. Jalan utama di daerah ini belum beraspal sedikitpun. Hanya tanah merah keras yang dipadati batu-batu kecil dan sengaja dibuat gundukan seperti kuburan setiap melintasi pemukiman penduduk.

Semakin lama aku terhempas di jalanan berbatu dan berlubang-lubang itu semakin cantik pula pemandangan yang aku temukan.
Juga bertambah pula pengalamanku melewati daerah-daerah baru ini. Bukan hanya itu, aku juga belajar banyak selama perjalanan ini. Ketidaknyamanan mengajarkanku untuk tidak mengeluh. Resiko membuatku berani. Kesendirian membuatku percaya diri dan optimis. Semua hal yang kulihat, kudengar dan yang kurasa mengajarkanku banyak hal-hal penting.

Lamno

Hal pertama yang terlintas ketika memasuki Lamno adalah jalan baru yang menghubungi daerah ini ke Calang. Sama seperti di Leupung. Tanah keras merah berbatu dan becek. Dari kejauhan dapat kulihat papan petunjuk berwarna hijau bertuliskan Meulaboh yang dilatarbelakangi kubah mesjid di Keudee Lamno. Lalu aku belok kiri dan semua yang berada di atas motor kembali berguncang.

Puluhan kilometer terlewati. Juga para pekerja yang sedang terus mengeraskan jalan dengan alat-alat berat. Semakin jauh dari Lamno sinar matahari semakin terik. Aku telah meninggalkan pedesaan berhawa sejuk yang rimbun akan pepohonan di belakang sana. Tak sempat ku menoleh ke belakang. Jalanan yang kutempuh belum juga mulus dan matahari terus menyemangatiku dengan cahayanya membuat punggung telapak tanganku menjadi hitam kemerahan dan mengeluarkan bintik-bintik keringat.

Masih di jalanan berbatu dan bertanah merah, aku berdampingan dengan pantai yang meniupkan udara asin yang menyegarkan kepala dan dadaku. Beberapa ekor kumbang menabrak kaca helmku dan perutnya pecah dan meninggalkan cairan coklat disana. Seekor kumbang mungil berwarna hitam dan bintik-bintik kuning hinggap atau lebih tepatnya terdampar di atas tutup ranselku. Bergetar hebat melawan angin dengan kaki-kakinya yang rapuh. Terus bergetar selama berpuluh-puluh menit kemudian bersamaku mengendarai Supra X merahku.

Kumbang hitam kuning itu pun menjadi temanku.

Bahkan sampai di Lhok Kruet pun dia menemaniku menghirup debu yang beterbangan dan udara asin yang dihembuskan angin melewati akar-akar pohon yang membusuk. Sesekali kulihat serorang tua melempar jala di sebuah kolam yang terbentuk akibat Lanjutkan membaca “Meulaboh u Meulaboh”

Menelusuri Jejak Naga

Akhirnya datang juga….
libur telah tiba..Libur telah
tiba…Hore…Hore…

Setelah janjian yg cukup lama juga yaitu 4bulan sebelum tanggal ini akhirnya kesampaian juga utk berlibur ke Kota Naga atau Tapak Tuan. Pagi jam 9, aku dengan Arfis dan Herman berangkat dari Meulaboh ke Tapak Tuan. Perjalanan yg memakan waktu lebih
kurang 3jam perjalanan ini cukup menyakitkan karena sesampai di sana kami merasa kehilangan pantat dan pegal-pegal karena duduk terlalu lama.
Setelah istirahat sejenak. Kami berjalan kaki ke Tingkat 7 yg terletak 500 meter dari rumah kami menginap. Sabtu sore itu lumayan ramai pengunjung yg datang dan kami menaiki tangga demi tanggal utk sampai ke tingkat pertama. Itu berarti air terjun yg pertama. Kami berhenti sebentar dan foto-foto. Jalan lagi ke tingkat 2, foto-foto lagi dan
akhirnya sampai ke tingkat 6. Kami mandi-mandi disini. Airnya dingin sekali dan dasarnya sangat dalam. Setelah 30 menit berenang, aku dan arfis kecapean lalu memutuskan utk pulang dan istirahat saja. Nah..Keesokan harinya adalah petualangan yg
sesungguhnya..Hanya berdua dengan Arfis, kami bertekad utk bisa mencapai
tingkat ke 7-karena penasaran, kata orang air terjunnya lebih tinggi.
Jadilah kami memulai perjalanan dengan bekal sebotol aqua dan biskuit. Ternyata medan yg harus kami lalui dari tingkat 6 menuju tingkat 7 sangat berbahaya dan jaraknya jauh sekali. Tidak ada jalan setapak atau tangga tapi harus menyusuri batu-batu dan anak
sungai.Bahkan harus memanjat tebing batu yg licin. Tapi semua rintangan itu
jadi tidak berarti dibandingkan dengan suguhan keindahan alam sekitar yg membuat hati merasa tenang dan damai, ditambah lagi dengan kicau burung dan gemericik air di bebatuan sungai. Dinginnya air kembali menyegarkan badan setiap kali membasuh muka.

tingkat 7
Salah satu air terjun di Tingkat Tujuh

Sampai akhirnya pemandangan luar biasa indah terpampang di hadapan kami..Sebuah air terjun yg tingginya sekitar 10 meter seperti membelah batu-batu cadas dan menciptakan kolam dalam berwarna biru di bawahnya. Pohon,burung dan semak dan
seluruh unsur yang terdapat di tempat ini memerankan peranan tersendiri untuk
membuat semua beban selama setahun ini lepas dan lenyap. Semua organ tubuh seolah melepaskan semua kepenatannya dan kejenuhan pada rutinitas selama
setahun terakhir ini juga perlahan-lahan terangkat. Kepala, bahu dan rahangku terasa sangat bebas untuk pertama kalinya.

Selama lebih kurang 1 jam kami berdiam saja di pinggir kolam yang biru, merenungi betapa indahnya ciptaan ini dan aku merasa sangat beruntung dapat menyaksikan ini dan bersyukur untuk itu. Thank you Allah..

Waktu menunjukkan pukul 11.45, kami memutuskan untuk turun saja karena
tidak ada tanda-tanda akan datang pengunjung yg lain ke tempat ini. Kami kembali ke tingkat 5, ada beberapa anak SMA yg mandi dan meloncat dari atas air terjun. Aku pun jadi penasaran untuk mencobanya. Aku berenang ke tebing dan memanjat sampai ke atas..dan..
Oh my God…..!!
Ternyata kalo dilihat dari atas jadinya sangat tinggi sekali. Jantung ku langsung berdetak kencang dan ingin turun saja. Tapi semua mata menatapku menantang menanti aku melompat. Ya Allah,dengan segenap keberanian yg tersisa aku mengambil ancang-ancang dan pijakkan yang pas untuk melompat..dalam hati akupun menghitung 1, 2, 3…

Brussshs..

 

 

 

Berhasil, berhasil, berhasil…
Aku muncul kembali ke permukaan dan berenang ketepi, masih takjub akan
keberanianku untuk melompat dari atas tebing. Reza dan Bang Iya menyusul kami beberapa menit kemudian dan juga ikut berlompat ria. Reza dengan narcis minta difoto

Reza

berbagai gaya yang sok coverboy dengan boxer Tom and Jerry-nya. Herman hanya berperan sebagai fotografer dadakan dan penonton kami yang setia. Arfis kelihatan sangat kelelahan dan hanya duduk saja di tepi kolam.Aku melompat beberapa kali lagi dan foto-foto sebelum kembali ke rumah dan bertolak ke Meulaboh.
Aku dan Arfis sempat berhenti sejenak
di Air Dingin di Sama Dua, hanya sebentar disini karena pengunjung terus berdatangan dan menjadi sangat ramai sekali.
Ini adalah liburan paling berkesan yang pernah aku lalui dan sangat berterima
kasih sekali kepada Allah dan Herman yang telah berbaik hati mengajak kami dan
bersedia menampung kami selama di Tapak Tuan. Terima kasih untuk Bang Iya juga dengan jokes yang menyegarkan dan untuk nenek juga untuk makan malamnya yg enak.
We’ll miss you all guys…

%d blogger menyukai ini: