Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu

Tugu yang menandai pantai sudah dekat. Siapkan kaca mata dan tongsis!

Pulau Lampu terlihat amat dekat dari bibir Pantai Penyusuk. Rasanya bisa direnangi untuk menyeberang dan melihat keindahan hamparan lautan biru yang bertatahkan pulau-pulau kecil dari atas mercusuarnya. Salah satu yang terkenal adalah Pulau Putri yang berada di antara Pantai Penyusu dan Pulau Lampu. Kawan-kawan bercerita pengalaman seru mereka ketika berkemah di pulau mungil itu seperti dalam acara reality show The Survivor. Lanjutkan membaca “Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu”

Camping Cilet-cilet di Sabang

Sebuah anjungan kapal kayu besar terlihat menjulang tinggi dari balik pagar beton di pinggir jalan Kota Bawah, Sabang. Dinding luar kapal yang mengelupas dan terlihat lapuk menarik perhatianku. Kuparkirkan motor di depan pintu pagar dan bergegas masuk ke areal docking. Kapal kayu itu sepenuhnya berada di atas rel besi yang ditopang supaya tidak terbalik. Cat dan oli berceceran dimana-mana. Bercampur air laut sehingga mengeluarkan aroma yang khas. Sebagian pelapis dinding lambung kapal sudah mengelupas dan sebagian lainnya sudah dilumuri oli dan ditempeli seng. Dua tangga besi disambungkan sebagai akses pekerja naik ke atas kapal. Tapi tak tampak seorang pun yang bekerja. Hanya beberapa alat berat tergeletak di samping kapal, berlumur oli.

Lanjutkan membaca “Camping Cilet-cilet di Sabang”

Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta

Ilham menyusul kami ke ujung pulau sebelum matahari tenggelam. Dia membawa senter untuk penerangan selama kembali ke kemah nanti. Pemandu lokal sudah pulang lebih dulu ke bawah dan kami menyusul setelah hari mulai gelap. Lampu suar berputar-putar di atas menara. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit. Dua ekor anak babi berkejar-kejaran di bawah menara berebut makanan yang mereka temukan. Rombongan pekemah di dekat dua ekor babi itu sama sekali tak terusik. Atau mungkin mereka terlalu sibuk hingga tak menyadari jika ada babi berkeliaran di belakangnya.

Perjalanan pulang selepas magrib dari mercusuar.

Lanjutkan membaca “Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta”

Jajan dan Santai di Pattaya

Ada beberapa daftar daerah di luar Bangkok yang ingin kami kunjungi. Chiang Mai, Ayuthaya, dan Pattaya. Tapi setelah dihitung-hitung jarak tempuhnya ke beberapa tempat itu, aku dan Titi memutuskan mengunjugi Pattaya saja di hari ketiga liburan kami di Thailand. Pattaya kami pilih karena jarak tempuhnya yang lumayan dekat dan transportasinya pun mudah didapat. Titi mencatat informasi bagaimana cara ke tempat ini.

Pagi di Bangkok pada hari itu sangat cerah. Aktifitas di Phra Sumen Road berjalan seperti hari-hari kemarin. Biasa saja. Meski pada hari itu aksi pendudukkan di monumen demokrasi mulai memanas tapi tidak berefek pada kegiatan masyarakat di sekitarnya. Tapi Kam mewanti-wanti kembali agar menghindari keramaian demo dan merincikan jalur alternatif yang bisa kami lewati untuk menghindari hal-hal berbahaya. Jadi kami memilih mematuhi peringatan Kam untuk mengambil jalur yang ia sebutkan. Lanjutkan membaca “Jajan dan Santai di Pattaya”

Menonton Puppet Show di Khlong Bang Luang

Kami terus berjalan kaki melewati Grand Palace. Pagoda emas berkilauan ditimpa cahaya matahari menjulang dari balik dinding tinggi berwarna putih. Aku dan Titi terus berjalan hingga mencapai Thammasat University dan Wat Pho. Menumpangi ferry Chao Phraya, kami bertolak ke pinggiran kota Bangkok, lumayan jauh dari pusat kota. Adalah Kam yang membawa kami hingga tiba ke daerah yang mungkin bila kuulangi sendiri pasti akan tersesat. Kam adalah seorang teman yang kukenal ketika mengikuti Malaysia Tourism Hunt pada bulan September 2013 lalu. Perempuan cantik asli Thai ini membawa kami berjalan-jalan hingga ke pelosok di luar Bangkok.

Setelah berjalan kaki ke Phra Athit, menaiki ferry di Chao Phraya, berjalan kaki dan menumpangi taksi yang memakan waktu hingga 30 menit, tibalah kami ke sebuah sungai yang dilewati long boat khusus tour. Layaknya kampung di pinggiran sungai di Bangkok, rumah-rumah dibiarkan rapat-rapat hingga ke perbatasan kanal. Rumah-rumah kayu beratapkan seng menutupi hampir seluruh areal perkampungan ini.  

Tepat di sisi kiri jembatan, beberapa kedai menjual kerajinan dan benda seni. Pada teras-teras beberapa kedai dihiasi dengan pajangan bungkusan plastik berisi makanan ikan berwarna-warni yang dapat dibeli untuk umpan ikan Paroon Shark yang lazim ditemui di sungai Chao Phraya dan kanal-kanalnya.

Awalnya Kam tidak memberitahuku tempat apa yang akan kami kunjungi. Aku menduga akan mengunjungi candi-candi lagi atau melihat patung Buddha emas. Tapi rupanya Kam memberikan kejutan dengan mengantar kami menonton wayang di Artist’s House, Bang Luang.

Artist’s House atau disebut juga Baan Silapin adalah salah satu tempat pertunjukkan seni berupa puppet show dancing di Bangkok. Hari itu kami menonton lakon Ramayana dan Shinta oleh penari-penari yang berpakaian serba hitam. Pewayang menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan kaki yang mengentak-hentak. Satu boneka dimainkan oleh tiga orang yang mengenakan topeng. Sesekali wayang bertingkah jenaka untuk mengocok perut penonton.

Sayangnya sebelum acara dimulai, tidak ada penjelasan dalam bahasa Inggris sama sekali. Semuanya berbahasa Thailand sehingga tamu-tamu dari luar negeri seperti kami tidak mengerti apa yang MC katakan. Tapi kekurangan ini dapat ditutupi dengan penampilan wayangnya yang amat menghibur. Shinta menari memutar-mutar tangannya yang berjari lentik. Ramayana pun tak kalah agresif mendekati Shinta yang jinak-jinak merpati. Pada akhir pertunjukkan wayang, Ramayana dan Shinta berinteraksi dengan penonton seperti bersalaman, memeluk, dan mencium. Tingkah-tingkah lucunya membuat pecah gelak tawa para penonton yang didominasi oleh wisatawan dari Jepang.

Khlong Bang Luang Artist’s House tak hanya menyuguhkan seni tari wayang saja. Di sini juga menjual buku-buku sastra, buku-buku tulis yang terbuat dari kertas daur ulang, kartu pos, dan aksesoris unik lainnya. Pada dinding dan tiang-tiangnya dihiasi topeng dan lukisan. Bagian belakang rumah, sebuah stupa kecil berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh dibalut kain kuning di tengah taman mini yang dipagari bambu cina. Di teras, persis di pinggir kanal, didudukkan sebuah patung laki-laki dengan perut buncit, kepala botak, dan kulit bercat merah, duduk menghadap ke luar seolah sedang menanti seseorang. Seorang penjual es krim kelapa datang dan merapat ke teras rumah dengan boatnya. Suara denting halus terdengar untuk menarik perhatian. Aku membeli tiga cup es krim sambil mendengar mukadimah sebelum wayang dimulai.

Mengunjungi Artist’s House di Bang Luang adalah pilihan tepat setelah lelah berputar-putar melihat kuil-kuil megah. Cara paling mudah dan murah menuju lokasi ini adalah dengan menaiki taksi ke Charoen Sanitwong Soi 3 yang berakhir ke sebuah soi (lorong), yang berakhir di 7 Eleven. Turun di situ lalu berjalan kaki terus sampai bertemu kanal dan jembatan lalu berbeloklah ke kiri. Rumahnya berada di paling ujung. Jika beruntung, kamu dapat berbelanja jajanan dari perahu-perahu di kanal selayaknya floating market.

Khlong Bang Luang Artist House
Soi 28, Wat Kuhasawan, Thonburi
T: (028) 685 279; (081) 258 9260; (089) 125 3949
Open daily 09:00 to 17:00

%d blogger menyukai ini: