Jakarta Walking Tour: Jalan-jalan Sambil Belajar Sejarah

Berjalan-jalan di Jakarta sekarang ini menyenangkan banget semenjak aku tahu ada Jakarta Walking Tour yang diinisiasi Jakarta Good Guide. Komunitas ini mengajak siapa saja yang ingin menikmati tempat-tempat bersejarah di Jakarta dengan berjalan kaki. Kegiatan ini tidak dipungut bayaran sama sekali, tapi terbuka bagi Lanjutkan membaca “Jakarta Walking Tour: Jalan-jalan Sambil Belajar Sejarah”

Azab Pedih Naik Bus Eksekutif Bukittinggi-Bengkulu

Sebelum perjalanan ke Bukittinggi September 2016 lalu, enggak pernah terpikir jika suatu hari nanti akan menginjakkan kaki di Provinsi Bengkulu. Rencana dadakan ke provinsi ini muncul di hari terakhirku di Bukittinggi. Saat aku sedang menjalarkan hangat ketiak ke kedua belah tangan di bawah selimut. Aku menatap plafon di kamar tidur berukuran 2×4 meter itu. Membentangkan peta imajiner di atasnya dan menghitung kemungkinan provinsi mana yang akan bisa kukunjungi lagi sebelum kembali ke Pulau Jawa. Kemungkinan terbesar adalah Lanjutkan membaca “Azab Pedih Naik Bus Eksekutif Bukittinggi-Bengkulu”

Berjalan Kaki Melihat Ikon Kota Bukittinggi: Jam Gadang, Bung Hatta, Pasar Ateh, dan Lobang Jepang

Rumah Gadang
Rumah Gadang

Rasa senang membuncah ketika mobil yang aku tumpangi akhirnya tiba di Bukittinggi. Kota yang sudah kuimpikan untuk didatangi sejak 6 tahun yang lalu kini telah ada di segala penjuru. Ibu dari bahasa kampung ayah terdengar dari setiap mulut yang berbicara ketika mobil yang membawaku melewati sekolah dan pasar. Udara sejuk bertiup-tiup mengusap pipi sebagai ucapan selamat datang. Lanjutkan membaca “Berjalan Kaki Melihat Ikon Kota Bukittinggi: Jam Gadang, Bung Hatta, Pasar Ateh, dan Lobang Jepang”

Menapak Tilas Cinta & Rangga di Gereja Ayam

Bagian kepala merpati Gereja Ayam
Bagian kepala merpati Gereja Ayam

Ketika gelap mulai memudar dan hijau pepohonan mulai tampak jelas dari atas bukit Punthuk Setumbu, kilatan kecil berwarna putih berkelap-kelip di tengah hutan. Kilatan itu berasal dari atas sebuah bangunan yang berbentuk gundukan berwarna abu-abu dengan pancang-pancang runcing melingkarinya.

Ketika remang menghilang, makin terlihatlah bangunan abu-abu itu. Terlihat kecil sekali, ada beberapa orang yang bergerak di atasnya. Pancang-pancang runcing itu memagari mereka seperti susunan mahkota. Kilatan-kilatan tadi pastilah dari Lanjutkan membaca “Menapak Tilas Cinta & Rangga di Gereja Ayam”

Seperti Apakah Belajar Menyelam Itu?

Keinginan untuk belajar menyelam itu sudah datang sejak lima tahun yang lalu. Ketika aku masih seorang buruh kantoran yang punya uang tapi tak punya waktu luang. Namun ‘hidayah’ itu justru benar-benar merasuki ketika aku tidak lagi bekerja dan harus mengirit setiap pengeluaran. Saat itulah salah satu ‘hutang’ ini menagih untuk kulunasi.

Salah satu bucket list: menyeberang dari Iboih ke Pulau Rubiah: DONE! Next: Open Water Scuba Dive!

Selain tekad yang dikuat-kuatkan, tak ada persiapan khusus lainnya untuk hari pertama mengambil lisensi Scuba Dive pada hari sabtu itu. Setelah menerima jadwal dari Kak Nu (co founder Darah Untuk Aceh) beberapa hari sebelumnya, besoknya aku berangkat ke Lanjutkan membaca “Seperti Apakah Belajar Menyelam Itu?”

Melihat Situs Parulubalangan dan Makam Raja Sidabutar

Situs Parulubalangan Kursi Batu Sira

Situs ini adalah salah satu peninggalan tertua dari Raja Siallagan yang letaknya tak jauh dari Tuktuk. Namun situs yang aku kunjungi ini belum begitu terkenal dibandingkan Hatu Siallagan di Ambarita. Karena situsnya sendiri baru dibuka untuk umum sekitar satu tahun yang lalu.

Batu Sira, tempat pengadilan dan penghukuman penjahat.

Jika situs Hatu Siallagan nyaris tanpa pohon peneduh, di Kursi Batu Sira ini dinaungi banyak pepohonan. Situs ini berada di tebing dan terdiri dari beberapa undakan. Setiap undakan Lanjutkan membaca “Melihat Situs Parulubalangan dan Makam Raja Sidabutar”

Kesasar di Danau Toba

Gelap, sepi, dan mencekam adalah kesan pertama ketika aku keluar dari mobil dan menapakkan kaki di tanah Dairi, Sumatra Utara. Saat itu hari masih sangat dini. Pukul 3 pagi. Berbagai jenis pikiran buruk melintas di benak yang segera aku tepis. Kutarik ke dua sisi jaket lebih rapat lalu bergegas mengangkat ke dua ranselku dan berjalan ke sisi jalan yang lebih terang.

Mataku awas mencari tempat untuk beristirahat. Sebuah tempat yang kemudian kukenali sebagai warung kopi kudapati setengah terbuka. Menyempil di tengah deretan ruko khas bangunan tahun 90an. Spanduk bertuliskan Siang Malam di depan warung mulai tercerabik karena cuaca. Aku bergegas memasukinya. Seorang pria berumur sekitar 35 tahun duduk di tengah ruangan dengan kepala ditutupi kupluk, menengadah ke atas. Siaran dari sebuah saluran televisi berbayar sedang menyiarkan program alam liar. Sementara anjing-anjing melolong dari kejauhan. Lanjutkan membaca “Kesasar di Danau Toba”

Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi

Februari 2013 lalu, aku, Dika, dan Nisa mengangkut sepeda dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. Nekat ingin bersepeda menjelajah pulau yang tak kami pahami betul bagaimana kontur jalannya yang ternyata berbukit-bukit itu. Rasanya masih kapok jika ke sana lagi. Capeknya bersepeda naik turun bukit di tengah terik matahari dengan ransel berat di punggung benar-benar amat menyiksa.  Lanjutkan membaca “Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi”

Piknik di Kebun Desa Pejem

Desa Pejem berada lebih kurang 117 km dari Kota Pangkalpinang. Akses menuju desa terpencil ini lumayan menantang. Tidak seluruh jalan teraspal mulus. Satu kilometer beraspal, empat kilometer selanjutnya masih jalan tanah berwarna merah berlubang-lubang, begitu terus hingga sampai di desa yang dihuni Suku Lum atau Suku Lom.

Suku Lom adalah suku tertua yang mendiami Pulau Bangka. Nama Lum berasal dari kata ‘belum’ yang dimaksudkan suku ini belum beragama. Nama ini diberikan oleh pemerintah Belanda. Sebelumnya, suku ini lebih dikenal sebagai suku Mapur. Ada banyak cerita tentang asal-usul suku ini. Pertama dari catatan peneliti berkebangsaan Norwegia, Olaf H. Smedal yang menuliskan sebuah kapal besar dari Cochin, Cina yang rusak dan terdampar di Pantai Tanjung Tuing. Namun ada penjelasan lain lagi perihal kapal dari Cochin ini. Yaitu kapal ini berisikan warga Champa yang melarikan diri dari perang yang dimenangkan Annam (Vietnam). Kedua dari legenda sepasang suami istri yang muncul secara misterius dari Bukit Sumidang di Belinyu setelah pasang banjir surut. Dan cerita ketiga berasal dari ketua lembaga adat Provinsi Bangka Belitung, Suhaimi Sulaiman yang mengatakan bahwa Suku Lom adalah keturunan bangsawan Majapahit yang lari pada abad 16 karena menolak masuk Islam.

Rumah Suku Lom yang tinggal di dekat pantai.

Lanjutkan membaca “Piknik di Kebun Desa Pejem”

Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka

“Yoh ke Sabang yoh minggu depan?”, ajak seorang kawan. Waktu itu aku masih anak baru di Pangkalpinang. Masih awam sekali nama-nama daerah di Pulau Bangka. Tadinya aku berpikir kalau Sabangnya Bangka ini seperti tempat tandingan Sabang di Aceh. Seperti beberapa julukan destinasi wisata yang kerap kita dengar di artikel-artikel traveling: Maldivesnya Indonesia, Grand Canyonnya Indonesia, bla bla bla. Tapi Sabangnya Bangka ini ternyata tidak seperti itu.

Sebuah desa di bawah bukit yang dibatasi sungai.

Orang Kota Pangkalpinang dan sekitarnya menyebut Sabang untuk Toboali karena letak geografisnya berada paling ujung pulau Bangka. Sama seperti Sabang yang berada paling ujung pulau Sumatra. Kalau keindahan daerahnya, sudah pasti tiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Mencapai Toboali dapat ditempuh selama 3 jam dari Pangkalpinang dengan mobil atau bus. Tapi dengan keahlian menyetir Bapak Manajer Muda berjiwa Lewis Hamilton, Hans memangkas waktu tempuh normal menjadi setengahnya! Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka”