Jalan-jalan di Pantai Pattaya

Ada beberapa daftar daerah di luar Bangkok yang ingin kami kunjungi. Chiang Mai, Ayuthaya, dan Pattaya. Tapi setelah dihitung-hitung jarak tempuhnya ke beberapa tempat itu, aku dan Titi memutuskan mengunjugi Pattaya saja di hari ketiga liburan kami di Thailand. Pattaya kami pilih karena jarak tempuhnya yang lumayan dekat dan transportasinya pun mudah didapat. Titi mencatat informasi bagaimana cara ke tempat ini.

Perjalanan menuju Pattaya ditempuh selama lebih kurang dua jam. Tak ada pemandangan elok yang membuat decak kagum. Hanya debu berterbangan dihembus angin dan asap knalpot dari truk-truk tronton dan mobil-mobil yang ramai lalu lalang di jalan raya selebar 10 meter itu. Aku jatuh tertidur setelah beberapa kali menguap lebar dan terbangun ketika sudah tiba di terminal Pattaya.

Bagaimana cara mencapai Pattaya bisa kamu baca di Jajan dan Santai di Pattaya (http://www.hananan.com/2014/01/01/jajan-santai-di-pattaya/)

Memori Penuh Warna Pratitou Arafat dalam Lukisan

Pratitou Arafat dan beberapa lukisannya di Museum Tsunami Aceh

Pratitou Arafat adalah salah satu pelukis muda Aceh yang di hari sabtu lalu (09/06) mengadakan pameran lukisannya di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh.  Pameran ini menjadi salah event untuk mengenalkan adat, sejarah dan budaya Aceh. Pameran lukisan Titou ini bertemakan masa kecilnya yang penuh warna. Titou menyebutkan lukisan-lukisan yang dipamerkan merupakan memori masa kecilnya sejak berumur 5 tahun. Lanjutkan membaca “Memori Penuh Warna Pratitou Arafat dalam Lukisan”

Perjalanan

Malam sudah begitu larut dan aku menapakkan kaki keluar rumah dengan ransel besar berwarna merah yang hanya berisikan setengah bagian menempel erat di punggung. Sebuah ransel yang lebih kecil ku selempangkan di bahu dan menutupi bagian dada. Ransel berwarna hitam ini berisikan kamera dan botol air minum. Merekalah yang akan menemani semua perjalanan akbar ini nantinya.

Eh? Sebuah kamera dan botol minuman? Tentu saja tidak. Aku dan seorang kawan yang syukurlah memiliki kesamaan hobi bisa diajak bersusah payah senang selama perjalanan ini.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dan aku harus bergegas membawa semua beban di bahu ini keluar dari pekarangan rumah dan berjalan sejauh seratus meter ke ujung lorong dan menemukan becak yang kemudian mengangkutku ke terminal bus.

Lanjutkan membaca “Perjalanan”

Taman Bermainku Dulu

Saya tidak langsung pulang ke Meulaboh ketika selesai dari Sama Dua. Sesampai di Labuhan Haji saya melewati sekolah-sekolah saya dulu. Saya teringat masa-masa kecil waktu TK dan SD dulu. Dan saya mengabadikan tempat-tempat bersejarah tersebut di bawah ini.

TK
TK

Satu hal yang paling saya ingat waktu di taman kanak-kanak dulu adalah pada saat jam istirahat. Jadi kalau jam istirahat itu semua anak-anak mengerubuti ibu guru. Minta dibelikan kue-kue. Karena kami masih kecil-kecil dan imut (hueks..saya tidak termasuk golongan itu ternyata) jadi hanya bu guru saja yang boleh membelikan kue. Saya ingat sekali waktu itu uang jajan cukup seratus rupiah saja. Itu sudah bisa membeli dua potong kue yang mengenyangkan. Lihat, perosotan dan ayunannya masih ada. Dulu kita sering berebutan menggunakannya. Sayangnya pohon besar di samping perosotan sudah ditebang. Setiap pagi kami bergotong royong mengumpulkan daun-daunnya yang berserakan. Oo…so sweet..

SD 6
SD 6

Itu foto SD saya dulu. SD Negeri 6 Labuhan Haji. Waktu saya bersekolah disana, lapangannya tidak disemen. Tanah dan berumput. Jadi kalau upacara pagi pasti kulit kaki kami selalu digigiti agas. Binatang penghisap darah yang ukurannya kecil sekali. Masa-masa SD yang menakjubkan! Saya ingat sekali ketika jam olahraga. Olahraga wajib kami yaitu main kasti. Saya pernah beberapa kali terkena lemparan di tulang rusuk. Nafas saya tertahan. Sakit sekali! Terus waktu kelas 6, saya dan dua orang kawan diutus (halah!) untuk mengikuti cerdas cermat tingkat gugus! Pas waktu final kita kalah melawan SD lain. Jah, ternyata jubir lawan kami itu memang pintar! Sekarang dia kuliah di kedokteran. Sudah pintar, cantik pula! Beeeuh…

Pantun Aceh

tajak u pasie ta kawee bieng
laju tapeusieng bak abah kuala
sira lon duek sira lon ngieng
yang ek lalat bak mieng awai lon tanda

Terjemahannya (mohon koreksi jika salah) :
Pergi ke pantai kita pancing kepiting
Terus kita pesiang di bibir kuala
Sambil duduk saya melihat
Yang bertahi lalat di pipi yang saya perhatikan (tanda?)

Di atas adalah salah satu pantun Aceh yang saya dapat di sini.

Bukon sayang putik boh rambot
Teungoh lon chet-chet ka luroh keudroe
‘Oh lon ingat bit hana patot
Le that buet karot di dalam nanggroe (@iloveaceh)

Aneuk cicem gle jipo u laot
Cicoh le eungkot aneuk tanggiroe
Bak but nyang jahe hanmee taikot
Bak but nyang karot hanmee tapeutoe (@iloveaceh)

Ta pegot rmoh ngon bate bata
Tajak kuliah hideh di Jawa
Whai Atjeh brat that rindu ulon ke gata
Tmpat ternikmat ban saboh donya (@panji_njok)

Cabeung bak saoh meuhunjat-hunjat
Peuleuheun tamat bak meuhue-hila
Tangui tapajoh beuhimat-himat
Beuna taingat keusingoh lusa. (@iloveaceh)

Tajak u Banda ta kaleun Masjid Raya
Kuah beu leumak ue bek beukah
Dalam hudepnyo beu rayeuk saba
Mangat hudep lam ridha Allah (@teukusube)

Asai phon luka bak geutah mancang
Asai phon meuprang bak seunoh teuga
Asai phon dawa bak tungge utang
Asai phon reunggang bak tungge laba (@iloveaceh)

Asai phon pade bak tanoh ladang
Asai phon blang bak tanoh data
Asai phon pake bak meuayang
Asai phon meucang bak seunda-seunda. (@iloveaceh)

Kujak u Pasai merumpok Fatimah
Meunan kukalon dijak ngon yahwa
Meunyo perlee inong yang muslimah
Bek ragu hate neujak u Kutaraja (@oochex)

Ada banyak lagi. Silahkan berkunjung ke Nanggroe… Saleum Nanggroe!

Bagi rakan-rakan yang ingin menambahkan pantun-pantun berbahasa Aceh baik dalam bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Simeulue, bahasa Gayo, bahasa Kluet dan bahasa daerah lainnya di Aceh, mohon untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih. :)

Traidisi Uroe Meugang di Aceh Barat

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.

Backpacker

Backpacker. Orang yang memanggul ransel untuk traveling baik untuk treking dan kemping ke gunung atau juga traveling untuk mengunjungi kota-kota. Biasanya yang berbackpacking adalah orang-orang yang tidak mau ribet. Cukup dengan satu ransel saja tanpa harus memberatkan diri dengan membawa koper-koper dan banyak perlengkapan seperti turis.

Saya sendiri juga sudah mencoba bertraveling ala Backpacker ini. Awalnya terinspirasi dari membaca novel yang berjudul Traveler’s Tale membuat saya nekad bepergian sendiri dengan ransel di punggung. Luar biasa!!! Kesan pertama begitu menggoda. Amat sangat menyenangkan.

Tentu saja semua harus dipersiapkan sejak satu bulan sebelum keberangkatan. Begitu yang saya pelajari. Sekalipun rencana traveling masih dalam provinsi tapi transportasi dan segala biaya-biaya harus diperhitungkan. Juga informasi tentang destinasi yang akan kita kunjungi.

Waktu itu saya mengunjungi Pulau Banyak di kabupaten Aceh Singkil. Saya mencari segala informasi yang berkaitan dengan Pulau itu. Tentu saja objek wisata masuk urutan paling atas. Transportasi menjadi kendala utama bagi saya selama berada di pulau itu. Karena menurut informasi yang saya dapatkan biaya transp
ortasi dari satu pulau ke pulau yang lain sangat mahal.

Saya memutuskan bepergian ala backpacker begitu selain praktis juga karena untuk menghemat biaya. Secara saya hanya karyawan kontrak yang berpenghasilan sebatas UMR saja makanya semuanya harus sesuai dengan budget yang tersedia. Terkesan maksa sih tapi ya saya harus coba ini. Dan syukurnya sukses.

Backpacking sungguh dan sangat menyenangkan! Saya menyarankan ini bagi anda yang berjiwa petualang dan ingin merasakan petualangan seorang diri atau bersama teman-teman dan menjalani kehidupan yang berbeda dari yang biasa anda jalani. Saya mendapatkan banyak sekali pencerahan dan banyak hal baru yang saya temui dan saya pelajari. Ini berbeda dengan ‘jalan-jalan’ yang mungkin sering anda lalui. Cobalah sesuatu yang berbeda. Memasuki suatu daerah asing yang tak pernah anda datangi dan mencoba hidup seperti kaum hippies. Tinggal di losmen murah ataupun di rumah penduduk. Makan dan minum di warung-warung pinggir jalan, bergaul dengan penduduk lokal dan belajar tentang kultur mereka.

Hahhhh…Saya jadi ingat kembali ketika saya di Pulau Banyak dulu. Ini sangat berkesan bagi saya. Mengobrol dengan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat di sana sungguh pengalaman yang luar biasa. Kehujanan ketika perjalanan pulang dari sebuah pulau lalu berhenti singgah di sebuah kerambah ikan kerapu. Melihat nelayan memberi makan anak-anak ikan kerapu dan tersenyum penuh arti melihat anak-anak yang berenang di laut yang biru. Lepas. Bebas. Juga ketika berjalan kaki di suatu sore mengelilingi pulau. Menyaksikan ibu-ibu yang pulang dari ladang dan tertawa lepas bersama dalam canda. Bertemu dengan teman-teman kecil saya yang luar biasa. Sungguh hebat anak-anak itu.

Sungguh berharga. Saya selalu ingin kembali ke sana lagi. Dan keinginan itu bertambah kuat saat menulis ini. Ya Tuhan… Hati saya menggebu…

Teman-teman kecil saya yang sudah bersedia menjadi penunjuk jalan.

Berdiri di sana Bang Jhoni dengan boatnya yang mengantarkan saya ke Pulau Palambak. Salah satu pulau yang paling dikenal oleh para turis manca negara. Sila buktikan di Google. Saat ini sudah ada dua bungalow yang berdiri di sana. Saya berharap para turis akan segera datang kesana.

Pembangungan sebuah bungalow di Pulau Palambak. Dari keterangan pemiliknya mengatakan bahwa bungalownya akan segera buka. Mungkin saat ini sudah bisa ditinggali.

Mau ?