Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta

Ilham menyusul kami ke ujung pulau sebelum matahari tenggelam. Dia membawa senter untuk penerangan selama kembali ke kemah nanti. Pemandu lokal sudah pulang lebih dulu ke bawah dan kami menyusul setelah hari mulai gelap. Lampu suar berputar-putar di atas menara. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit. Dua ekor anak babi berkejar-kejaran di bawah menara berebut makanan yang mereka temukan. Rombongan pekemah di dekat dua ekor babi itu sama sekali tak terusik. Atau mungkin mereka terlalu sibuk hingga tak menyadari jika ada babi berkeliaran di belakangnya.

Perjalanan pulang selepas magrib dari mercusuar.

Lanjutkan membaca “Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta”

The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit. Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. :D Lanjutkan membaca “The Real Escapade to Pulau Bunta”

Science Hunting di Lhokseudu

Memang benar,  belajar langsung di alam jauh lebih menyenangkan dan lebih gampang masuk ke dalam kepala daripada belajar teori di dalam kelas. Begitu yang aku rasakan ketika mengikuti Field Camp Mahasiswa FMIPA Unsyiah di Lhokseudu, Aceh Besar. Tak terhitung berapa ‘Wooogh’ yang keluar dari mulutku ketika Pak Sura menerangkan satu persatu temuannya kepadaku.

Jika tak diundang oleh Bang Muslim, seorang tour guide kawakan dan dosen IT di Unsyiah, mungkin aku tak akan pernah tahu kalau ada patahan aktif berjarak 28 KM dari Banda Aceh. Mungkin aku tak akan pernah tahu kalau koral-koral putih yang terhampar di pantai adalah bahan alami pemutih gula yang halal dan juga sebagai salah satu bahan serat optik. Atau aku tak pernah tahu kalau Lhokseudu adalah daerah penghasil awan hujan yang diekspor ke Saree. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya karena ketidaktahuan yang baru aku ketahui di di field camp ini.

Science Hunting. Begitu istilah yang disebut Pak Sura ketika beliau menimang-nimang sebuah rumah kerang berukuran kepalan tangan orang dewasa yang penuh ditempeli kulit kerang. “Belajar langsung di alam seperti ini memang lebih menyenangkan dan mudah dipahami jika dibandingkan kita belajar di dalam kelas”, ujarnya ketika kami kembali ke boat setelah meninjau lokasi science hunting untuk esok pagi. Aku berjalan tertatih-tatih menahan perih akibat cucukan karang pada kulit kaki telanjangku ketika  mengikuti beliau dari samping.

Bagaikan hujan turun dari langit, setiap kalimat dari bibir Pak Sura bagaikan air yang membasahi rumput-rumput kering. Segar sekali. Kata-katanya seperti siraman pada rohani nan menyejukkan. Memang terdengar berlebihan, tetapi aku sendiri merasakan pencerahan dengan mengetahui beberapa fakta menarik yang berada di sekitar kita. Hal-hal sederhana sekali dan remeh, yang sering kita lihat, tapi sering kita abaikan karena ketidaktahuan.

Laguna ini terlihat seperti kolam kecil biasa. Tapi ternyata di sinilah tempat pemijahan ikan laut paling aman karena kurangnya predator dan arus air. Seharusnya tempat seperti ini harus bebas dari jaring dan pemancingan.
Segerombolan anak ikan berlindung di bawah bongkahan karang. Terlihat banyak sekali jenis anak ikan yang hidup di dalam laguna ini.

Bulu babi terlihat sedang berjalan di pinggiran laguna. Jika diliat dekat-dekat, ada yang kelihatannya seperti sepasang mata berwarna biru terang di antara duri-duri beracunnya.
Seekor teripang bergerak-gerak pelan di perairan dangkal. Lugi; lucu-lucu geli! :D

Pak Sura terus menjelaskan dengan santai tentang fenomena alam yang kami lewati dan kami temui di sepanjang pantai. Beliau mengorek lumpur di perairan yang sedang surut dan menemukan beberapa buah kerang. “Nah, kerang ini menjadi indikator kebersihan air di tempat ini. Jika airnya tercemar, sumber makanannya akan hilang dan kerangnya juga akan mati”, jelasnya sambil memperlihatkan beberapa kerang temuannya kepadaku. Aku ikut mengorek lumpur dan menemukan dua kerang hidup berukuran kecil. Aku mengenali kerang ini karena sering dijual sebagai menu jajanan di Rex Peunayong, Kerang Rebus dengan saus nenasnya yang lezat. “Oh, jadi kerang ini sama seperti bulu babi ya, Pak? Hanya bedanya, bulu babi semakin banyak jika tingkat pencemaran air juga tinggi”, balasku ketika tiba-tiba teringat pada bulu babi yang biasa disangkutpautkan dengan pencemaran air.

Keesokan harinya, kami dibangunkan subuh-subuh. Aku segera keluar dari kantung tidur di samping tenda. Aku nyaris terjerembab ke dalam laut karena posisi tempatku tidur memang persis di pinggir tebing setinggi satu meter. Setelah menunaikan shalat subuh, aku menarik sebuah kursi santai dari warung di atas bukit, lalu kembali terlelap setelah melihat satu bintang jatuh di ufuk utara.

Stargazing sambil tiduran di samping tenda. Menyaksikan bintang jatuh berkelabat di antara bintang-bintang. Keren!

Science hunting dimulai ketika semua peserta berlabuh di pantai Pulau Beurandeh. Letaknya di hadapan kemah yang kami dirikan di atas bekas jalan aspal yang terputus oleh tsunami, letaknya tepat di bawah lereng sebuah bukit karang di Lhokseudu. Kami diangkut oleh sebuah boat dengan dasar kaca untuk dapat melihat terumbu karang di dasar laut. Sayang sekali kondisi karang di teluk Lhokseudu ini banyak sekali yang rusak. Patahan-patahan koral putih terhampar di dasar laut. Sangat menyedihkan.

Jika saja ada transplantasi terumbu karang kembali, dalam masa 10 tahun ke depan, tempat ini akan menjadi tempat favorit untuk snorkeling dan menjadi tempat tinggal ratusan binatang –binatang ajaib. Wisata laut berbasis konservasi dan juga sebagai lokasi belajar dan mengenal alam paling efektif bagi anak-anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat.

Matahari semakin tinggi. Aku dan Bang Muslim terus berjalan mengikuti jalan setapak melewati lintasan sapi warga di tepi hutan yang berbatasan dengan laguna. Pohon-pohon dan semak tumbuh rapat-rapat. Kami harus berkelit dari ranting-ranting berduri dan merunduk melewati kanopi semak yang tumbuh rendah. Setiba di ujung jalan setapak, pantai penuh patahan karang-karang putih terhampar sepanjang 1 kilometer. Hanya menyisakan sedikit saja pantai pasir putih yang terlihat. Sebatang pohon ketapang berdiri kokoh di pinggir pantai. Seperti sengaja tumbuh di sana sebagai payung bagi pejalan untuk berteduh sejenak sebelum mencapai tebing batuan beku setinggi 30 meter.

Batuan beku yang membukit di ujung pantai Pulau Beurandeh.

Di ujung tebing, ada sebuah gua yang konon kabarnya pernah dijadikan tempat persembunyian anggota GAM. Untuk memasukinya harus berenang dan menyelam memasuki pintu gua.  Aku jadi ingat pada kisah Harry Potter yang sedang mencari horcrux di sebuah gua bersama Profesor Dumbledore. Apakah di dalam sana ada benda-benda berharga yang tersimpan? Mungkin harta karun? Atau malah senjata AK-47? :D

Tapi tak perlu menempuh resiko mencari harta karun ke dalam gua. Harta karun yang sebenarnya malah tersebar di sepanjang pantai dan di pinggir tebing ini. Harta karun itu adalah ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan setiap saat. Mampukah kita mengungkap semua harta karun itu atau malah kita merusaknya?

Bermalam di Bukit Lhok Mee

Sabtu malam, aku tiba di perbukitan ini pada pukul 8. Honda Beat yang aku kendarai membelah pekat malam, melindas karang-karang, menerbangkan debu-debu pasir halus. Ketika tanjakan, ku tarik gas lebih dalam. Bau sangit dari karet kopling tercium karena motor dipaksa menaiki tanjakan di jalan yang berbatu-batu. 10 menit kemudian aku tiba di lokasi yang aku inginkan tanpa tersesat karena sudah hapal betul jalan-jalan setapaknya.

Aku segera mendirikan kemah di samping sebuah pohon setelah sebelumnya membersihkan serakan karang di permukaan tanah datar. Dataran yang kupilih adalah sebuah bukit karang yang menjorok ke laut setinggi 10 meter. Permukaannya sudah sepenuhnya tertutupi tanah dan dilapisi rumput. Tiga batang pohon seukuran paha tumbuh di pinggir tebing. Aku mengikatkan ayunan pada dua batang pohon. Setelah beres, aku menggelar matras di samping tenda dan merebahkan badan, menantang langit.

Hamparan bintang di atasku berkelap-kelip seperti pijar lampu pada perahu nelayan di tengah laut. Merah, kuning, dan biru. Terbingkai dengan awan dan siluet pepohonan. Di ufuk barat, sesekali kilat membelah langit dari balik awan yang perlahan-lahan menutupi pertunjukkan bintang jatuh yang membuatku berdecak kagum.

Aku ingat pada penjelasan seorang mahasiswa astronomi ketika berkunjung ke observatorium Boscha tahun 2012 lalu. Cahaya bintang yang berkelip-kelip karena ketidakstabilan atmosfir di bumi. Dan cahaya bintang yang kita lihat pada malam hari sebenarnya adalah cahaya yang ‘traveling’ selama bertahun-tahun. Jadi cahaya yang kita lihat itu menempuh waktu tahunan hingga mencapai bumi. Contohnya seperti bintang terdekat kedua dengan bumi, Proxima Centauri yang berjarak empat tahun cahaya. Sedangkan cahaya matahari kita menempuh waktu hanya 8 menit saja.

Berbaring di atas bukit dan mata nyaris tak berkedip memandangi ribuan bintang. Takut rugi melewatkan momen bintang jatuh yang hanya terlihat sepersekian detik itu. Gigitan nyamuk pun tak lagi terasa. Suara hempasan ombak pada tebing-tebing karang di cekungan bukit di bawah pun lenyap. Khayalanku membumbung tinggi dan melesat bagaikan kecepatan warp menembus gelapnya ruang hampa di antara gugusan bintang. Tapi aku tidak sedang berada di dalam USS Interprise. Aku tak bisa menentukan tujuan akan berkunjung ke planet mana. Khayalanku terhempas kembali dengan kecepatan warp yang sama ke bumi dengan banyak sekali tanda tanya.

Jagad raya yang maha luas ini, benarkah ada makhluk selain kita yang tinggal di galaksi lain? Romulan? Autobot? Klyngon? Bumi-bumi lain? Romulus? Krypton? Coruscant? Cybertron?

Apakah kita benar-benar sendiri? Aku terlelap dengan membiarkan pertanyaan itu pupus terbawa angin malam.

Angin yang meniup dedaunan pada ranting-ranting di atas ayunanku mendesau halus. Aku perlahan-lahan membuka mata dan desau angin itu bagaikan mantra yang membuat kelopak mata terasa berat untuk digerakkan. Sejenak aku biarkan ‘ruh’ ku kembali utuh ke dalam tubuh hingga aku menyadari keberadaanku di dalam ayunan. Ketika telinga menangkap suara hempasan ombak, aku baru benar-benar sadar sedang berada di mana.

Lhok Mee tak hanya memiliki pantai berpasir putih yang dibentengi dengan pohon beurambang yang tumbuh di depan pantainya. Tapi juga perbukitan karang yang menawan dan penuh misteri sejarah masa lalu Aceh. Lhok Mee terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 38 KM dari kota Banda Aceh. Aku sedang berada sekitar seribu meter dari pantai Pasir Putih, Lhok Mee, di sebuah bukit di pinggir laut.

Subuh mulai beranjak pagi. Warna hitam pekat mulai terangkat namun mata masih hendak tertutup rapat.Kantung tidur yang kujadikan selimut teronggok di ujung ayunan. Kutolehkan muka ke kanan. Di balik siluet bukit dan pepohonan tampak awan berwarna biru menutupi ufuk barat tempat matahari akan segera terbit. Warna-warna seperti jingga dan biru muda merayap pelan menyergap awan biru pekat yang menutupi matahari.

Aku berlari ke bukit yang menghalangi pandanganku itu. Dari atas sana aku bisa melihat lebih jelas detik-detik matahari naik meski hanya dari pergerakkan cahayanya saja pada langit dan awan. Matahari sendiri sepenuhnya tertutupi oleh awan itu. Akibatnya, bayangan awan jatuh menutupi pohon beurambang yang tumbuh di depan pantai pasir putih dan pemukiman warga di Dusun Lhok Mee. Aku duduk bersila di atas rerumputan basah dan menikmati gradasi warna-warna ajaib saat matahari mulai bergerak naik dari belakang selimut tebalnya. Indah sekali!

Keindahan mentari pagi ini bukan satu-satunya yang dapat kunikmati di perbukitan kampung penuh sejarah ini, Gampong Lamreh. Perbukitan ini ditumbuhi jarang-jarang pohon jambee kleng (jamblang) dan rumput kering kekuningan. Batu-batu gunung hitam legam terbakar matahari berserakan bersama kotoran sapi dan kambing dan koral-koral laut di sepanjang jalan setapak. Koral-koral ini menjadi pertanda bahwa daratan ini pernah berada di bawah permukaan laut. Di puncak-puncak bukit ini terdapat parit-parit tempat para prajurit Jepang menjaga daerah kekuasaannya.

Jika kita memalingkan wajah ke arah utara, terlihat sebuah teluk berpantai pasir dengan muara sungai yang membelah di tengah-tengahnya. Di pinggir pantai sana terdapat sisa-sisa peninggalan Benteng Kuta Lubok yang terlantar. Naik sedikit menyusuri bibir pantai dan tebing-tebing ke sebuah bukit yang terkenal dengan Benteng Inong Balee. Di pinggir tebing setinggi 20 meter itulah para laskar perempuan Aceh di bawah pimpinan Laksamana Malahayati mengintai kapal-kapal Belanda. Susuri tebing-tebing melewati mercusuar hingga ke ujung bukit. Di depannya sebuah pulau kecil teronggok yang menurut cerita masyarakat setempat adalah jelmaan sebuah kapal seorang anak yang durhaka pada ibunya, dialah Si Amat Ramanyang yang dikutuk menjadi batu.

Aku menghela nafas panjang. Tertegun melihat pemandangan indah di sekelilingku. Indah namun mengkhawatirkan. Antara aku harus bersyukur dengan kurangnya eksploitasi dan berharap semua orang datang melihat apa yang kulihat. Tanpa eksploitasi saja sampah sudah bertebaran di atas bukit ini dan sampah plastik mengapung seperti ubur-ubur di permukaan laut. Sampai kapan rakyat Aceh peduli dengan kebersihan? Sampai kapan rakyat Aceh yang dikenal berbudaya ini berhenti membuang sampah tidak pada tempatnya? Apakah membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya Aceh? Hhhhhh. Aku kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya keras-keras. Jika saja kita semua mau menjaga kebersihan lingkungan, hal kecil saja, seperti tidak membuang sampah sembarangan, alam akan senantiasa bersih, semua orang akan senang datang dan melihat Aceh.

Mendaki Sinabung

sinabung

Rasa ingin mendaki gunung Sinabung itu sudah lama ada. Sekali pernah gagal. Tapi kali ini Monza Aulia yang punya rencana. Merayakan kelulusan kuliah, katanya. Tapi aku sudah tiba di Medan lebih dulu. Dan menginjakkan kaki di puncak Sinabung lebih dulu. Sebab Monza tak melihat kalender dan tak menyadari kalau tanggal 29 Maret 2013 adalah hari libur nasional. Jadilah aku sendiri yang berangkat dan taheue (bengong) di pinggir Danau Lau Kawar menunggu dua pendaki lagi yang belum pernah kulihat rupanya: Bang Khalil dan Bang Manoek.

sinabung-5

Gunung Sinabung yang terletak di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara ini memiliki tinggi 2.460 mdpl yang pada kakinya terdapat sebuah danau kecil yang disebut Lau Kawar. Di sinilah para pendaki berkumpul dan bersiap untuk mendaki baik malam atau pagi hari. Untuk menuju Lau Kawar, dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dari Medan. Estimasi waktu ini tergantung pada ketersediaan angkot yang ngetem di pasar Berastagi. Jadi bisa lebih lama lagi jika angkot belum penuh. Waktu menunggu yang mungkin saja akan lama bisa kamu gunakan berjalan-jalan dulu melihat-lihat boru-boru suasana di dalam pasar.

Angkutan ke Berastagi di Medan berpusat di Jalan Jamin Ginting/Padang Bulan, aku menaiki mini bus Sutra yang berwarna biru jurusan Berastagi-Kabanjahe dan membayar ongkos Rp.15.000. Aku tiba di Berastagi dan diturunkan di depan pasar. Dari sini aku melanjutkan perjalanan dengan angkot bertuliskan Rio berwarna oranye yang sudah dipenuhi dengan inang-inang dengan bakung sugi mencuat dari balik bibir dan juga boru-boru (gadis dalam bahasa Karo) yang tatapannya bikin jantung berdesir-desir. Saking gugupnya, aku sampai menanyakan berkali-kali ke bang sopir jika angkot yang aku naiki ini sudah benar angkot yang jurusan ke Lau Kawar. Ongkosnya kalau tidak lupa Rp.7.000. Memasuki gerbang danau, setiap pengunjung akan membayar retribusi sebesar Rp.4.000,-

Bang Khalil dan Bang Manok tiba sekitar pukul 3 siang. Kami bergabung dengan tim mahasiswa dari Pangkalan Brandan yang mendirikan kemah di pinggir danau. Mereka terdiri dari 14 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Kami bertiga sepakat bergabung dalam rombongan ini yang mendaki pada jam 11 malam nanti, jadi besok subuh kami sudah tiba di puncak sebelum matahari terbit.

sinabung-2

Tepat jam 11 malam, sesuai dengan rencana, setelah briefing dengan semua anggota tim, kami bergerak meninggalkan lokasi kemah, berjalan dalam formasi anak bebek-memanjang ke belakang. Kami bertiga masing-masing memanggul ransel dan 2 orang kawan dari tim ini memanggul carrier yang ukurannya lebih tinggi dari kepala pemanggulnya sendiri. Yang satu berisi penuh dengan persediaan air dalam berbotol-botol kemasan air dan yang satu lagi stok makanan dan tenda.

sinabung-18

sinabung-3-2

Kami membentuk lingkaran dan berdoa semoga perjalanan nanti dilalui dengan lancar dan aman. Lalu beriringan kami menaiki dakian memasuki ladang tomat, jagung, dan cabe. Tiba-tiba satu-satunya anggota yang perempuan, Kak Neyla, tiba-tiba rebah. Debu dari jalan bertanah kering berterbangan karena langkah panik. Kak Neyla terbaring dengan kepala dipangku. Matanya terpejam namum kelopak mata dan bibirnya bergerak-gerak seperti menahan sakit. Dia mencoba mengangkat badannya sambil bilang “beraaat…beraaaat” berkali-kali. Panggilan dan ucapan kami seperti tak terdengar olehnya. Kami segera mengangkat dan menurunkannya kembali ke lokasi perkemahan.

Satu jam menunggu Kak Neyla tapi tak kunjung sadar juga. Tapi kami tetap harus naik malam itu. Kak Neyla ditunggui oleh pacarnya dan seorang kawan yang tak jadi ikut dan tidur di sebuah warung di pinggir danau. Dengan sedikit perasaan tak enak, kami melanjutkan perjalanan.

Pada pintu rimba, kami berhenti untuk meletakkan sesajen berupa rokok yang dibakar lalu diselipkan di ranting dan dipancang di tanah. Mereka bilang untuk menghormati penunggu gunung dan untuk keselamatan bersama. Di sini kami kembali berdoa dan diingatkan agar tidak terlalu ria dan jangan sampai ‘kosong’. Jika melihat sesuatu yang ‘aneh-aneh’, kami disarankan untuk diam saja dan tidak menceritakan apa-apa selama perjalanan ini dan nanti. Begitulah, perjalanan kembali dilanjutkan memasuki hutan lebat nan kelam.

sinabung-2-2

Penerangan hanya berasal dari senter. Selebihnya adalah sinar bulan yang menerobos dari rimbun pepohonan dan memantul pada daun-daunnya. Hanya suara serangga malam, suara kawan-kawan dan suara dengus nafas kami yang terdengar. Selebihnya hanya pekat malam dan bayang-bayang pohon yang membentuk bayangan-bayangan dan kelebat aneh. Aku segera mengalihkan pandangan ke depan dan sekali-kali melihat ke belakang.

sinabung-4

Dari kelimabelas orang ini, tidak sampai setengahnya yang pernah mendaki gunung. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 4 jam, molor sampai 5 jam. Bagaimana tidak, sepertinya hampir setiap 20 menit kami berhenti untuk beristirahat. Aku yang baru pertama kali mendaki gunung mengaku benar-benar capek luar biasa. Tak terasa lagi udara dingin. Baju sudah basah hingga merembes ke celana. Slayer yang kupakai bahkan harus diperas berkali-kali saking banyaknya keringat selama perjalanan ini.

sinabung-7 sinabung-8

Entah sudah berapa pos yang sudah kami lewati, aku ingat pada pos terakhir, pepohanan mulai jarang-jarang tapi tetap rapat dengan batang pandan duri dan semak-semak pakis. Jalan setapak dari tanah berganti dengan bebatuan dan akar-akar pakis yang empuk ketika dipijak. Dari sini aku bisa melihat pendar lampu-lampu dari rumah warga di bawah sana. Sepertinya puncak sudah semakin dekat.

sinabung-3

Benar saja, setelah merangkak ala Spider Man di tebing-tebing batu selama setengah jam, kami tiba di sebuah dataran kecil. Di depan kami terhampar pemandangan lampu-lampu kota Berastagi. Mendekati jam 6 pagi, gelap malam berangsur pudar berganti ungu, biru dan kemerahan. Matahari perlahan-lahan terbit. Namun awan sedikit enggan mempertunjukkannya pada kami yang mulai kedinginan karena tak banyak bergerak. Kilat menyambar-nyambar dari balik awan yang menutupinya. Dramatis.

Aku memanjat tebing batu menuju puncak tertinggi gunung Sinabung dan berdiri di tengah-tengah rombongan pendaki ABG cewek yang sebagian terkapar di tanah dan sebagian lainnya malah riang berfoto dengan latar matahari terbit.

sinabung-10sinabung-9

Tatapanku mengarah ke ujung cakrawala yang tertutup awan bersemburat jingga. Nun di bawah sana, halimun menutupi permukaan bumi. Seperti menjadi batas waktu bagi orang yang sedang tidur lelap di kasur empuknya dengan para pendaki yang sedang menikmati dingin yang menusuk kulit dan cahaya matahari yang dibiaskan awan. Awan tipis bergerak cepat terbawa angin dari lereng gunung menutupi puncak tempat kami berdiri. Udara dingin membuat kering rongga hidung dan kerongkonganku. Aku melilitkan lipatan kain sarung di sekitar leher hingga menutupi hidung agar tetap hangat.

sinabung-13

sinabung-14

Ketika sedang menyaksikan warna-warna ajaib ketika matahari terbing, tiba-tiba aku merasa tempat ini menjadi sangat ideal untuk merenung. Tapi ketika itu juga aku tidak bisa memikirkan apapun lagi selain takjub memandang keindahan alam yang begitu sempurna di depan mata.

sinabung-12 sinabung-11

Setelah hari terang, aku mendaki satu bukit kecil di dekat kawah, dari atas sana aku bisa melihat asap seperti gelegak air panas berbau belerang membubung dari balik bukit berbatu-batu. Begitu juga puncak Sinabung tempat aku berdiri tadi dan orang-orangnya yang terlihat begitu kecil, seperti aku melihat diri sendiri di atas sana sedang menyaksikan kabut menutupi tanah Karo yang amat subur. Ketika di bawah sana, rasanya aku bisa menggenggam dunia, tapi di atas sini, aku menyadari betapa kesombonganku selama ini cuma sampah, bukan apa-apa. Semakin lama aku melihat ke bawah, rasanya aku semakin kecil, menjadi kerdil ketika matahari mulai bersinar garang. Ah, sudah waktunya pulang.

 sinabung-16 sinabung-15 sinabung

sinabung-17

Rekaman singkat saat di puncak Sinabung:

Beberapa foto diambil saat perjalanan turun dari puncak.

Taheue adalah bahasa Aceh yang berarti bengong.

Boru-boru adalah bahasa Batak yang berarti gadis. Bahasa Karo-nya adalah Diberu. Sedangkan Inang-inang dalam bahasa Batak berarti ibu-ibu, bahasa Karo-nya adalah Nande-nande.

Pesona Keemasan di Pantai Lhok Keutapang

LK

Matahari sudah berada di atas puncak singgasananya saat kami tiba di sebuah tebing berbatu-batu cadas. Kami duduk di atas tebing melepas rasa lelah yang luar biasa menghantam punggung, pinggang, dan kaki. Nun jauh dari celah-celah dedaunan pohon yang rimbun tampak lautan dan puncak bukit Ujong Pancu. Selebihnya hanya awan putih dan sinar matahari yang menyilaukan saat menerobos dedaunan dari atas kepala. Pohon-pohon berbagai ukuran tumbuh lebat di kiri-kanan jalan. Lanjutkan membaca “Pesona Keemasan di Pantai Lhok Keutapang”

Berpetualang di Bukit Blang Panyang, Lhokseumawe

lhokseumawe

Umumnya kita lebih memilih untuk berencana dan traveling ke tempat yang jauh dan populer di kalangan traveler pada umumnya. Yah, minimal paling dekat mungkin ke provinsi tetangga. Tapi sering/pernahkah kita terpikirkan untuk melakukan perjalanan ke destinasi baru yang jaraknya lebih dekat? Istilahnya yang hanya sepelemparan batu saja?

Memang sih traveling ke tempat yang jauh terasa lebih mengasyikan karena akan ada banyak hal yang akan kita saksikan dan alami. Tapi traveling ke tempat yang lokasinya dekat pun sebenarnya juga tak kalah menariknya. Coba deh sekali-kali, sempatkan waktu untuk melihat-lihat kecamatan sebelah atau kabupaten tetangga. Pasti ada tempat-tempat menarik lain yang belum begitu populer atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang. Lanjutkan membaca “Berpetualang di Bukit Blang Panyang, Lhokseumawe”

[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok

Langit di pagi hari pertamaku di Balai hampir sepenuhnya ditutupi awan putih. Hanya sedikit menyisakan celah berwarna biru yang membuat perasaan sedikit tenang. Cuaca di pulau biasanya berbeda dengan cuaca di daratan. Hujan bisa turun kapan saja dan berhenti tiba-tiba. Prakiraan cuaca yang berlaku dari tahun ke tahun di pulau ini adalah akan semakin sering hujan pada bulan September hingga Februari. Rencanakan liburan kamu pada bulan-bulan mulai dari Maret sampai Agustus jika ingin ke Pulau Banyak.

Bagiku tidak ada cuaca yang buruk, tapi tidak bagi para nelayan, hujan dan badai adalah momok bagi mereka. Jika awan-awan hitam mulai terlihat menggelantung maka tertundalah rencana mengumpulkan rejeki yang tersebar di dalam laut. Namun resiko jika berlibur di pulau adalah kita harus mengikuti fenomena alam yang bisa saja terjadi. Satu-satunya jalan keluar adalah sabar di rumah jika awan gelap dan hujan akan/sudah runtuh.

Malam sebelumnya, aku dan Bang Tekno, teman seperjalananku, berbelanja stok makanan untuk 5 hari seperti beras dan air minum di sebuah kedai kelontong di dekat warung ibu langganan kami. Rencana awalnya kami akan berkemah di Pulau Palambak. Namun oleh Pak Putri (pemilik Wisma Putri) menyarankan untuk berkemah saja di Pulau Asok. Lalu ke Pulau Asok lah kami. Lanjutkan membaca “[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok”

Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai

Terakhir kali aku berkemah dulu itu ketika mengikuti ekskul Pramuka waktu kelas 1 SMP. Sudah sepuluh tahun lebih dan pengalamannya yang bisa kuingat hanya sebatas minta tandatangan senior, disuruh push-up, main bola dangdut sambil hujan-hujanan, dan mandi di aliran sungai dari pegunungan Leuser yang super dingin. Di kala itu aku dan para anak-anak bawang lainnya belum diajarkan bagaimana bertahan di tengah hutan, hujan dan badai. Semua dijaga dan diatur oleh kakak pembina. Pelajaran kecil penting ini baru aku rasakan di hari sabtu tanggal 7 Juli lalu. Meski cuma semalam, aku belajar banyak hal dari dari alam.

Pantai Lhok Mata Ie dan di depan sana adalah Pulau Bunta yang tak berpenghuni.

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan terdahulu (bisa baca di sini) kami  bertiga sudah berencana untuk berkemah di Ujong Pancu, yaitu sebuah kampung di kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berpotensi menjadi salah satu tujuan Aceh tourism baik lokal maupun domestik. Sesuai namanya, Ujong yang berarti ujung merupakan bagian paling ujung pulau Sumatra. Ada 2 peternakan ayam yang berbatasan langsung dengan jalan beraspal di pinggir pantai. Tempat ini dijadikan starting point dan sebagai tempat parkir orang-orang yang pergi berkemah dan para pemancing. Jika musim hujan, bau kotoran ayam yang basah menguar menyesakkan dada. Lanjutkan membaca “Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai”

Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Lanjutkan membaca “Lhok Mata Ie Ketika Hujan”

%d blogger menyukai ini: