Liburan Sempurna di Koens Lodge – Yogyakarta

Libur lebaran yang lalu bisa dikatakan sebagai liburan yang sempurna yang pernah aku lewati. Pasalnya enggak semua daftar What To Do dan Where To Go yang sudah kubikin banyak yang terlaksana. Loh, kok malah menjadi liburan yang sempurna padahal enggak banyak ngapa-ngapainnya? Iya, semakin ke sini (baca: semakin tua) ternyata liburan yang hakiki itu bukan lagi tentang tujuan, tapi bagaimana bisa menikmati KEMALASAN setiap harinya. Tak terbebani dengan daftar-daftar. Halah. :p

Karena aku masih punya banyak sekali sisa hari libur, aku memutuskan untuk melanjutkan liburan di Yogyakarta. Kota ini aku pilih karena perbandingan harga tiket antara BTJ-KNO-CGK dan BTJ-KNO-JOG hanya selisih seratusribuan rupiah. Masih terbilang mahal sih, tapi pulang ke Banten pun harga tiketnya sama saja. Ya sudah, sekalian main-main ke Yogya menghabiskan liburan yang langka ini.

Pada kamis 21 Juni, aku tiba di Bandar Udara International Adisutjipto. Penginapan hasil menang kuis di Instagram @koenslodge akhirnya dapat dipakai juga. Hostel murah di Yogya yang berada 10 km dari bandara ini lumayan dekat dengan beberapa tempat wisata seperti Museum Sonobudoyo, Keraton, dan Fort Vrederburg ini cukup nyaman karena berada di lingkungan yang tak begitu ramai.

Ruang santai di Koens Lodge
Ruang santai di Koens Lodge
Ingat apa kata nenek.
Ingat apa kata nenek.
Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge's instagram)
Kamar mandi outdoor. (Source: @koenslodge’s instagram)

Mungkin karena berada di lingkungan yang tenang begini, aku merasa seperti sedang berada di kamar tidur sendiri. Yang beberapa menit kemudian benar-benar berubah seperti layaknya kamar di kontrakanku: berantakan. Wkwk…

Semua kamar di Koens Lodge ini double bed dan shared bathroom. Ada 2 kamar mandi di dapur. Yang satu kamar mandinya tertutup dan yg kedua ini yang favorit banget karena atapnya terbuka gitu di dekat tangki air. Dapurnya sendiri minimalis banget. Karena kompor dan alat masaknya yang biasa dipakai pendaki untuk masak di gunung. Jadi bisa irit biaya makan kalau sedang liburan karena bisa rebus mi sendiri di Koens Lodge. Mau menyimpan makanan pun tersedia kulkas.

Seharusnya hari pertama tiba itu aku gunakan untuk berjalan-jalan di kawasan Malioboro atau Fort Vrederberg atau yang dekat-dekat situlah. Tapi karena mager (malas gerak) akhirnya aku leyeh-leyeh di kamar sambil membaca novel Kura-kura Berjanggut sampai tertidur.

Awalnya kupikir akan kesulitan mencari penyewaan motor. Untungnya Koens Lodge bermitra dengan sebuah jasa penyewaan sepeda motor yang informasinya tersedia di dalam kamar. Malam itu juga aku sudah punya motor untuk dipakai jalan-jalan besok pagi.

Tapi rencana hanya tinggal rencana. Niat ingin melihat pantai-pantai di wilayah Gunungkidul sirna karena lagi-lagi aku mager. Padahal sudah bangun subuh sekali karena ingin melihat sunrise sesuai saran-saran di banyak tulisan blog yang kubaca. Tapi mata masih sangat mengantuk gara-gara semalam bukannya tidur cepat, malah pergi ke mal untuk menonton film Incredibles 2. Sudah lokasi bioskopnya jauh, enggak ngerti arah dan jalan akhirnya aku tersasar beberapa kali saat pulang. Sampai Koens Lodge sudah lewat tengah malam. Akibatnya saat terbangun karena dering alarm, hanya tangan yang bangun untuk memencet tombol dismiss.

Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.
Tempat masak, tempat makan, tempat ngopi, tempat mendengarkan gamelan.

Pagi itu yang semestinya aku sedang dipukau dengan pesona matahari terbit, aku bergoler di kasur. Hanya karena rasa laparlah aku mampu mengangkat pantat dan membeli mi instan dan telur di warung depan hostel untuk sarapan.

Koens Lodge ini sebenarnya masih tutup karena owner-nya, Arkun malah ngacir liburan ke Eropa dan stafnya masih lebaran di kampung. Jadi hanya aku sendiri di Koens Lodge. Perasaan seperti di rumah sendiri semakin menjadi-jadi. Apalagi kulkas juga sengaja diisi Arkun dengan berbagai jenis sirup, wafer, dan bakpia. Nikmat banget memang tinggal di rumah dengan makanan banyak gini ya!

Seharian penuh aku hanya di hostel. Membaca buku, rebus mi, makan di depan jendela sambil melihat anak-anak main. Atau menikmati suara gamelan dari radio rumah tetangga. Saking malasnya aku keluar dari hostel tapi bosan karena enggak melakukan apa-apa, ruang depan dan dapur aku sapu bersih. Ini benar-benar seperti liburan sempurna setiap hari minggu di kontrakan.

Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin
Belajar ngevlog. Photo credit: Atik Muttaqin

Tapi besok paginya aku enggak tingal diam lagi di Koens Lodge. Karena saat mager kemarin aku mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas membuat video/vlog di Simply Homy Guesthouse milik Mbak Olenka. Dari pada enggak ke mana-mana, ya sudah, sekalian silaturahmi dengan emak-emak blogger hits Yogyakarta sini. Hasil dari ikut belajar bikin vlog menggunakan gawai itu selain ilmu vlog-nya, aku juga dibekali aneka bubuk minuman sachet dan aneka kue.

Sorenya aku ditemani Nugie makan Mi Lethek Mbah Mendes. Yang darinya aku tahu lethek itu berarti kusam, sesuai dengan warna mi yang mereka sajikan. Bagi lidah yang terbiasa dengan makanan berlimpah mecin seperti lidahku ini, mi lethek ini akan terasa biasa saja. Tapi aku baru tahu ternyata mi lethek ini terbuat dari tepung tapioka yang katanya rendah gula dan tanpa bahan pengawet yang dimasak tanpa mecin.

Aku sendiri memesan seporsi Mi Lethek Godog, bihun rebus yang dicampur dengan aneka sayur. Ini jauh lebih sehat dibandingkan makananku di hostel kemarin. Hehe…

Mi Lethek Mbah Mendes
Mi Lethek Godok Mbah Mendes
Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.
Kopi Jos, kopi dengan tambahan bara arang.
Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.
Sabtu malam di Jalan Wongsodirdjan.

Karena penasaran dengan kopi jos, aku mengajak seorang teman, Dika ke areal angkringan Kopi Jos di Jalan Wongsodirdjan. Karena angkringan kopi jos legendarisnya sudah penuh, akhirnya kami mencari angkringan yang masih kosong saja. Entah karena salah tempat, rasa kopinya biasa saja. Pulang dari sana, kupikir suatu saat nanti aku harus kembali lagi untuk mencoba rasa kopi di Angkringan Kopi Jos Lik Man itu. Tapi sebenarnya rasa kopinya enggak buruk-buruk amat kok. Rasa kopi josnya menjadi lumayan enak karena dibantu dengan suasana di sepanjang area lesehan yang cukup unik. Ada kopi dan ada musisi jalanan yang enggak sekedar bersuara dan menodongkan topi untuk sumbangan. Dari semua tempat yang kukunjungi di Yogya, tempat ini paling berkesan suasananya.

Malam itu aku pulang ke Koens Lodge dengan perut dan hati yang puas.

Keriangan di Pulau Sangiang

Pagi di Pantai Anyer.
Pagi di Pantai Anyer.

Permukaan laut pagi minggu itu sangat tenang. Tak berombak. Udara pun cerah dengan awan tipis dan halimun yang mendramatisasi sinar matahari terbit. Pagi itu, pukul setengah enam pagi, pantai-pantai di Anyer telah riuh oleh pengunjung. Sepertinya sisa keriangan tadi malam masih terus berlanjut hingga hari berganti.

Awan tipis itu terus bertahan hingga siang untuk menangkis Lanjutkan membaca “Keriangan di Pulau Sangiang”