Move On dari Jam Tangan Kenangan

Aku menggenggam sebuah jam tangan berwarna hitam di tangan kiri. Menimbang-nimbang apakah warnanya tak akan membuat orang lain memperhatikannya jika kupakai? Lalu kulingkarkan ke dua tali karetnya di pergelangan tangan. Mematutkan diri di depan cermin sambil berpura-pura tak ada yang melihat. Jam tangan yang tak bermerk ini terlihat keren. Desainnya tampak sangat sporty dan tali karetnya terasa enak di kulit. Lalu aku memutuskan membeli jam tangan itu dan pulang dengan perasaan sedikit malu.

jam tangan1
Jam tangan yang sempat tren pada masanya. (Sumber foto: 888aa.net)

Lanjutkan membaca “Move On dari Jam Tangan Kenangan”

Belajar Travel Writing dengan Agustinus Wibowo

Sebagai blogger kampung daerah berjumpa dengan penulis idola adalah kejadian langka. Ketika kesempatan itu datang, tak hanya berjumpa tapi juga menimba ilmu travel writing dari sang idola rasanya seperti mendapat durian runtuh. Apalagi berjumpa dengan seorang Agustinus Wibowo, yang buku-bukunya ditulis dengan amat personal.

Bincang-bincang Travel Writing bersama Agustinus ini diadakan dalam acara Smesco Netizen Vaganza di SME Tower. Tempat di mana produk-produk unggulan seluruh provinsi di Indonesia dipamerkan dan dipasarkan. Acara Netizen Vaganza dimulai dengan meriah oleh pekikan penari Saman dan selang beberapa jam kemudian dilanjutkan dengan sharing oleh Agustinus Wibowo. Acara ini sendiri berlangsung selama dua hari yaitu 26-27 September 2015. Selain Agustinus Wibowo, Smesco mendatangkan beberapa tokoh inspiratif lainnya seperti Yeyen Nursjid (Enterpreneur), Raihani Muharramah (Fotografer), dan Sacha Stevenson (Youtuber).

Ada Kopi Instan Ulee Kareng juga di Smesco ini. Keren!
Ada Kemplang khas Bangka!

Travel Writing bagi Traveler Cilet-cilet (amatir)seperti aku ini penting sekali. Dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibagi-bagikan. Maka traveler cilet-cilet membagikan apa yang didapatnya hari sabtu lalu. Semoga bermanfaat.

Proses

Dalam proses menulis itu tentu saja harus ada dua proses yang dijalankan, yaitu proses perjalanan itu sendiri dan menuliskannya. Tulisan akan lebih terasa hidup jika kita mengalaminya sendiri.

Tulisan perjalanan tentu menceritakan tentang tempat yang kita datangi. Untuk mendapatkan sebuah cerita yang menarik, perjalanan tak cukup datang, lihat-lihat, lalu pulang. Seorang penulis sebaiknya juga mendengarkan cerita. Baik itu cerita dari orang-orang yang kita temui dalam perjalanan atau juga dari orang lokal di lokasi. Dengan banyak mendengar, cerita yang kita tuliskan akan lebih kaya. Karena pembaca butuh cerita yang bukan melulu tentang destinasi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang melakukan perjalanan dan menuliskannya.”

Panduan Perjalanan

Masih ingat tentang pro dan kontra dunia yang heboh di dunia maya tentang buku panduan perjalanan setahun silam? Ada penulis yang kurang suka dengan buku bertema sekian juta keliling negara anu dan judul buku yang senada. Nah, sebenarnya buku panduan perjalanan ini penting sih sebenarnya. Tujuannya baik kok. Memudahkan seseorang untuk melakukan perjalanan. Tokoh-tokoh dunia zaman dulu juga menuliskan perjalanan mereka yang kemudian menjadi panduan bagi generasi selanjutnya.

Agustinus memberikan tips sebagai berikut:

  1. Akurat
  2. Objektivitas
  3. Informatif dan to the point
  4. Riset
  5. Menulis sesuai media (genre, style, topik, dll)

“Good writing only comes from good travel.”

Jdeeeer… kalimat yang diucapkan Agustinus ini kayak bola tenis yang dilempar ke rusuk. Sesak!

Ini mengingatkanku pada beberapa perjalanan yang lalu. Perjalanan yang tak ada rasa, tak ada interaksi, tak ada komunikasi, tak ada isi. Kosong. Makanya beberapa perjalanan laluku itu tak pernah menjadi tulisan karena aku sendiri tidak tahu harus menuliskan apa.

Perjalanan yang baik itu…

  1. Traveling with purpose. Mungkin setiap orang pasti punya tujuan ya. Tapi alangkah baiknya jika kita punya tujuan yang lebih spesifik. Apa yang ingin kita temukan? Apa yang ingin kita rasakan?
  2. Komunikasi membantu kita menuliskan kembali kisah perjalanan. Komunikasi membuat cerita menjadi tali yang saling menghubungkan satu cerita dengan cerita yang lain. Inilah kelemahanku dalam menulis. Jarang sekali berkomunikasi dengan orang-orang. Kalau di blog, ada namanya silent reader, kalau aku: silent traveler. Sudahlah cilet-cilet, silent pula! *silent mode*
  3. Mengobservasi tujuan yang sudah kita tentukan dari awal sebelum berangkat tadi sebenarnya perkara susah-susah gampang. Susah kalau kita jarang berkomunikasi. Padahal komunikasi adalah salah satu alat bantu dan menjadi ‘pelicin’ agar dapat mengamati lebih dalam.
  4. Riset itu kayak pondasi dan pilar dalam tulisan. Memperkuat dan memperkaya cerita perjalanan. Kisah yang kita sampaikan bukan hanya cerita kita semata, tapi ada fakta yang menyertainya juga. Seperti dalam buku-buku Agustinus, selain membaca perjalanannya, kita juga mendapat informasi tentang sejarah negara-negara yang dikunjunginya.
  5. Sudut pandang baru. Menuliskan cerita tentang destinasi sejuta umat yang sudah ditulis banyak orang tentu sulit. Mengunjungi tempat yang belum mainstream tentu lebih mudah menuliskannya. Namun destinasi sejuta umat pun jika ditulis dengan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, tentu menjadi tulisan yang menarik.
  6. Menuliskan perjalanan juga harus jujur. Objektif.

Sumber ide

Seorang peserta bertanya tentang sumber ide. Kadang kita sering kehilangan ide ketika ingin mulai menulis. Agustinus memberikan tipsnya sebagai berikut:

  1. Apa yang menarik dari perjalanan kita?
  2. Tulis apa yang kamu ketahui dan yang kamu sukai.
  3. Mencari bigger picture dari man from the street. Kita harus mencari benang merah yang paling menarik dari perjalanan.

Nah, begitulah seorang Agustinus Wibowo menuliskan buku-bukunya. Dari sekian tips di atas, masih banyak sekali yang aku harus perbaiki. Termasuk menunda-nunda menulis. Meski ide sering blank, kita bisa memulai dengan menuliskan poin-poinnya terlebih dahulu. Kalau menunggu ide datang, bakalan tertunda terus sedangkan tidak semua orang memiliki ingatan yang baik. Apalagi aku yang memiliki short term memory ini.

Acara Smesco Netizen Vaganza ini juga memberikan kesempatan para blogger untuk memenangkan hadiah berupa piala, laptop, smartphone, dan uang tunai. Tema tulisannya pun cukup mudah, yakni Local Brand Lebih Keren. Kamu bisa menuliskan produk-produk lokal asli daerahmu sendiri. Selain mengenalkan produk lokal, siapa tahu menang hadiahnya juga. Yuk, ikutan!

SK LOMBA BLOG

Belajar Travel Writing dengan Agustinus Wibowo di Smesco Netizen Vaganza

Sebagai blogger kampung daerah berjumpa dengan penulis idola adalah kejadian langka. Ketika kesempatan itu datang, tak hanya berjumpa tapi juga menimba ilmu travel writing dari sang idola rasanya seperti mendapat durian runtuh. Apalagi berjumpa dengan seorang Agustinus Wibowo, yang buku-bukunya ditulis dengan amat personal. Lanjutkan membaca “Belajar Travel Writing dengan Agustinus Wibowo di Smesco Netizen Vaganza”

Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang

Subuh di Stasiun Semarang Tawang

Waktu itu subuh pukul 5 ketika Kereta Wisata yang kami tumpangi tiba di Stasiun Semarang. Aku menengadah dan menyaksikan pijar bintang Kejora di ufuk timur. Sinar matahari masih berupa pendar jingga, ungu, dan biru di atas cahaya lampu penerang di jalur rel. Banyak penumpang yang turun, namun suasana stasiun tak lantas menjadi ramai. Semua berjalan ke gedung stasiun dengan mata sayu.

Perjalanan ke Semarang dimulai dari Stasiun Bandung. Bersama rombongan Traveling by Train yang diadakan oleh Lanjutkan membaca “Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang”

Mengikuti Kisah Kembara di Bumi Nusa Tenggara

Lombok

Suatu hari, aku pernah membuat janji mengunjungi Lombok menjumpai teman-teman yang kujumpai di Pare, Kediri. “Kapal penyeberangan dari Bali cuma 4 jam,” jelas Kak Hani. “Nanti kalian bisa menginap di rumah saya. Saya bawa jalan-jalan dan saya masakin makanan khas Lombok,” begitu janjinya pada saya dan teman-teman sambil berusaha menahan genangan air mata di antara kelopak matanya. Dan kami semua diliputi haru pada hari terakhir menjelang perpisahan di Pare.

Ada tiga teman yang berasal dari Lombok di kelas bahasa Inggris kami waktu itu. Kak Hani, Desi, dan Echa. Teman-teman yang lain berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Aceh sampai Papua, Lanjutkan membaca “Mengikuti Kisah Kembara di Bumi Nusa Tenggara”

Weekly Photo Challenge: Connecting The Day and Night

The sun, it connects us from day to night. From the light to the dark.

The ruin, it connects me back to the memories of almost 11 years ago when the tsunami destroyed our homes.

See more of others’ submissions to the Daily Post Weekly Photo Challenge on: “Connected.”

[Video Cilet-Cilet] Lhok Mata Ie

Pantai Lhok Mata Ie yang kini ramai dikunjungi setiap akhir pekan dan hari libur ini tetap menyenangkan untuk disambangi. Perjalanan ke pantai ini memakan waktu kurang dari satu jam. Kita bisa snorkeling atau leyeh-leyeh santai saja di pinggir-pinggir batu menikmati semilir angin. Lhok Mata Ie adalah salah satu tempat ‘melarikan diri’ favoritku jika di Banda Aceh karena lokasinya yang tergolong dekat dan tempatnya juga keren!

Sayang sekali Pantai Lhok Mata Ie ini tidak bisa dikunjungi oleh perempuan meski ditemani oleh muhrimnya sekalipun. Tapi anehnya, ketika terakhir kali aku dan kawan-kawan dari Backpacker Aceh mengunjungi pantai ini, minggu ketiga Agustus 2015, kami menemukan dua bule cewek yang mendirikan kemah ditemani tiga orang lekaki lokal. Guidekah? Jika memang benar, seharusnya mereka telah mengantongi izin pejabat kampung.

Catatan kamping di Lhok Mata Ie terdahulu bisa kawan-kawan baca di blogpost yang INI dan INI.

Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing

Perahu-perahu nelayan yang bersauh di depan Dermaga Ujong Serangga.

“Tadi yang pas kita lewat Abdya itu Pulau Gosong, bukan?” tanya seorang rekan kerja ketika kami baru saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar selepas kembali dari Pulau Simeulue. Aku yang tak lagi memperhatikan ke luar pesawat setelah kami lepas landas dari Bandara Blangpidie satu jam yang lalu tak bisa menjawab. Rajuli, yang bertanya, mendeskripsikan pulau yang katanya berpasir putih dengan warna hijau daun yang kontras. Lanjutkan membaca “Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing”

%d blogger menyukai ini: