Kisah Mawar, Si Anak Gembel

Aku, Santi, Lily, Sue, Sur, dan pemilik rumah yang kami tinggali, Bu Istikomah, duduk membentuk lingkaran dengan tungku perapian berisi bara berada di tengah. Kami duduk rapat-rapat pada bangku-bangku kecil di lantai dapur. Menghangatkan diri di dekat perapian setelah setengah hari hujan-hujanan. Perapian ini disebut Api-api oleh warga Dieng. Tungku api-api terbuat dari seng yang dimodifikasi sehingga untuk membakar arang kayu yang berada di dalamnya tidak perlu lagi menggunakan bahan bakar minyak melainkan cukup meletakkannya di atas kompor gas yang menyala. Kurang dari dua menit, arang yang berada paling bawah sudah menjadi bara yang kemudian perlahan-lahan merambat ke bara-bara yang berada paling atas.

Hawa hangat segera menyebar dan menghangatkan telapak tangan yang sengaja kami ulurkan ke depan tungku. Hangatnya segera merayap ke seluruh bagian tubuh dan menciptakan rasa nyaman dari balik kaos tipis kami. Semakin hangat, semakin cair pulalah suasana di antara kami berlima. Cerita demi cerita bergulir dari mulut-mulut para pejalan yang tanpa malu lagi sekali-kali mengulurkan telapak kaki menghadap tungku. Lanjutkan membaca “Kisah Mawar, Si Anak Gembel”

%d blogger menyukai ini: