Mendadak (Sok) Bijak di Gunung Sikunir

Pertemuan dengan kawan-kawan baru sore itu tidak sebegitu mendebarkan meski kelimanya adalah perempuan single. Senyumku makin memanjang beberapa sentimeter ke atas ketika mengenal Vero di tengah gerombolan cewek-cewek lain yang semuanya memanggul ransel besar di punggung. Kalah besar dari ransel yang aku bawa.

Keempat kawan baruku ini adalah Sue, Lily, Sur, dan Santi. Aku dan Vero sendiri memang sudah berteman sejak di Pangkalpinang, Bangka. Kami berenam segera melipir masuk ke warung. Bermangkok-mangkok mie ongklok dan cenil dan beberapa gelas teh panas memenuhi meja makan. Aku asyik melihat mereka makan dengan takjub. Apalagi saat ada yang menambah cenil untuk kedua kali.

Leuser Coffee juga ikut wefie di Dieng!

Karena aku tiba lebih awal dari mereka, maka aku bertugas mencari penginapan. Tapi di masa liburan sekolah di bulan Desember tahun lalu, semua penginapan penuh. Meski musim hujan begini, tetap saja kerumunan pejalan bertambah hampir setiap jamnya. Syukurlah seorang pemilik homestay yang aku datangi memberi solusi menginap di rumah anaknya karena homestay beliau juga penuh. Pada musim liburan, apalagi pada akhir minggu, susah sekali mendapatkan kamar kosong di penginapan murah seperti Penginapan Bu Djono di Dieng. Yang homestay saja dengan harga perkamar ratusan ribu saja penuh! Berkat bantuan Ibu tadi, aku mendapatkan satu kamar di rumah anaknya, Ibu Istikomah. Satu kamar cukuplah untuk kami berenam. Ada dua kasur untuk para cewek dan… sepetak lantai untukku. Beralaskan selimut tebal yang hangat dan nyaman, aku tidur nyenyak malam itu.

Sebelum tidur, kami sudah deal dengan seorang kerabat Bu Istikomah, untuk mengantarkan kami ke kaki Gunung Sikunir besok subuh menaiki mobilnya. Pukul 3 dinihari, kami berangkat. Jarak dari rumah ke Sikunir aku perkirakan sekitar kurang lebih dari 8 kilometer. Tapi di tengah perjalanan ternyata banyak juga yang berjalan kaki. Mereka beriringan di pinggir jalan memegangi senter dari hp untuk menerangi jalan di depan yang gelap gulita.

Lanjutkan membaca “Mendadak (Sok) Bijak di Gunung Sikunir”

%d blogger menyukai ini: