Hutan Pelawan

Bermaksud ingin melihat perlombaan dayung sampan di Desa Kurau di akhir bulan Agustus lalu, aku singgah sebentar di Hutan Pelawan yang berlokasi di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Tak sampai satu jam bersepedamotor dari Kota Pangkalpinang. Hutan lindung dengan luas keseluruhan hampir 250 hektar dan baru dikelola baru 5 hektarnya saja ini selain menjadi paru-paru Bangka Tengah juga menjadi salah satu sumber matapencarian masyarakat sekitar dengan madu dan jamur Pelawan yang terkenal.

Hutan Pelawan juga menjadi sumber makanan utama lebah Pelawan. Madu yang dihasilkan terasa pahit dan konon ada jenis-jenis madunya yang berkhasiat untuk menurunkan dan menaikkan berat badan. Jika berjalan-jalan di kawasan hutan Pelawan, perhatikan papan peringatan keberadaan sarang lebah. Berjalan sebentar saja di dalam hutan ini peluh sudah bercucuran karena suhu udara yang lembab. Jangan lupa membawa air minum yang cukup. Lanjutkan membaca “Hutan Pelawan”

Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka

“Yoh ke Sabang yoh minggu depan?”, ajak seorang kawan. Waktu itu aku masih anak baru di Pangkalpinang. Masih awam sekali nama-nama daerah di Pulau Bangka. Tadinya aku berpikir kalau Sabangnya Bangka ini seperti tempat tandingan Sabang di Aceh. Seperti beberapa julukan destinasi wisata yang kerap kita dengar di artikel-artikel traveling: Maldivesnya Indonesia, Grand Canyonnya Indonesia, bla bla bla. Tapi Sabangnya Bangka ini ternyata tidak seperti itu.

Sebuah desa di bawah bukit yang dibatasi sungai.

Orang Kota Pangkalpinang dan sekitarnya menyebut Sabang untuk Toboali karena letak geografisnya berada paling ujung pulau Bangka. Sama seperti Sabang yang berada paling ujung pulau Sumatra. Kalau keindahan daerahnya, sudah pasti tiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Mencapai Toboali dapat ditempuh selama 3 jam dari Pangkalpinang dengan mobil atau bus. Tapi dengan keahlian menyetir Bapak Manajer Muda berjiwa Lewis Hamilton, Hans memangkas waktu tempuh normal menjadi setengahnya! Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka”

Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka

“Yoh ke Sabang yoh minggu depan?”, ajak seorang kawan. Waktu itu aku masih anak baru di Pangkalpinang. Masih awam sekali nama-nama daerah di Pulau Bangka. Tadinya aku berpikir kalau Sabangnya Bangka ini seperti tempat tandingan Sabang di Aceh. Seperti beberapa julukan destinasi wisata yang kerap kita dengar di artikel-artikel traveling: Maldivesnya Indonesia, Grand Canyonnya Indonesia, bla bla bla. Tapi Sabangnya Bangka ini ternyata tidak seperti itu.

Sebuah desa di bawah bukit yang dibatasi sungai.

Orang Kota Pangkalpinang dan sekitarnya menyebut Sabang untuk Toboali karena letak geografisnya berada paling ujung pulau Bangka. Sama seperti Sabang yang berada paling ujung pulau Sumatra. Kalau keindahan daerahnya, sudah pasti tiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Mencapai Toboali dapat ditempuh selama 3 jam dari Pangkalpinang dengan mobil atau bus. Tapi dengan keahlian menyetir Bapak Manajer Muda berjiwa Lewis Hamilton, Hans memangkas waktu tempuh normal menjadi setengahnya! Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Sabangnya Bangka”

%d blogger menyukai ini: