Video: Trip to Malaysia

Perjalanan ke Malaysia memang sudah lama berlalu. Tapi perjalanan itu masih menyisakan kesan indah di hatiku, Wulan, dan Dika. Berikut adalah rekaman perjalanan kami di Malaysia ketika mengunjungi beberapa tempat wisata di Malaysia, salah satunya Selangor. Video dibuat oleh Dika.

Iklan

Sipiso-piso, Destinasi Wisata di Tanah Karo

Butiran air hujan tiba-tiba jatuh besar-besar ketika kami sedang self-picking buah stroberi di salah satu kebun di pinggir jalan dekat Taman Alam Lumbini. Aku, Aiko, Kemal, Erna dan Riza berlari di antara tanaman stroberi ke pondok untuk berteduh dan sekalian menimbang dan membayar buah yang kami petik. Hujan baru berhenti 10 menit kemudian. Kami melanjutkan perjalanan menuju Simpang Tongkoh dan segera menemukan angkot yang akan membawa kami ke Merek.

Aku dan keempat kawan yang berpergian ke Taman Alam Lumbini dan Air Terjun Sipiso-piso.
Ki-ka: Erna, Aiko, Riza, Kemal, Citra

Perjalanan dari Tongkoh ke Merek memakan waktu sekitar setengah jam dengan ongkos Rp.5.000. Aku yang berasal dari Aceh merasa tarif angkot di sini tergolong murah. Ada beberapa hal yang aku kagumi menyangkut transportasi di sini. Jika di Aceh dengan jarak sejauh antara Tongkoh-Merek tarifnya berkisar antara Rp.10.000-Rp.15.000. Juga ketersediaan angkutan umum ke banyak daerah sangat membantu para pejalan seperti kami untuk mendapatkan transportasi yang murah dan juga menyenangkan. Lanjutkan membaca “Sipiso-piso, Destinasi Wisata di Tanah Karo”

Makam-makam Kuno Kerajaan Samudra

Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang penemuan makam-makam kuno yang diyakini sebagai makam-makam dari kerajaan Samudra ini. Belum ada penelitian yang memadai untuk mengungkap siapa pemilik makam-makam, pada masa kerajaan apa mereka hidup, dari mana asalnya, apa jabatannya, silsilah dan hubungannya dengan Kerjaan Samudra Pasai dan bagaimana wafatnya. Tak ada catatan apapun yang tertinggal. Tulisan-tulisan pada nisanpun tak dapat dibaca.

Salah satu dari tiga makam di Gampong Samuti, Gandapura. Makam ini terletak di pinggir sebuah lapangan di dekat tambak-tambak ikan. Di samping makam terdapat sebuah sungai kecil. Info dari warga jaman dulu sungai ini besar dan dapat dilewati kapal-kapal.

Lanjutkan membaca “Makam-makam Kuno Kerajaan Samudra”

Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini

Hari minggu pagi di Medan (0909) cuaca lumayan cerah. Langit sepenuhnya ditutup awan putih. Namun tidak ada tanda-tanda akan datang awan mendung. Suasana di jalan Pembangunan di kompleks USU pun tak terlalu ramai seperti hari biasa. Selain beberapa sepeda motor yang lewat, dua orang perempuan dengan rambut dikucir dan memakai rok selutut berjalan menuju sebuah gereja kecil di ujung sebuah gang. Masing-masing memegang Injil di tangan kanan. Aku dan Kemal bergegas melangkahkan kaki menuju persimpangan dan menyetop angkot menuju Simpang Kampus.

Di sana sudah menunggu Riza dan Aiko, Erna menyusul setengah jam kemudian. Meski molor dari waktu yang sudah ditentukan kami tetap berangkat menaiki angkot ke arah Berastagi dari Simpang Pos, tempat yang sudah kami sepakati semalam ketika menyusun itinerary yang diberikan Kak Anti, seorang kenalan dari Backpacker Medan. Ongkos angkot dari Simpang Kampus ke Simpang Pos hanya 2.500 rupiah. Dari sini kami kembali menaiki angkot ke arah Berastagi.

Tujuan kami adalah Taman Alam Lumbini di Desa Tongkoh, Kabupaten Tanah Karo. Aku dan keempat kawan menaiki angkot Sutra ke Berastagi dengan ongkos Rp.10.000 saja. Bilang saja turun di Tahura atau Simpang Tongkoh. Simpang Tongkoh dapat dikenali dengan tugu buah jeruk di tengah pertigaan. Ikuti saja tanda panahnya dan boleh berjalan kaki sekitar 20 menit. Sepanjang perjalanan singkat ini, kita akan disuguhi kebun stroberi, kebun jagung dan kebun bunga di kiri-kanan jalan.

Simpang Tongkoh. Ikuti arah panah pada papan petunjuk untuk menuju Taman Alam Lumbini.

Lanjutkan membaca “Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini”