Menguak Keindahan Air Terjun Blang Kulam

Cuaca di luar lumayan terik walaupun langit diselimuti awan putih tipis-tipis menyamarkan warna biru di langit. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan aku baru saja berhasil mengenyahkan rasa malas dari atas kasur untuk keluar rumah. Kedua ban sepeda sudah dipompa keras, ransel sudah diisi bekal berupa biskuit dan air minum.

Tujuanku kali ini adalah mencari lokasi objek wisata Blang Kulam yang disebutkan terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara. Begitu hasil pencarianku di internet. Aku sendiri sudah bertanya-tanya ke beberapa orang kawan yang sudah pernah ke sana, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan rutenya dengan jelas karena jalan menuju ke sana memang sangat jauh. Kawan-kawan di kantor yang asli orang Lhokseumawe pun ada yang belum pernah ke sana. Bahkan Google Map pun tidak punya rute salah satu wisata Aceh yang sudah lama ditinggalkan ini.

Berdasarkan informasi yang ala kadarnya tadi, aku memacu sepeda ke Cunda. Jika keluar dari kota Lhokseumawe, langsung belok kanan melewati mesjid pertama lalu sekitar 500 meter kemudian ada lorong di sebelah kiri jalan yang berdampingan dengan warung yang disebut Simpang Buloh.
Di ujung lorong sebelah kiri ada kompleks batalyon, belok ke kiri lalu melewati SMA 5 Lhokseumawe. Selanjutnya perjalanan tinggal mengikuti jalan lurus saja.

Tiba di Kampung Blang Awoe Panjoe

Lanjutkan membaca “Menguak Keindahan Air Terjun Blang Kulam”

Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai

Terakhir kali aku berkemah dulu itu ketika mengikuti ekskul Pramuka waktu kelas 1 SMP. Sudah sepuluh tahun lebih dan pengalamannya yang bisa kuingat hanya sebatas minta tandatangan senior, disuruh push-up, main bola dangdut sambil hujan-hujanan, dan mandi di aliran sungai dari pegunungan Leuser yang super dingin. Di kala itu aku dan para anak-anak bawang lainnya belum diajarkan bagaimana bertahan di tengah hutan, hujan dan badai. Semua dijaga dan diatur oleh kakak pembina. Pelajaran kecil penting ini baru aku rasakan di hari sabtu tanggal 7 Juli lalu. Meski cuma semalam, aku belajar banyak hal dari dari alam.

Pantai Lhok Mata Ie dan di depan sana adalah Pulau Bunta yang tak berpenghuni.

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan terdahulu (bisa baca di sini) kami  bertiga sudah berencana untuk berkemah di Ujong Pancu, yaitu sebuah kampung di kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berpotensi menjadi salah satu tujuan Aceh tourism baik lokal maupun domestik. Sesuai namanya, Ujong yang berarti ujung merupakan bagian paling ujung pulau Sumatra. Ada 2 peternakan ayam yang berbatasan langsung dengan jalan beraspal di pinggir pantai. Tempat ini dijadikan starting point dan sebagai tempat parkir orang-orang yang pergi berkemah dan para pemancing. Jika musim hujan, bau kotoran ayam yang basah menguar menyesakkan dada. Lanjutkan membaca “Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai”