Cerita Bali (bagian awal)

Pengalaman pertama di Bali memang agak sedikit menyebalkan namun bisa dibilang juga pengalaman langka dan menegangkan. Mungkin juga itu sebagai hukuman karena ketidak-konsistenanku untuk datang ke pulau ini di minggu terakhir sebelum keberangkatan. Haha.

Mengikuti rencana awal, aku harus berhenti di Kuta dan menginap di Poppies. Sejam berjalan kaki berkeliling memanggul ransel, dipelototi SPG-SPG setiap kali lewat di depan tokonya dan hampir semua hostel penuh atau harganya terlalu mahal. Sudah hampir maghrib, kaki dan bahu sudah pegal untuk berjalan dan memanggul dua buah ransel. Di tengah kekalutan belum mendapat penginapan dan tersasar di lorong-lorong penuh orang dan motor, akhirnya kami menjumpai Bali Manik. Lokasinya? Jangan tanya, aku pun sudah lupa. Banyak lorong yang harus dimasuki dan puluhan pasang mata menatap kasihan ke kami. Seperti itu lah yang aku tangkap dari tatapan mereka. Haha…

Seperti hostel-hostel murah lainnya, fasilitas yng diberikan pun standar saja. Sarapan dengan banana pancake dan teh. Fasilitas di kamarnya pun hanya berkipas angin dengan dua buah tempat tidur dan sebuah kamar mandi yang benar-benar seadanya saja. Toh kamar itu cuma untuk tidur dan mandi saja. Tidak perlu mewah. Lha mau yang mewahpun juga ga mampu! :D

Lanjutkan membaca “Cerita Bali (bagian awal)”

%d blogger menyukai ini: