Perjalanan

Malam sudah begitu larut dan aku menapakkan kaki keluar rumah dengan ransel besar berwarna merah yang hanya berisikan setengah bagian menempel erat di punggung. Sebuah ransel yang lebih kecil ku selempangkan di bahu dan menutupi bagian dada. Ransel berwarna hitam ini berisikan kamera dan botol air minum. Merekalah yang akan menemani semua perjalanan akbar ini nantinya.

Eh? Sebuah kamera dan botol minuman? Tentu saja tidak. Aku dan seorang kawan yang syukurlah memiliki kesamaan hobi bisa diajak bersusah payah senang selama perjalanan ini.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dan aku harus bergegas membawa semua beban di bahu ini keluar dari pekarangan rumah dan berjalan sejauh seratus meter ke ujung lorong dan menemukan becak yang kemudian mengangkutku ke terminal bus.

Lanjutkan membaca “Perjalanan”

%d blogger menyukai ini: