Jamuan mewah di Meukek

Sebelumnya aku mau cerita dulu tentang enaknya warga Desa Seuleukat di Bakongan. Sebuah kampung tempat kami melewati dua malam yang penuh damai. Kampung dengan keasriannya, gunung yang hijau, suara siamang bersahut-sahutan pada pagi hari, udara segar yang selalu tersedia.

Alhamdulillah, hutan di daerah ini masih alami. Tidak begitu rusak oleh penebang-penebang liar. Buktinya, siamang masih terus bersuara setiap pagi. Lagi, air yang tak pernah berhenti mengalir. Sebuah mata air yang tak pernah kering terus memasok kebutuhan air bersih warga. Mereka tak perlu memompa air. Jadi sekalipun listrik padam, mereka tetap bisa mandi dengan air yang sejuk dan bersih. Aku paling senang mandi di sini. Airnya dingin dan kalau selesai mandi, badan betul-betul terasa sangat segar.

Selesai shalat subuh, aku dan Iwan berjalan-jalan sebentar. Kami melewati sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sungai yang berbatu-batu. Lalu kolam-kolam ikan yang permukaannya dihiasi teratai. Di pinggir jalan beraspal, terhampar buah pinang yang sedang dijemur. Dalam perjalanan kembali ke rumah aku menyempatkan diri melihat kolam ikan mas di depan kompleks SD.

Gunung Kapur
Gunung Kapur

Foto di atas adalah gunung Kapur. Jalannya yang mendaki tinggi dan sangat ekstrim sering menjadi momok bagi para sopir angkutan yang berangkat dari arah Subulusalam. Banyak yang mengalami kecelakaan di sini. Pak Guru bilang, kalo ada pengendara motor yang jatuh disitu, kecil sekali kemungkinannya selamat atau hidup. Uniknya, warga disekitar situ malah sudah terbiasa dengan keadaan jalan yang sangat berbahaya itu. Malah ada yang berani membonceng dua orang di belakang motor.

Sekitar jam sembilan, kami melaju dengan Suzuki Arashi menuju Tapaktuan. Kami berhenti sebentar di Puncak Panorama Hatta dan mengambil beberapa foto.

Pemandangan dari atas Puncak Panorama Hatta

Sampai di Tapaktuan, satu-satunya tempat yang paling ingin aku datangi cuma kolam yang di Lhok Bengkuang itu. Kami pun ke sana dan berenang sepuasnya. Sejam kemudian kami jalan lagi dan singgah di Meukek. Kampungnya Iwan.

Di rumah Iwan, lagi-lagi aku dijamu dengan cara yang sangat khas. Aku jadi malu sendiri karena merasa hal ini terlalu berlebihan. Tapi begitulah cara orang-orang di kampung menghargai tamu mereka. Sunggu budaya, adat dan tradisi Aceh masih terjaga dengan baik di sini.

Jamuan spesial itu terjadi ketika makan siang, mereka sudah menyiapkan nasi beserta lauk dan sayurnya di atas sebuah talam besar. Biasanya jamuan makan siang seperti ini cuma untuk tamu-tamu yang datang dari jauh dan saudara dekat atau orang yang dianggap istimewa/penting.

Makanannya sederhana saja tapi rasanya benar-benar enak dan nikmat! Cuma gulai ikan, sayur daun kates (pepaya) yang sudah tidak begitu pahit lagi. Ada sambal terong, ikan goreng balado dan yang paling istimewa itu adalah sambal kelapa. Itu yang piringnya diantara gulai ikan dan ikan goreng balado. Cobalah kawan rasakan sedikit, pedas, asin dan segar kelapanya benar-benar menyusup sampai ke dalam lidah dan ingin tambah lagi dan lagi. Kuliner asli Aceh ini hanya dapat kita temukan di kampung-kampung seperti di Meukek ini.

Another part of susahnya jadi PNS!

11 November 2009

Kami tiba di Bakongan-di kompleks rumah SD di rumahnya saudara Iwan setelah Isya. Istirahat sebentar lalu mandi dan shalat. Makan kemudian ngobrol ngalur-ngidul lagi seperti malam kemarin. Kali ini kami lebih banyak membicarakan tentang luar biasanya suasana pendaftaran cpns di kantor walikota dari pagi sampai sore tadi.

Saudara Iwan-yang lalu kita sebut saja beliau Pak Guru karena ga tau namanya siapa(LOL)-bercerita betapa sulitnya menjadi PNS setelah sekian lama honor menjadi guru di daerahnya. Setelah mendapat kesempatan menjadi PNS melalui jalur pemutihan tapi untuk menjadi PNS 100% harus melalui proses yang amat lama dan sangat sulit.

Persis sama dengan pengakuan seorang pendaftar cpns asal Singkil yang aku temui tadi sore di kantor walikota. Kata abang itu, “kalo lewat pemutihan itu kita dibuatnya seperti pengemis!”. Begitu juga dengan Pak Guru Bakongan ini, beliau mengalami pemeriksaan berkas selama sebulan dan setiap hari berkas yang diajukan selalu salah. Padahal berkas yang beliau serahkan ukuranya setebal kamus bahasa inggris. Ada saja yang dipersalahkan oleh petugas di kantor dinas itu.

Dan apa yang kami rasakan ternyata masih belum seberapa rupanya. Tapi bagi yang merasakan, hal ini sungguh amat melelahkan. Untuk mendaftar saja kami harus bertahan berjam-jam melewati berbagai macam rintangan selama perjalanan ke tempat tujuan. Kami harus bertahan berjam-jam kemudian untuk menanti selembar kartu pendaftaran yang terasa begitu mewah ketika sampai di tangan.

Ini baru awal dari perjuangan kecil kami, tanggal 23 nanti kami harus kembali lagi ke Subulusalam untuk mendapatkan kartu ujian dan tanggal 25 kami harus berjuang lagi menguras semua pikiran kami untuk melewati tes cpns. Berbagai persiapan sudah aku persiapkan. Mulai dari mendownload berbagai macam contoh soal cpns dan mempelajarinya. Lalu mengasah terus rasa optimis di dalam dada.

Sumber : hinamagazine

Dari pengalamanku sebelumnya, menjawab soal-soal itu bukanlah perkara gampang. Berbagai pertanyaan sulit yang ga pernah aku pelajari ada di situ. Seperti soal-soal skolastik yang memang sedikitpun ga bisa aku jawab. Hanya menebak-nebak. Memilih pilihan mana yang menurutku paling benar. Menjawab 150 soal lalu membulatkan jawaban pada lembar jawaban dalam waktu 90 menit bukanlah waktu yang lama. Itu terasa sangat singkat, tapi duduk selama 90 menit itu terasa seperti sudah duduk seharian. Membuat pantat pegal, leher sakit dan pinggang ngilu.

Cuma semangat aja yang ga boleh susut. Mundur selangkah bakalan terdepak semakin jauh di belakang. Menjadi PNS memang bukan cita-citaku, tapi karena kondisi yang memungkinkan untuk ke arah sana dan mumpung sedang ada kesempatan. Jika memang bukan rejekiku di situ ya harus gimana lagi. Usaha yang lain pasti akan menyusul jika usaha yang sekarang ga berhasil.

Man jadda wajada!

Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 3)

Bangun subuh, shalat dan mandi. Manasin motor sebentar dan berangkat ke warung untuk membeli kue-kue. Sudah kebiasaan di kampung kalau sebelum sarapan dihidangkan kue-kue. Tapi ternyata disini cuma ada donat dan energen. Tidak ada warung kopi dan penjual bermacam-macam kue seperti di Meulaboh.

Sudah agak terangan sedikit, kami berkemas lalu pamit ke sodaranya Iwan (anehnya Iwan sendiri ga tau nama abang itu) LOL.

Perjalanan kali ini benar-benar melelahkan, kami harus berputar-putar, naik-turun, meliuk-liuk mengikuti jalan beraspal yang menyusuri pegunungan yang gundul. Ratusan hektar pegunungan tidak lagi ditumbuhi pohon tropis. Semuanya teratur rapi pohon kelapa sawit. Pemandangan yang mengenaskan buatku.

Dua jam perjalanan membawa kami memasuki kota Subulusalam. Setelah berpenat-penat melintasi pegunungan dan sekarang kami berjuang untuk mendaftar cpns. Aku ketemu Dewi dan mencari seseorang yang bisa dibayar untuk menuliskan surat lamaran. Ternyata kami masih harus menunggu berjam-jam lagi untuk dapat giliran. Akhirnya inisiatif sendiri, aku meminta Dewi untuk menuliskan surat-suratnya. Bermodalkan kertas bergaris dan kerta HVS akhirnya Dewi yang menuliskan surat-surat kita semua. Iwan sudah siap dengan sogokan sepiring lontong untuk Dewi dan aku dengan sabar menunggu di samping.

Beberapa kali salah tapi Dewi terus moved on menuliskan empat lembar surat untuk aku, Iwan dan Dika dan untuk dia sendiri tentunya. Setelah selesai semuanya, aku masukkan ke masing-masing map berikut berkas-berkas pendukung lainnya dan aku masuk ke dalam arus puluhan pendaftar di depan loket pendafataran di kantor walikota.

3
Suasana loket pendaftaran cpns di kantor walikota Subulusalam

Aku berdesak-desakan menanti nama kami dipanggil jika surat lamaran kami ada yang salah dan harus dikoreksi. Sejam, dua jam, tiga jam aku berdiri di tengah-tengah desakan manusia dengan berbagai aroma dan tingkah. Ada yang meneriakan setiap nama yang dipanggil dari dalam kantor dan para peserta lainnya pun menyahut dengan teriakan nama lalu mengoper map yang berkasnya salah ke pemiliknya di belakang.

Keringat mengucur di punggung dan tangan, betis terasa sangat pegal dan kerongkongan kering. Aku menyerah dan memilih menunggu di belakang saja. Aku membeli tiga botol air dan membagikannya ke kawan-kawan. Tak ada tempat duduk selain teras kantor yang kotor.

Nama kami tetap tak kunjung dipanggil bahkan hingga jam makan siang tiba. Loket pun ditutup. Kami ke warung di dekat rumah tempat Dewi menginap. Di depan warung terpampang pamflet besar berwarna coklat yang bertuliskan CV Mentari Tour dan beberapa mobil L300 diparkir menutupi jalan masuk warung. Setelah makan pun, rasa pegal di betis dan di pinggang tetap tak mau berkurang. Hanya shalat zuhur yang mengobatinya. Dan hujan pun turun dengan anggun mendinginkan semua persendian kami.

Ngilangin penat dengan memfoto orang

Jam dua lewat, pendaftaran pun ditutup. Sekarang petugas masih terus meneriakan nama-nama peserta yang surat lamarannya salah. Kesalahan kecil seperti penulisan “foto copy” yang seharusnya tidak ada spasi antara foto dan copy. Atau peserta lupa menuliskan nama di belakang cetakan foto. Ada juga yang peserta yang tidak mengerti menuliskan surat lamaran. Beberapa kali petugas mengembalikan surat lamaran yang tidak dituliskan formasi apa yg dilamar.

Seluruh kaki kembali mengalami pegal yang hebat, pinggang benar-benar sakit sekali sekarang. Entah kesabaran darimana pula sehingga aku betul-betul sungguh sekali menanti nama kami dipanggil. Sedangkan Iwan dan Dewi menunggu dengan bosan di luar lingkaran peserta yang berdesak-desakkan. Kemudian nama Iwan dipanggil. Ternyata surat lamarannya ada yang salah. Tempat lahirnya tidak sesuai dengan ijazah. Di ijazah dituliskan Rotteungoh, tapi di surat dituliskan Rotteungoh, Meukek. Iwan kembali meminta bantuan Dewi untuk menulis ulang suratnya di depan kantor Wakil Walikota.

5
Jenuh

Jam setengah empat sore, kami terus menunggu dengan harapan tidak ada surat kami yang harus dikoreksi. Seorang peserta asal Medan sudah memasukkan berkasnya pada jam 9 pagi tadi tapi hingga sekarang belum juga dipanggil. Alhamdulillah, namaku dan Dika dipanggil dan petugas menyorongkan dua lembar kartu pendaftaran. Dewi semakin ga sabar karena namanya belum juga dipanggil. Padahal berkas-berkas kami sudah aku masukin sekalian jam 11 tadi. Sekitar jam empat, nama Dewi pun dipanggil dan menerima kartu pendaftaran.

Lalu kemana Iwan? Hapeku bergetar, Iwan is calling. DOH!!! Ternyata dia sedang santai duduk di sebuah kios voucher pulsa di samping kantor. WT*! Perasaan aku sedari jam sebelas tadi nungguin semuanya tapi kok dia yang tumbang duluan? Huhh…pengen kesal tapi entah kenapa kok saat itu aku ga bisa kesal. Yah, sabar emang ga ada batasnya. Aku menunggu lagi di sana bersama dengan puluhan pendaftar yang mulai kecapean. Alfian, anak Medan yang tadi aku ajak ngobrol bernasib sama dengan Iwan, suratnya harus diperbaiki lagi. Lalu nama Iwan pun dipanggil, aku menerima kartu pendaftarannya.

Kami berdua istirahat sebentar di kios voucher yang rupanya pemiliknya adalah mantan pacarnya Iwan waktu di Meukek. Dan berkat suami mantan pacarnya itu pula berkas Iwan bisa diterima lagi, padahal berkas-berkas pendaftaran sudah tidak bisa lagi dimasukkan jika sudah lewat jam 3 sore.

Kami shalat di mesjid yang ga jauh dari kantor walikota, lalu tancap gas kembali pulang ke Bakongan.

Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 2)

09 November 2009

Doh! Sudah ke Part 2 pula nih! Iya, kawan. Ternyata ga cukup satu postingan untuk menulis betapa beratnya perjuangan mendaftar CPNS.

Kali ini aku akan menceritakan bagaimana aku dan Iwan mencoba keberuntungan kami dengan mengikuti CPNS di Pemko Subulussalam. Seharusnya membutuhkan 7-8  jam perjalanan dengan mengendarai motor. Tapi kami butuh lebih dari 8 jam untuk sampai ke sana. Ya, karena kami memutuskan menginap saja di desa Seuleukat-Bakongan-di rumah sodaranya Iwan.

Perjalanan dari Meulaboh ke Aceh Selatan berjalan dengan selamat. Kami melewati ‘jalan bawah’, yaitu jalan yang ga perlu melintasi pegunungan Trans yang terkenal dengan kelokannya yang mengocok perut jika naik mobil. Memasuki Langkak dan tembus di Lamie. Di jalan bawah itu kami beberapa kali dihadang air sungai yang meluap hingga ke jalan raya. Tapi untungnya masih bisa dilalui Suzuki Arashi tangguh berwarna biru milik Iwan itu.

Kali ini, perjalanan tidak begitu terasa merana karena jalan yang kami lalui tergolong gampang. Sekali-kali aku dan Iwan bergantian untuk menyetir motor. Sampai di Labuhan Haji, kami berhenti sebentar di rumah kakak. Lalu berhenti lagi di kampungnya Iwan, Meukek. Disana saya disambut oleh keluarga besar Iwan.

Sebuah rumah sederhana di dalam perkampungan yang sangat akrab sekali. Sebuah kampung yang terletak di bawah gunung ini terasa sangat sejuk tapi menghangatkan dengan lingkungan yang sangat dekat satu sama lain. Sepertinya semua tetangga Iwan adalah sodara-sodara dekatnya. Sama seperti di kampung ayah di Labuhan Haji. Tetangga disekitar adalah sodara-sodara dekat kami juga.

Setelah makan siang (lagi) dan shalat zuhur kami berangkat lagi. Melewati kota Tapaktuan, aku terperangah melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Cantik. Sungguh menawan. Pelan-pelan kami meliuk-liuk di sepanjang lereng gunung yang disamping kanannya jurang dan pemandangan menakjubkan itu tersaji begitu sempurna. Jurang pun tak terlihat mengerikan lagi. Kami melewati Jambo panorama Hatta. Sebuah jambo atau pondok yang dulunya pernah dijadikan tempat singgah oleh Bung Hatta setelah berkeliling Aceh pada tahun 1953.

Puncak Panorama HattaKemudian pemandangan tak begitu menggairahkan untuk diperhatikan. Hanya alang-alang, rumah-rumah, kios-kios lusuh. Memasuki Bakongan, kami memperlambat laju motor. Iwan menelepon saudaranya dan beberapa menit kemudian tiba juga di rumahnya. Berada dalam kompleks perumahan SD. Sambutan hangat khas pedesaan. Senyum lebar dan kopi kampung panas yang nikmat. Semua penat pun hilang.

Setelah Azhar kami memutuskan untuk berkeliling sebentar melihat daerah sini. Mencoba menjajaki Gunung Kapur yang terkenal sangat berbahaya di kalangan para sopir L300. Aku yang bawa motornya. Sudah mulai senja dan beberapa truk melintas dan menerbangkan debu-debu dari tanah merah di sepanjang jalan beraspal itu. Awalnya pasang gigi empat lalu turunin lagi ke gigi tiga dan ganti lagi ke gigi dua. Tapi masih terlalu berat, aku oper lagi ke gigi satu hingga akhirnya kami sampai juga ke puncaknya. Sebuah rumah makan masih buka dan kami berhenti untuk membeli keripik ubi. Buat bekal nanti malam.

2
Salah satu pemandangan dari atas bukit di bawah Gunung Kapur

Bermalam di Bakongan adalah salah satu pengalamanku yang seru. Berada di perkampungan yang dibelah oleh sebuah jalan raya yang sepanjang malam terus dideru dengan motor, mobil dan truk. Malam itu kami membeli empat bungkus Supermi, dapat bonus pula dari yang punya kios berupa cabe rawit, tomat dan bawang. Nah, aku pula yang didaulat untuk memasak mie. Akhirnya jadilah mie racikanku yang super pedas dan ckckck…enak gilaaa!!!

Sedikitpun kami tak terpikir kalo besoknya kami akan didera habis-habisan ketika mendaftar CPNS di kantor walikota Subulusalam. Malam ini kami lewati dengan menikmati mie goreng basah super pedas dan sebungkus keripik ubi yang gurih. Gelak tawa kami menyaingi suara rintik hujan yang menderu di atap seng sekolah. Udara semakin dingin dan kami pergi tidur. Hanya beralaskan tikar pandan di ruang tamu. Aku dan Iwan tidur dengan damai.

Hidup memang akan selalu lebih indah jika dilewati bersama-sama.

Sakitnya mendaftar CPNS! (Part 1)

Alhamdulillah, akhirnya setelah resmi bergelar Sarjana Ekonomi, aku memberanikan diri untuk melongok ke setiap kolom iklan lowongan kerja di koran dan situs/blog penyedia lowongan kerja.

Dan beruntungnya lagi, bulan ini sedang musimnya penerimaan CPNS. Ini adalah kali pertama buat aku mendaftar CPNS. Setelah kuliahku selesai dan kopian ijazah sudah di tangan, keberanian untuk mencari kerja semakin besar. Semakin percaya diri dengan gelar di belakang nama itu. Sekalipun ijazah keluaran dari sekolah tinggi biasa yang saat ini belum juga terakreditasi tapi semangat untuk mengubah nilai penghasilan terus bertambah. :D

Grasak-grusuk melegalisir semua berkas yang dibutuhkan, cetak foto, ngurus SKCK dan AK1. Selesai juga dalam 2 hari. Nulis lamarannya sama seorang kawan trus besok langsung kirim via pos.

Udah. Segitu saja kah? No man! Baru ngurus hal seperti itu saja sudah menguras banyak energi dan uang dan waktu. Harus mondar-mandir ke sana-ke mari. Oke, satu step udah selesai. Sekarang nunggu pengumuman lulus tes administratif.

Aku, Jaya dan Iwan mencoba keberuntungan kami di KPU. Beberapa hari kemudian, aku buru-buru berangkat ke Banda Aceh setelah mendapat kabar dari adik kalau namaku lulus tes adm. Kedua kawanku belum beruntung rupanya. Jadilah aku mengendarai motor sendirian dengan harapan cemas. Karena seharusnya hari itu adalah hari terakhir pembagian kartu ujian tertulis. Aku terus berdoa semoga besok masih bisa mendapatkan kartu ujian itu.

Jam 11 malam, aku sampai dengan selamat di Banda Aceh. Sebelumnya aku melewati cuaca yang buruk selama perjalanan. Aku kehujanan di atas pegunungan. Mulai dari gunung Aneuk Manyak sampai di Tangse hujan pun reda. Tapi udara dingin tetap menyelimuti.

Memasuki pegunungan yang di sisi kirinya jurang terjal dan dalam menanti jika tak hati-hati mengendarai motor. Udara dingin mulai menyergap, jemariku mulai terasa perih karena dingin dan terasa kaku. Gerimis mulai turun dan suasana semakin gelap. Kabut mulai membatasi pandangan mata. Lalu hujan pun turun dengan lebat. Lengkap sudah penderitaanku.

Tak pernah terbayangkan jika akan mengalami hal ini di tengah-tengah pegunungan lebat ini. Sendiri dan kedinginan-menggigil hebat! Hati mulai merasa, beginilah sakitnya mencari kerja. Jarak ratusan kilometer ditempuh. Cuaca seburuk apapun yang menghadang harus dilewati. Jalan mendaki gunung dan jurang menganga di banyak kelokan dijajali. Semua aku lakuin hanya untuk mengambil sebuah kartu keramat. Kartu ujian mengikuti tes CPNS!

Dalam perjalanan panjang dan melelahkan itu, aku merasakan betapa susahnya para sarjana pengangguran mencari kerja. Paling tidak, aku sudah mengalaminya sendiri -walaupun mungkin belum seberapa-dan akan terus mengalaminya selama dua bulan ke depan ini. Ini membuatku semakin menghargai para pekerja-pekerja keras yang kulihat selama ini. Para buruh yang membanting tulang-memeras keringat. Karena mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang kita inginkan itu ga gampang! Butuh pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa besar! Dan yang ga berhasil harus bersedia menjadi pekerja kelas bawah sampai mereka menemukan pekerjaan yang sesuai atau mereka akan terjebak selamanya pada pekerjaan itu.

Di Banda Aceh, aku singgah di Peunayong. Berhenti sebentar melepas penat karena hanya sempat beristirahat dua kali ketika menunaikan shalat Ashar di tengah pegunungan menuju Tangse dan Magrib di kota Tangse. Tiba-tiba saja aku kelaparan lagi dan berhenti di gerobaknya Kebab Turki. Setelah kenyang melahap kebab, aku menuju radionya Husni dan baru pulang ke rumahnya jam satu dini hari.

Pagi jumat (entah tanggal berapa) sekitar jam 9-an aku berangkat ke kantor KPU dengan hati yang lapang. Pengambilan nomor selesai. Ternyata hari itu masih banyak sekali para peserta yang belum mengambil nomor ujiannya. Pulangnya aku menyelesaikan beberapa urusan dengan adik dan beberapa pesanan kawan-kawan. Nginap semalam lagi di rumah Husni dan besok paginya aku pulang ke Meulaboh-dengan penderitaan yang ga jauh beda saat aku berangkat dari Meulaboh ke Banda Aceh.

Ngeramein ulang tahun Aceh Blogger yang kedua di Ujong Batee

Alhamdulillah… Setelah penat yang menyerang setelah ikut ujian cpns di stadion Lampineung, nungguin hujan reda selama setengah jam sambil mondar-mandir dan ngebiarin darah mengalir ke seluruh tubuh setelah sempat terhambat karena duduk terus selama 2 jam lebih-akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Aroma udara setelah hujan bikin segar sampai ke dalam kepala.

Hujan lebat berganti dengan gerimis tipis. Ga peduli lagi deh dengan basah, yang penting keluar dari stadion yang ‘mengancam’ itu. Pulang ke rumah sebentar, keluarin alat-alat ‘perang’ dari dalam ransel, masukin handuk dan kolor (ga kepake juga).

Langsung saya tancap gas ke Krueng Raya. Lumayan jauh juga sih pantainya tapi kapan pernah jarak jadi masalah buat saya? Hoho… Kalo buat ke pantai, sejauh apapun, pasti saya datangi kalo emang ada kesempatan. Berhenti sebentar di mesjid, zuhur trus lanjut lagi. Ga nyampe tiga puluh menit akhirnya saya nyampe juga di lokasi rekreasi pantai Ujong Batee.

(doh) sebelumnya saya nyasar! Saya salah masuk jalan yang ternyata itu lokasi perumahan pelabuhan sepertinya. Haha…

Bayar tiga ribu deh buat masuk ke lokasi. Jalan pelan-pelan dengan motor meutuah saya sambil celingak-celinguk liatin keramaian. Di kepala sih udah ngebayangin beberapa wajah yang dikenal. Tapi kok ga ketemu-ketemu juga ya?Ini jalannya saja sudah 500 meter. Eh ternyata mereka ngumpulnya di paling ujung.

Saya nemuin Baiquni dan kawan-kawan sedang lesehan di atas tikar. Bang Husni sedang makan nasi bungkus dan ngeliat saya langsung nawarin makan dalam bahasa aceh. Saya yang aslinya tidak begitu paseh (pasih) berbahasa Aceh cuma bisa menjawab seadanya : Jeut bang… :p

Sejam kemudian, Muda Bentara datang, wajah baru bangun tidur, persis seperti muka saya 4 jam yang lalu.  Haha…

Acara khususnya sendiri kita mulai sekitar setengah jam kemudian. Karena acaranya dari kita untuk kita jadi kesannya agak terbengkalai. Tapi acaranya malah gila seru!

Padahal nih ya, acaranya sederhana sekali. Idenya persis seperti acara tujuh belas agustusan! Lomba makan kerupuk dan tarik tambang! Tapi bagi saya acara ini sudah ngilangin semua beban di pikiran dan di badan setelah 2 jam lebih ngikutin ujian tadi pagi.

1Nah, saya ikut lomba makan kerupuk. Anginnya kencang dan kerupuk di depan muka melayang-layang. Gimana mau makannya coba? Ga akan bisa kalo ga dipegangin dulu. Haha..Emang dasar otak saya curang, tanpa merasa bersalah, saya pegangin talinya dan saya makan. Hahaha… Kawan di samping saya, Bang Fadli dan Liza juga berjuang. Tapi perjuangan Bang Fadli lah yang pantas diberikan penghargaan. Karena Liza juga tak tahan untuk tidak bermain curang. LMAO.

Nah, karena kadar kecurangan saya lebih berat maka saya dinobatkan sebagai juara ketiga, Liza juara kedua dan Bang Fadli lah yang jadi anak mudanya. Juara pertama!

2Next!

Tarik tambang!

Jumlahnya sih ga banyak. Masing-masing tim punya 6 orang anggota. Di tim kami, semua anggotanya kurus-kurus. Tapi sebelah lawan, postur tubuh mereka pada berisi semua.

Hmm…ronde pertama. Kami pasang formasi. Bang Fadli sebagai wasit garis, blogger cewek sebagai fotografer. Tarikan pertama (selama bertahun-tahun ga pernah) narik tambang terasa menyiksa kulit telapak tangan. Tapi semuanya jadi ga terasa karena kekompakan tim kitalah yang membawa keberhasilan tim. Walaupun postur tubuh kami yang tidak seberapa dibandingkan lawan, tapi semangat mampu membawa kami menjuarai lomba tarik tambang ini. Ronde kedua pun kami menangi lagi setelah mendapatkan perlawanan yang lumayan berat juga dari lawan. Check this out.

3

4Liat saja ekspresi kita di saat detik-detik terakhir sebelum kita diputusin menang oleh Wasit Fadli…

Setelah bagi-bagi hadiah, kita lesehan di atas pasir buat ngomongin beberapa hal untuk kemajuan Aceh Blogger yang pada hari itu menggenapi dua tahun usianya.

Emang sih belum banyak hal yang sudah kita lakuin, tapi tetap pada tujuan awal kita yaitu menyampaikan ilmu, memberikan pendidikan kepada masyarakat Aceh khususnya untuk mengenal dunia internet. Berharap masyarakat di lingkungan kita melek dengan dunia teknologi.

Dari diskusi singkat kita kemudian diputuskan beberapa poin yang dapat kawan-kawan adain nantinya. Yaitu :

  • ngadain pertemuan rutin berkala untuk sharing atau silaturahmi, rapat or something like that lah…
  • trus ngebedah tulisan-tulisan orang. Mungkin seperti review atau semacam itu.
  • kepikiran juga tuh dari Liza untuk ngasih award untuk bloggers  terhadap postingan atau yang berhubungan dengan aktivitas ngeblognya.
  • dan yang terakhir kita akan terus ngelakuin sosialiasi blog dan acehpedia, pelatihan blog dan kegiatan-kegiatan amal lainnya.

1Selesai diskusi, kita main-main lagi di pantai. Ada yang nendang bola, menulis di atas pasir, ada yang demo yoga, ada yang ngelanjutin diskusi dan ada yang berenang.

Nah, saya, Bang Husni dan (Bang) Adik Cilak berendam di dalam laut. Lumayan juga nih lautnya cuma sedalam dada dan masih bisa buat berenang. Saya yang ga bawa baju ganti nekad aja nyebur dengan pakaian lengkap. Celana panjang karet dan kaos.

Sungguh liburan yang menyenangkan.

Hahhh… Berada di antara kawan-kawan blogger membuat rasa kebersamaan semakin terasa. Jumlah kita yang memang ga seberapa yang hadir pada hari itu membuat saya seperti berada dalam sebuah keluarga yang utuh. Rumah tangga yang baru berusia dua tahun membuat kita lebih dekat. Sekalipun ada beberapa dari mereka yang belum saya kenal dekat. :)

Semoga Aceh Blogger terus aktif memberikan ilmu dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

BannerABChijau

Maju terus Aceh Blogger… Tebarkan perdamaian ke seluruh dunia…:)

%d blogger menyukai ini: