Thanks, Mal..

Oke oke..saya sudah kembali ke kehidupan rutin saya lagi sekarang. Tujuh hari saya di Banda Aceh, begitu banyak kejadian-kejadian unik dan lucu yang saya alami. Ada hari yang buruk dan ada hari yang menyenangkan.

Satu hari, yang mampu saya ingat tentu saja satu hari yang penuh dengan hal-hal menyenangkan. Sehari bersama Kemal di pantai Lampuuk.

Hahahahaha…gila ni anak! Pintar sekali mereka-reka percakapan orang lain hingga membuat saya terbahak sampai sakit perut dan tak mampu berjalan. Juga kenarsisannya ketika difoto. Juga ketika dia tak berani menuruni tebing dari gua yang kita panjat. Mengingat semuanya kembali saya tertawa dan senyum-senyum geli. Hihi…untung tidak ada yang melihat saya ketawa-ketiwi sendirian di kantor. Bisa gawat kan?

img_5724

So, thanks to Kemal so much deh!

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru

Peunayong – Keutapang

Berjalan kaki di Banda Aceh memang suatu keasyikan sendiri bagi saya. Sekalipun banyak reaksi miring yang bikin telinga kering tentang kebiasaan saya ini tapi semangat tetap jalan terus! Reaksi kawan-kawan yang tau tentang kebiasaan saya ini sama saja semuanya. Satu kata : GILA!

Yah, sodara-sodara.. Bukannya saya pelit tidak mau berbagi ke abang tukang becak mari dong kemari, aku mau nabok…(Haiah!!!). Tapi ini menyangkut hati, man! Saya memang cinta mati sudah berjalan kaki kalau malam-malam di Banda Aceh. Biar dikata gila juga siapa yang peduli? Nyak-nyak penjual pisang goreng saja tak peduli, apalagi kupu-kupu malam di pinggir jalan Stui!

Seperti barusan, saya kembali melihat penampakan-penampakan yang membuat saya miris. Beberapa wanita yang keluyuran tengah malam di trotoar dengan pandangan mata yang ‘penuh harap’ ke arus lalu lintas. Demi mencari makan mereka terpaksa atau tidak, harus bekerja seperti itu. Saya jadi merasa bersalah ketika tadi begitu menikmati makanan-makanan di Daus. Yah, sekalipun ditraktir sih.

Berjalan kaki bagi saya adalah satu-satunya kegiatan yang mesti dan harus dan kudu dilakukan kalau di Banda Aceh. Sekalipun kaki dan bahu yang menahan ransel terasa mau lepas ditambah pula dengan kerinduan pada blog. Kaki saya pun bergerak seperti kesurupan. Tak peduli lagi pada sakit malah mempercepat jalan hingga bertemu warnet.

Hm, saya kepikiran terus nih, berapa kilometer ya jarak perjalanan yang sudah saya tempuh berjalan kaki dari Peunayong ke Keutapang?

%d blogger menyukai ini: