Ayah bertanya…

Ayah saya sering bertanya-tanya tentang keganjilan yang dibacanya di novel trilogi Laskar Pelangi.

Pertama, kasus Lintang yang bersepeda ke sekolah dan menempuh jarak puluhan kilometer. Menurut ayah, usia anak kelas 1 SD menempuh jarak puluhan kilometer dengan bersepeda di jalan yang tidak beraspal, bahkan sering hujan dan becek. Rasanya tidak mungkin Lintang bisa sampai ke sekolah selalu lebih awal dari anak-anak yang lain. Ayah meragukan cerita Andrea Hirata tentang perjalanan Lintang ke sekolah yang selalu tepat waktu mengingat kondisi jalan dan tenaga yang dimiliki Lintang.

Argumen : Ayah saya dulu naik sepeda ke Tapak Tuan dari Labuhan Haji dan butuh waktu berjam-jam sampai ketujuan. Tidak mungkin seorang bocah mampu bersepeda dengan cepat di atas jalan yang rusak dengan waktu kurang dari dua jam!

Pembelaan saya : Mungkin Andrea menganut majas hiperbola kali, Yah? Atau bisa saja Lintang memang memiliki semangat yang luar biasa sehingga bisa datang tepat waktu ke sekolah.

Kedua : Arai. Saudara sepupu Ikal ini tidak ada dalam novel pertama, Laskar Pelangi. Padahal diceritakan bahwa mereka selalu bersama-sama waktu sekolah dasar dulu. Hm, mengapa Andrea menutupi keberadaan Arai di Laskar Pelangi?

Saya menjawab : ai dont no itu Yah…hehe…

Kandang Kambiang

Ini kandang kambing Ondong saya (Ondong : Kakek). Dulu, waktu saya kecil, Ondong sering menyuruh cucu-cucunya untuk menengok kambing-kambingnya apa sudah masuk kandang apa belum. Dan menghalau kambing masuk kandang itu susahnya minta ampun! Butuh kerja sama tim yang kompak untuk bisa menghalau semuanya masuk kandang. Hahhh…senangnya masa kecil dulu…

Nah, ini dia Ondong saya. Di sampingnya itu salah satu cucunya juga. Randa. Anak bungsu Makcik Das. Paling bandel dan hobinya loncat-loncat! Mungkin penyebab beberapa gempa kecil di wilayah Aceh dulu itu gara-gara Randa yang sedang loncat-loncat. Hehe…maksa!

(Kambiang : Kambing)

Waang kabilo, Citra ?

Ini abang sepupu saya beserta orang tua dan istrinya.

Banyak sekali yang menanyakan ke saya : “waang kabilo, Citra ?” (kamu kapan, citra?) Hehe…asal ada yang mau sama saya ya ayo…nikah! Itu sudah! Hahaha…

%d blogger menyukai ini: