Sari Park je t’aime

Fhaha…mengambil judul film Paris je t’aime nih. Soalnya apa yang saya rasakan sekarang ini nyaris persis sama dengan apa yang diceritakan dalam salah satu kisah dalam film tersebut. Seorang wanita berumur 30an yang ingin menemukan cintanya di kota Paris. Dan dia menemukannya! Yah, mungkin saya tidak sedramatis dalam film itu. Tapi mungkin perasaan wanita itu bisa jadi sama dengan apa yang saya rasakan. Fall in love.

Malam pertama saya datang ke sana, suasana tenang segera melingkupi saya. Hati dan pikiran tiba-tiba menjadi saaaangat tenang sekalipun massa penyambut Hasan Tiro hiruk pikuk di jalanan sana. Saya duduk di sebuah bangku besi yang basah karena diguyur gerimis. Kaki-kaki saya berdenyut-denyut karena berjalan berkilo-kilometer dengan gerak cepat ala bule-bule yang saya perhatikan di jalan.

Punggung saya terasa dingiiiiin sekali ketika saya mencoba bersandar pada sandarannya. Seolah ada air es yang mengompress dari dalam sana yang tembus ke dada. Sejuk dan menyembuhkan.

Saya makin jatuh cinta dengan taman itu. Setiap sudutnya memberikan ketenangan jika dipandang di malam hari. Rasanya tidak mau pergi dari situ. Hhhh…Cinta ini begitu cinta… (?)

Pergi dan lalu berhenti ?

Cahaya matahari pada sore hari ini mulai meredup. Selesai shalat saya memandang dari balik jendela ke awan-awan mendung yang hampir menutupi langit biru dan kelihatan bercahaya keperakkan. Semoga tidak hujan lebat malam ini. Beberapa puluh menit berlalu. Matahari sudah benar-benar tenggelam sekarang. Tidak ada lagi awan yang kelihatan.

Lalu gerimis turun membasahi aspal-aspal yang panas dan menguarkan kabut-kabut tipis. Tercium bau asam ketika saya melangkahkan kaki di trotoar dan menyetop sebuah labi-labi jurusan Darussalam. Saya turun di Merduati dan istirahat sejenak di tepi sungai sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan di atas jembatan lalu perhatian teralihkan ke permukaan sungai. Ikan-ikan berloncatan dan menciptakan riak  dan bunyi kecipak sungai. Seolah sedang berada di sebuah tempat nun jauh di pedesaan. Lampu-lampu jalanan dan kendaraan sebagai kunang-kunangnya. Hm…Perasaan ini. Begitu tenang dan damai.

Gerimis semakin melebat. Segera saya bangkit dan berjalan dengan cepat ke arah Mesjid Raya. Berbelok-belok dan sempat beberapa kali berada di tengah-tengah kawanan para kunang-kunang yang sedang berlalu lalang. Saya meliuk menghindarkan diri dari para kunang-kunang yang sepertinya enggan terbang melambat.

Langkah saya percepat. Tak peduli dengan trotoar yang menjadi licin karena basah oleh gerimis. Tak peduli dengan keringat yang terus mengucur membasahi punggung dan tangan dan leher. Tak peduli kemana arah kaki saya melangkah. Hingga saya merasa kelelahan dan penat yang luarbiasa pada betis beserta tulang-tulangnya.

Dalam gelap kaki-kaki ini terus berjalan dan kadang berlari. Berkelebat bayangan-bayangan hitam dan kelabu dalam pikiran. Bayang-bayang masa lalu yang menampar-nampar keras pada kepala, tengkuk dan rahang. Dan memukul-mukul pikiran saya seperti genderang! Teriakan-teriakan menggema dalam kepala mengusir mereka pergi… “pergi…pergi…pergi…”

Lalu saya bertanya :

Kemana saya pergi?

Dimana saya berhenti?

Mengapa saya pergi?

Haruskah saya berhenti?

Kopdar ABC kedua yang pertama

Minggu malam. 11 Oktober 2008 jam tujuh lewat lima menit seharusnya saya tetap berada di kantor untuk bermakan malam bersama dengan Deputi Manejer di cafe di bilangan simpang Mesra. Tapi saya diam-diam keluar dan mengajak kawan lama saya Dadang untuk ikut kopdar dengan anak-anak Aceh Blogger Community di Warung Kopi SMEA di Lampineung. Fhuhh..resikonya adalah dimarahi sama supervisor saya karena menghilang ketika semua sudah siap untuk mengikuti acara yang gak penting itu.Bahahaha…Sorry bos…

Acara yang seharusnya diadakan di Warung Green (warung atau café ya?) dibatalkan karena tutup (info dari Muda) dan dipindahkan ke Warkop SMEA. Melihat keramaian di sana, saya jadi ragu untuk berhenti dan masuk. Secara belum kenal dan takut kejadian yang sama terulang lagi seperti acara buka puasa bersama waktu dulu itu. Tapi paling tidak saya menepati janji untuk datang setelah jam empat sorenya saya tidak bisa ikut karena masih bekerja.

Celingak celinguk macam maling jemuran ke meja-meja melihat adakah tulisan Acehblogger di atasnya. Bah!! Muka si Muda yang kelihatan! Tapi awalnya agak ragu juga karena penampilannya yang berubah dengan rambut pendeknya. Hik hiks…Culun kau Da dengan rambuk kekgitu! Hahaha…(macam rambutku udah bagus kali?!).

Finally, saya bertemu juga dengan dedengkotnya ABC! Beuuh…Beginilah rupa-rupa seorang Fadli Idris dan Fauzan Yusuf itu. Benar-benar jauuuuuuh dari bayangan saya…Awak piker mereka (specially Ozan) berperawakan tinggi dan putih dengan jenggot atau penampilan mereka berdua ini lebih dewasa dari seperti  apa yang saya lihat malam itu.

Pembicaraan pun ngalur ngidul tentang dunia perbloggan dan rencana milad ABC yang jatuh pada tanggal 31 Oktober nanti. Tapi kopdar ini yang saya kira akan menjadi semacam rapat untuk membahas acara tahunan pertama tersebut tidak memutuskan satu keputusan pun untuk pelaksanaan milad ABC nanti. Tapi saya dan kita juga pastinya berharap semua ide-ide yang tercetus pada malam itu dapat terealisasikan.

Saya tidak ingat berapa jam sudah kebersamaan kita malam itu tapi kesan-kesan yang saya dapatkan adalah…asik,seru dan berilmu pengetahuan! Jah…Berilmu pengetahuan! Eits…betul bro…Dapat ilmu dan tambah tahu dengan hal-hal lain. Seharusnya acara ini diadakan rutin setiap bulan atau dua bulan sekali. Atau bisa juga semacam gathering jadi silaturahmi tetap jalan terus dan tambah akrab pastinya dengan sesama Acehblogger.

Ya, ini hanya pengharapan. Sekalipun untuk kopdar saja sulit terlaksana. Jika terlaksanapun kawan-kawan yang hadir paling banyak empat-lima orang. Tapi tak apa lah.

Semoga Aceh Blogger terus maju dan mantap!

Common’ folks…

P.S. : Mohon maaf saya tidak bisa menampilkan foto-foto kopdar kita karena saya lupa memindahkan file-filenya ke flashdisk dari laptop dan laptop tersebut sudah terpacking dalam kotak untuk dikirim ke Meulaboh. Harap maklum…

%d blogger menyukai ini: