Markas Besar

Kalau Laskar Pelangi menjadikan pohon Akasia sebagai markas besar mereka waktu SD dulu maka kami menjadikan pohon Waru sebagai markas besar ketika kami di kelas 6 SD. Pohon ini tumbuhnya tepat di samping kelas. Jadi setiap pagi, istirahat, atau gotong royong pasti kami sekelas nongkrongnya di dekat-dekat dengan pohon ini. Ada-ada saja yang dikerjakan disana. Mulai dari membahas pelajaran, mengerjakan PR, makan, bermain sampai tidur pun juga bisa.

Di samping ini adalah sekolah saya. SD Negeri 6 Labuhan Haji. Kelas 6 adalah yang paling kanan dan pohon waru itu tumbuh di sampingnya. Dari foto terakhir ini pohon kenangan itu sudah tidak ada lagi. Bahkan akarnya pun tidak kelihatan lagi.:(

Pohon Waru tersebut sangat rindang. Dan pohonnya tumbuh tidak tinggi. Karena satu meter dari pangkal pohon, batangnya itu melengkung membentuk semacam jembatan dan bisa tidur-tiduran di atasnya. Pohon ini memang sangat multifungsi. Selain sebagai tempat nongkrong anak-anak kelas 6, daunnya juga sering dimanfaatkan guru-guru  ketika menjelang hari raya untuk dijadikan pembungkus tape.

More about this tree. Click here.

Orang Saleh

Waktu kecil dulu. Kalau saya atau saudara-saudara kandung saya sedang rewel, ayah dan mamak selalu menakut-nakuti kami dengan cerita Orang Saleh. Tangisan sekeras apapun juga pasti langsung membuat kami diam kalau mereka sudah menyebut Orang Saleh!

Orang Saleh itu adalah seseorang yang tinggal di gunung yang letaknya sangat dekat dengan kampung kami. Orang Saleh ini dalam cerita orang tua saya akan datang ke rumah jika ada anak-anak yang rewel atau menangis pada malam hari. Lalu membawanya ke tengah rimba sana. Kakak saya adalah orang yang paling takut dengan tokoh rekaan orang tua kami ini.

Kalau saya, waktu kecil dulu sangat takut dengan Siamang! Ayah sering menakut-nakuti saya dengan mengatakan “Diam, jangan nangis lagi. Nanti datang siamang, diambilnya Ita. Mau?” Begitu kata ayah dengan ekspresi yang menakutkan. Pada jaman saya kecil-kecil dulu, suara siamang itu menggema dan terdengar hingga ke rumah. Tapi sekarang saya rasa populasi mereka sudah jauh menurun karena terus diburu. Suara-suara khasnya pun tak lagi terdengar.

Berakit-rakit

Semalam saya sedang mood nonton tv. Remote sudah di tangan. Semangat saya menekan-nekan tombol mencari tayangan yang menarik. Lalu saya tekan tombol 8 dan layar Global TV muncul dengan tayangan film yang saya tidak tahu judulnya apa. Empat orang yang sedang terapung-apung di atas rakit dan diserang oleh sekawanan burung raksasa. Salah dua ekor burung itu berhasil mereka tembak dan jatuh ke laut. Bangkainya langsung ditangkap oleh monster hitam mengerikan yang muncul ke permukaan.

Hm, film jadul nih. Seangkatan dengan Jurasic Park. Saya sudah terlalu bosan menonton film-film bertemakan binatang purba. Tapi saya tertarik scene ketika mereka di atas rakit. Saya jadi teringat waktu saya SMP di Labuhan Haji dulu. Ketika liburan kenaikan kelas saya bersama kawan-kawan di kampung membuat rakit dari pelepah rumbia atau pelepah pohon sagu.

Kita semua berdelapan. Ada yang lebih tua dan ada yang lebih muda dari saya. Tapi kita kompak membuat rakit-rakitan itu. Di Kampung Baru itu mengalir sebuah sungai yang di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon sagu. Kami memotong banyak sekali pelepah untuk membuat sebuah rakit lalu mengikatnya dengan kulit pelepah dan akar-akar pohon yang kami temui di sana.

Rakitpun jadi. Bentuknya sama sekali tidak mirip dengan rakit. Lebih tepatnya disebut onggokan pelepah sagu yang diikat dan dihanyutkan ke sungai. Lalu kami naik ke atasnya. Awalnya terasa gamang juga karena susunan pelepahnya bergerak-gerak ketika diinjak karena ikatannya tidak rapi. Tapi akhirnya kegelisahan kamipun hilang setelah rakit berhasil bergerak beberapa meter dan terus bergerak dengan mulus.

Menyaksikan hutan sagu, semak belukar, rumpun bambu, kicauan burung dan aktivitas hutan lainnya dari sungai ternyata seru juga. Apalagi naik rakit bersama kawan-kawan yang kadang kala suka becanda berlebihan. Berteriak-teriak dan suka mendorong kawan yang lain.Tentu saja kejahilan mereka itu membuat kami panik karena susunan rakit jadi makin tidak stabil. Tapi keadaan kembali terkendali ketika kami melewati lubuk. Kata pawang rakit, Mirul. Daerah itu adalah tempat terdalam dan angker. Kita semua jadi diam tanpa bicara. Bahkan tidak ada yang berani mendayung. Laju rakit melambat. Suasana jadi hening mencekam. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara ceburan air. Ternyata seekor biawak baru saja menceburkan diri ke dalam sungai karena melihat kami.

Lubuk itu pun kami lewati dengan harap-harap cemas. Kami sudah memasuki kampung lain dan sebuah titian dari batang pohon kelapa melintang di depan kami. Sang pawang rakit memutuskan untuk berlabuh di sana. Dia memegangi sebuah parang. Setengah meter dari titian tiba-tiba Mirul menebas tali pengikat rakit hingga putus sehingga pelepah-pelepah sagu beserta penumpang yang lainnya tercerai-berai dan kami gelagapan dan panic mencari pijakan lalu melompat ke titian.

Haha…Dua orang kawan kita tidak berhasil melompat ke titian dan tercebur ke sungai. Kita semua memaki-maki Mirul yang sudah melarikan diri menerobos semak-semak keladi.

Masa-masa kecil memang tidak pernah bisa terlupakan. Banyak sekali pengalaman-pengalaman seru yang menjadi kenangan indah di masa-masa sekarang ini. Ketika kita tidak mungkin lagi berlaku seperti waktu itu. Setiap kali mengingatnya, pecahlah tawa atau tersungging saja senyum dari bibir atau suasana hati menjadi haru.

%d blogger menyukai ini: