Traidisi Uroe Meugang di Aceh Barat

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.

Uroe Meugang

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.

Pulau Balai

Postingan ini di posting pada tanggal 16 April 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Sekitar jam 1 siang aku tiba di dermaga boat di Pulau Balai. Aku kebingungan harus kemana, di depanku ada 3 persimpangan yang jalannya hanya terbentuk dari koral-koral. Tidak ada becak maupun angkutan lainnya yang lazim aku temukan seperti di daerah lain.

Beberapa meter dari dermaga aku bertanya ke salah seorang warga disitu arah mana untuk ke rumah Pak Nukman, teman Ayahku. Lalu aku ditunjukkan ke arah jalan yang paling cepat ke rumah Pak Nukman.

Ternyata jalan ke rumah Pak Nukman adalah jalan pintas yang menghubungkan kedua sisi pulau. Kurang dari 5 menit aku sudah sampai di sisi pulau berikutnya. Akhirnya aku menemukan rumah yang kutuju. Tepat di depan pintu gerbang Pelabuhan Feri. Tiga orang paruh baya sedang duduk ngopi di teras rumah yang berkanopi. Aku memberi salam dan beruntung sekali aku memang sedang berhadapan dengan beliau.

Setelah mengobrol sejenak sambil melepas penat, beliau menjamuku makan siang dan mengantarku ke rumahnya. Langsung tidur.

Sore Jumat | 21

Aku ngobrol dengan Pak Nukman membicarakan tentang perkembangan pariwisata di Pulau Banyak. Ada beberapa pulau tersebar yang sebelum konflik yang sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan asing. Seperti Pulau Palambak, Pulau Tailani dan Pulau Bengkaru. Namun semenjak konflik, krisis moneter dan kemudian bencana tsunami membuat parawisata di Pulau Banyak betul-betul drop. Benar-benar terhenti total.

Tapi keindahan panorama pantai dan taman bawah laut di di kepulauan ini masih tetap terjaga dengan baik. Aku sempat mengunjungi Pulau Palambak keesokkan harinya dan melihat langsung keindahan pulaunya.. Gila!!! Rasanya aku tidak mau kembali lagi ke Pulau Balai. Terlena akan panorama taman lautnya, pantai pasir putih, dan semua yang ada di pulau itu membuat betah!

Ah, bolehlah sekali-kali aku berandai. Yah..Jika seandainya aku punya dan dapat membawa uang banyak (oh kapankah?) ke Pulau Banyak maka aku akan liburan sepuasnya selama berminggu-minggu. Kira-kira kalo kulit sudah hitam baru deh balik ke Meulaboh. Huhu..

Pengennya sih..

Tapi semua pengalaman yang aku dapatkan selama di Pulau Banyak adalah hal yang sangat berharga. Banyak hal-hal baru yang aku temukan mulai dari keberangkatan dari Meulaboh. Ketika aku harus berurusan dengan sopir mobil yang menurunkanku di Subulussalam dan menghadapi sopir mobil yang akan membawaku ke Singkil. Sampai seterusnya hingga aku sampai dengan selamat di Pulau Balai.

Perjalanan pertamaku

Postingan ini di posting pada tanggal 23 Maret 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Terbangun jam 5.35 di kamar yang dipinjamkan Pak Nukman yang menjadi tempat tidur ku selama 3 malam. Seperti biasa, aku mencek semua barang-barangku seperti kamera digital, handphone, ransel dan botol air minum. Alhamdulillah, masih lengkap. Batere hp tinggal 3 bar lagi karena semalaman hidup sambil memutar lagu-lagu ninabobo. Aku mencharge hp dan mengambil buku catatan kecil yang berisikan semua catatan perjalananku. Aku membaca kembali catatan singkat dari hasil percakapan dengan beberapa tokoh desa Pulau Teluk Nibung kemarin sore.

Aku baru ingat kalau koneksi gprs hanya aktif di pagi hari. Aku menghidupkan hp dan membuka browser Opera mini. Connected! Log in ke blog wordpress dan membuka komentar yang masuk. Penasaran sama satu komentar yg kemarin aku lihat tapi belum sempat cek siapa dia. Wah, situsnya berbahasa Arab. Ga ngerti.

Lalu aku membuat sebuah blog lagi dengan judul ‘langkahkakiku’ yang nantinya berisikan tentang perjalanan-perjalananku.

Sudah jam 8.04 di Pulau Banyak-Aceh Singkil. Aku harus mandi dan sarapan. Perutku sudah lapar sekali. Semoga diluar tidak dingin karena semalam dan subuh tadi hujan. Postingan selanjutnya akan segera menyusul setelah aku kembali ke Meulaboh Rabu atau Kamis depan.

Belok kanan, Singkil!

Tulisan ini di posting pada  tanggal 23 Maret 2008 di langkahkakiku.wordpress.com

Perasaan ingin melompat-lompat kesenangan. Waktu yang dinantipun tiba. Aku akan backpacking sendirian ke Pulau Banyak – Aceh Singkil.

Selasa (18/03/2008 ) aku memesan tiket ke Singkil seharga Rp. 130.000 sebelum keberangkatanku ke Banda Aceh.

Di Banda Aceh, aku berusaha secepat mungkin menyelesaikan semua urusan di kantor wilayah. Untungnya semua pegawai sedang sibuk mempersiapkan acara Pisah Sambut GM baru. Jadi aku tidak menerima pertanyaan-pertanyaan tentang keterlambatan laporan yang aku bawa. :d

2.30 WIB

Aku pulang ke rumah setelah jalan-jalan dan belanja beberapa kebutuhan untuk backpacking lainnya. Lalu aku menelepon loket untuk memesan tiket kembali ke Meulaboh malam itu juga. Aku dijembut jam enam sore di rumah Pak Azis yang sudah kosong. Beliau liburan ke Medan dengan keluarga.

2.30 dini hari

Tiba di Meulaboh. Jam 7 aku terbangun, sarapan terus packing.

8.35 tancap gas ke mini market membeli batere headlight, chunky bar (penting!;P), shampoo, lotion anti nyamuk dan wax.

10.05 WIB

Aku dan 5 penumpang lainnya berangkat ke Singkil menaiki L300. Cuaca cerah berawan, agak panas di dalam mobil, sepanjang jalan aku harus membuka jendela agar tidak kepanasan.

Anyway, aku sangat menikmati perjalanan ini. Perjalanan tanpa antimo pertama yang paling menyenangkan. Ajaib sekali aku bisa melewati Gunung Tran tanpa pusing atau mual. Bahkan sampai Subulussalam dan Rimo juga aku merasa sangat fit.

Aku satu-satunya penumpang ke Singkil. Jadi aku harus naik mobil lain. Itupun hanya sampai Rimo. Jadi aku harus menginap di Rimo malam itu untuk menghemat biaya.

Tarif penginapan tempat aku menginap malam itu hanya 10.000 rupiah semalam. Sopir mobil itu bersedia mengantarku langsung ke Singkil dengan biaya 100.000.

Tarif Subulussalam – Rimo – Singkil = Rp, 20.000,-

Aku sangat berterima kasih kepada Dika yang sudah membantuku dengan informasi tarif angkutannya. ;)

Di Rimo, di sekitar penginapan Abdi itu aku tidak menemukan warung nasi. Hanya ada warung mie dan bakso. Akhirnya aku makan malam dengan sate kacang. Seporsinya hanya ada 5 tusuk sate ayam dengan kuah kacang yang pelit sekali. Nyaris tak berkacang. Tapi karena lapar akhirnya habis juga. Seporsinya bayar 6 ribu rupiah.

Jumat. 21/03/08 | 5.45 wib

Aku bangun lebih awal sebelum alarm dari hp ku berbunyi pada jam 6. Perutku langsung keroncongan dan mataku terasa sangat perih. Hah..aku harus segera mandi sebelum semua penghuni penginapan ini bangun dan berebutan ke kamar mandi.

Brrr…dingin dan sangat segar..

Pak SBH, nama sopir angkutan yang kemarin mengantarku dari Subulussalam menepati janjinya menjemputku jam 7 pagi. Beliau juga mengantarku ke warung untuk sarapan. Menu pagi itu nasi lemak dan gulai ayam. Hm..Enak sekalipun harus bayar 8 ribu. ;P

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang Subulussalam. Sebagian masyarakat Subulussalam dan Rimo menggunakan bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa Singkil. Ada yang menyebutnya bahasa Skaro dan kebanyakan menyebutnya bahasa kampung. Kondisi jalan juga lumayan bagus meskipun ada beberapa ruas jalan yang rusak.

8.01 wib SINGKIL

Aku sampai di Pelabuhan Boat yang akan membawaku nantinya ke Pulau Balai. Thanks to Pak SBH. )

8.48 wib Pelabuhan Boat

Boat ke Pulau Banyak
Boat ke Pulau Banyak

Kami berangkat dengan sebuah boat yang memuat sekitar 10 ton barang. Peti es dan bahan bangunan. Aku agak sedikit khawatir karena melihat begitu banyaknya barang yang dibawa. Ada 3 penumpang dan 3 awak boat. Kami mengarungi (cie..) sungai singkil yang besar sekali menuju laut lepas dan melaju ke Pulau Banyak.

Malu Bertanya, Jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

Malu bertanya ya jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

Benteng Inong Balee

Rencana awal adalah ingin mengunjungi lokasi Ie Suum di Desa Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya-Aceh Besar. Tapi saya malah menyasar hingga ke Lamreh sana. Puluhan kilometer terlewati dari lokasi sumber air panas tersebut.

Bagaikan terpesona dengan view yang sangat menarik saya terus saja melewati Pelabuhan Malahayati. Menaiki tanjakan tinggi yang di sisi kiri dipadati dengan rumah-rumah relokasi penduduk korban tsunami. Pada sebuah papan di sebelah kiri di depan saya tertulis Benteng Inong Balee. Refleks tangan saya berbelok ke kiri dan mengikuti jalan setapak berbatu. Saya berhenti di bawah sebuah pohon rindang yang berduri-duri.

Dari atas bukit itu saya dapat melihat pelabuhan di bawah sana. Pabrik Semen Padang dan Pertamina. Rumah-rumah relokasi berjejer putih dan merah. Perahu-perahu nelayan, bagan dan kapal kargo bertebaran di perairan Selat Malaka. Terlihat sangat indah jika dipandang dari atas sini.

Inong Balee
Inong Balee

Ada banyak pohon Boh Jamblang di sana. Kebetulan sedang berbuah dan saya memanjat sebuah pohon dan memetik beberapa dan memakannya di atas pohon sambil foto-foto. Seru sekali. Lucu juga. Jauh-jauh dari Meulaboh malah nyasar ke sini dan nangkring di pohon sambil makan Jambee Kleng! Haha…

Teringat masa kecil dulu ketika saya dan abang dan seorang kawan kecil, Ipan. Kami bertiga mendaki gunung Piatu di Labuhan Haji – Aceh Selatan untuk memetik Boh Jamblang ini. Kami menyebutnya Jambu Kaliang. Menguak semak ilalang setinggi dua meter, bergelayutan di akar-akar nafas dari pohon-pohon raksasa. Auoooo…Tarsan cilik! Kami masing-masing membawa pulang satu kantong plastik penuh Boh Jamblang. Sebelas tahun lebih berlalu dan kini saya dapat merasakan kembali masa-masa indah dulu. Hahhh…

Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang
Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang

Setelah bernostalgia sambil menikmati buah jambu kaliang ini, saya berjalan lagi menuruni bukit mengikuti jalan setapak berbatu yang bertebaran kotoran sapi di mana-mana. Sekitar satu kilometer dari tempat saya berhenti tadi saya memasuki situs bersejarah ini. Benteng Inong Balee. Ahhh, akhirnya saya sampai juga.

Situs Bersejarah
Situs Bersejarah
Prasasti Benteng
Prasasti Benteng

Setelah membaca prasasti di atas, imajinasi saya terus berputar membayangkan suasana peperangan para laskar Aceh yang sedang membela negeri. Di prasasti itu juga tertulisa bahwa benteng ini juga dijadikan sebagai asrama para laskar Inong Balee. Itu berarti mereka juga ikut berperang kan? Jadi ternyata jaman dulu memang sudah ada laskar Inong Balee. Saya pikir cuma ada pada jaman GAM dulu. Wah, luar biasa. Saya berdiri di sana menyaksikan sisa-sisa perjuangan mereka. Masih tetap kokoh berdiri. Semoga rakyat Aceh dan Aceh tetap mampu berdiri kokoh seperti benteng-benteng itu.

Benteng Inong Balee
Benteng Inong Balee
Tugu
Tugu

Meulaboh – Lamno – Banda Aceh

Hahh…Akhirnya kembali online setelah (berhasil) menggelandang selama seharian di Banda Aceh. Haha…

Masih ingat sampai sekarang pas mau berangkat. Ayah menawarkan saya mantel hujan untuk dibawa selama perjalanan. Saya kira tidak akan hujan karena jika lewat Lamno pasti bisa lebih cepat sampai ke Banda Aceh dan sepertinya tidak akan hujan.

Tapi ternyata…sampai di Patek mulai gerimis! Ketika menaiki rakit, hujan mulai turun walaupun pelan tapi pasti. Pasti basah semuanya. Saya terus saja jalan tanpa mempedulikan hujan. Saya tidak tahu sudah sampai di daerah mana pada waktu hujan lebat turun. Benar-benar lebat sekali! Saya memutuskan berhenti ketika melihat sebuah warung kosong. Di depannya ada beberapa pekerja yang juga ikut berteduh. Mereka menggunakan rompi orange. Mereka pasti yang sedang mengerjakan proyek pembuatan jalan itu.

Mungkin saat itu sekitar pukul dua belas. Jaket dan backpack andalan saya yang saya kira tidak akan tembus air ternyata berdusta! Untung saja saya membawa sebuah kantong plastik kresek. Jadi dokumen-dokumen yang saya bawa serta di dalam ransel bisa segera saya selamatkan. Tapi saya terlambat menyelamatkan buku LK sehingga covernya luntur terkena air hujan. Jam satu hujan mulai agak reda. Saya segera bersiap dan melaju kencang lagi. Jalanan beraspal jadi saya bisa bergerak lebih cepat.

Beberapa kilometer kemudian, hujan kembali melebat. Kali ini bersamaan dengan angin laut yang membuat saya seperti sedang meliuk-liuk di jalanan.

Waduh..Saya lupa lagi. Mana duluan saya melalui Lamno atau Lhok Kruet? Sebentar saya buka google dan mencarinya di peta..Heheh…lupaaa…Payah nih Citra…:p

Well, saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya kali ini sambil saya mencari tahu mana yang lebih dulu dilalui. Lhok Kruet atau Lamno duluan. Jadi ketika sedang menunggu rakit di…di mana lagi ya..saya jadi lupa lagi nama daerahnya. Anyway, saya naik rakit dengan seorang abang-abang yang juga akan ke Banda Aceh dari Calang. Saya nanya kalau mau naik rakit ke Lamno itu lewat mana. Soalnya saya tidak pernah naik rakit jika pulang ke Meulaboh. Selalu belok kiri melewati jalanan yang sedang dikeraskan itu. Padahal saya bisa menghemat waktu jika naik rakit kalau saja lurus terus memasuki Keudee Lamno itu.

Jadi saya bertanya ke si Abang Calang tadi jalan mana kalau naik rakit ke Lamno. Dia jadi bingung harus menjelaskan lewat mana. Jadi saya mengikutinya dari belakang. Tapi dasar si Abang Calang laju motornya terlalu cepat! Ketika hujan, dia berhenti di sebuah warung. Tapi saya memutuskan untuk lanjut saja. Saya harus mencari tahu sendiri lokasi penyeberangan itu.

Akhirnya ketemu juga. Setelah menempuh jalan yang penuh kerikil dan batu-batu dan becek. Saya akhirnya menemukan jalan ke arah penyeberangan dengan rakit itu. Ternyata ada papan penunjuk arahnya. Alhamdulillah. Saya bisa menghemat waktu hingga setengah jam jika lewat rakit ke Keudee Lamno tersebut.

Hujan masih saja lebat. Tapi dokumen-dokumen saya sudah aman di dalam ransel yang sudah basah itu. Aman terbungkus plastik. Upss… Saya hampir jatuh ketika melewati dermaga setelah turun dari rakit. Hahh.. Saya tidak boleh sampai jatuh.

Memasuki Lhong saya surprise sekali dengan apa yang terjadi disana. Banjir! Tapi banjir ini tidak berbahaya. Masyarakat tidak ada yang mengungsi. Tapi saya harus ekstra berhati-hati karena banjir juga menutupi beberapa ruas jalan raya. Batu-batu kerikil bertebaran dan ikut hanyut bersama air yang mengalir deras di atas aspal. Beberapa lokasi juga ada yang longsor.

Masuk ke Lhoknga hujan mulai berhenti. Udara hangat kembali menerpa wajah dan menggelitik perut saya yang lapar. Saya sama sekali tak ambil pusing dengan pakaian yang sudah basah di dalam ransel sana. Sampai Banda Aceh, saya langsung mencari hotel termurah (:P) langganan saya. Tapi ternyata sudah penuh. Terpaksa, saya harus menginap di hotel termurah (:p) kedua. Di lantai empat, bro! Saya harus menggendong ransel yang sudah semakin berat karena air ke lantai empat. Oh, sungguh suatu penyiksaan lahir dan batin!. Huhu…

Tapi saya sudah tenang karena ada tempat menginap. Awalnya saya mau menginap di rumah adiknya kawan saya di asrama mahasiswa. Tapi dengan keadaan saya penuh lumpur dan serba basah pasti akan sangat merepotkan.

Cerita berikutnya. Kepanikan saya ketika baju yang tak juga kunjung kering! Baca di postingan selanjutnya ya…:)

Backpacker

Backpacker. Orang yang memanggul ransel untuk traveling baik untuk treking dan kemping ke gunung atau juga traveling untuk mengunjungi kota-kota. Biasanya yang berbackpacking adalah orang-orang yang tidak mau ribet. Cukup dengan satu ransel saja tanpa harus memberatkan diri dengan membawa koper-koper dan banyak perlengkapan seperti turis.

Saya sendiri juga sudah mencoba bertraveling ala Backpacker ini. Awalnya terinspirasi dari membaca novel yang berjudul Traveler’s Tale membuat saya nekad bepergian sendiri dengan ransel di punggung. Luar biasa!!! Kesan pertama begitu menggoda. Amat sangat menyenangkan.

Tentu saja semua harus dipersiapkan sejak satu bulan sebelum keberangkatan. Begitu yang saya pelajari. Sekalipun rencana traveling masih dalam provinsi tapi transportasi dan segala biaya-biaya harus diperhitungkan. Juga informasi tentang destinasi yang akan kita kunjungi.

Waktu itu saya mengunjungi Pulau Banyak di kabupaten Aceh Singkil. Saya mencari segala informasi yang berkaitan dengan Pulau itu. Tentu saja objek wisata masuk urutan paling atas. Transportasi menjadi kendala utama bagi saya selama berada di pulau itu. Karena menurut informasi yang saya dapatkan biaya transp
ortasi dari satu pulau ke pulau yang lain sangat mahal.

Saya memutuskan bepergian ala backpacker begitu selain praktis juga karena untuk menghemat biaya. Secara saya hanya karyawan kontrak yang berpenghasilan sebatas UMR saja makanya semuanya harus sesuai dengan budget yang tersedia. Terkesan maksa sih tapi ya saya harus coba ini. Dan syukurnya sukses.

Backpacking sungguh dan sangat menyenangkan! Saya menyarankan ini bagi anda yang berjiwa petualang dan ingin merasakan petualangan seorang diri atau bersama teman-teman dan menjalani kehidupan yang berbeda dari yang biasa anda jalani. Saya mendapatkan banyak sekali pencerahan dan banyak hal baru yang saya temui dan saya pelajari. Ini berbeda dengan ‘jalan-jalan’ yang mungkin sering anda lalui. Cobalah sesuatu yang berbeda. Memasuki suatu daerah asing yang tak pernah anda datangi dan mencoba hidup seperti kaum hippies. Tinggal di losmen murah ataupun di rumah penduduk. Makan dan minum di warung-warung pinggir jalan, bergaul dengan penduduk lokal dan belajar tentang kultur mereka.

Hahhhh…Saya jadi ingat kembali ketika saya di Pulau Banyak dulu. Ini sangat berkesan bagi saya. Mengobrol dengan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat di sana sungguh pengalaman yang luar biasa. Kehujanan ketika perjalanan pulang dari sebuah pulau lalu berhenti singgah di sebuah kerambah ikan kerapu. Melihat nelayan memberi makan anak-anak ikan kerapu dan tersenyum penuh arti melihat anak-anak yang berenang di laut yang biru. Lepas. Bebas. Juga ketika berjalan kaki di suatu sore mengelilingi pulau. Menyaksikan ibu-ibu yang pulang dari ladang dan tertawa lepas bersama dalam canda. Bertemu dengan teman-teman kecil saya yang luar biasa. Sungguh hebat anak-anak itu.

Sungguh berharga. Saya selalu ingin kembali ke sana lagi. Dan keinginan itu bertambah kuat saat menulis ini. Ya Tuhan… Hati saya menggebu…

Teman-teman kecil saya yang sudah bersedia menjadi penunjuk jalan.

Berdiri di sana Bang Jhoni dengan boatnya yang mengantarkan saya ke Pulau Palambak. Salah satu pulau yang paling dikenal oleh para turis manca negara. Sila buktikan di Google. Saat ini sudah ada dua bungalow yang berdiri di sana. Saya berharap para turis akan segera datang kesana.

Pembangungan sebuah bungalow di Pulau Palambak. Dari keterangan pemiliknya mengatakan bahwa bungalownya akan segera buka. Mungkin saat ini sudah bisa ditinggali.

Mau ?