Kota Naga part I

Kota Naga berarti Tapak Tuan. Kota ini merupakan ibu kota kabupaten Aceh Selatan. Selain terkenal dengan legenda Naga dan Putri Naga, kota ini juga terkenal dengan objek wisata yang menawan seperti Air Terjun Tingkat 7, Tapak Naga, Pintu Angin, Kuburan Syech Tuan Tapa yang semuanya ini berhubungan dengan legenda Naga tersebut. Juga terkenal dengan sirup Pala dan Kue Pala.

Berkunjung ke Tapak Tuan tentu saja tidak lengkap jika tidak mengunjungi daerah-daerah wisata tersebut. Kue dan Sirup Pala dapat anda bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan saya kali ini lebih cepat dari rencana saya semula yaitu tanggal 25 Juli nanti. Ternyata ujian final diadakan hari Sabtu pagi jam 9 dan selesai jam 10. Sampai di rumah saya bingung sendiri karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya langsung ingat Tapak Tuan dan mulai ‘gabuk’ mengisi ransel baju 2 lembar, celana pendek, celana dalam, kamera, sabun, shampo, facial wash, sikat gigi, odol, pisau swiss, charger hp, kabel data hp, kain sarung, dan permen. Adik saya, Titi minta ikut. Karena dia sedang liburan kuliah dan ingin sekali ke Tingkat 7.

Kami berangkat ke Tapak Tuan jam 11.45 WIB dan tanpa dilengkapi Kartu Keluarga yang nantinya dapat saya tunjukkan ke receptionis losmen bahwa saya dan Titi adalah saudara kandung dan diperbolehkan sekamar saja. Tapi saya tidak dapat menemukan KK di lemari Mamak dan memutuskan untuk langsung berangkat.
Cuaca pagi Sabtu itu berawan. Langit tak kelihatan biru hanya putih dan abu-abu. Jalanan aspal hitam mulus membuat perjalanan kami dengan Supra X 125 R merah jadi nyaman. Saya tanpa ragu memacu kecepatan hingga 100km/jam di beberapa kilometer yang kondisi jalannya sangat bagus dan hitam dan mulus tanpa lubang. Arena balap favorit saya adalah jalan yang melintasi Alue Bilie sampai Seumayam yang disebut ‘Jalan Tupat’ yang berarti jalan lurus. Memang sangat lurus tanpa tikungan.

Singgah di Blang Pidie untuk makan siang. Menikmati Mie Kocok Blang Pidie yang terkenal itu lalu melanjutkan perjalanan lagi dan singgah sebentar di Labuhan Haji. Istirahat beberapa menit di rumah kakak saya.

Lalu kami kembali bergerak menuju Tapak Tuan. Kami melewati Desa Pawoh yang berbatasan dengan Desa Apha. Kedua desa ini dibatasi oleh sebatang sungai yang dihubungi sebuah jembatan. Sungai itu disebut warga kampung situ dengan ‘batang aie’. Saya teringat waktu saya kecil-kecil dulu, setiap kali ada teman yang mengajak mandi ke sungai pasti dengan kalimat yang sama yaitu “ka aie moh?” lalu jawaban bernada semangat “moh, moh!” Artinya, “ke air yok?’ dan jawabannya “yok, ayok!”

Melintasi jembatan, saya melewati kantor Dinas PK yang disampingnya terdapat sebuah bangunan terbuat dari papan yang dulunya adalah TK. Tempat saya berteriak-teriak dan menangis. Hahhh. Daerah ini sudah sangat saya kenali. Tidak banyak perubahan. Gedung-gedung lama semenjak saya tinggalkan sekitar 9 tahun lalu masih tetap sama. Namun ada banyak bangunan yang bertambah. Saya memelankan mootor ketika melewati kompleks SDN 6 Labuhan Haji. Di kompleks ini saya menghabiskan masa anak-anak saya dan melewati 6 tahun di SD yang saya lalui dengan penuh petualangan, anjing gila, belut, ikan krup-krup, tarik pukat, naik rakit, mencuri mangga-kelapa-jambu-tebu dan ‘kejahatan-kejahatan’ lainnya. Huahahaha…Tentang ini akan saya tulis di postingan khusus.

Perjalanan saya teruskan dengan sedikit mengebut. 70km/jam. Berhubung beberapa ruas jalan sedang di perbaiki maka kecepatan harus diperlambat lagi.Kiri kanan hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi dengan sulur yang menjulur-julur.

Jalanan mendaki dan menurun dan menikung tajam. Beberapa ruas jalan berlubang dan hanya disemen saja. Lalu kami melewati jalan yang hanya tanah keras berkerikil saja. Sangat mengganggu karena tak bisa menikmati pemandangan di kiri kanan jalan yang hijau dengan persawahan.

Titi masih duduk dengan manis di belakang dan entah apa yang sedang dilihatnya. Leherku tak bisa kuputar ke belakang melihat ekspresinya melihat semua keindahan ini. Lebih dari sepuluh tahun sudah ketika terakhir kali dia melewati jalan ini. Keinginan yang menggebu membuatnya mampu duduk selama sejam lebih di boncengan Supra X 125 R merah ku ini.

Pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kota Tapak Tuan mulai terlihat.

Sama Dua.

Aku lupa mana yang duluan kami lalui. Sama Dua dulu atau gerbang selamat datang itu dulu ya?
Tapi tak apa. Kutuliskan saja semua. Membaca nama daerah ini aku mengingat air terjun yang dikenal dengan nama ‘Air Dingin’. Lokasi air terjun ini dapat dilihat dari jalan utama. Hanya beberapa meter saja dari jalan dan ada beberapa warung makanan di sekitar situ.

Tapak Tuan sudah di depan mata. Aku membelokkan motor ke kiri memasuki area penginapan di kota ini. Aku mencari losmen yang direkomendasikan kakakku. Kami menemukan losmennya tepat di depan pelabuhan cargo.Aku memesan satu kamar untuk kami berdua. Pemilik losmen mengizinkan kami menginap satu kamar. Syukurlah kami memiliki wajah yang masih ada mirip-miripnya. :P
Sewa kamar permalam empat puluh ribu rupiah di Losmen Bukit Barisan.

Malam pertama di Tapak Tuan. Makanan mahal disini. Aku hanya menyantap bakso dan adikku sate ayam yang dijual di kawasan pelabuhan itu.

Malam. Jam 9. Kami tidur dan bersiap untuk petualangan besok pagi mendaki tingkatan demi tingkatan air terjun yang kalau dihitung-hitung berjumlah lebih dari tujuh itu.
Hoaahm…

zzz…zzzz…

%d blogger menyukai ini: