Kota Naga part II

Minggu | 20 Juli 2008

Dering hp membangunkan tidur di pagi hari yang dingin dan menusuk kulit. Seekor nyamuk mendengungkan sayapnya di telinga. Mata masih menutup ratap dan hati mulai kesal dengan dering sms yang terus berdering tanpa jeda. 3 messages.

Dingin. Tak ada selimut. Ada kain sarung di dalam ransel. Tapi rasa malas membuat saya terus memeluk lutut. Hahhhh…

Setengah jam, sejam? terlewatkan dengan terus meringkuk di atas kasur berseprai biru yang berpasir. Haha, saya membawa pasir dari Meulaboh ke Tapak Tuan yang tersimpan di kantong celana yang saya pakai. Tak sengaja sebenarnya. Karena celana ini pernah saya pakai untuk joging di pantai Suak Ribe dan menghasilkan postingan Pasir Berbisik.

Ah, Kolam!! Saya baru ingat kalau harus mengunjungi lokasi ini hari ini. Beberapa mulut mengatakan tempat ini angker. Sudah ada yang meninggal tenggelam. Tapi saya harus kesana. Sekalian mandi pagi. Kami menemukan jalannya. Gang Michiyo kata resepsionis losmen. Sebelum jembatan kata penjaga toko. Belok kiri dan jalanan terus berbelok-belok dan memasuki gang-gang kecil lagi.
Ada emmpat kolam yang di dua diantaranya diperuntukkan untuk dewasa dan dua lagi untuk anak-anak.

Di kolam khusus dewasa selain saya ada 4 pria paruh baya yang sedang ngobrol di samping pancuran. Dinginnya air kolam membuat saya terus berenang untuk membiasakan kulit yang jarang kena air sedingin ini.
Air kolam berwarna hijau. Di dalamnya ratusan siput kecil bertapa di dinding kolam. Riak air tak mengganggunya.

Begitu bebas dan begitu lepas dan betapa leganya hati dengan perasaan ini. Bagaikan terbasuh dari segala beban yang bersarang di pundak dan kepala. Juga daki-daki masalah yang melekat erat selama ini di kaki, tangan dan punggungku. Semua lepas dan melebur ke dalam hijaunya air.

Puas berenang kami memutuskan ke Tingkat Tujuh. Belum ada seorang pengunjungpun disana. Hanya seorang bocah laki-laki yang sedang mandi di samping sebuah batu besar. Saya mengeluarkan kamera dan memotret beberapa objek yang menurut saya menarik. Petani nilam, bocah yang sedang mandi, buah Ara dan diri saya sendiri tentunya. Narsis.

Tak disangka saya bertemu seorang teman wanita dengan pakaian ungunya. Disampingnya juga seorang gadis berpakaian serba ungu terlihat terpana dengan kemunculan saya. Heran. Lalu kakak temannya saya itu juga tiba-tiba muncul dari belakang bersama seorang expat yang kemudian saya ketahui bernama Juan dari Spanyol.

Kami mulai berjalan menelusuri sungai yang berbatu. Menaiki tangga yang licin. Kiri kanan tumbuhan cabe dan nilam tumbuh subur. Semakin tinggi ke atas bukit, pohon coklat menghalangi pandangan ke atas maupun ke bawah bukit. Lalu ilalang dan semak belukar yang hampir menutupi jalan setapak berlumut menuju tingkat pertama. Debit air deras kali ini.

Teman saya itu Dewi, kakaknya Yuli dan saudaranya Ayu dan expat itu Juan dan adik saya Titi. Kami semua menyeberang melewati alur air terjun yang deras. Kami mendaki bebatuan keras naik ke atas ke tingkat dua, tiga, empat dan lima dan enam. Tujuh menanti.

Lereng bukit terjal berbatu dan berbahaya untuk dilewati. Kali ini hanya saya, Juan, Dewi dan Titi yang bergerak naik. Yuli dan Ayu menunggu di bawah saja. Perjalanan semakin sulit. Pohon-pohon mati berukuran raksasa menghalangi jalan. Tebing licin yang berlumut nyaris mencelakakan Dewi, beberapa kali Titi dan saya dan Dewi terpeleset di atasnya. Juan beberapa kali membuka sepatu ketika tidak ada jalan kering yang bisa dilewati.

Tingkat Tujuh sudah kelihatan di balik rimbunnya ranting pepohonan yang menjorok ke sungai.

Akhirnya kami dapat bernafas dengan normal sekarang. Tingkat Tujuh di depan mata sekarang. Dua undakan batu tempat air-air putih itu terjun menciptakan kolam hijau dan biru di bawahnya. Juan membuka kaos dan berenang katak menyusul Dewi yang sudah berada disana sebelumnya.

Saya menarik nafas panjang. Udara segar memenuhi paru-paru dan kesejukkannya menembus jantung. Saya merasa ringan. Tubuh seolah melayang di antara butir-butir air yang mengasap.
Lagi, saya berenang dan Titi juga ikut bersama kami. Segala kesenangan hidup seolah hanya ada saat itu saja dan tak ada yang perlu kau khawatirkan akan hari esok. Bahkan jeans mahal ini pun tak menolak untuk basah kuyup.

Perjalanan menuruni alur sungai sama sulitnya dan lebih berbahaya. Dan lebih memacu adrenalin! Kami mengira Juan menyasar karena mengambil jalan setapak yang berbeda dan dia melambai dengan santai dari seberang sungai di samping sebuah pondok. Saya berpikir dia akan kembali menyusul kami melewati jalan semula. Tapi dia juga tidak kelihatan. Lalu aku menyusulnya menaiki kembali tebing pertama dan berlari di sepanjang jalan setapak. Saya bertanya dengan seorang penjaga kebun apakah melihat orang barat melewati jalan ini tapi dia tidak melihat sesiapapun yang lewat. Lalu seorang bapak tua mengatakan “ado di lambah. Bajambang kan?”
Saya berlari lagi menuruni jalan bukit yang becek. Sebatang kayu di tangan kiri saya gunakan sebagai tongkat untuk menjaga keseimbangan.

Ternyata Juan sedang mengobrol dengan seorang pemuda di depan kios.

“Tuhan masih sayang sama kita” kata pemuda tadi.
“Tuhan what? what?” tanya Juan dengan ekspresi tidak mengerti.
“God still loves us” jawabku.

Saya menarik nafas lega karena menemukan Juan.

Sebelum berpisah saya mengucapkan terima kasih ke Dewi dan Juan untuk petualangan yang luar biasa ini. Takkan terlupa dan membuat perasaan di hati bergejolak menahan diri untuk menunggu kesempatan kembali datang bulan depan.

Kota Naga part I

Kota Naga berarti Tapak Tuan. Kota ini merupakan ibu kota kabupaten Aceh Selatan. Selain terkenal dengan legenda Naga dan Putri Naga, kota ini juga terkenal dengan objek wisata yang menawan seperti Air Terjun Tingkat 7, Tapak Naga, Pintu Angin, Kuburan Syech Tuan Tapa yang semuanya ini berhubungan dengan legenda Naga tersebut. Juga terkenal dengan sirup Pala dan Kue Pala.

Berkunjung ke Tapak Tuan tentu saja tidak lengkap jika tidak mengunjungi daerah-daerah wisata tersebut. Kue dan Sirup Pala dapat anda bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan saya kali ini lebih cepat dari rencana saya semula yaitu tanggal 25 Juli nanti. Ternyata ujian final diadakan hari Sabtu pagi jam 9 dan selesai jam 10. Sampai di rumah saya bingung sendiri karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya langsung ingat Tapak Tuan dan mulai ‘gabuk’ mengisi ransel baju 2 lembar, celana pendek, celana dalam, kamera, sabun, shampo, facial wash, sikat gigi, odol, pisau swiss, charger hp, kabel data hp, kain sarung, dan permen. Adik saya, Titi minta ikut. Karena dia sedang liburan kuliah dan ingin sekali ke Tingkat 7.

Kami berangkat ke Tapak Tuan jam 11.45 WIB dan tanpa dilengkapi Kartu Keluarga yang nantinya dapat saya tunjukkan ke receptionis losmen bahwa saya dan Titi adalah saudara kandung dan diperbolehkan sekamar saja. Tapi saya tidak dapat menemukan KK di lemari Mamak dan memutuskan untuk langsung berangkat.
Cuaca pagi Sabtu itu berawan. Langit tak kelihatan biru hanya putih dan abu-abu. Jalanan aspal hitam mulus membuat perjalanan kami dengan Supra X 125 R merah jadi nyaman. Saya tanpa ragu memacu kecepatan hingga 100km/jam di beberapa kilometer yang kondisi jalannya sangat bagus dan hitam dan mulus tanpa lubang. Arena balap favorit saya adalah jalan yang melintasi Alue Bilie sampai Seumayam yang disebut ‘Jalan Tupat’ yang berarti jalan lurus. Memang sangat lurus tanpa tikungan.

Singgah di Blang Pidie untuk makan siang. Menikmati Mie Kocok Blang Pidie yang terkenal itu lalu melanjutkan perjalanan lagi dan singgah sebentar di Labuhan Haji. Istirahat beberapa menit di rumah kakak saya.

Lalu kami kembali bergerak menuju Tapak Tuan. Kami melewati Desa Pawoh yang berbatasan dengan Desa Apha. Kedua desa ini dibatasi oleh sebatang sungai yang dihubungi sebuah jembatan. Sungai itu disebut warga kampung situ dengan ‘batang aie’. Saya teringat waktu saya kecil-kecil dulu, setiap kali ada teman yang mengajak mandi ke sungai pasti dengan kalimat yang sama yaitu “ka aie moh?” lalu jawaban bernada semangat “moh, moh!” Artinya, “ke air yok?’ dan jawabannya “yok, ayok!”

Melintasi jembatan, saya melewati kantor Dinas PK yang disampingnya terdapat sebuah bangunan terbuat dari papan yang dulunya adalah TK. Tempat saya berteriak-teriak dan menangis. Hahhh. Daerah ini sudah sangat saya kenali. Tidak banyak perubahan. Gedung-gedung lama semenjak saya tinggalkan sekitar 9 tahun lalu masih tetap sama. Namun ada banyak bangunan yang bertambah. Saya memelankan mootor ketika melewati kompleks SDN 6 Labuhan Haji. Di kompleks ini saya menghabiskan masa anak-anak saya dan melewati 6 tahun di SD yang saya lalui dengan penuh petualangan, anjing gila, belut, ikan krup-krup, tarik pukat, naik rakit, mencuri mangga-kelapa-jambu-tebu dan ‘kejahatan-kejahatan’ lainnya. Huahahaha…Tentang ini akan saya tulis di postingan khusus.

Perjalanan saya teruskan dengan sedikit mengebut. 70km/jam. Berhubung beberapa ruas jalan sedang di perbaiki maka kecepatan harus diperlambat lagi.Kiri kanan hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi dengan sulur yang menjulur-julur.

Jalanan mendaki dan menurun dan menikung tajam. Beberapa ruas jalan berlubang dan hanya disemen saja. Lalu kami melewati jalan yang hanya tanah keras berkerikil saja. Sangat mengganggu karena tak bisa menikmati pemandangan di kiri kanan jalan yang hijau dengan persawahan.

Titi masih duduk dengan manis di belakang dan entah apa yang sedang dilihatnya. Leherku tak bisa kuputar ke belakang melihat ekspresinya melihat semua keindahan ini. Lebih dari sepuluh tahun sudah ketika terakhir kali dia melewati jalan ini. Keinginan yang menggebu membuatnya mampu duduk selama sejam lebih di boncengan Supra X 125 R merah ku ini.

Pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kota Tapak Tuan mulai terlihat.

Sama Dua.

Aku lupa mana yang duluan kami lalui. Sama Dua dulu atau gerbang selamat datang itu dulu ya?
Tapi tak apa. Kutuliskan saja semua. Membaca nama daerah ini aku mengingat air terjun yang dikenal dengan nama ‘Air Dingin’. Lokasi air terjun ini dapat dilihat dari jalan utama. Hanya beberapa meter saja dari jalan dan ada beberapa warung makanan di sekitar situ.

Tapak Tuan sudah di depan mata. Aku membelokkan motor ke kiri memasuki area penginapan di kota ini. Aku mencari losmen yang direkomendasikan kakakku. Kami menemukan losmennya tepat di depan pelabuhan cargo.Aku memesan satu kamar untuk kami berdua. Pemilik losmen mengizinkan kami menginap satu kamar. Syukurlah kami memiliki wajah yang masih ada mirip-miripnya. :P
Sewa kamar permalam empat puluh ribu rupiah di Losmen Bukit Barisan.

Malam pertama di Tapak Tuan. Makanan mahal disini. Aku hanya menyantap bakso dan adikku sate ayam yang dijual di kawasan pelabuhan itu.

Malam. Jam 9. Kami tidur dan bersiap untuk petualangan besok pagi mendaki tingkatan demi tingkatan air terjun yang kalau dihitung-hitung berjumlah lebih dari tujuh itu.
Hoaahm…

zzz…zzzz…

Meulaboh u Meulaboh

Aku menarik gas kencang ketika lampu berubah hijau di pertigaan Setui menuju Lhoknga. Lurus. Lurus saja kuarahkan motorku. Lalu lampu merah lagi dan hijau lalu kuning.
Angin laut berusaha merebahkan tubuhku yang melaju kencang dengan Supra x 125 R merah.

Jalanan aspal abu-abu berganti hitam dan berganti dengan tanah keras yang berbatu. Backpack sengaja kutaruh di depan supaya punggungku tidak cedera menahan guncangan yang akan terjadi selama perjalanan Banda Aceh – Meulaboh ini.

Leupung. Mungkin. Aku penderita lupa yang bisa dikatakan parah. Terlebih lagi jika mengingat nama tempat dan orang. Jalan utama di daerah ini belum beraspal sedikitpun. Hanya tanah merah keras yang dipadati batu-batu kecil dan sengaja dibuat gundukan seperti kuburan setiap melintasi pemukiman penduduk.

Semakin lama aku terhempas di jalanan berbatu dan berlubang-lubang itu semakin cantik pula pemandangan yang aku temukan.
Juga bertambah pula pengalamanku melewati daerah-daerah baru ini. Bukan hanya itu, aku juga belajar banyak selama perjalanan ini. Ketidaknyamanan mengajarkanku untuk tidak mengeluh. Resiko membuatku berani. Kesendirian membuatku percaya diri dan optimis. Semua hal yang kulihat, kudengar dan yang kurasa mengajarkanku banyak hal-hal penting.

Lamno

Hal pertama yang terlintas ketika memasuki Lamno adalah jalan baru yang menghubungi daerah ini ke Calang. Sama seperti di Leupung. Tanah keras merah berbatu dan becek. Dari kejauhan dapat kulihat papan petunjuk berwarna hijau bertuliskan Meulaboh yang dilatarbelakangi kubah mesjid di Keudee Lamno. Lalu aku belok kiri dan semua yang berada di atas motor kembali berguncang.

Puluhan kilometer terlewati. Juga para pekerja yang sedang terus mengeraskan jalan dengan alat-alat berat. Semakin jauh dari Lamno sinar matahari semakin terik. Aku telah meninggalkan pedesaan berhawa sejuk yang rimbun akan pepohonan di belakang sana. Tak sempat ku menoleh ke belakang. Jalanan yang kutempuh belum juga mulus dan matahari terus menyemangatiku dengan cahayanya membuat punggung telapak tanganku menjadi hitam kemerahan dan mengeluarkan bintik-bintik keringat.

Masih di jalanan berbatu dan bertanah merah, aku berdampingan dengan pantai yang meniupkan udara asin yang menyegarkan kepala dan dadaku. Beberapa ekor kumbang menabrak kaca helmku dan perutnya pecah dan meninggalkan cairan coklat disana. Seekor kumbang mungil berwarna hitam dan bintik-bintik kuning hinggap atau lebih tepatnya terdampar di atas tutup ranselku. Bergetar hebat melawan angin dengan kaki-kakinya yang rapuh. Terus bergetar selama berpuluh-puluh menit kemudian bersamaku mengendarai Supra X merahku.

Kumbang hitam kuning itu pun menjadi temanku.

Bahkan sampai di Lhok Kruet pun dia menemaniku menghirup debu yang beterbangan dan udara asin yang dihembuskan angin melewati akar-akar pohon yang membusuk. Sesekali kulihat serorang tua melempar jala di sebuah kolam yang terbentuk akibat Lanjutkan membaca “Meulaboh u Meulaboh”

Road to Sinabang

Kamis, 26 Juni 2008. 7.45 WIB

Cuaca sudah mulai mendung saat kami berangkat dari Meulaboh menuju Labuhan Haji. Menaiki mobil Kijang dengan penumpang 9 orang; saya, duduk paling belakang di antara tas, koper dan ransel.

Hujan mulai turun ketika kami sampai di Tangan-Tangan dan perlahan tetes hujan mulai berhenti ketika kami memasuki Kabupaten Aceh Selatan. Sampai di Labuhan Haji sudah mulai malam dan kami singgah di sebuah warung di Kampung Pasar Lama, tepat di samping pagar pelabuhan.

Sepintas saya melihat Yusran, temanku waktu SD dulu. Saya yakin sekali itu dia. Hore…Akhirnya saya menemukan salah seorang teman lama saya dulu! Teman SD pula! Saya sudah bersiap turun dan mau menyapa Yusran, tapi belum sempat turun dari mobil saya sudah disuruh beli tiket kapal fery. Setelah membeli tiket, Yusran sudah tidak ada lagi di tempat dia berdiri tadi. Hemmh…Kecewa!

Lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan! Pulang dari beli tiket tadi, saya masuk warung. Dan nasinya habis! Waduh, kalau tidak makan malam, saya bisa kelaparan di kapal nantinya. Ya sudah, saya pesan Pop Mie saja. Tapi masih tetap lapar! L

Saya coba sms kakakku yang baru pindah ke sini dengan suaminya di Kampung Baru. “Kak, kemarilah…Lapar ni, belon makan!” begitu isi smsku. Terus dia balas kalau dia sedang makan kenduri di rumah Bang Eri, suaminya. Tapi dia akan datang kalau acara sudah selesai.

Jam 9.25 malam, kakakku sms kalau dia on the way ke pelabuhan dengan Bang Eri. 5 menit kemudian Bang Eri menjemputku di pintu gerbang pelabuhan dan kakak sudah menunggu di sebuah café yang letaknya kurang dari satu kilometer dari situ. Tidak jauh dari pelabuhan. Saya langsung pesan nasi goreng ayam dan teh setengah panas (baca : hangat ).

Sebelum pergi, saya meng-sms temanku yang sudah duluan naik ke kapal untuk mengabariku kalau pemberitahuan keberangkatan kapal sudah dibunyikan. Padahal waktunya sudah mepet sekali tuh. Saya makan dengan cepat, sudah seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga bulan!

Saking mepetnya waktu keberangkatan, sebelum pesanan nasi gorengku sampai, saya berlari-lari ke toko terdekat membeli snack dan jus kotak pseanan teman-teman di kapal. Beeeuhh…perasaan nasi masih di kerongkongan, saya sudah harus kembali ke kapal lagi.

Tanda-tanda di langit (Jah! Seperti peramal saja!) menunjukkan akan ada badai atau turun hujan di tengah laut. Tapi ternyata (Alhamdulillah) perjalananku kali ini juga tenang-tenang saja. Malah saya bisa tidur dengan nyenyak bahkan bermimpi pula sedang mandi-mandi di Pantai Ganting. Temanku bilang, subuh itu saya ngigau. Gak jelas saya ngomong apa…”au au au auuu…” begitu katanya. Apa coba ?

Jam setengah delapan pagi rombongan kami tiba dengan selamat di Sinabang. Saya juga bertemu sepupuku, Bang Yos yang bekerja di pelabuhan Sinabang. Pas lihat saya, dia langsung kaget gitu. Soalnya baru senin lalu ketemu di Meulaboh kok sekarang sudah ada di Sinabang. Saya tidak sempat mengabarinya kalau mau ke sini.

Jarak dari pelabuhan ke kantor cuma satu kilometer, sebenarnya bisa sih dengan jalan kaki karena dekat. Tapi si bos minta naik becak. Sampai di kantor, saya malah tidak ingat sama sekali dengan pantangan yang saya sebutkan di postingan sebelum ini. Sampai kami di kantor, saya langsung minum Aqua dan makan wafer Tango dan kacang garing! Beberapa menit kemudian, sarapan pun datang. Habis sarapan, saya mandi. Hahaha…Sedikitpun saya tidak ingat dengan pantangan itu. Dan syukurlah tidak terjadi apa-apa. Mungkin sudah terbiasa kali ya? Soalnya ini adalah yang ketiga kalinya saya kesini.

%d blogger menyukai ini: