Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang penemuan makam-makam kuno yang diyakini sebagai makam-makam dari kerajaan Samudra ini. Belum ada penelitian yang memadai untuk mengungkap siapa pemilik makam-makam, pada masa kerajaan apa mereka hidup, dari mana asalnya, apa jabatannya, silsilah dan hubungannya dengan Kerjaan Samudra Pasai dan bagaimana wafatnya. Tak ada catatan apapun yang tertinggal. Tulisan-tulisan pada nisanpun tak dapat dibaca.

Salah satu dari tiga makam di Gampong Samuti, Gandapura. Makam ini terletak di pinggir sebuah lapangan di dekat tambak-tambak ikan. Di samping makam terdapat sebuah sungai kecil. Info dari warga jaman dulu sungai ini besar dan dapat dilewati kapal-kapal.
Ada 3 lokasi makam dengan nisan-nisan khas masa-masa kerajaan Aceh masa dulu dan nisan khas dari India. Makam-makam tak terurus ini tersebar di Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen. Satu-satunya makam yang dipugar adalah Makam Banta Ahmad di Gampong Samuti.

Makam-makam lain yang dibiarkan tanpa pembatas. Salah satu makam di area ini hilang karena dijadikan jalan setapak. Makam-makam ini berada sekitar 15 meter dari makam Banta Ahmad.

Nisan dengan ukiran khas yang dipercayai dari India di kebun pepaya milik warga. Ada 3 makam dengan bentuk nisan yang berbeda di areal ini. Di sekitar makam, terdapat puluhan makam-makam tak dikenali yang hanya bernisan batu gunung.

Satu-satunya makam dengan nisan paling besar yang kami temui. Menurut cerita dari seorang nenek yang sejak kecil tinggal di dekat makam ini mengungkapkan bahwa ini adalah makam seorang raja yang disebut Raja Dharma.
Belum ada ahli sejarah yang datang untuk meneliti makam-makam tersebut. Namun keterangan yang didapat dari seorang pemerhati sejarah, T. Kamal mengungkapkan bahwa di pesisir Peusangan dan Gandapura ini menyimpan banyak nilai sejarah. Makam-makam kuno ini menjadi bukti bahwa ada sebuah kerajaan yang dulu pernah berdiri di pesisir timur Aceh ini. Semoga pemerintah dapat segera menurunkan tim ahli untuk mengungkap keberadaan Kerajaan Samudra ini.





Apakah Teungku Taqiyuddin Muhammad sudah mengetahui mengenai hal ini?
sudah tahu, tapi belum turun ke TKP ini
nanti kalo saya ke sana kita sama2 ke TKP ya Aulia ;)
sayang sekali peninggalan sejarah yang sangat berharga seperti ini belum ada perhatian dari pemerintah. setidaknya pemerintah daerah setempat bisa mengamankan aset ini dari kerusakan seperti dibuatnya jalan setapak pada foto diatas.
batu nisannya unik2. tapi tetep aja masih kebawa seremnya kalo malem2 itu.
Baby Pink
iya mbak..untung ga malam-malam di situ.