Nuansa India di Kuala Lumpur dan Selangor – Day 3 (end)

Sebelum keberangkatan kita ke Malaysia, kita bertiga sepakat untuk mengunjungi Batu Caves dan Melaka. It’s a must, kata Ulan. Kesepakatan ini diambil ketika di bandara, sesaat sebelum berangkat. Sedangkan lama waktu yang kita tunggu sampai di hari H keberangkatan itu lebih dari 6 bulan! Keinginan mengunjungi Batu Caves ini sendiri baru terwujud di hari ketiga setelah kita pulang dari Melaka.

Dewa Murugan, Batu Caves.

Perjalanan menuju kuil Hindu ini tidak berjalan mulus seperti jalan bebas hambatan di negara ini. Seperti pencarian cinta, penuh onak dan duri tajam..*halah!*

Diawali dengan insiden mengesalkan; diberhentikan dan dipalak polisi di Kuala Lumpur lalu kebingungan mencari rute LRT yang benar dan mencari KTM ke Batu Caves. Insiden pertama tadi membuatku malas untuk balik lagi ke negara ini! :|

Berangkat dari KL Sentral yang padat. Kita membeli tiket KTM ke Batu Caves seharga 1 ringgit (Rp.3.000,-) yang ditempuh selama 1 jam. Tapi waktu balik ke KL Sentral, harganya 2 ringgit. Di gerbong yang kami naiki, aku bertemu dengan sepasang suami istri asal Aceh. Wah, senang sekali dapat bercakap-cakap dengan orang sekampung di negeri orang. Meski dengan bahasa Aceh yang terbata-bata tapi mampu menghilangkan kesal sama polisi tadi. XD

Batu Caves adalah sebuah nama desa di distrik Gombak, Selangor. Sekitar 13 kilometer sebelah utara Kuala Lumpur. Ketika kereta tiba di stasiun Gombak, sebuah patung berdiri menjulang dari kejauhan dengan warna keemasan seolah sedang menjaga kuil-kuilnya. Warna emasnya terlihat sangat kontras dan dibingkai dengan warna hijau pepohonan dari atas bukit di belakang patung dewa. Itulah patung Dewa Murugan.

272 anak tangga menuju kuil.

Memasuki pintu masuk area kuil, perasaan exciting semakin menjadi-jadi. Jika tidak mengingat ada puluhan orang Indonesia di situ, aku pasti sudah loncat-loncatan seperti anak kecil.

Mengunjungi tempat peribadatan berbagai agama adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku. Membaca sejarah pembangunannya dan melihat tata cara peribadatan mereka membuat aku takjub. Melihat mereka sembahyang, membawa pelita, membakar dupa, rasanya damai. Dulu ketika di Bali, aku suka memperhatikan umat Hindu bersembahyang dan melihat beberapa turis yang menyaksikan dengan khusyuk. Semua wajah terlihat begitu damai. Harmonis. Seandainya saja rasa damai seperti ini dapat dirasakan semua orang.

Selesai sembahyang.

Satu hal lagi yang paling aku suka di area Kuil Batu Malai Sri Subramaniar ini. Paling suka sama aroma dupanya. Bikin tenang. Berniat pengen beli buat dibakar di kos. Aromanya bikin rileks. Beda dengan Ulan yang pusing mencium aromanya. Haha…

Selain patung Dewa Murugan setinggi 42.7 meter itu, terdapat pula sebuah patung Hanoman berwarna hijau setinggi 15 meter di dekat pintu masuk menuju Kuil Ramayana. Lokasinya persis di sisi kiri setelah gerbang masuk ke area kuil. Cuma kita ga masuk ke sini. Ga tau aja kenapa ga jadi masuk.

Patung Hanoman di depan kuil Ramayana

Kuil utamanya terletak di tempat paling tinggi. Untuk ke sana kita harus menapaki 272 anak tangga. Bagi yang tidak biasa mendaki tangga setinggi ini, sebaiknya latihan dulu dan membawa bekal air minum. Berhati-hati juga dengan monyet-monyet di sana.

Mulut gua berbentuk seperti kanopi kira-kira setinggi kurang lebih 10 meter. Stalaktit yang menggantung terus meneteskan air. Semakin ke dalam, udara lembab dan lantai basah. Pada dinding-dinding gua juga terdapat gambar dewa-dewa dan beberapa bangunan kuil yang menempel ke dinding. Gua ini disebut Gua Tokong (Temple Cave), merupakan gua paling luas di antara dua yang lainnya. Darknesses Cave dan Art Gallery Cave. Pada bulan Januari, kuil ini menjadi pusat perayaan Thaipusam. Dimana ratusan ribu umat Hindu datang melepas nazar dan mengenakan kavadi. Yaitu besi-besi yang ditusukkan ke kulit.

Teras gua yang dinaungi kanopi berstalaktit.

Dewa Murugannya ga mau nengok ke belakang. :(

Oh..hampir lupa. Selain monyet, kalian juga bisa melihat kolam yang berisi ikan-ikan yang naudzubillah besar-besarnya. Ada ikan Koi dan ikan Nila. Aku langsung ingat ayah dan membayangkan ikan-ikan itu sedang dipanggang dengan bumbu santan pedas. Di samping kolam juga ada kebun binatang mini. Di sebelahnya lagi ada kios jajanan khas India seperti Ladoo atau manisan yang dulu pernah aku lihat di film-film India tahun 90an. Sayang, pas di sana ga tertarik untuk nyobain.

(:

The Little India

Oke, ini hari ketiga kita di Malaysia. Artinya malam ini adalah malam terakhir kita di sini. Besok sudah harus kembali ke Aceh.

Balik dari Batu Caves, aku dan Dika tidur di hostel, dan Ulan pergi berbelanja. Sorenya kita jalan ke Little India, tentunya naik lrt lagi yang…udah ga usah ditanya lrt mana ke mana. Aku sudah lupa dan catatan pun ga punya lagi. :D

Little India itu kawasan super heboh yang pernah aku datangi. Tiba di kotanya aku disambut dengan musik India. Trotoarnya dipagari dengan gapura-gapura. Segala macam toko berusaha semaksimal mungkin menampilkan papan reklame semenarik dan sebesar mungkin.

Suasana Little India ketika malam

Hotel Bombay

Lalu lintas pada malam hari. Syukur ga ada polis.

Lagu India membahana dari beberapa toko dvd film. Setiap toko dvd memutar film India yang mirip-mirip dengan 3 Idiots. Ternyata ada banyak sekali film India yang meniru film tersebut. Sembari menonton film yang diputar, tercium aroma kari semerbak dari Restoran Nasi Kandar di seberang jalan. Di salah satu gang, berjejer kios penjual bunga yang didominasi bunga krisan berwarna kuning, mawar merah, dan melati. Aroma dupa juga selalu dapat dibaui setiap kali memasuki toko-toko di sana.

Kios bunga

Setelah kupikir-pikir lagi, perjalanan kita ini kok ya melihat kultur selain Melayu. Batu Caves dan Little India yang merepresentasikan keturunan India. Melaka: melihat peninggalan Portugis, Belanda dan Inggris. Di sana pun kita lebih sering bertemu dengan orang/keturunan Cina. Pengalaman dengan kultur Melayu malah insiden pemalakan oleh polisi melayu yang rasis.

Tapi begitulah sebuah perjalanan. Kejadian-kejadian diluar dugaan itu menjadi pelajaran dan pengalaman yang berharga sekali. Seperti yang sudah aku bilang di atas, aku jadi malas ke negara ini, tapi bukan berarti aku jera. :D

Selamat berpetualang!

About these ads

12 thoughts on “Nuansa India di Kuala Lumpur dan Selangor – Day 3 (end)

  1. Plis share dunk penginapan yang murah di daerah KL Sentral atau BB range 100-200 ada ga? qra2 1 kamar tidur buat b4 boleh ga yah tanpa sepengetahuan pihak hotel :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s