Setiap orang memiliki keburuntungannya masing-masing. Tapi aku selalu merasa lebih beruntung dari orang lain, bahkan dalam kondisi apapun itu. Sekalipun apa yang aku jalani bisa saja dilihat sebelah mata oleh orang lain yang boleh saja merasa lebih beruntung dari aku. Ketika orang boleh nyaman, aku bisa bersenang-senang dengan ketidaknyamanan.
Beruntung dan menguntungkan.
Salah satunya, aku lebih beruntung bisa mengikuti tes cpns di Kota Subulusalam bersama ribuan peserta lainnya. Kami memang belum tau hasilnya tapi keikutsertaan aku di sana mengajarkan banyak sekali pelajaran berharga yang ga akan terlupakan.
Berangkat dari Meulaboh sekitar jam tujuh malam lewat. Sebelumnya terjebak hujan dan ga bisa pulang dari kantor. Setelah azan magrib berkumandang, aku nekad saja mengebut sepeda pulang ke rumah. Basah kuyup. Setelah shalat magrib, sopir mobil menelpon untuk menjemput. Padahal packing belum selesai dan juga belum makan malam.
Dengan budget sangat minim, aku nekad berangkat. Cuma modal tiga ratus ribu rupiah. Dua ratus untuk ongkos transpor pergi dan pulang dan seratus ribu lagi untuk biaya selama di sana. Artinya, aku ga bisa menyewa kamar buat penginapan dan harus membelanjakan sisa uang itu sehemat mungkin.
Aku sampai di Kota Subulusalam jam dua dini hari. Aku turun depan kantor BPD Aceh dan mikir ” sekarang mau kemana?”. doh! mau nginap di mana? Masa iya aku nekad nginap di mesjid?
But hell yeah! Aku memutuskan untuk tidur di mesjid! Agak ragu sih tapi aku ga punya pilihan lain. Rasanya kok ya kurang sopan kalo harus merepotkan orang lain pada jam dua dini hari. Jadi pilihanku cuma mesjid!
Sesampai di mesjid, rupanya sudah banyak yang tidur di sana. Ada dua buah motor yang parkir di depan. Sepatu dan sandal juga parkir teratur di tangga mesjid.Di dalam,ada belasan laki-laki berbalut kain putih-putih tidur. Untung cuma kaki mereka saja yang dibungkus kain putih, coba kalo semua, bisa diteriakin pocong!
Aku merebahkan tubuhku, jaket sebagai bantal. Sambil memandangi langit-langit, pikiran menerawang. Mengingat kembali perjalanan selama tujuh jam menembus hujan, pekat malam, menyusuri jalan melewati gunung-gunung puluhan kilometer. Semua rasa pesimistis yang mengaduk-aduk di dalam pikiran aku redam dan membangkitkan kembali keyakinan. Keyakinan kalau aku bisa melalui ini semua. Aku yakin usaha ini ga akan sia-sia, sekalipun nanti namaku ga muncul di pengumuman kelulusan. Aku yakin kalau apa yang sedang aku lakukan ini sudah membuat orang tuaku senang.
Demi mereka lah aku berada di Subulusalam. Aku rela tidur dikerubungi nyamuk bersama puluhan pocong-pocong yang juga sama tujuan denganku.
Ikut CPNS!
Satu kalimat singkat yang penuh arti bagi para pencari kerja di Indonesia. Dan juga penuh perjuangan. Kami-mayoritas, mengeluarkan segala daya dan upaya mengikutinya dari awal hingga akhir. Tanpa peduli dengan minoritas yang mengeluarkan ‘pundi-pundi’ dan koneksi. Ga peduli dengan isu penerimaan khusus untuk putra daerah.
Kami, penghuni mesjid, penuh keyakinan mengikuti ujian besok. Persiapan sudah begitu mantap. Mulai dari alat-alat untuk ujian, soal-soal ujian tahun lalu bahkan setelan spesial untuk ujian pun sudah disiapkan. Melihat penampilan peserta lain yang berpenampilan keren, kemeja dan celana kain dan sepatu kulit licin mengkilap. Nah aku cuma berkemeja dan celana lusuh yang sudah dari kemarin dipakai plus sandal gunung yang sudah berlumpur.
Beruntung.
Ya, boleh ku bilang begitu karena aku sempat merasakan bagaimana menginap di mesjid dan bertemu kawan-kawan dari berbagai daerah. Dari Sumatera Utara dan dari belahan Nanggroe lainnya.
Menguntungkan.
Ya, ternyata menguntungkan sekali kalau bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti ini. Kendala seperti apapun dapat dihandel sendiri. Ga seperti seorang kawan ku yang kurang setuju ketika aku ajak menginap di mesjid saja. Alasannya ga nyaman kalo belajar, susah mandinya dan alasan manja lainnya.
Hmm…berkat jiwa petualang (halah!) dan backpacking ku yang membuat aku jadi lebih mudah berada dalam ketidaknyamanan-ketidaknyamanan ini. Alhamdulillah..
Dari semua pengalaman ini, aku berpikir kalo beruntung atau keberuntungan itu ga datang ke orang tertentu aja. Sebenarnya keberuntungan itu bisa dirasakan oleh setiap orang. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan menilai setiap kejadian dalam hidup kita. Bahkan dalam kegagalan pun masih bisa kita rasakan untung jika kita bisa melihat dan mengambil sisi positif dan hikmah dari balik kegagalan itu.

Serius qe di subusalam tidor di mesjid. Apa juga qe bilng tidur di rumah sapa gtu maren.
Ih seru
itu bagian cerita yg lain, Yan. kan ada dua malam tu.malam pertama di mes dan yg kedua di kosan kawan. hehe…jadi aku ceritain yg seru aja.
Huaaa.. Jadi trharu tpi mantap tu ta, insya allah kalo niat utk mmbahagiakn orang tua smua yg ita lakukan jadi berkah, kakk ikut tes pns dulu niatnya jga utk orgtua & alhmdlh kakk lulus. Trus waktu pocong2 itu bangun pagi pasti kaget liat pocong dari meulaboh..
Hehe..makasih kak…untungnya ita bangun lebih cepat, jadi ga kaget kali orang tu…
Siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapat…
Moga sukses ya cit, kalau aku udah gagal. Gak lolos.
Amin..makasih Jay..tetap semangat ya…
yup.. moga lulus tes CPNS nya! :D
Amin..makasih Wahyu… :)
awal yang baik