Menembus gelap gunung trans
28 Oktober 2008 at 2:12 pm | In enjoY, inmymindthatican'tcontrol, perjalanan | 1 CommentTags: gunung tran, harimau, kuala batee, landak, Meulaboh, nagan raya, Susoh
Saya memutuskan untuk kembali pulang ke Meulaboh malam ini. Meninggalkan kamera digital untuk dipakai lagi untuk acara buka kado pada pesta pernikahan Bang Yos. Yang seharusnya saya hadiri juga. Tapi karena mengingat pekerjaan yang menumpuk dan untuk menghindari gosip-gosip tak jelas yang mungkin akan tersebar hanya gara-gara ketidakhadiran salah satu karyawan kontrak most wanted di kantor berlogo kuning-kuning itu. Haha…
Selesai magrib saya berangkat setelah menerima petuah-petuah dari ayah, mamak, kakak dan abang ipar untuk berhati-hati. Tapi saya sudah mantap untuk menempuh perjalanan malam hari itu. Berbahaya, memang. Karena kita tak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di depan sana jika kita tidak melewatinya
7.15 malam
Tak ada bintang. Hanya langit gelap dan udara yang semakin dingin, menembus jaket dan sarung tangan abu-abu murahan yang saya beli di kaki lima Mesjid Raya.
Terbayang sudah akan gelapnya hutan belantara di gunung Tran dan membuat saya merinding tapi juga semakin menggelitik nyali untuk segera melewatinya.
Saya berhenti selama sejam di Blang Pidie. Menunaikan shalat isya dan membeli pisang dan kentang goreng yang direkomendasikan kakak untuk saya coba. Hm, krispi tapi kejunya kurang banyak! Fhahaha…Masih mantap pisang goreng Pontianak di Meulaboh.
Saya melewati Susoh dan daerah terakhir yang saya kenali, Kuala Batee. Lampu-lampu dari rumah penduduk berkilat-kilat dari pantulan kaca helm saya. Pohon-pohon memburam dalam kegelapan malam. Pemukiman penduduk semakin jarang-jarang. Dan udara menjadi lebih dingin dan suasana mendadak sunyi, mencekam.
Sekali-kali truk-truk dan mobil tanki Pertamina lewat. Sedikit tenang hati saya karena-paling tidak saya tidak sendirian di jalan gelap itu.
Tanpa terasa saya sudah memasuki wilayah Kabupaten Nagan Raya. Sebentar lagi saya akan memasuki perbukitan transmigrasi yang dikenal dengan Gunung Tran oleh masyarakat di wilayah Barat-Selatan. Jalan yang berkelok-kelok membuat mata saya harus awas melihat kondisi aspal yang berkerikil. Tikungan-tikungan tajam nyaris membuat saya berhenti bernafas karena susah mengontrol setang motor.
Tiba-tiba saya melihat sesuatu bergerak-gerak di tepi jalan. Beuh…Ya Allah! Landak! Matanya bersinar seperti laser cui! (halah, lebay!). Bulu-bulu tanduknya segera mengembang ketika tersorot lampu motor dan bergegas masuk ke rimbunan semak.
Wow…Saya melihat landak langsung dengan mata kepala saya sendiri!! Tiba-tiba saya merasa hebat sendiri dan bangga bisa melihat keajaiban alam itu. Saya melanjutkan perjalanan dengan riang gembira, bernyanyi-nyanyi dan mengulang-ngulang membaca Fatihah, agar perjalanan aman.
Beberapa kilometer dari penampakan landak tadi saya kembali dikejutkan dengan sesosok binatang berwarna coklat terang (atau kuning?) dan mata yang bersinar sedang melompat dari bahu jalan ke dalam semak-semak. Binatang berekor panjang dan badan sepanjang kira-kira satu meter. Mirip kucing!
Masya Allah… Apa itu.. harimau? Tapi kenapa tidak ada lorengnya? Ha? Saya melirik kaca spion tapi hanya gelap saja. Tak ada apa-apa yang terlihat. Saya mengucap-ngucap dalam hati dan berdoa “Ya Allah, binatang apapun itu tolong jangan biarkan dia mengejar saya…please…please…”.
Saya menarik gas lebih dalam lagi dan tatapan lurus ke depan tanpa berkedip. Hati terus kebat-kebit. Jantung berdetak cepat dan gigi gemeletuk menahan gigil. Di tengah-tengah rasa panik yang mendera, dalam hati saya terus membaca ayat-ayat suci yang dapat saya hapal.
Setelah berada beberapa kilometer dari lokasi penampakan binatang tadi dan yakin sudah benar-benar aman barulah saya menarik nafas dan berusaha menenangkan diri. Hahhh…
Ternyata Allah memberikan kejutan yang benar-benar tidak terduga! Beeeuhh… Saya pikir Allah akan mencoba saya dengan membocorkan ban motor tapi malah penampakan yang bikin saya shock!! Eh, tapi saya malah bersyukur karena diberikan pengalaman luar biasa ini. Banyak yang dilihat, bertambahlah ilmu.
Jadi, jangan menganggap sesuatu yang tidak biasa dilakukan itu adalah hal-hal yang aneh-atau pelakunya aneh. Hitung-hitung pengalaman baru, jadi jangan takut mencoba. Haha, seperti yang sering saya katakan ke kawan-kawan :
Jangan terlalu panjang kali mikir!
Iya, kalau mau melakukan sesuatu ya cukuplah dengan rencana dan kesiapan fisik dan mental terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi nantinya. Kalau terlalu lama berpikir akan ketakutan-ketakutan kita maka bersiap-siaplah dengan ketakutan-ketakutan itu sendiri nantinya.
Sekitar jam sebelas malam. Saya tiba juga di Meulaboh. Alhamdulillah, selamat sampai di rumah. Mungkin lain kali bisa saya mencoba berangkat ke Banda Aceh naik motor pada malam hari. (what????)
1 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.






pengalaman yang cukup seru.
oh ya …
sepertinya aku tertarik bertani di Aceh sana.
karena ayahku juga orang Susoh.
aku lahir dan besar di Bandung.
rindu rasanya untuk kembali ke Aceh.
Komentar oleh Afatih05 — 13 Juli 2009 #