08.28.08

4:06

Ditulis dalam inmymindthatican'tcontrol, renungan tagged pada 10:17 am oleh Citra Rahman

Langit pun sendu dan hujan tak bersemangat membasahi bumi. Rintiknya terdengar pelan dan syahdu. Bagaikan tangisan yang memilukan. Begitu sepi. Begitu dalam. Begitu menusuk. Rintikkannya seperti seseorang yang menanti kekasih dan tak kunjung datang. Hujan merintih “kemana angin…”

Tak ada angin. Hanya lampu kota yang masih saja setia menerangi malam dan menemani hujan. Tapi tak juga membuatnya berhenti berduka. Langit pun tetap sendu dan hujan makin merintih.

Tower-tower pemancar sinyal tampak berdiri kokoh di kejauhan. Lampu merahnya berkerlap-kerlip dengan jenaka. Tak peduli dengan kesedihan hujan. ” Tak ada cinta malam ini”, katanya. Ia sendiri pun kesepian. Kaki-kakinya terpancang dalam ke bumi.

Hujan tak berhenti. Tak hendak ia diam. Lampu jalan menunduk memandangi bumi yang banjir air mata. Ia pun ikut bersedih. Malam usai berganti pagi. Kelam, merah dan pudar. Katak bernyanyi mengusir sepi. ” Tak ada cinta malam ini. Tapi selalu ada hati yang merindukanmu. Kaulah cinta. Kaulah hidup.”

1 Komentar »

  1. Dicko berkata,

    Citra..selamat ya..
    Akhirnya kamu berhasil menuliskan suatu cinta tentang hujan.begitu pilu..!!
    Kata2′a bagus..
    Hehehe..selamat Citri…:)

    00000
    ye ye yea….tadi subuh aku terbangun dan hujan masih lebat gitu dik. tiba-tiba mood pengen nulis muncul dan jadilah tulisan itu…sebelumnya sempat bengong dan nanya..”aku lagi dimana?” (histeris lalu teriak2 sambil menjambak rambut)


Tinggalkan sebuah Komentar