08.19.08

Kawan itu

Ditulis dalam friendship tagged , , , , , , , pada 11:39 am oleh Citra Rahman

Bukannya pergi ke lapangan ikut upacara memperingati HUT RI tapi malah tidur dan baru bangun jam 11 siang! Dasar dudul, gara-gara pulang dini hari jadi tidurpun telat.

Malam sebelumnya, saya diajak Dika berkeliaran ke seluruh Meulaboh. Saya membawanya ke tempat-tempat yang sering saya ceritakan lewat sms ketika dia di Singkil sana. Dasar pelupa, saya tidak ingat tempat pertama yang kami datangi. Em, mungkin kami ke taman yang di tepi laut dekat pelabuhan minyak itu. Sudah agak larut tapi masih banyak pengunjung bahkan juga ada anak-anak yang masih bermain di sana.

Jelas kelihatan dari tatapan mata Dika yang memandang jauh ke laut lepas bahwa dia merasa bersedih karena tak ada kesenangan apapun yang di dapatnya selama di Singkil. Tak pernah ada sesuatu apapun yang membuatnya betah berlama-lama di sana. Berulang kali Dika mengeluh jika harus kembali ke Singkil. Saya pun tak bisa berbuat banyak kecuali hanya membesarkan hatinya supaya jangan terlalu bersedih. Kata-kata “sabar” sudah terlalu sering saya ucapkan.

Malam minggu, kami nongkrong di stand burger di kawasan jalan merdeka. Mengobrol tentang segala hal, sharing masalah pribadi dan pencerahan-pencerahan hati yang membuat jiwa kembali bersemangat. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari atas kami diikuti percikan cahaya warna-warni menyebar menghiasi langit, seolah tak mau kalah dengan bulan yang hampir purnama.

Saya dan Dika bersandar pada bangku papan dan menengadahkan kepala ke atas menyaksikan kembang api yang berkejaran dan saling berlomba memberikan cahaya terindah bagi penontonnya.

Kadang-kadang, aku pengen jadi seperti kembang api, Dika. Setelah meledak, cahayanya akan hilang tapi warnanya tetap tinggal di dalam hati. Tetap meninggalkan binar di setiap mata yang memandangnya. Sekalipun kemudian dia lenyap dan berbekas asap”.

Malam itu, saya mendapat banyak pemahaman akan arti seorang kawan. Seorang kawan yang harus menerima apa adanya. Baik positif maupun negatif dari orang lain dan diri sendiri. Ketika sakit maupun senang. Ketika ingat dan lupa. Ketika salah dan benar. Ketika cacat mulai kelihatan dari topeng kesempurnaan.

Tangis dan tawa menyatu menjadi satu pada malam itu.

Sekitar jam sebelas kami baru kembali ke rumah. Seolah tak habis waktu untuk mengobrol, waktu tidur pun kami mengobrol lagi. Tentang film, tentang Marshanda, Mulan Jameela, Sandra Dewi ,Maurer, tentang fantasi-fantasi sex, tentang ’seandainya saya…’, dan tentang-tentang lainnya.

Ketika mata semakin berat dan lidah tak mampu lagi berkata-kata. Semua menjadi diam. Malam menjadi damai dan basah.

Tinggalkan sebuah Komentar