Masih saja curang

30 Juli 2008 at 10:51 pm | In inmymindthatican'tcontrol, silat | 3 Comments
Tags:

Kali ini benar-benar saya geram. Geram sekali. Geram berkali-kali. Saya melihat langsung kecurangan yang terjadi. Di depan mata saya dan semua suporter dan semua penonton lainnya. Kami semua marah. Kami berteriak. Saya melolong dan mereka mengaum. Tak pernah saya begini. Saya marah karena kawan saya diperlakukan tidak adil. Wasit jahanam itu merusak impian kawan saya. Merusak jiwa pesilat.

Ternyata wasit kurang didikan itu adalah wasit dari Aceh Timur. Wasit itu bernama Abdullah. Saya mohon maaf jika ada yang tersinggung karena pernyataan saya ini. Tapi saya kesal. Sangat kesal! Ini kali ketiga Abdullah itu memimpin pertandingan. Ketiga pertandingan itu merupakan pertandingan Aceh Barat melawan Aceh Selatan. Selalu seperti itu. Dan selama Abdullah itu yang jadi wasit, selalu saja penonton ribut karena memprotes kecurangan yang dilakukannya. Jelas kelihatan Abdullah itu meloloskan pesilat Aceh Selatan dari banyak pelanggaran dan memotong nilai dari pesilat Aceh Barat.

Puncak kemarahan suporter Aceh Barat terjadi hari ini. Wajah culasnya kelihatan berdiri paling depan. Itu berarti Abdullah itu akan menjadi wasit. Saya tak setuju. Kami tak setuju. Kami berteriak “GANTI WASIIIIIIIIIIT….” Tapi tidak juga diganti. Kawan saya bertanding juga akhirnya. Beberapa menit kemudian kawan saya masih menyerang lawannya dan berhasil membantingnya. Tapi wasit karbitan itu mungurangi nilai kawan saya tercinta itu. Dia mengangkat tangan dan jari telunjuknya mengacung ke atas!

Seorang bapak maju ke depan dengan wajah emosi. Kakinya sudah melangkah di atas gelanggang. Beberapa orang menahannya. Memegang tangannya dan menyerukan “Sabar Pak. Jangan sekarang!”. Ronde pertama itu semua penonton berteriak. Berteriak menolak kecurangan kejahatan yang dilakukan Abdullah itu. Ada juga yang berteriak mendukung usaha wasit Abdullah itu memenangkan atlit mereka. Mereka adalah orang-orang Aceh Selatan! Mereka buta akan kecurangan itu. Mereka hanya ingin menang.

Penonton semakin menjadi-jadi! Semakin berisik dan ribut sekali. Sangat ribut! Saya juga menambah keberisikan di sana. Saya bersama-sama dengan mereka meneriakkan suara-suara hati. GANTI WASIIIIIIIIIIIIIT….GANTIIIIIIIIIIIII…Begitu yang keluar dari tenggorokan kami yang sudah serak sedari pagi.

Permintaan kami dikabulkan. Ketua Juri rupanya tidak tahan mendengar huru-hara di gelanggang. Ini yang ketiga kalinya karuu seperti ini. Ingin sekali saya menerjang wasit bernama Abdullah. Meninju mukanya sampai berdarah-darah. Bukan hanya saya, banyak yang lain juga ingin melakukan hal yang sama. “Peutamong lam drom!”, “Tiek u lua keudeh!”, “Takat sigoe!”, “Wak cancang bak haluih!”, “Tunggu aja di simpang nantik!”. Ada banyak makian lain dan ide-ide untuk menghajar Abdullah itu.

Saya mau tahu berapa bayarannya untuk melakukan perbuatan busuk itu. Mengapa harus Aceh Barat? Em, memang saya mendengar banyak tentang pesilat-pesilat Aceh Barat yang ditakuti oleh pesilat-pesilat dari daerah lain. Tapi kami tidak pernah dicurangi seperti ini di daerah lain. Hal ini makin menguatkan anggapan saya dan warga Labuhan Haji bahwa Tapak Tuan memang biangnya kecurangan. Tidak hanya di Popda tetapi juga di MTQ! Curang curang curang curang!!!!

Saya berdiri sambil memegang kamera dan berteriak untuk memberi semangat kepada kawan saya itu. Dia hebat sekali. Masih muda dan tangguh. Kawan itu berhasil membanting lawannya yang dari Aceh Selatan itu dua kali. Saya memperhatikan wasit Abdullah itu yang sedang duduk dengan wajah pucat dan ketakutan. Abdullah itu duduk saja terus sampai semua partai pertandingan usai. Tak sedetikpun, selangkahpun dia beranjak dari kursi itu. Mungkin dia sedang menahan kencingnya sedari tadi. Tapi saya tak peduli. Saya memotretnya beberapa kali. Ingin sekali saya memajang wajah kumuhnya itu di blog ini. Biar saya puas.

Kawan saya itu kalah. Saya kecewa sekali. Sangat. Coba saja jika bukan Abdullah itu yang memimpin pertandingan, pasti kawan saya yang menang. Karena tak akan banyak nilai yang dipotong. Abdullah itu memotong banyak nilai dari kawan saya. Abdullah itu jahat. Saya marah sama dia. Banyak sumpah serapah menuju padanya. Beberapa orang yang lebih tua dari kami mendatanginya dan berbicara padanya. Saya tidak dengar. Saya jauh dari tempat Abdullah itu duduk.

Saya akan pajang foto Abdullah itu di sini nanti. Biar semua melihat. Saya marah sekali. Pelatih kami juga marah. Dia menendang patching untuk menghilangkan marahnya. Saya juga. Kawan-kawan saya juga. Atlit lain juga. Mereka marah. Marah sampai malam. Lalu kami makan. Makan malam namanya. Lalu saya mandi. Dingin. Dingin sekali seperti air dari dalam kulkas. Tapi saya mandi terus saja. Barulah marah saya hilang. Tapi suara saya berubah. Serak jadinya.

Semoga dengan kejadian ini, Abdullah itu belajar lagi untuk menjadi wasit yang kompeten dan profesional. Bukan untuk menjadi wasit bayaran yang menjatuhkan orang lain hanya demi uang! Semoga ke depan nanti Abdullah itu menjadi jujur dan baik hati dan ramah sehingga Abdullah disayang semua orang. Tidak ada yang marah lagi.
Semoga ya Abdullah. Beuget-get beuh. Bek peumalee-malee Aceh Timur. Bek pemalee awak silek. Semoga ada perbaikan untuk Tapak Tuan ke depan. Semoga spanduk UTAMAKAN SPORTIVITAS DALAM BERTANDING itu bukan hanya jadi hiasan saja.

Berhenti

29 Juli 2008 at 2:11 pm | In inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags:

Saya ingin berhenti. Tak hendak terus maju. Saya ingin istirahat saja. Agustus ini. Maksud saya bulan depan. Sekarang ini masih Juli. Tahun 2008.

O. Badan saya seperti sakit. Tidak enak untuk dibawa kerja dan berjalan jauh apalagi berlari. Padahal saya suka bekerja dan berjalan jauh apalagi berlari.

Saya sering menyarankan kawan saya untuk bertahan karena dia sedang terkurung dalam kebebasan. Saya senang karena saya bebas dalam kebebasan yang terkungkung. Tapi saya sadar kali ini membuat saya letih dan cepat pusing. Kawan saya itu selalu mengeluh. Terus saja mengeluh. Padahal sebentar lagi dia akan dibebaskan dan dibuang ke Kota Mati. Mengapa Kota Mati? Saya juga tidak tahu. Tak pernah tanya. Tak usahlah. Dia masih terus mengeluh dan sepertinya dia sering menangis karena itu. Tapi saya bilang banyak hal untuk menguatkannya. Terus bertahan dengan kekuatan yang kau punya. Begitu kata saya. Dia tenang. Entah karena kata-kata saya atau mungkin ada orang lain yang lebih pandai menenangkan dan memenangkan hatinya. Tapi saya kawannya. Bukannya pacar.

Saya pusing. Saya ingin tidur. Tapi saya akan berjalan jauh dan berlari kencang sesaat lagi. Saya tidak boleh tidur. Saya rileks saja ya? Boleh? Terima kasih.

Saya pening. Hati saya bilang suruh berhenti dari orang-orang itu. Saya juga ingin berhenti mengejar-ngejar dan mencari mereka. Tapi saya belum punya kuasa. Saya bersetan. Banyak jin. Tidak kuat tapi pura-pura kuat. Saya ingin menangis. Dada saya sesak dan ego saya suruh saya jangan menangis. Seperti saya bilang ke kawan saya untuk kuat dan sabar. Lama-lama saya muak juga akhirnya. Muak dengan perasaan ini. Saya yang salah. Saya akui. Saya yang memulai tapi masih sulit saja berhenti. Terlarang. Haram. Saya tahu.

Saya tak boleh berhenti. Saya harus kuat. Saya harus maju. Saya harus menanggalkan keharaman itu. Saya bisa kan? Harus bisa? Baiklah. Sekarang saya mulai mual dengan gejolak-gejolak menjijikkan dari perut saya. Hati saya. Otak saya. Saya abaikan tentu. Karena ini perjuangan. Banyak perlawanan.

Curang. Tidak boleh.

29 Juli 2008 at 12:37 pm | In silat | Leave a Comment
Tags:

Capek. Benar itu terasa. Seperti itu yang dirasa. Sekalipun begitu, kali ini saya memutuskan untuk kembali ke kawan-kawan yang sedang berjuang dengan tenaga dan keringat. Berlaga menembus batas kemampuan diri sendiri dan berjuang memenangkan nama gelanggang, pelatih dan nama daerah yang berharap mereka kembali dengan medali dikalungkan di leher masing-masing dari mereka.

Saya menjadi antusias begini karena saya (sekalipun baru sekali) pernah mengikuti seleksi dan berjuang dengan sesak nafas untuk tampil dengan baik. Saya akan datang untuk menyemangati mereka bahwa saya mencintai mereka dan olah raga yang sudah beberapa bulan saya tinggali ini. Saya akan semangati mereka untuk tak perlu ragu untuk berlaga dengan pesilat lain. Karena mereka juga sama. Mereka juga makan nasi. Begitu kata pelatih kami. Lakukan yang terbaik. Itu yang akan saya sampaikan ke mereka. Pesilat-pesilat tangguh dari Aceh Barat.

Kemarin saya tahu dari sms kawan saya bahwa banyak terjadi kecurangan dalam pertandingan silat Aceh Barat melawan tuan rumah. Hati saya geram. Saya marah. Kurang ajar sekali mereka. Busuk. Begitu umpat saya.

Kawan saya juga bilang, supporter Aceh Barat jadi karu karena kecurangan itu. Mereka ribut. Mereka pasti berteriak-teriak penuh amarah. Pesilat perempuan pasti berlinang air mata melihat kebusukkan wasit itu. Karena kecurangan itu kawan-kawan kita kalah. Mereka juga geram. Lebih geram dari saya. Semoga pelatih-pelatih kami tetap sabar dengan cobaan itu.

Saya juga kecewa dengan kelakuan para wasit yang ingin memenangkan atlit mereka dengan cara curang seperti yang disebutkan kawan saya. Mereka telah mengajarkan kepada atlit mereka sendiri untuk berbuat curang dan tidak sportif. Padahal di setiap lapangan pertandingan selalu ada spanduk yang bertuliskan “UTAMAKAN SPORTVITAS DALAM BERTANDING”. Mereka sudah melanggarnya. Mereka tidak baik. Mungkin tidak semua. Tapi segelintir manusia-manusia busuk itu sudah mencoreng nama baik dunia persilatan dan telah menjelekkan citra kota mereka sendiri. Itu tidak benar! Mengapa mereka melakukan itu? Saya harus teriak. Besok. Saya akan teriak kencang untuk menjatuhkan mental lawan kawan-kawan saya supaya kawan-kawan saya itu bisa semangat bertanding. Supaya mereka tidak ragu menyerang dengan teknik-teknik yang sudah diajarkan. Menyerang untuk menjatuhkan lawan. Mengalahkan pesilat-pesilat lawan dan meraih kemenangan.

Kawan-kawanku…

Tetap bermain sportif dan tunjukkan jiwa pesilat yang sebenarnya. Pantang mundur.

no tittle

28 Juli 2008 at 7:32 pm | In friendship, inmymindthatican'tcontrol | 3 Comments
Tags:

kamu tu gak tau apa-apa jadi jangan ngomong sesuatu yang gak kamu ketahui tentang itu

Begitulah pengertian singkat yang dapat saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pop dari pesan ‘teman’ saya yang dikirimnya via YM dalam bahasa Inggris. Siapapun mungkin akan tersinggung dengan kalimat di atas. Begitu juga saya. Mengingat dia adalah seseorang yang memiliki sense of humor yang tinggi. Maka saya memberanikan diri untuk sedikit menggodanya tentang haknya yang seharusnya sudah diterima dari salah satu perusahaan dengan mengatakan “huhu, kerja aja juga belon”. Sumpah, saya hanya becanda. Tidak ada maksud apapun apalagi untuk mengejek ataupun menyakiti teman saya itu. Tapi (sepertinya) dia tersinggung dengan kalimat tadi.

Jelas, saya shock membaca pesannya. Ini tidak seperti biasanya. Saya mencoba berfikir positif. Mungkin dia tidak sedang dalam mood yang bagus hari ini. Mungkin dia kesal dengan perusahaan tadi sehingga candaan apapun tentang itu membuatnya lebih sensitif.
Atau mungkin dia lagi dapet ! Hehehe…
Eits…Aku kan sudah minta maaf. Itu sudah cukup.

Mungkin dia memang sedang tinggi-tingginya kali ya… Ahhh, semoga aja dia menerima haknya sesegera mungkin seperti yang sudah dijanjikan perusahaan itu. Jadi tidak ada lagi korban berjatuhan setelah ‘kata-kata manis berbisa’ itu setelah saya. Huhu…

Well, ternyata teman yang lainnya juga mengalami hal yang sama dengan saya rupanya. Kita sebut saja si P. Dia menceritakannya ketika saya sedang mengetik tulisan ini. Jadi kita YM-an. Dia bilang ada temannya yang ngatain si P ‘cewek simpanan’ temannya si P yang baru saja menerima bonus 10 tahunan. Gara-garanya mungkin saja cowok yang ngatain tadi itu iri sama keakraban si P dengan si penerima bonus itu.

Hari ini saya belajar atau mungkin mengulang lagi pelajaran bergaul. Hati-hati kalau bicara. Sekalipun dengan teman yang sudah kamu kenal.

Ehm, saya mulai bingung nih. Teman? Kenalan? Mungkin saya harus mengkategorikan orang-orang yang saya ‘kenal’ menjadi empat kelompok. Pertama, orang yang saya tahu nama tapi belum pernah kenalan. Hanya tahu saja. Kedua, kenalan. Yaitu orang-orang yang saya kenal baik nama, sekolahnya, lokasi tinggalnya dan pernah berbicara dengannya. Ketiga, Teman. Orang yang sudah bisa saya ajak becanda. Bisa diajak membicarakan sesuatu yang menarik. Keempat, sahabat. Untuk yang terakhir ini saya tidak bisa menjelaskan seperti apa kriterianya karena saya belum memiliki sahabat. Mungkin akan sangat kompleks. Tentu saja saya sangat ingin sekali memiliki sahabat seperti yang banyak saya saksikan di film-film.

Ya ya… Saya memang terobsesi dengan film-film dan belajar banyak dari mereka. Tapi saya belajar banyak juga dari kehidupan real saya. Banyak yang tak terduga dan lebih nendang!

Semoga hidup lebih cerah.

Oh My Blog

28 Juli 2008 at 4:28 pm | In enjoY, inmymindthatican'tcontrol | 4 Comments
Tags: ,

Saya sedang berjalan-jalan di blog-blog member Aceh Blogger Community. Lalu saya mengklik sebuah link di side bar dan kemudian membawa saya ke blog-indonesia.com. Saya terus saja scroll down sambil lalu membaca judul-judul blog.

Perhatian saya tertahan di sebuah judul urutan ke lima. Lho? Bukannya judul ini punya saya? Kenapa bisa masuk kemari? Saat itu juga saya berteriak “AAAAAARGHHHH…” Tentu dengan suara yang sengaja saya tahan karena sedang berada di kantor. Hahahahahaha…Saya benar-benar senang, bahagia, terharu (sampai air mata tergenang di pelupuk mata). Saya tidak pernah ingat kapan saya mendaftarkan diri di blog-indonesia tapi melihat judul saya terpampang di sana benar-benar membuat semua letih, lelah, capek, tired, hek, litak, penat hilang seketika…Hahahahaha…Apa coba?

Well, ke-excited-an saya berlebihan memang. Tapi mau bagaimana lagi secara saya masih ‘anak-anak’ dalam dunia perblog-an. Jadi setiap kali ada comment yang baru masuk pasti semangat saya langsung naik beberapa level. Apalagi kalau postingan saya masuk ke situs lain lalu dibaca orang. Wah, saya bangga sekali. Walaupun saya sadar tulisan saya masih jauh dari kategori “baik” dan berbahasa asing (hehehe, bahasa ughang awak) dan berada di dalam kumpulan blog dengan tulisan-tulisan yang bermutu lainnya.

Ayo ngeblog lagi! Semangat!!!!

Baghito daghi Taluak

28 Juli 2008 at 1:18 pm | In inmymindthatican'tcontrol, liburan, silat | 2 Comments
Tags: ,

Sabtu | 26 Juli 2008

MInggu | 27 Juli 2008

Akhir e alah tapuehan juo kainginan mbo baghanang di kolam Bukit Aroya di Taluak (Tapak Tuan). Naiak onda daghi Malabuah (Meulaboh) ka Taluak jok kawan-kawan silek (silat). Rencana e nandak mancaliak kontingen Silek Popda batandiang tapi ghupo e haghi iko pulo batandiang. Ambo haghuys pulang ka Malabuah pulo haghi MInggu patang.

Mbo pakat kawan-kawan sodoalah e tapi bak soghangpun yang indak mau ikuiyt. Hah, bak usah in! Haghi minggu sakita jam duo baleh mbo pai ju soghang-soghang mbo ka kolam. Ado jo ghupo yang mandi-mandi di situ. Paja-paja duo ughang. Mbo baie kepiang saghibu kek panjago kulam du. Ganti baju, mbo tajun ju ka kolam. Huahahaha…Cik hiyo-hiyo sajuak! Tapi sanang bukan main!

Kapatang ado jo mbo pai jok kawan-kawan ka kulam tapi cik sakajap se, kughang pueh ghaso e. Kughang sajam antah alah kalua baliak. Iko mbo pueh-puehan baghanang. PD se mbo baghanang soghang-soghang mbo di situ. Hahahahaha, saolah-olah tangah jadi pusek pahatian publik. Hihi…

Antah monga pulo haghi du kuat bana pulo mbo baghanang. Daghi subaliak tin ka subaliak sabuah li taghuys babaliak li. Samakin patang samakin banyak pulo yang datang. Ado yang jok ughang ghumah, mambawok anak-anak, bini jok umak e. Ado yang mambawok cewek e, ado jo yang bakawan-kawan. Makin ghami jo paja-paja yang datang. Sabuah geng mambawok ban soga. Lailalah, alah lago nandak mandi ka lauiyt din ghaso e.

Sakitar jam satangah ampek, datang dua ughang laki-laki. Kigho-kigho umuie e dua puluah limo. Ubang-ubang. Mbo pahatian daghi jauah ghupo e kamba, dek samo bana muko ubang-ubang du. Mangecek lah mbo jok ughang do. Ghupo e daghi Tangan-tangan. Cik iyo-iyo saghupo muko e! Haha. Akrab bana pulo du…

Abih tu, ado padusi yang pansan dek tagalinciak di ateh sumin yang balumuiyt. Untuang nakdo tajatuah ka dalam kulam du. Kalau sampai jatuah ka kulam kan banyak lai caghito e du. Baduo ambo jok pacar e maangkek e ka warung yang dakek di situ.

Sabalun ka kulam. Sampat mbo jok kawan-kawan silek mancaliak pertandingan Tenis yang padusi e. Tapi sayang e, petenis padusi Aceh Barat kaduo-duo kalah malawan petenis padusi Aceh Selatan jok Lhokseumawe.

Daghi babaghapo informasi untuak haghi patamo kapatang, tim takraw Aceh Barat manang. Tapi lupo pulo mbo malawan sia ughang du sahighin.

Tapi ghancana e ko haghi selasa mbo pai li ka Taluak, mbo mintak izin di kantue duo aghi, Kamih jok Jum’at. Jadi banyak haghi pre dek Ghabu kan tanggal sighah. Hehe…

Kan ghugi se mbo dek dakek nakdo bisa mancaliak kawan-kawan mbo batandiang.

HIDUP IPSI ACEH BARAT!!!!!

Babaliak lai

25 Juli 2008 at 7:52 pm | In liburan, silat | 5 Comments
Tags:

Alah lamo bana lah kini ambo nakdo mangecek-ngecek jok bahaso kampuang Ayah kanduang. Nah kini lah wakatu e, dek walaupun sakali-kali se tapi jadilah daghi pado indak bak sakalipun juo. Kan iyo du?

Jadi kan, alah ado lah sabuah ghancana untuak isuak pagio. Alah bapakat jok Herman nandak baghangkek ka Taluak isuak pagi. Jadi isuak Sabtu du, jam-jam lapan atau sambilan lah kami baghangkek jok onda. Sabalun e ke kantue dinas PK doklu kadang antah apo yang bisa kami bantu. Tapi alah sapakat jok inyo untuak baghangkek deklo sabalun rombongan kontingen Popda baghangkek.

Malam kapatang, ambo kan bakaghajo lai di kantue. Basuo jok Bang Khairul, mbo pakat inyo ka Taluak. Ghupo e ado pulo dosanak e di sikin. Pas bana dek ambo nakdo kawan babonciang dek sabalun e dikecekan si Herman, Kak Devi nakdo jadi pai jok ambo. Inyo pai jok Agus Bule.

Tapi isuak pagi e (Jumat) di sms e mbo ke Bang Khairul du mangecek an nakdo jadi e baghangkek dek ado kaghajo lai di kantue. Jadi kami baduo se jok Herman ka Taluak jok onda.

Hm, semoga se lah paja-paja silek du manang di Popda. Dek banyak bana anak-anak baghu yang nampak e ancak mainne.  Huahaha, ambo se nakdo panah latihan lai salamo pindah bagian. Dima pulo mbo tau ancak indak e.

Next..

Pulang daghi Taluak mbo caghitoan pulo pangalaman mbo disikin yo. Sakalipun alah ado postingan tentang Taluak sabalun e tapi yg kadapan ko kan beda. Soga jok laporan indak resmi Popda.

19-20

24 Juli 2008 at 8:13 pm | In inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags: , , ,

Bukan bermaksud kejam/kasar. Tapi hanya ingin berbagi opini saja sekaligus mengucapkan selamat. Besok kamu akan merayakan ulang tahunmu yang berarti akan mendekatkanmu (setiap orang) pada ajal. Doa panjang umur hanya basa-basi yang sudah benar-benar basi. Dan mungkin terlalu busuk tanpa disadari oleh penerima ucapan itu. Hahhh..Selamat Ulang Tahun…Semoga Panjang U..u..untuk semua hal yang penting diperpanjang.

Ucapan selamat di atas adalah isi sms yang saya terima tahun lalu ketika saya berulang tahun yang ke 21 yang kemudian saya forward ke beberapa teman yang sedang berulang tahun. Aneh memang. Tapi ada benarnya juga jika doa semoga panjang umur itu sudah basi sekali (namun tetap dinanti ucapannya). “Semoga panjang umur” seperti kalimat yang ngejek bener! Panjang umur, yang benar saja. Makin bertambah umur berarti semakin tua atau kasarnya makin dekat pada kematian dong?

Ngomong-ngomong tentang ulang tahun. Saya pernah merasakan perasaan yang sangat rumit ketika akan memasuki umur dua puluh tahun. Saya merasa takut, galau, bimbang, cemas dan telapak tangan saya berkeringat dan kepala saya berdenyut sakit, jari-jari gemetaran dan nafsu makan hilang. Saya stress! Saya belum siap melepaskan masa-masa ‘berusia belasan tahun’.

Lalu hari demi hari makin mendekatkan saya pada tanggal kelahiran saya itu. Saya semakin gugup. Saya jadi kehilangan semangat untuk melakukan apapun, saya takut jika setiap gerakkan saya akan berakibat fatal pada kelangsungan hidup saya dan menyebabkan saya mati muda. Saya jadi parno!

Lalu tanggal itu. Tanggal 18. malam sebelum tanggal 18. saya tidak bias tidur. Saya berharap jika mata saya tetap terbuka maka jarum jam akan berhenti bergerak dan waktupun mati. Tapi saya tak punya kuasa untuk melakukan itu. Bodoh. Tentu saja tidak. Berulang kali saya memperhatikan bagian-bagian tubuh saya untuk memastikan apakah ada perubahan aneh akibat menjelang pergantian umur ini.

Tentu saja tidak ada terjadi sesuatu apapun karena saya tidak sedang berada dalam film fantasi futuristik Hollywood. Gila apa keriput di kulit bisa berubah dalam sekejap. Aneh saja.
Setelah beberapa lama menit berlalu dari pukul 00.00 waktu jam HP saya, hati mulai tenang. Lega. Tapi saya masih sedih. Karena saya jadi tambah tua setahun dan makin dekat ajal setahun.

Tapi ternyata Tuhan punya banyak cerita yang akan diceritakannya pada saya setelah saya berumur 20 tahun dan setelahnya. Begitu banyak keajaiban yang terjadi dan saya bahagia.

Kota Naga part II

23 Juli 2008 at 2:06 pm | In liburan | Leave a Comment
Tags: ,

Minggu | 20 Juli 2008

Dering hp membangunkan tidur di pagi hari yang dingin dan menusuk kulit. Seekor nyamuk mendengungkan sayapnya di telinga. Mata masih menutup ratap dan hati mulai kesal dengan dering sms yang terus berdering tanpa jeda. 3 messages.

Dingin. Tak ada selimut. Ada kain sarung di dalam ransel. Tapi rasa malas membuat saya terus memeluk lutut. Hahhhh…

Setengah jam, sejam? terlewatkan dengan terus meringkuk di atas kasur berseprai biru yang berpasir. Haha, saya membawa pasir dari Meulaboh ke Tapak Tuan yang tersimpan di kantong celana yang saya pakai. Tak sengaja sebenarnya. Karena celana ini pernah saya pakai untuk joging di pantai Suak Ribe dan menghasilkan postingan Pasir Berbisik.

Ah, Kolam!! Saya baru ingat kalau harus mengunjungi lokasi ini hari ini. Beberapa mulut mengatakan tempat ini angker. Sudah ada yang meninggal tenggelam. Tapi saya harus kesana. Sekalian mandi pagi. Kami menemukan jalannya. Gang Michiyo kata resepsionis losmen. Sebelum jembatan kata penjaga toko. Belok kiri dan jalanan terus berbelok-belok dan memasuki gang-gang kecil lagi.
Ada emmpat kolam yang di dua diantaranya diperuntukkan untuk dewasa dan dua lagi untuk anak-anak.

Di kolam khusus dewasa selain saya ada 4 pria paruh baya yang sedang ngobrol di samping pancuran. Dinginnya air kolam membuat saya terus berenang untuk membiasakan kulit yang jarang kena air sedingin ini.
Air kolam berwarna hijau. Di dalamnya ratusan siput kecil bertapa di dinding kolam. Riak air tak mengganggunya.

Begitu bebas dan begitu lepas dan betapa leganya hati dengan perasaan ini. Bagaikan terbasuh dari segala beban yang bersarang di pundak dan kepala. Juga daki-daki masalah yang melekat erat selama ini di kaki, tangan dan punggungku. Semua lepas dan melebur ke dalam hijaunya air.

Puas berenang kami memutuskan ke Tingkat Tujuh. Belum ada seorang pengunjungpun disana. Hanya seorang bocah laki-laki yang sedang mandi di samping sebuah batu besar. Saya mengeluarkan kamera dan memotret beberapa objek yang menurut saya menarik. Petani nilam, bocah yang sedang mandi, buah Ara dan diri saya sendiri tentunya. Narsis.

Tak disangka saya bertemu seorang teman wanita dengan pakaian ungunya. Disampingnya juga seorang gadis berpakaian serba ungu terlihat terpana dengan kemunculan saya. Heran. Lalu kakak temannya saya itu juga tiba-tiba muncul dari belakang bersama seorang expat yang kemudian saya ketahui bernama Juan dari Spanyol.

Kami mulai berjalan menelusuri sungai yang berbatu. Menaiki tangga yang licin. Kiri kanan tumbuhan cabe dan nilam tumbuh subur. Semakin tinggi ke atas bukit, pohon coklat menghalangi pandangan ke atas maupun ke bawah bukit. Lalu ilalang dan semak belukar yang hampir menutupi jalan setapak berlumut menuju tingkat pertama. Debit air deras kali ini.

Teman saya itu Dewi, kakaknya Yuli dan saudaranya Ayu dan expat itu Juan dan adik saya Titi. Kami semua menyeberang melewati alur air terjun yang deras. Kami mendaki bebatuan keras naik ke atas ke tingkat dua, tiga, empat dan lima dan enam. Tujuh menanti.

Lereng bukit terjal berbatu dan berbahaya untuk dilewati. Kali ini hanya saya, Juan, Dewi dan Titi yang bergerak naik. Yuli dan Ayu menunggu di bawah saja. Perjalanan semakin sulit. Pohon-pohon mati berukuran raksasa menghalangi jalan. Tebing licin yang berlumut nyaris mencelakakan Dewi, beberapa kali Titi dan saya dan Dewi terpeleset di atasnya. Juan beberapa kali membuka sepatu ketika tidak ada jalan kering yang bisa dilewati.

Tingkat Tujuh sudah kelihatan di balik rimbunnya ranting pepohonan yang menjorok ke sungai.

Akhirnya kami dapat bernafas dengan normal sekarang. Tingkat Tujuh di depan mata sekarang. Dua undakan batu tempat air-air putih itu terjun menciptakan kolam hijau dan biru di bawahnya. Juan membuka kaos dan berenang katak menyusul Dewi yang sudah berada disana sebelumnya.

Saya menarik nafas panjang. Udara segar memenuhi paru-paru dan kesejukkannya menembus jantung. Saya merasa ringan. Tubuh seolah melayang di antara butir-butir air yang mengasap.
Lagi, saya berenang dan Titi juga ikut bersama kami. Segala kesenangan hidup seolah hanya ada saat itu saja dan tak ada yang perlu kau khawatirkan akan hari esok. Bahkan jeans mahal ini pun tak menolak untuk basah kuyup.

Perjalanan menuruni alur sungai sama sulitnya dan lebih berbahaya. Dan lebih memacu adrenalin! Kami mengira Juan menyasar karena mengambil jalan setapak yang berbeda dan dia melambai dengan santai dari seberang sungai di samping sebuah pondok. Saya berpikir dia akan kembali menyusul kami melewati jalan semula. Tapi dia juga tidak kelihatan. Lalu aku menyusulnya menaiki kembali tebing pertama dan berlari di sepanjang jalan setapak. Saya bertanya dengan seorang penjaga kebun apakah melihat orang barat melewati jalan ini tapi dia tidak melihat sesiapapun yang lewat. Lalu seorang bapak tua mengatakan “ado di lambah. Bajambang kan?”
Saya berlari lagi menuruni jalan bukit yang becek. Sebatang kayu di tangan kiri saya gunakan sebagai tongkat untuk menjaga keseimbangan.

Ternyata Juan sedang mengobrol dengan seorang pemuda di depan kios.

“Tuhan masih sayang sama kita” kata pemuda tadi.
“Tuhan what? what?” tanya Juan dengan ekspresi tidak mengerti.
“God still loves us” jawabku.

Saya menarik nafas lega karena menemukan Juan.

Sebelum berpisah saya mengucapkan terima kasih ke Dewi dan Juan untuk petualangan yang luar biasa ini. Takkan terlupa dan membuat perasaan di hati bergejolak menahan diri untuk menunggu kesempatan kembali datang bulan depan.

Kota Naga part I

21 Juli 2008 at 5:25 pm | In liburan | 5 Comments
Tags: ,

Kota Naga berarti Tapak Tuan. Kota ini merupakan ibu kota kabupaten Aceh Selatan. Selain terkenal dengan legenda Naga dan Putri Naga, kota ini juga terkenal dengan objek wisata yang menawan seperti Air Terjun Tingkat 7, Tapak Naga, Pintu Angin, Kuburan Syech Tuan Tapa yang semuanya ini berhubungan dengan legenda Naga tersebut. Juga terkenal dengan sirup Pala dan Kue Pala.

Berkunjung ke Tapak Tuan tentu saja tidak lengkap jika tidak mengunjungi daerah-daerah wisata tersebut. Kue dan Sirup Pala dapat anda bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan saya kali ini lebih cepat dari rencana saya semula yaitu tanggal 25 Juli nanti. Ternyata ujian final diadakan hari Sabtu pagi jam 9 dan selesai jam 10. Sampai di rumah saya bingung sendiri karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya langsung ingat Tapak Tuan dan mulai ‘gabuk’ mengisi ransel baju 2 lembar, celana pendek, celana dalam, kamera, sabun, shampo, facial wash, sikat gigi, odol, pisau swiss, charger hp, kabel data hp, kain sarung, dan permen. Adik saya, Titi minta ikut. Karena dia sedang liburan kuliah dan ingin sekali ke Tingkat 7.

Kami berangkat ke Tapak Tuan jam 11.45 WIB dan tanpa dilengkapi Kartu Keluarga yang nantinya dapat saya tunjukkan ke receptionis losmen bahwa saya dan Titi adalah saudara kandung dan diperbolehkan sekamar saja. Tapi saya tidak dapat menemukan KK di lemari Mamak dan memutuskan untuk langsung berangkat.
Cuaca pagi Sabtu itu berawan. Langit tak kelihatan biru hanya putih dan abu-abu. Jalanan aspal hitam mulus membuat perjalanan kami dengan Supra X 125 R merah jadi nyaman. Saya tanpa ragu memacu kecepatan hingga 100km/jam di beberapa kilometer yang kondisi jalannya sangat bagus dan hitam dan mulus tanpa lubang. Arena balap favorit saya adalah jalan yang melintasi Alue Bilie sampai Seumayam yang disebut ‘Jalan Tupat’ yang berarti jalan lurus. Memang sangat lurus tanpa tikungan.

Singgah di Blang Pidie untuk makan siang. Menikmati Mie Kocok Blang Pidie yang terkenal itu lalu melanjutkan perjalanan lagi dan singgah sebentar di Labuhan Haji. Istirahat beberapa menit di rumah kakak saya.

Lalu kami kembali bergerak menuju Tapak Tuan. Kami melewati Desa Pawoh yang berbatasan dengan Desa Apha. Kedua desa ini dibatasi oleh sebatang sungai yang dihubungi sebuah jembatan. Sungai itu disebut warga kampung situ dengan ‘batang aie’. Saya teringat waktu saya kecil-kecil dulu, setiap kali ada teman yang mengajak mandi ke sungai pasti dengan kalimat yang sama yaitu “ka aie moh?” lalu jawaban bernada semangat “moh, moh!” Artinya, “ke air yok?’ dan jawabannya “yok, ayok!”

Melintasi jembatan, saya melewati kantor Dinas PK yang disampingnya terdapat sebuah bangunan terbuat dari papan yang dulunya adalah TK. Tempat saya berteriak-teriak dan menangis. Hahhh. Daerah ini sudah sangat saya kenali. Tidak banyak perubahan. Gedung-gedung lama semenjak saya tinggalkan sekitar 9 tahun lalu masih tetap sama. Namun ada banyak bangunan yang bertambah. Saya memelankan mootor ketika melewati kompleks SDN 6 Labuhan Haji. Di kompleks ini saya menghabiskan masa anak-anak saya dan melewati 6 tahun di SD yang saya lalui dengan penuh petualangan, anjing gila, belut, ikan krup-krup, tarik pukat, naik rakit, mencuri mangga-kelapa-jambu-tebu dan ‘kejahatan-kejahatan’ lainnya. Huahahaha…Tentang ini akan saya tulis di postingan khusus.

Perjalanan saya teruskan dengan sedikit mengebut. 70km/jam. Berhubung beberapa ruas jalan sedang di perbaiki maka kecepatan harus diperlambat lagi.Kiri kanan hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi dengan sulur yang menjulur-julur.

Jalanan mendaki dan menurun dan menikung tajam. Beberapa ruas jalan berlubang dan hanya disemen saja. Lalu kami melewati jalan yang hanya tanah keras berkerikil saja. Sangat mengganggu karena tak bisa menikmati pemandangan di kiri kanan jalan yang hijau dengan persawahan.

Titi masih duduk dengan manis di belakang dan entah apa yang sedang dilihatnya. Leherku tak bisa kuputar ke belakang melihat ekspresinya melihat semua keindahan ini. Lebih dari sepuluh tahun sudah ketika terakhir kali dia melewati jalan ini. Keinginan yang menggebu membuatnya mampu duduk selama sejam lebih di boncengan Supra X 125 R merah ku ini.

Pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kota Tapak Tuan mulai terlihat.

Sama Dua.

Aku lupa mana yang duluan kami lalui. Sama Dua dulu atau gerbang selamat datang itu dulu ya?
Tapi tak apa. Kutuliskan saja semua. Membaca nama daerah ini aku mengingat air terjun yang dikenal dengan nama ‘Air Dingin’. Lokasi air terjun ini dapat dilihat dari jalan utama. Hanya beberapa meter saja dari jalan dan ada beberapa warung makanan di sekitar situ.

Tapak Tuan sudah di depan mata. Aku membelokkan motor ke kiri memasuki area penginapan di kota ini. Aku mencari losmen yang direkomendasikan kakakku. Kami menemukan losmennya tepat di depan pelabuhan cargo.Aku memesan satu kamar untuk kami berdua. Pemilik losmen mengizinkan kami menginap satu kamar. Syukurlah kami memiliki wajah yang masih ada mirip-miripnya. :P
Sewa kamar permalam empat puluh ribu rupiah di Losmen Bukit Barisan.

Malam pertama di Tapak Tuan. Makanan mahal disini. Aku hanya menyantap bakso dan adikku sate ayam yang dijual di kawasan pelabuhan itu.

Malam. Jam 9. Kami tidur dan bersiap untuk petualangan besok pagi mendaki tingkatan demi tingkatan air terjun yang kalau dihitung-hitung berjumlah lebih dari tujuh itu.
Hoaahm…

zzz…zzzz…

Paris, je t’aime

17 Juli 2008 at 12:24 pm | In film | Leave a Comment
Tags: , ,

Tagline : Stories of Love. From the City of Love.

Satu film, 18 kisah cinta di satu kota. Saya teringat film Love yang tagline-nya “5 cinta, satu kota dan hanya cinta yang sempurna”

Tapi film ini jelas memiliki perbedaan dengan film Love tadi.

Bedanya, jika di film Love. Setiap tokohnya memiliki pasangan seperti Acha dengan Fauzi Baadila, Darius dengan Luna Maya, Sophan Sophiaan dengan Widyawati, Surya Saputra dengan Marsya Timothy, Irwansyah dengan Laudya. Sedangkan di film Paris Je T’aime ini, setiap tokoh utama dalam 18 kisah ini menemukan cintanya dengan cara yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Menonton film ini aku jadi sadar sesadarnya ternyata jatuh cinta itu tidak hanya dengan ‘manusia’ saja. Di salah satu kisah, seorang wanita yang mengunjungi Paris dan berharap menemukan cintanya di sana. Dia duduk sendirian di sebuah kursi di taman. Memang tidak ada seorang pria pun yang mendatanginya dan mengajaknya berkenalan lalu saling jatuh cinta. Tidak. Wanita itu jatuh cinta pada taman itu dan jatuh cinta pada Paris. Dia telah menemukan cintanya.

Wow. Saya merinding menulis ini. Saya masih teringat-ingat beberapa kisah yang benar-benar menyentuh hati saya. Kisah seorang laki-laki yang jatuh cinta pada wanita muslim. Seorang wanita yang jatuh cinta pada laki-laki buta (dan saya mulai menyukai Natalie Portman).

Tapi ada juga beberapa kisah yang membuat saya malah bingung, ini cerita apaan sih? Maksudnya apa? Saya tidak mengerti dengan satu cerita yang diperankan Elijah Wood. Em…sebentar. Saya rasa, saya sudah mulai mengerti tentang kisah Elijah Wood ini.
Pria yang rela mati untuk mendapatkan wanita pujaan?

Hahh… Cinta ?

City of Men

17 Juli 2008 at 12:15 pm | In film | 1 Comment
Tags:

Senang sekali akhirnya saya menemukan lagi film yang bertemakan persahabatan. Dua remaja Brazil. Acerola dan Laranjinha. Mereka tinggal di sebuah kota yang dilindungi oleh sekelompok geng bersenjata yang dipimpin Midnight. Ace, harus menikah dan memiliki anak di usia 18 tahun dan tidak siap menjadi ayah. Laranjinha akan berulang tahun yang ke 18 dan dia bertekad mencari tahu siapa ayah kandungnya.

Berkat bantuan Acerola, Laranjinha berhasil menemukan ayahnya dan merayakan ulang tahun bersama. Selama usaha pencarian hingga ditemukannya ayah Laranjinha, timbul konflik dalam tubuh geng Midnight hingga memisahkan mereka berdua. Di saat-saat kerusuhan terjadi Acerola mengetahui siapa pembunuh ayahnya.

Menarik. Kisah persahabatan dibalut dengan aksi tembak-menembak antar geng dan kisah cinta dari masing-masing tokoh utama dan konflik yang kemudian timbul dari antara Ace dan Laranjinha membuat film ini menjadi seru namun ceritanya tetap mengalir natural dan pesannya juga tersampaikan dengan baik.

Selama film berlangsung, banyak sekali view-view yang menarik menambah kekuatan film ini secara keseluruhan. Pemandangan bukit yang dipadati dengan rumah-rumah penduduk. Panorama laut yang segar. Dan scene-scene lainnya yang tidak kalah menariknya. Ups, movie scorenya juga bagus. Mampu membuat saya terhipnotis. (hiperbola).

Saya memang belum pernah memiliki seorang sahabatpun. Apalagi sahabat dari kecil. Saya benar-benar salut dengan ketulusan yang diberikan oleh seorang sahabat (seperti dalam film-film). Saya antara ragu dan yakin jika saya mampu tulus ke teman saya. Saya coba mengingat hal tulus apa yang pernah saya berikan ke orang lain. Tapi apakah tulus namanya jika kita berusaha mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah kita berikan ke orang lain?

Mungkin saya bisa mengingatnya. Tapi saya tidak tahu apakah yang saya berikan itu benar-benar tulus karena saya memberikannya begitu saja tanpa mengharapkan apapun sebagai balasan dan bahagia sudah melakukan itu. Selebihnya saya tidak ingat apapun. Karena…ya sudah. Apa yang saya berikan, tidak pernah saya pikirkan untuk mendapatkannya kembali.

Arti ketulusan hanya dapat saya artikan secara samar saja dalam hati dan tidak mampu saya ungkapkan dengan kata-kata.

Ya. Saya masih mengharapkan adanya sahabat. Tapi tak banyak.

Pasir berbisik

17 Juli 2008 at 12:07 pm | In inmymindthatican'tcontrol | 2 Comments
Tags:

Pasir berbisik

“angin marah.”

Lalu angin datang dan meniup mereka.

Mereka terus berbisik

“rumput”

Pasir-pasir terbang dan berlindung di rerumputan hijau yang keras.

Seekor serangga nyaris tersamarkan di antara pasir yang beterbangan dan angin yang berdesing-desing.
Kuhalau dengan kaki kiriku dan dia pun terbang bersama pasir-pasir yang terus berbisik.

Hujan tak kunjung datang. Angin masih menari-nari bersama awan di tengah laut sana.

Kutunggu juga.

Lalu angin bergerak kencang ke arahku dan membawa pasir kering dan menampar kulit kakiku dengannya. Perih dan aku diam saja. Telingaku sakit dan aku diam saja.

Laut bergejolak. Menghempas pantai dan melempar buah nipah ke pasir.

Seekor anggau-anggau giat menggali rumahnya di dalam pasir. Tak peduli dengan angin yang mulai ribut. Aku juga tidak. Aku ingin hujan. Tapi tak juga dia datang menjilatiku.

Angin semakin kencang dan pasir-pasir tidak lagi berbisik. Mereka berteriak memaki-maki angin yang memaksa mereka harus meninggalkan pantai. Meninggalkan kawanan anggau-anggau dan jauh dari buih asin air laut.

Bahuku perih. Tertusuk gerimis tajam yang dilontarkan angin dari langit. Akankah hujan? Aku menunggu. Hanya terpaku melihat pasir-pasir yang terbang dan membentuk gelombang-gelombangnya sendiri.

Gerimis pun pergi dan bergerak jauh ke tengah laut.

Pasir-pasir berbisik

“Hujan takkan datang sore ini.”

Hujan takkan datang. Hujan takkan datang. Hujan takkan datang.
Angin membawanya pergi dan menyimpannya untuk nanti malam.

Angin tiba-tiba berhenti berdesing. Lalu memekik keras lalu hanya sepoi membelai perutku.

Kepalaku panas.
Dadaku sesak
Kakiku mati rasa
Lalu pandanganku menjadi gelap, hitam sepekat laut.

Meulaboh u Meulaboh

17 Juli 2008 at 12:05 pm | In inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment

Aku menarik gas kencang ketika lampu berubah hijau di pertigaan Setui menuju Lhoknga. Lurus. Lurus saja kuarahkan motorku. Lalu lampu merah lagi dan hijau lalu kuning.
Angin laut berusaha merebahkan tubuhku yang melaju kencang dengan Supra x 125 R merah.

Jalanan aspal abu-abu berganti hitam dan berganti dengan tanah keras yang berbatu. Backpack sengaja kutaruh di depan supaya punggungku tidak cedera menahan guncangan yang akan terjadi selama perjalanan Banda Aceh – Meulaboh ini.

Leupung. Mungkin. Aku penderita lupa yang bisa dikatakan parah. Terlebih lagi jika mengingat nama tempat dan orang. Jalan utama di daerah ini belum beraspal sedikitpun. Hanya tanah merah keras yang dipadati batu-batu kecil dan sengaja dibuat gundukan seperti kuburan setiap melintasi pemukiman penduduk.

Semakin lama aku terhempas di jalanan berbatu dan berlubang-lubang itu semakin cantik pula pemandangan yang aku temukan.
Juga bertambah pula pengalamanku melewati daerah-daerah baru ini. Bukan hanya itu, aku juga belajar banyak selama perjalanan ini. Ketidaknyamanan mengajarkanku untuk tidak mengeluh. Resiko membuatku berani. Kesendirian membuatku percaya diri dan optimis. Semua hal yang kulihat, kudengar dan yang kurasa mengajarkanku banyak hal-hal penting.

Lamno

Hal pertama yang terlintas ketika memasuki Lamno adalah jalan baru yang menghubungi daerah ini ke Calang. Sama seperti di Leupung. Tanah keras merah berbatu dan becek. Dari kejauhan dapat kulihat papan petunjuk berwarna hijau bertuliskan Meulaboh yang dilatarbelakangi kubah mesjid di Keudee Lamno. Lalu aku belok kiri dan semua yang berada di atas motor kembali berguncang.

Puluhan kilometer terlewati. Juga para pekerja yang sedang terus mengeraskan jalan dengan alat-alat berat. Semakin jauh dari Lamno sinar matahari semakin terik. Aku telah meninggalkan pedesaan berhawa sejuk yang rimbun akan pepohonan di belakang sana. Tak sempat ku menoleh ke belakang. Jalanan yang kutempuh belum juga mulus dan matahari terus menyemangatiku dengan cahayanya membuat punggung telapak tanganku menjadi hitam kemerahan dan mengeluarkan bintik-bintik keringat.

Masih di jalanan berbatu dan bertanah merah, aku berdampingan dengan pantai yang meniupkan udara asin yang menyegarkan kepala dan dadaku. Beberapa ekor kumbang menabrak kaca helmku dan perutnya pecah dan meninggalkan cairan coklat disana. Seekor kumbang mungil berwarna hitam dan bintik-bintik kuning hinggap atau lebih tepatnya terdampar di atas tutup ranselku. Bergetar hebat melawan angin dengan kaki-kakinya yang rapuh. Terus bergetar selama berpuluh-puluh menit kemudian bersamaku mengendarai Supra X merahku.

Kumbang hitam kuning itu pun menjadi temanku.

Bahkan sampai di Lhok Kruet pun dia menemaniku menghirup debu yang beterbangan dan udara asin yang dihembuskan angin melewati akar-akar pohon yang membusuk. Sesekali kulihat serorang tua melempar jala di sebuah kolam yang terbentuk akibat Continue reading Meulaboh u Meulaboh…

Constantine

7 Juli 2008 at 1:26 pm | In film | 4 Comments
Tags: ,

Constantine dalam film ini diperankan dengan ‘lumayan’ baik oleh Keanu Reeves. Visualisasi gambar yang menarik dan efek-efek makhluk asing juga bagus. Saya tidak sedang ingin mereview film ini. Ada yang mengusik saya setelah film ini berakhir. Bukan, bukan iblis-iblis dalam film itu yang mengusik tapi saya terusik karena film ini menggambarkan tentang malaikat-malaikat yang membangkang dari Tuhan. Sebenarnya ada banyak film Hollywood lainnya yang menceritakan cerita seperti ini. Saya lupa judulnya yang saya tonton sebelum Constantine. Tapi hampir sama saja, Malaikat Gabriel (Jibril) yang iri sama manusia.

Dalam film ini, John Constantine berusaha menebus dosanya karena terkutuk telah melakukan bunuh diri di masa remajanya. Penebusan dosa ini dia lakukan dengan cara mengembalikan iblis-iblis dari neraka yang berusaha menerobos masuk ke dunia manusia.

Ketika John sedang menangani kasus bunuh diri seorang wanita yang kembarannya mati bunuh diri, dia berhadapan dengan Gabriel yang ternyata dalang di balik kasus bunuh diri kembaran wanita tadi. Gabriel (the angel) ingin mengeluarkan Mommon, iblis terkuat di neraka ke bumi untuk menghancurkan manusia supaya terjerumus ke neraka.

Aneh kan? Seolah-olah, Tuhan (dalam film itu) tidak ‘tahu’ dengan konspirasi yang terjadi antara malaikat dan iblis di surga dan neraka. Lalu kenapa pula seorang malaikat harus iri sama manusia? Kenapa pula malaikat punya rasa iri? Ah daripada pusing-pusing mikirin itu, saya mengambil kesimpulan bahwa “ini hanya film (bodoh)”. Terlepas dari semua tanda tanya tadi, film ini lumayan menghibur. Geli sendiri ketika melihat Malaikat Gabriel itu dicopot dari jabatannya menjadi manusia biasa. Hahahaha…Juga visualisasi neraka yang mereka gambarkan seperti sebuah kota mati yang hancur, panas membara dan gersang. Ada pohon yang terbakar, mobil-mobil yang hancur dan berdebu. Ya Allah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana neraka yang sebenarnya. Pasti milyaran kali lebih buruk dari yang saya lihat di film.

Semoga kita terjauhkan dari neraka nantinya. Amin…

Love

6 Juli 2008 at 4:09 pm | In film, inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags:

Tadi malam, saya hunting dvd lagi. Saya langsung menuju ke sebuah toko dvd & vcd di jalan Singgah Mata. Disana saya menemukan film LOVE yang di dalamnya banyak sekali aktor-aktor Indonesia. Ada Sophan Sophiaan, Widyawati, Surya Saputra (Arisan, Untuk Rena), Wulan Guritno (Gie), Fauzi Baadila (9 Naga, Mengejar Matahari), Acha (Heart), Irwansyah (Heart), Laudya Cintya Bella (Virgin), Darius, dan Luna Maya (Pesan Dari Surga).

Ada lima pasangan dalam film ini yang tidak saling kenal dengan pasangan yang lain. Mereka hidup dalam dunia mereka masing-masing. Kisah cinta yang membuat haru. Oh..saya selalu menonton film-film yang memaksa saya terharu dan mencabik-cabik emosi saya. Begitu juga film ini. Saya seolah-olah sedang menyaksikan kehidupan cinta dan terhanyut dibawa alur cerita yang mengalir seperti air.

Salut buat Acha yang berakting bagus sekali sebagai Iin. Dan…pasangan ini tak perlu diragukan lagi. Sophan Sophiaan dan Widyawati! Sophan memerankan seorang penderita Alzheimer (saya langsung membayangkan diri saya ketika saya tua nanti) dan Widyawati memerankan seorang ibu yang penuh kesabaran menjaganya. Surya Saputra memerankan Gilang dan harus rela melepaskan istrinya namun kemudian Gilang menemukan kembali cinta sejatinya.

Selain cerita yang memukau, visualisasinya juga sangat menarik sekali dengan soundtrack yang hebat-hebat. Seperti lagu Sempurna versi Gita Gutawa dan Anugrah Terindah-nya Sheila On 7.

Berikut pernyataan-pernyataan favorit saya yang saya kutip dari film ini :

Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi hari esok, jika kita berhenti/menyerah hari ini.

Cinta yang sejati, cinta yang kita kira sudah pergi, ternyata cuma bersembunyi, menunggu untuk kembali lagi.

The Kite Runner

6 Juli 2008 at 3:38 pm | In film | 3 Comments
Tags: , , ,

Awalnya, saya tidak pernah tau bahwa film ini merupakan adaptasi dari novel. Saya langsung tertarik melihat cover depannya. Dua anak laki-laki yang saling merangkul dan sebuah layang-layang berwarna biru di belakang mereka.

Ini pasti bercerita tentang persahabatan nih. Tebakku waktu itu. Ternyata memang benar. Film ini memang bercerita tentang persahabatan antara Amir dan Hassan. Antara anak majikan dan anak seorang pelayan. Saya salut dengan penjiwaan para pemeran anak-anak ini. Amin dan Hassan. Tapi Hassan lebih menarik perhatian saya ketimbang Amir yang lebih sering murung.

Ada beberapa adegan yang selalu saya ingat tentang film ini yaitu ketika mereka mengejar layang-layang dan terjadi dialog antara mereka berdua. Dialog ketika Hassan mengatakan kalau dia bersedia makan tanah jika Amir menyuruhnya untuk itu. Ketika Amir mengukir nama mereka di pohon “Amir-Hassan, sultan-sultan Kabul” lalu ketika Amir membacakan cerita untuk Hassan.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika mereka bermain layang-layang. Ini yang paling keren. Teknik pengambilan gambarnya itu…unik! Layang-layang dimainkan dalam sebuah pertarungan, tangan-tangan mereka membuat gerakan manuver, naik turun, berputar-putar melilit benang layangan lawan dan “swiiiiiing…” benang lawanpun putus dan mereka bersorak kegirangan. Serunya lagi adalah ketika seolah-olah kamera mengambil gambar dari atas. Kamera seolah-olah berada di atas/belakang layang-layang yang sedang berputar-putar. Efek-efeknya benar-benar keren sekali. Seru!!

Bagian lainnya yang bikin saya kesal. Kesal karena sikap Amir yang tidak berani membantu Hassan yang sedang membelanya. Tapi Amir malah bersembunyi dan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa. Ah, saya jadi emosi waktu menontonnya.

Kemudian diceritakan juga kisah Amir dewasa yang berusaha menyelamatkan anak Hassan dan pada bagian ini lagi-lagi saya dibuat tersentuh dan berusaha untuk tidak meneteskan air mata tapi pada ending pertahanan saya runtuh. Huhu…

Hhhh…Anda harus nonton film ini! Mungkin juga perlu untuk membaca novelnya untuk dapat membandingkan antara novel dan filmnya. Em…saya beri empat setengah bintang deh untuk film ini.

Road to Sinabang

6 Juli 2008 at 12:50 pm | In enjoY, inmymindthatican'tcontrol, kerja oh kerja, liburan | Leave a Comment
Tags: ,

Kamis, 26 Juni 2008. 7.45 WIB

Cuaca sudah mulai mendung saat kami berangkat dari Meulaboh menuju Labuhan Haji. Menaiki mobil Kijang dengan penumpang 9 orang; saya, duduk paling belakang di antara tas, koper dan ransel.

Hujan mulai turun ketika kami sampai di Tangan-Tangan dan perlahan tetes hujan mulai berhenti ketika kami memasuki Kabupaten Aceh Selatan. Sampai di Labuhan Haji sudah mulai malam dan kami singgah di sebuah warung di Kampung Pasar Lama, tepat di samping pagar pelabuhan.

Sepintas saya melihat Yusran, temanku waktu SD dulu. Saya yakin sekali itu dia. Hore…Akhirnya saya menemukan salah seorang teman lama saya dulu! Teman SD pula! Saya sudah bersiap turun dan mau menyapa Yusran, tapi belum sempat turun dari mobil saya sudah disuruh beli tiket kapal fery. Setelah membeli tiket, Yusran sudah tidak ada lagi di tempat dia berdiri tadi. Hemmh…Kecewa!

Lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan! Pulang dari beli tiket tadi, saya masuk warung. Dan nasinya habis! Waduh, kalau tidak makan malam, saya bisa kelaparan di kapal nantinya. Ya sudah, saya pesan Pop Mie saja. Tapi masih tetap lapar! L

Saya coba sms kakakku yang baru pindah ke sini dengan suaminya di Kampung Baru. “Kak, kemarilah…Lapar ni, belon makan!” begitu isi smsku. Terus dia balas kalau dia sedang makan kenduri di rumah Bang Eri, suaminya. Tapi dia akan datang kalau acara sudah selesai.

Jam 9.25 malam, kakakku sms kalau dia on the way ke pelabuhan dengan Bang Eri. 5 menit kemudian Bang Eri menjemputku di pintu gerbang pelabuhan dan kakak sudah menunggu di sebuah café yang letaknya kurang dari satu kilometer dari situ. Tidak jauh dari pelabuhan. Saya langsung pesan nasi goreng ayam dan teh setengah panas (baca : hangat ).

Sebelum pergi, saya meng-sms temanku yang sudah duluan naik ke kapal untuk mengabariku kalau pemberitahuan keberangkatan kapal sudah dibunyikan. Padahal waktunya sudah mepet sekali tuh. Saya makan dengan cepat, sudah seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga bulan!

Saking mepetnya waktu keberangkatan, sebelum pesanan nasi gorengku sampai, saya berlari-lari ke toko terdekat membeli snack dan jus kotak pseanan teman-teman di kapal. Beeeuhh…perasaan nasi masih di kerongkongan, saya sudah harus kembali ke kapal lagi.

Tanda-tanda di langit (Jah! Seperti peramal saja!) menunjukkan akan ada badai atau turun hujan di tengah laut. Tapi ternyata (Alhamdulillah) perjalananku kali ini juga tenang-tenang saja. Malah saya bisa tidur dengan nyenyak bahkan bermimpi pula sedang mandi-mandi di Pantai Ganting. Temanku bilang, subuh itu saya ngigau. Gak jelas saya ngomong apa…”au au au auuu…” begitu katanya. Apa coba ?

Jam setengah delapan pagi rombongan kami tiba dengan selamat di Sinabang. Saya juga bertemu sepupuku, Bang Yos yang bekerja di pelabuhan Sinabang. Pas lihat saya, dia langsung kaget gitu. Soalnya baru senin lalu ketemu di Meulaboh kok sekarang sudah ada di Sinabang. Saya tidak sempat mengabarinya kalau mau ke sini.

Jarak dari pelabuhan ke kantor cuma satu kilometer, sebenarnya bisa sih dengan jalan kaki karena dekat. Tapi si bos minta naik becak. Sampai di kantor, saya malah tidak ingat sama sekali dengan pantangan yang saya sebutkan di postingan sebelum ini. Sampai kami di kantor, saya langsung minum Aqua dan makan wafer Tango dan kacang garing! Beberapa menit kemudian, sarapan pun datang. Habis sarapan, saya mandi. Hahaha…Sedikitpun saya tidak ingat dengan pantangan itu. Dan syukurlah tidak terjadi apa-apa. Mungkin sudah terbiasa kali ya? Soalnya ini adalah yang ketiga kalinya saya kesini.

Saya gemuk!

5 Juli 2008 at 6:40 pm | In inmymindthatican'tcontrol, silat | 3 Comments
Tags: , ,

Ini salah satu ‘WOW’ lainnya di bulan Juli ini yang terjadi sama saya. Sudah dua bulan ini saya melihat satu perubahan di tubuh saya. Tidak, saya tidak hamil. Mustahil saya hamil. Saya kan laki-laki!

Yang benar adalah…saya bertambah berat! Saya gemuk!

Oh no..my belly…

Itu kalimat yang paling sering kali saya ulang di dalam hati dan kadang-kadang saya teriaki ketika melihat perut saya yang mulai ‘membuncit’. Perutku tak lagi datar seperti dua bulan yang lalu. Harapan untuk mendapatkan perut six pack pun semakin jauh. Padahal dulu sudah kelihatan guratan-guratan s*xy yang samar di sana. Kini jadi muncul tonjolan lemak yang membuat saya ingin segera membakarnya.

Hhhh. Harus ada program diet dan olahraga lagi untuk ke depan nanti. Saya tak bisa membiarkan perut ini seperti perut Ayah yang tak kunjung kempes itu. Saya juga tidak mau timbul fitnah gara-gara perut yang membesar. Apa kata tetangga? Apa kata dunia? Oh God, please help me. Datangkan Sandra Dewi kepadaku. Amin.

Anyway, setelah saya hitung-hitung lagi dengan menggunakan formula Indeks Masa Tubuh yang menghitung apakah berat kita ideal dengan umur dan tinggi badan kita, ternyata hasilnya saya memiliki berat badan yang proporsional dengan tinggi badan saya. Berat 60 kg adalah berat yang harus saya pertahankan, begitu kata programnya. Tidak underweight dan juga tidak overweight. Tapi bagi saya sih, saya lebih suka dengan berat 50-55 kg saja. Dengan begitu perut saya tidak kelihatan ‘nonjol’ dan sixpack jadi cepat kelihatan. Huhu…

Gemuk. Sumpah! Saya sangat takut jadi gemuk. Terbayang oleh saya penyakit-penyakit yang akan menyerang. Kolesterol, stroke, darah tinggi, jerawatan, bau badan, ngorok, jantungan, malas, jadi cepat lapar, jadi cepat ngantuk, dikatain, terus harus ganti nomor celana, sepatu, baju, kaos, kaus dan celana dalam. Kalau saya jadi gemuk, gerakkan saya jadi tambah lamban. Jadi tidak efektif. Mungkin juga berpikirpun jadi lamban. Jadi tambah bodoh! Lemot!

Oh no…

Saya harus kembali ke gelanggang dan mulai latihan silat lagi. Saya juga harus kembali ke Pantai Suak Ribee dan joging setiap sore. Saya harus sit up dan push up setiap bangun pagi. Saya harus melenyapkan lemak jelek ini secepatnya.

Doakan saya semoga berhasil. Merdekaaa!!!!

Wow on July

3 Juli 2008 at 6:15 pm | In liburan | 3 Comments
Tags: , ,

Bulan ini bener-bener Wow!!!

Wow pertama : Seorang teman mengajak saya liburan ke Sabang minggu kedua ini! Udah kebayang tuh nyeburin diri di pantai Gapang atau Iboih! Argh!!! Bakal seru abis!!

Wow Kedua : Seorang kenalan saya ngajakin tracking ke Leuser! Woaahhh….

Tracking satu-satunya kegiatan urutan nomor satu dalam daftar To Do saya yang ingin saya lakukan. Tapi sampai saat ini belum kesampaian. Karena tracking bukan kegiatan asal pergi saja, ini butuh persiapan yang matang. Mulai dari fisik, mental sampai dengan peralatan-peralatan yang wajib bawa!

Wow Ketiga : Saya ingin sekali pergi jauh dengan motor kesayangan saya ke Langsa dan Kuta Cane. Sudah ada keinginan ini sejak lama. Saya ingin mengunjungi kabupaten-kabupaten yang belum pernah saya lihat. Saya mau melihat Nanggroe Aceh Darussalam dengan mata kepala saya sendiri. Dan dengan kendaraan saya sendiri. Dengan Supra X 125 R ku tercinta. Hhhhh…

Tapi… Lagi-lagi saya terjebak dalam kelanjutan kata “tapi”. Tapi bulan ini (mungkin) saya mengikuti bursa ke kantor wilayah di Banda Aceh dan kemungkinannya adalah saya akan menghabiskan tujuh hari saya disana dan selama tujuh hari itu pula saya terpuruk lemah tak berdaya (halah, hiperbola!) menyaksikan kepergian teman-teman pergi berlibur.

Tapi tak apa lah.. <<menghibur diri>> Bulan-bulan lalu saya sudah berlibur panjang ke berbagai kabupaten di Aceh. Haha… Aku hanya bisa menghibur diri karena memang kemungkinan mengikuti dua rombongan di atas memang tidak mungkin terwujud. Tapi tetap berharap datangnya keajaiban untuk bisa ikut! Huhu…

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.