Love and Respect

26 Mei 2008 at 6:18 am | In film, inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags:

Mengutip dari lirik sebuah lagu; jatuh cinta berjuta rasanya. Setuju ya? Mungkin semua orang pernah merasakan ini dan rasanya juga berefek beda di setiap orang yang mengalaminya.

Film yang aku saksikan semalam menggambarkan perasaan orang-orang yang berada dalam pengaruh cinta itu tadi. Tapi dalam film ini lebih memperlihatkan rasa sakit, penolakan dan cinta dengan penantian tanpa akhir.

Hah, betapa cinta mampu membuat orang begitu menyedihkan. Pathetic kata orang inggris. Aku pun sendiri juga pernah merasakan betapa jatuh cinta itu begitu menyakitkan, tak berpengharapan dan nyaris putus asa karena ditolak. Saat ini ingin sekali aku tertawa mengingat kembali masa-masa paling menyedihkan dan memalukan pada saat itu. Ah, tentu saja aku ga mau ketawa karena itu akan membuatku benar-benar seperti a looser. Hahah!!

Mengingat kembali pada dua film yang ku tonton dengan penuh perjuangan di tengah gempuran nyamuk-nyamuk bangsat semalam.

Film pertama adalah drama Korea yang judulnya Elephant on a Bike. Film yang lumayan menyentuh tapi sayangnya pada film ini tidak menjelaskan lagi bagaimana kisah cinta antara tokoh utamanya dengan seorang guru TK yang ternyata adalah temannya waktu SD dulu berlanjut.

Film ini juga bercerita tentang seorang Anak dan Ayahnya yang sangat mencintainya. Sungguh cerita yang memukau. Sebuah janji yang ditepati walaupun baru menyadarinya setelah sang ayah meninggal. Dan yang paling menyedihkan adalah anak-anaknya kurang respect kepadanya.

Di antara kedua orang tua kita, mungkin kebanyakan kita lebih respect kepada sosok Ibu. Karena cinta ibu sepanjang jalan dan cinta ayah hanya sepanjang umurnya saja? Tidak, aku yakin tidak. Cinta antara Ayah dan Ibu kepada anak-anaknya mungkin memang ada perbedaan. Tapi Ayah mencintai anak-anaknya dengan cara yang berbeda dari Ibu, Ayah mencintai dengan sekuat tenaganya dan rela memberikan yang terbaik bagi mereka sekalipun harus mempertaruhkan harga dirinya bahkan hidupnya.
Ayah mencintaiku dengan caranya sendiri yang kadang kala susah untuk kami mengerti.

Love & respect. Dulunya aku tak peduli dengan cinta. Dan kini pun itu hanya harapan untuk dapat mencintai cinta. Sekalipun begitu, aku berharap masih ada perasaan lain yang dapat kuberikan ke orang lain.

Belum Ada Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.