take time to realize

26 Mei 2008 at 10:15 am | In inmymindthatican'tcontrol, shout out | 1 Comment
Tags:

lebih dari enam malah. mungkin ratusan bahkan ribuan kali menyadari.

six times. penyadaran lewat konsekuensi terhadap hal-hal yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. namun kesadaran-kesadaran yang kualami hanya menimbulkan gejolak penyesalan yang kemudian terulang kembali dan menyebabkan penyesalan lainnya. kesadaran itu sia-sia saja. menguras air mata dan waktu tanpa tindakan ke arah yang lebih baik.

take time? ya. tapi tetap saja kalau semua itu ga gampang. menjadi ga semudah yang diharapkan. berkali-kali berusaha kabur dari kenyataan lewat jalan pintas dan aku merasa permasalahan itu sudah terkubur dalam. tapi kemudian hal itu malah menghantui. aku jadi ketakutan sendiri dan merasa bersalah dan insomnia.

leganya, hantu-hantu itu datang meminta pertanggungjawaban agar permasalahan mereka bisa segera diselesaikan. ketakutan membuatku bekerja lebih keras mencari penyelesaian sendiri.

wah. ingin sekali ku berteriak “sempurnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

it’s a perfect life! begitu katanya. begitu juga kataku. masalah adalah salah satu bagian dari kesempurnaan hidup. begitu pikirku.

ketika semua hubunganku dengan beberapa manusia bisa dikatakan aneh dan gagal, aku masih berharap bisa bercerita banyak kepada mereka. tapi apa pedulinya denganku. siapa yang mau mendengarkan. siapa yang sudi.

tak perlu itu semua. tak perlu kau lagi, rahman! begitu lah kiranya yang mereka katakan dari tatapan mata yang tajam dan menusuk jantung. seolah mereka menambahkan : siapa pula kau yang perlu didengarkan dan apa kepentinganmu dengan kami. tak perlu kau bahkan bayanganmu sekalipun. seharusnya kau sadar dan enyah dan jangan pula kau bersms lagi. muak aku.

watdefak…

aku juga tak butuh kau, manusia sombong keparat! munafik. what friends are for? bullshit!

take your time to realize, sir.

Lelah

26 Mei 2008 at 6:47 am | In friendship, inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags:

Ga tau lah apa yang sedang terjadi. Aku tiba-tiba jadi muak dengan sikap mereka. Seolah terasadarkan dari pengaruh hipnotis yang selama ini membuatku patuh dengan permintaan-permintaan mereka. Lalu aku merasa sangat bodoh, dungu, tolol, idiot! Erghhhhh…

Aku lelah dengan sikapku sendiri. Jenuh karena selalu berada dalam posisi seperti ini. Jenuh terus memerankan tokoh sebagai orang baik-baik. Merasa dimanfaatkan dan dibodohi. Aku harus berkorban begitu besar untuk arti sebuah hubungan yang akhirnya membuatku bingung tentang arti dari hubungan tersebut.

Apa memang harus seperti ini? Mereka datang dan pergi? Apakah tugasku hanya berdiri atau duduk disana dan mendengarkan mereka? Bagaimana jika aku digusur dari sana dan tak bolehkah aku mendatangi mereka seperti selama ini yang mereka lakukan padaku? Mengapa mereka tak pernah mau sekalipun untuk menemuiku ketika aku membutuhkan mereka? Dimana mereka?  Kemana kalian?

Ah…Percuma bertanya jika jawabannya selalu dijawab oleh sisi protagonisku.

Love and Respect

26 Mei 2008 at 6:18 am | In film, inmymindthatican'tcontrol | Leave a Comment
Tags:

Mengutip dari lirik sebuah lagu; jatuh cinta berjuta rasanya. Setuju ya? Mungkin semua orang pernah merasakan ini dan rasanya juga berefek beda di setiap orang yang mengalaminya.

Film yang aku saksikan semalam menggambarkan perasaan orang-orang yang berada dalam pengaruh cinta itu tadi. Tapi dalam film ini lebih memperlihatkan rasa sakit, penolakan dan cinta dengan penantian tanpa akhir.

Hah, betapa cinta mampu membuat orang begitu menyedihkan. Pathetic kata orang inggris. Aku pun sendiri juga pernah merasakan betapa jatuh cinta itu begitu menyakitkan, tak berpengharapan dan nyaris putus asa karena ditolak. Saat ini ingin sekali aku tertawa mengingat kembali masa-masa paling menyedihkan dan memalukan pada saat itu. Ah, tentu saja aku ga mau ketawa karena itu akan membuatku benar-benar seperti a looser. Hahah!!

Mengingat kembali pada dua film yang ku tonton dengan penuh perjuangan di tengah gempuran nyamuk-nyamuk bangsat semalam.

Film pertama adalah drama Korea yang judulnya Elephant on a Bike. Film yang lumayan menyentuh tapi sayangnya pada film ini tidak menjelaskan lagi bagaimana kisah cinta antara tokoh utamanya dengan seorang guru TK yang ternyata adalah temannya waktu SD dulu berlanjut.

Film ini juga bercerita tentang seorang Anak dan Ayahnya yang sangat mencintainya. Sungguh cerita yang memukau. Sebuah janji yang ditepati walaupun baru menyadarinya setelah sang ayah meninggal. Dan yang paling menyedihkan adalah anak-anaknya kurang respect kepadanya.

Di antara kedua orang tua kita, mungkin kebanyakan kita lebih respect kepada sosok Ibu. Karena cinta ibu sepanjang jalan dan cinta ayah hanya sepanjang umurnya saja? Tidak, aku yakin tidak. Cinta antara Ayah dan Ibu kepada anak-anaknya mungkin memang ada perbedaan. Tapi Ayah mencintai anak-anaknya dengan cara yang berbeda dari Ibu, Ayah mencintai dengan sekuat tenaganya dan rela memberikan yang terbaik bagi mereka sekalipun harus mempertaruhkan harga dirinya bahkan hidupnya.
Ayah mencintaiku dengan caranya sendiri yang kadang kala susah untuk kami mengerti.

Love & respect. Dulunya aku tak peduli dengan cinta. Dan kini pun itu hanya harapan untuk dapat mencintai cinta. Sekalipun begitu, aku berharap masih ada perasaan lain yang dapat kuberikan ke orang lain.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.